The 100, Underrated Series yang (ternyata) Mengejutkan!

The 100, Underrated Series yang (ternyata) Mengejutkan | Ryan Mintaraga (tvnz)
The 100, Underrated Series yang (ternyata) Mengejutkan | Ryan Mintaraga (tvnz)

Daftar Isi

Lama baca: 6 menit

Akhirnya saya menyelesaikan season finale ‘The 100’.

Jujur, awalnya saya sedikit skeptis dengan ‘The 100’ karena tak ada pembahasan series ini di situs-situs review.  Saya (waktu itu) menonton ‘The 100’ pun hanya karena masuk kategori favorit saya yaitu sci-fi.

Waktu pertama kali menontonnya, series ini sudah masuk musim ke empat.

The 100, Sinopsis

Mengambil masa hampir 100 tahun setelah perang nuklir yang menyapu hampir seluruh kehidupan di Bumi, episode pertama ‘The 100’ dibuka dengan ditegakkannya hukum yang berlaku di Ark – sebuah stasiun luar angkasa yang merupakan gabungan beberapa stasiun luar angkasa dari berbagai negara.  Ark adalah tempat tinggal sementara di luar angkasa bagi penduduk Bumi yang selamat dari bencana radiasi nuklir – sebelum mereka bisa kembali ke Bumi.

ark, stasiun luar angkasa tempat tinggal manusia pasca perang nuklir (zoicstudios)
ark, stasiun luar angkasa tempat tinggal manusia pasca perang nuklir (zoicstudios)

Hukum yang berlaku di Ark sangat keras.  Sekecil apapun kesalahan, hukumannya adalah mati dengan cara dibuang ke luar angkasa. Hukum dijalankan atas persetujuan kanselir, karena itu kanselir sangat dibenci penduduk Ark.

Suatu hari, Ark mengirim 100 tahanan remaja ke Bumi.  Bagi sebagian tahanan, pengiriman ini berarti pembuangan, bagi sebagian yang lain berarti kesempatan. Bagi Ark, pengiriman ini untuk mencari tahu apakah permukaan Bumi sudah bisa dihuni kembali atau tidak – karena kondisi Ark semakin kritis.

Dari sinilah semuanya bermula karena Bumi saat itu ternyata tidak hanya indah namun sangat berbahaya, bahkan mematikan.

Baca juga: Marak! Komik Dewasa dengan Desain Karakter yang Imut (Hati-hati Memilih Bacaan untuk Anak)

Low Budget Series?

Setidaknya itu yang ada di pikiran saya saat melihat episode perdana (dan beberapa episode awal) ‘The 100’.

Baca juga:  Pengalaman Menggunakan Internet MyRepublic

Kesan low budget itu begitu terasa di mata saya mulai dari penggunaan CGI yang itu-itu saja sebagai establish shot Ark, penggunaan kamera kedua yang kemungkinan besar spesifikasinya berbeda (lebih rendah) dibanding kamera pertama, aktor/aktris yang kurang populer, dan hal-hal lain yang jika saya ceritakan di sini malah jadi spoiler hehehe…

Dengan segala penanda low budget-nya serial ini, saya kembali dihantui pertanyaan,

Kok bisa sampai season 4?

Akhirnya pertanyaan saya terjawab.

The 100, Penuh Konflik

Konflik dalam ‘The 100’ sangat menarik diikuti, terutama yang melibatkan seratus remaja yang dikirim dari Ark. Dari semuanya, beberapa yang menjadi tokoh utama antara lain:

  1. Clarke Griffin, diperankan oleh Eliza Taylor.
  2. Bellamy Blake, diperankan oleh Bob Morley.
  3. Octavia Blake adik Bellamy, diperankan oleh Marie Avgeropoulos.
  4. Finn Collins, diperankan oleh Thomas MCDonell.
octavia blake, salah satu tokoh dalam the 100 (wallpaperaccess)
octavia blake, salah satu tokoh dalam the 100 (wallpaperaccess)

Selain keempatnya, masih ada Monty Green, Jasper Jordan, Raven Reyes, Abigail Griffin, Marcus Kane, Thelonius Jaha, dan John Murphy yang semakin membuat rumit jalannya cerita.  Tokoh-tokoh itu beberapa kali dihadapkan pada situasi yang membuat mereka mengambil pilihan sulit, dan hal itulah yang menjadi daya tarik ‘The 100’.

Disebut sulit karena pilihan tersebut merupakan benturan antara etika moral, kondisi ideal, dan kondisi nyata yang dihadapi.

Seperti ini salah satu contohnya:

Bellamy, Finn, Murphy, Monroe, dan Sterling melakukan misi pencarian untuk menyelamatkan kawan-kawan mereka.  Di perjalanan mereka menemukan seseorang yang berasal dari Ark sedang tergantung di sebatang pohon yang kebetulan tumbuh di sisi tebing.  Etika moral dan kondisi ideal pasti mengharuskan mereka menolong orang tersebut, tapi apakah itu merupakan pilihan tepat melihat kondisi nyata yang mereka hadapi?

Baca juga:  Video Klip Seksi vs Gunting Sensor (Mengenal P3SPS)

Konflik yang Mengubah Karakter Tokoh-tokohnya

Konflik serupa banyak kita temui di ‘The 100’. Pada akhirnya keputusan yang diambil tidak didasarkan pada baik atau buruk menurut standar moral.

Kita juga akan menyadari bahwa setiap peristiwa yang terjadi berikut pilihan yang diambil perlahan tapi pasti akan mengubah tokoh-tokoh tadi dan memengaruhi tokoh-tokoh lainnya.

Bellamy, misalnya, di awal-awal tampil bak pimpinan geng sehingga sebagian penonton melihatnya sebagai tokoh antagonis, namun seiring waktu kita akan melihatnya dengan cara berbeda.  Perlahan tapi pasti Bellamy berubah menjadi sosok yang bisa diandalkan.

Begitu pula yang terjadi pada tokoh-tokoh seperti Octavia, Finn, Murphy, Jasper, Marcus, Thelonius, dan lain-lain.

Belitan konflik dalam ‘The 100’ membuat saya menonton maraton episode demi episode yang masing-masingnya berdurasi 45 menit.

Baca juga: Cara Langganan NETFLIX tanpa Kartu Kredit

Kesimpulan

Memasuki musim ke dua sudah terlihat adanya peningkatan kualitas CGI selain make-up yang lebih realistis.  Bila di musim pertama kita melihat tokoh-tokoh ‘The 100’ berwajah mulus dengan tampang babyface, tidak demikian di musim-musim berikutnya. Rupanya kerasnya survival sudah mengubah mereka.

Di tiap musim juga bermunculan tokoh-tokoh baru yang makin membuat gamang penontonnya, ini sebenarnya tokoh jahat atau baik?

Sejujurnya meski ada beberapa kebetulan yang terkesan dipaksakan, secara garis besar ‘The 100’ sangat-sangat enak diikuti.

Review ‘The 100’ di IMDb:

“I started watching this because had nothing to do.  First impression, low budget acting and mediocre scripters.  But surprisingly, I got hooked.  This show is actually good!”

“I have to say it started a bit weak, but now I am completely addicted!”

“I was randomly browsing Netflix and started watching The 100, and what can I say… I got hooked to it.”

“I just hope it doesn’t have too many moral twists in it, but going back to watch ones that do is the norm too.”

“What’s more interesting about this show is that the complexity of the characters and the story.  It’s a mix of action, drama, comedy at some part and it don’t give a sh*t killing some characters! which make it more interesting.”

Yah, kebanyakan penonton menemukan ‘The 100’ secara tidak sengaja, menonton tanpa berharap banyak, dan ujung-ujungnya terpaku pada serial tersebut.

Baca juga:  Pak Presiden & 'Game of Thrones', Apa Kaitannya?

IMDb sendiri memberi rating 7.8 untuk series yang sudah hadir sejak tahun 2014 dan diangkat dari novel karya Kass Morgan ini.

Series ini tidak melulu bicara sci-fi bahkan mungkin porsinya relatif imbang antara sci-fi, action, dan drama.

tipa season memunculkan tokoh-tokoh baru yang membuat penontonnya gamang (hollywoodreporter)
tipa season memunculkan tokoh-tokoh baru yang membuat penontonnya gamang (hollywoodreporter)

Nah, jika netter sedang tidak tahu harus menonton apa kali ini, cobalah menonton ‘The 100’.  Jika sudah menontonnya, musim mana yang jadi favorit netter?

Referensi & Tautan Luar:

  1. The 100, IMDb
  2. The 100, Wikipedia
  3. Introducing ‘The 100’: The Best Show You’re Not Watching, Hypable

Cuplikan episode 1 season 1 The 100:

Sumber gambar: TVNZ

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Ada pendapat? Sila tulis di bawah sini