The 100, Underrated Series yang (ternyata) Mengejutkan!

Akhirnya saya menyelesaikan season finale ‘The 100’.

Jujur saja awalnya saya agak skeptis dengan serial ‘The 100’ karena tidak ada pembahasan apapun tentangnya di situs-situs review.  Saya (waktu itu) memilih menonton ‘The 100’ pun hanya karena series ini masuk kategori favorit saya yaitu sci-fi.

Tidak ada alasan lain.

Sedikit cerita, saya pertama kali menonton ‘The 100’ sekitar tahun 2017, sudah masuk musim ke empat jika saya tidak salah ingat.

THE 100, PLOT

Mengambil masa hampir 100 tahun setelah perang nuklir yang menyapu hampir seluruh kehidupan di Bumi, episode pertama ‘The 100’ dibuka dengan ditegakkannya hukum yang berlaku di Ark – sebuah stasiun luar angkasa yang merupakan gabungan beberapa stasiun luar angkasa dari berbagai negara.  Ark adalah tempat tinggal sementara di luar angkasa bagi penduduk Bumi yang selamat dari bencana radiasi nuklir – sebelum mereka bisa kembali ke Bumi.

Hukum yang berlaku di Ark sangat keras.  Sekecil apapun kesalahan, hukumannya adalah mati dengan cara dibuang ke luar angkasa.

Hukum di Ark selalu dijalankan setelah mendapat persetujuan kanselir, karena itu banyak penduduk Ark yang membenci kanselir.

Suatu hari – atas persetujuan kanselir dan dewan, Ark mengirim 100 tahanan remaja ke Bumi.  Bagi sebagian tahanan, pengiriman ini berarti pembuangan, bagi sebagian yang lain berarti kesempatan.

Namun bagi Ark sendiri pengiriman ini adalah upaya mencari tahu apakah permukaan Bumi sudah bisa dihuni kembali atau tidak – sehubungan dengan kondisi Ark yang semakin kritis.

Dari sinilah semuanya bermula karena Bumi saat itu ternyata tidak hanya indah namun sangat berbahaya, bahkan mematikan.

LOW BUDGET SERIES?

Setidaknya itu yang ada di pikiran saya saat melihat episode perdana (dan beberapa episode awal) ‘The 100’.

Kesan low budget itu begitu terasa di mata saya mulai dari penggunaan CGI yang itu-itu saja sebagai establish shot Ark, penggunaan kamera kedua yang kemungkinan besar spesifikasinya berbeda (lebih rendah) dibanding kamera pertama, aktor/aktris yang kurang populer, dan hal-hal lain yang jika saya ceritakan di sini malah jadi spoiler hehehe…

Dengan segala penanda low budget-nya serial ini, saya kembali dihantui pertanyaan,

Kok bisa sampai season 4?

Akhirnya pertanyaan saya terjawab.

KONFLIK YANG MEMIKAT

Jalinan konflik dalam ‘The 100’ sangat menarik diikuti, terutama yang terjadi antara keseratus remaja yang dikirim ke Bumi.  Dari seratus remaja tersebut, beberapa yang menjadi tokoh utama antara lain:

  1. Clarke Griffin, diperankan oleh Eliza Taylor asal Australia.
  2. Bellamy Blake, diperankan oleh Bob Morley asal Australia.
  3. Octavia Blake adik Bellamy, diperankan oleh Marie Avgeropoulos.
  4. Finn Collins, diperankan oleh Thomas MCDonell.

Selain keempat remaja tadi masih ada Monty Green, Jasper Jordan, Raven Reyes, Abigail Griffin, Marcus Kane, Thelonius Jaha, dan John Murphy yang makin membuat rumit jalannya cerita.  Tokoh-tokoh itu beberapa kali dihadapkan pada situasi yang membuat mereka mengambil pilihan sulit, dan hal itulah yang menjadi daya tarik ‘The 100’.

Disebut pilihan sulit karena pilihan tersebut merupakan benturan antara etika moral, kondisi ideal, sekaligus kondisi nyata yang dihadapi.

