X-Gene: Cassie

X-Gene: Cassie | Ryan Mintaraga (Image: Pixabay)
X-Gene: Cassie | Ryan Mintaraga (Image: Pixabay)

Lama baca: 9 menit

Apartemen Ashvalle, Silverbank, pukul 02.35.

Deringan itu memecah kesunyian dan gelapnya malam.

Dengan enggan dan masih setengah mengantuk, Gene mengangkat telepon genggamnya.

Dari kantor!

“Hallo?” sapanya sembari berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya.

“Dr. Valenzuela?  Maaf mengganggu Anda pagi-pagi begini,” terdengar suara seorang pria dari seberang sana.

“It’s okay,” balas Gene.  “Ada apa?”

Gene bangkit dari tempat tidur dan berpindah ke ruangan lain, khawatir suaranya tadi akan mengganggu istrinya yang saat ini masih tertidur pulas.

Semoga ini sesuatu yang penting.

“Baik,” lanjut si penelepon.  “Begini, Dok, seperti yang Anda tahu–”

“Maaf,” potong Gene tak sabar.  “Bisa kita langsung ke intinya saja?”

“Baik, Dok.  Maaf.  Mungkin sebaiknya Anda langsung bicara dengan Agen Davidson.”

Gosh!  Gene memaki dalam hati.

Terdengar nada panggil diikuti suara berat seorang pria beraksen Timur Tengah.

“Pagi, Dok,” sapa si pemilik suara, Hassan Leynard Davidson.

Hassan Davidson berusia sekitar dua puluh enam tahun, merupakan agen terbaik di unit mereka, Unit X-Gene.  Unit ini dibentuk pemerintah untuk menyelidiki dan menangani berbagai peristiwa yang diduga melibatkan orang-orang berkemampuan tidak biasa.

“Pagi, Hassan,” sapa Gene.  “Kuharap ini berita bagus.”

Hassan tertawa.

“Aku berharap begitu, dan sepertinya memang begitu.  Kau tahu, Dok?  Kita berhasil mendapatkan Chase.”

Antusiasme Gene bangkit.

“Sungguh?  Sekarang di mana dia?”

Hassan kembali tertawa.

“Akan kusiapkan secangkir kopi di mejamu, Dok,” katanya.

***

Lochgate Tower, pukul 03.55.

“Lewat sini, Dok.”

Setelah menyesap secangkir kopi sambil membaca kronologis singkat penangkapan seseorang yang disebut sebagai ‘Chase’ di ruang kerjanya, saat ini Gene – dengan ditemani seorang petugas – menuju satu ruangan yang biasa dijadikan tempat ‘interogasi’.

Mereka berdua berhenti di depan sebuah ruangan.  Hassan sudah menunggu di sana.  Ia menghampiri dan menyalami Gene yang berusia dua belas tahun lebih tua.

“Dok,” sapanya.

“Seperti apa dia?” tanya Gene sambil membolak-balik berkas yang sejak tadi dibawanya.  “Aku tak menyangka Chase ternyata seorang gadis berusia tujuh belas tahun.”

“Begitulah, Dok.  Awalnya tidak ada yang percaya sampai kita melihatnya,” balas Hassan.  “Dan karena itu kurasa kau setuju bahwa kita yang akan menangani kasusnya.  Lihat.”

Pintu ruangan itu sengaja dibiarkan terbuka agar orang-orang yang berada di luar bisa mendengar percakapan yang terjadi.

“Nona, aku bertanya sekali lagi padamu,” terdengar suara Agen McGee dari dalam ruangan.  Saat ini di hadapannya duduk seorang gadis berambut pirang berusia 17 tahun – seorang peretas ulung yang dikenal dengan nama ‘Chase’.

Baca juga:  Bumi 2920: Menanti Terbit Matahari

Berbagai laporan menyebut bahwa Chase berhasil meretas ribuan sistem jaringan, bahkan yang memilki keamanan paling rumit sekalipun.  Target utama Chase adalah sistem jaringan perbankan.

Dengan aksinya tersebut, peretas muda itu mencuri data-data nasabah yang lalu digunakannya untuk melakukan pembelanjaan di toko-toko online.

Sulit dipercaya dia masih semuda ini.

McGee membolak-balik berkas Chase.

“Nona Cassie Graham, di sini tertulis bahwa Anda sudah melakukan aksi peretasan sejak berusia empat belas tahun.  Bisa kau ceritakan padaku lebih detail lagi?”

Chase alias Cassie sepertinya tak mengacuhkan pertanyaan McGee.  Saat ini perhatiannya tertuju pada ruang di atas kepala agen berusia empat puluhan tahun itu.  Bola mata dan bibir gadis itu bergerak seperti orang melihat atau membaca sesuatu, bahkan kadang ia tersenyum sendiri.

Tiba-tiba Cassie tertawa keras.

McGee mengeluh.

“Sekarang apa lagi?” tanyanya.

Cassie masih tertawa.

“Pak, anak Anda baru saja mengunggah foto sewaktu Anda berusia dua tahun dan digendong ibu Anda.”

“Lalu, apanya yang lucu?” tanya McGee.

“You’re so cute!” ujar Cassie.  “Waktu itu Anda sangat kurus.  Siapa sangka sekarang Anda menjadi seorang agen di– ah, sebentar–”

Perhatian Cassie sepertinya teralihkan.  Ia memandang Gene yang masih berada di luar ruangan.

“Dr. Gene Valenzuela?” tanyanya dengan mata mengerjap.  “Peraih Nobel Fisika, ilmuwan yang mengkhususkan diri mempelajari perilaku gen, penulis ratusan buku tentang ilmu genetika, pembicara, dan– Anda pernah mengalami kecelakaan – bahkan koma – sewaktu remaja dan dirawat di RS Cormount?”

Semua memandang Gene.

“Well,” ujar Gene.  Ia masuk ke ruangan tersebut.

Aku bahkan tak pernah menceritakan soal kecelakaan itu.

“Agen McGee, kurasa sudah saatnya beristirahat,” sapa Gene pada McGee.  “Terimakasih atas bantuanmu.  Akan kutangani mulai dari sini.”

“Sama-sama, Dok,” McGee bangkit dan berbisik.  “Hati-hati dengannya.  Ia bahkan tahu dengan pasti tagihan kartu kreditku dan tanggal jatuh temponya.”

Gene menepuk pundak McGee kemudian duduk di hadapan Cassie Graham yang saat ini kembali acuh tak acuh.

“Aku terkesan denganmu aksimu tadi, Nona,” ujar Gene.  “Bagaimana caramu melakukannya?”

Sama seperti tadi, kali ini Cassie kembali asyik melihat ruang di atas kepala lawan bicaranya.

“Wow!  Anda bahkan lebih menarik daripada agen tadi, tapi sedikit membosankan.  Tidak ada catatan buruk soal Anda, Dok.”

Gene tersenyum.

“Well, thanks.  Sekarang izinkan aku sedikit memamerkan keahlianku.  Berikan tanganmu.”

Cassie menurut.  Gene kini memegang tangan gadis tersebut.

Baca juga:  Impian yang Terempas: Andi

“Sekarang pikirkan sesuatu,” perintah Gene.  “Fokuskan pikiranmu pada hal tersebut.”

“Oke,” jawab Cassie.

Perlahan-lahan gadis itu merasa tubuhnya semakin ringan.

Rupanya ia terangkat dari kursi.  Melayang.

Cassie terbelalak.  Ia sungguh tak percaya hal seperti ini terjadi.

“Ini yang kau pikirkan, bukan?” cetus Gene.  “Kau ingin terbang, melayang?”

“B–bagaimana bisa?” gadis itu masih dilanda kebingungan akan apa yang terjadi.

“Sekarang aku akan melepaskan peganganku,” kata Gene.

“H–hei,” tukas Cassie.  “Tung–“

Namun Gene keburu melepas tangannya dari Cassie.

Brukk!

Dalam sekejap Cassie terjatuh, namun dilihatnya Gene masih melayang sebelum akhirnya turun perlahan dan mengulurkan tangan padanya sambil tersenyum.

“Bagaimana, bagaimana caramu melakukannya?” tanya Cassie kembali.  “Bagaimana bisa?”

“Aku pun punya pertanyaan yang sama untukmu, Nona Graham,” balas Gene.  “Bagaimana caramu meretas sistem jaringan, bahkan yang paling kuat sekalipun?”

Cassie menghela napas.

“Oke,” katanya kemudian kembali duduk di kursinya.  “Tapi bolehkah aku menggunakan kemampuanmu untuk menunjukkan bagaimana caraku meretas sebuah sistem?”

“Tak masalah,” ujar Gene.

“Aku butuh seorang sukarelawan,” lanjut Cassie.

Gene menoleh ke luar ruangan.

“Ada yang tak keberatan informasi pribadinya dibaca oleh kita semua?”

“Biar aku saja,” Hassan masuk ke dalam ruangan.

Cassie mengulurkan tangan pada Gene – sama seperti tadi – sementara mata gadis tersebut memandang ruang di atas kepala Hassan.

Dan sesuatu yang menakjubkan terjadi!

Semua yang hadir di ruangan tersebut melihat bahwa dari atas kepala Hassan keluar aliran cahaya berwarna-warni.  Aliran cahaya itu mengarah ke berbagai penjuru.

“Seperti inilah aku melihat kalian.  Aliran cahaya warna-warni itu adalah jaringan ingatanmu yang terhubung dengan tempat atau orang lain di luar sana, itulah sebabnya cahaya itu mengarah ke berbagai penjuru,” urai Cassie.  “Setiap peristiwa yang terjadi akan memiliki keterkaitan dengan peristiwa lainnya.  Misalnya, ini.”

Tiba-tiba dari sekian banyak aliran cahaya di kepala Hassan, hanya satu yang tersisa.

“Ini informasi tentang kartu kreditmu,” jelas Cassie.  “Dari pindaian ingatanmmu, aku bisa mengetahui nomor kartu kreditmu dan bank penerbitnya.  Dari pindaian ingatanmu pula aku tahu kapan terakhir kali kau menggunakan kartu kreditmu.  Nah lihat.”

Sekarang tampak bayangan samar sebuah toko.

“Hei,” desis Hassan.  “Waktu itu aku membeli dasi di toko ini.”

“Saat kartu digesek, aku akan meninggalkan jaringan ingatanmu dan melompat masuk ke sistem komunikasi antara merchant dan bank.  Nah, seperti ini.  Semua terjadi dalam waktu sekian detik.”

Baca juga:  Gadis Bermata Bulan Sabit

Semua yang ada di ruangan itu terkesima.  Di hadapan mereka kini tampak visualisasi sebuah jaringan yang terlihat rumit dengan titik-titik berwarna di beberapa bagiannya.

“Seperti yang kalian lihat, aku sekarang berada di dalam sistem jaringan bank penerbit kartu kreditmu.  Di sini aku leluasa melakukan apa saja yang kumau,” terang Cassie.  “Aku bisa berpindah ke kartu kredit orang ini, misalnya. Atau ke sini.  Atau masuk ke sistem internal bank.  Semua terjadi dalam hitungan detik.”

Selama beberapa detik, Cassie menunjukkan apa yang ia lakukan.  Berpindah dari satu sistem ke sistem lain.

“Oke, aku rasa cukup,” katanya kemudian.  “Bahkan orang sepertiku bisa merasa lelah terus-terusan berada di dalam sini.”

Gadis itu menarik tangannya dari pegangan Gene.  Semua penglihatan tadi pun perlahan menghilang.

Beberapa detik berikutnya tak ada satupun yang membuka mulut, semua masih terkesima dengan apa yang tadi mereka lihat.

“Aku mengerti,” tukas Gene akhirnya.  “Jadi, kau bisa melihat energi yang otak kami keluarkan.  Dengan memanfaatkan itu, kau masuk dan berpindah ke satu jaringan mesin.  Di dalam jaringan mesin, kau bisa berpindah lagi ke jaringan lain.  Begitu seterusnya.  Itu karena semuanya terhubung satu sama lain.”

Cassie mengangguk.

“Aku bukanlah hacker.  Aku lebih tepat disebut sebagai trojan atau worm yang memiliki fisik berbentuk manusia.”

***

“Jadi, bagaimana, Dok?” tanya Hassan.  Saat ini mereka berada di ruang kerja Gene.

Gene memandang Hassan.

“Ia memang akan menghadapi tuntutan hukum,” ujar Gene.  “Namun melihat sikapnya tadi, kurasa kita bisa mengupayakan advokasi untuk Nona Graham.”

Gene menutup dan meletakkan berkas yang sedang dibacanya.

“Dan ngomong-ngomong, Agen Davidson.  Akhir-akhir ini kita menerima banyak sekali laporan yang melibatkan orang dengan kemampuan tidak biasa.  Sepertinya kita harus bekerja keras.  Seberapa banyak kau bisa menggandakan diri?”

Hassan tertawa lepas.

“Berapa yang kau butuhkan, Dok?  Sepuluh?  Duapuluh?  Limapuluh?”

Dalam sekejap ruang kerja Gene disesaki oleh puluhan sosok Hassan.

-Jakarta, 05 April 2020-

Catatan:

  1. Tulisan ini pertama di-publish di Kompasiana untuk event Fiksi Fantasi, 2014, dan sudah diadakan beberapa perbaikan kecil.
  2. Saya sendiri percaya orang-orang semacam ini ada, yakni mereka yang mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain. Secara logika, Cassie memiliki spektrum penglihatan yang lebih luas dibanding manusia pada umumnya, kurang lebih sama seperti serangga yang bisa melihat cahaya seperti ultraviolet – yang tidak bisa kita lihat.
Sumber gambar: Arek Socha (Pixabay)

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

2 pemikiran pada “X-Gene: Cassie”

Tinggalkan komentar