Seperti ini salah satu contohnya:

Bellamy, Finn, Murphy, Monroe, dan Sterling melakukan misi pencarian untuk menyelamatkan kawan-kawan mereka.  Di tengah perjalanan, mereka menemukan seseorang yang berasal dari Ark sedang tergantung di sebatang pohon yang kebetulan tumbuh di sisi tebing.  Etika moral dan kondisi ideal pasti mengharuskan mereka menolong orang tersebut, tapi apakah itu merupakan pilihan tepat melihat kondisi nyata yang mereka hadapi?

Nah, konflik semacam itu banyak kita jumpai di ‘The 100’ ketika keputusan yang akhirnya diambil tidak didasarkan pada baik atau buruk menurut standar moral.

Ditambah lagi, kita akan melihat bahwa setiap peristiwa yang terjadi berikut pilihan yang diambil perlahan tapi pasti akan mengubah tokoh-tokoh tadi.

Bellamy, misalnya, di awal-awal tampil bak pimpinan geng sehingga sebagian penonton melihatnya sebagai tokoh antagonis, namun seiring waktu kita akan melihatnya dengan cara berbeda.  Perlahan tapi pasti Bellamy berubah menjadi sosok yang bisa diandalkan.

Seperti itu pula yang terjadi pada tokoh-tokoh lain seperti Octavia, Finn, Murphy, Jasper, Marcus, Thelonius, dan lain-lain.

Pada akhirnya, konflik yang terjadi membuat saya menonton maraton episode demi episode ‘The 100’ yang masing-masingnya berdurasi 45 menit.

Akibatnya?  Insomnia saya kembali.

KESIMPULAN

Mulai musim ke dua sudah terlihat adanya peningkatan kualitas CGI selain make-up yang lebih realistis.  Jika di musim pertama kita melihat tokoh-tokoh ‘The 100’ berwajah mulus dengan tampang babyface, tidak demikian di musim-musim berikutnya, rupanya kerasnya upaya bertahan hidup sudah mengubah mereka.

Di tiap musim juga muncul tokoh-tokoh baru yang makin membuat gamang penontonnya, ini sebenarnya tokoh jahat atau baik?

Sejujurnya meski ada beberapa kebetulan yang terkesan dipaksakan, secara garis besar ‘The 100’ sangat-sangat enak diikuti.

Berikut beberapa review yang diambil dari laman IMDb:

“I started watching this because had nothing to do.  First impression, low budget acting and mediocre scripters.  But surprisingly, I got hooked.  This show is actually good!”

“I have to say it started a bit weak, but now I am completely addicted!”

“I was randomly browsing Netflix and started watching The 100, and what can I say… I got hooked to it.”

“I just hope it doesn’t have too many moral twists in it, but going back to watch ones that do is the norm too.”

“What’s more interesting about this show is that the complexity of the characters and the story.  It’s a mix of action, drama, comedy at some part and it don’t give a sh*t killing some characters! which make it more interesting.”

Yah, kebanyakan penonton menemukan ‘The 100’ secara tidak sengaja, menonton tanpa berharap banyak, dan ujung-ujungnya terpaku pada serial tersebut.

IMDb sendiri memberi rating 7.8 untuk series yang sudah hadir sejak tahun 2014 dan diangkat dari novel karya Kass Morgan ini.

Series ini tidak melulu bicara sci-fi bahkan mungkin porsinya relatif imbang antara sci-fi, action, dan drama.

Nah, jika netter sedang tidak tahu harus menonton apa kali ini, cobalah menonton ‘The 100’.  Jika sudah menontonnya, musim mana yang jadi favorit netter?

Terakhir, ‘The 100’ (yang dibaca The Hundred) mungkin menggunakan formula kekinian seperti ‘Hunger Games’ atau ‘Maze Runner’ yang menceritakan sekelompok remaja yang ditempatkan di sebuah tempat dan harus bertahan hidup dengan cara apapun.

Rasakan entakan-entakan di setiap episode ‘The 100’ dan selamat menonton!

Referensi & Tautan Luar:

  1. The 100, IMDb (http://www.imdb.com/title/tt2661044/?ref_=nv_sr_1)
  2. The 100, Wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/The_100_(TV_series))
  3. Introducing ‘The 100’: The Best Show You’re Not Watching, Hypable (https://www.hypable.com/the-100-cw-season-1-review/)

Cuplikan episode 1 season 1 The 100:

Sumber gambar: TVNZ

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: