Terkaget-kaget di Ho Chi Minh City

Lama baca: 6 menit

Pukul 09.05 waktu setempat, pesawat Nok Air yang saya tumpangi mendarat di bandara Tansonnhat International, Ho Chi Minh (SGN). Berangkat dari bandara Don Mueang Bangkok (DMK) pukul 07.35, ada perbedaan waktu satu jam antara Bangkok (dan Jakarta) dengan Ho Chi Minh sehingga sejatinya penerbangan Bangkok – Ho Chi Minh memakan waktu dua setengah jam.

Kota Ho Chi Minh dulunya bernama Saigon dan menjadi ibu kota Vietnam Selatan yang pro-Barat. Setelah Vietnam Utara yang komunis menaklukkan Vietnam Selatan dalam Perang Vietnam (1975) dan melaksanakan reunifikasi, nama Saigon diubah menjadi Ho Chi Minh. Ho Chi Minh sendiri adalah nama seorang negarawan sekaligus Bapak Bangsa Vietnam.

Kembali ke topik.

Setelah turun dari pesawat, berikutnya kita menuju counter imigrasi. Saya dan seorang teman mengantre di counter yang bertuliskan All Passports, sementara seorang teman yang datang belakangan karena harus ke toilet – mengantre di counter Asean.

Tak disangka, mengantre di counter Asean ternyata prosesnya lebih cepat dibanding All Passports. Yang saya lihat memang untuk beberapa turis bule, mereka diharuskan melengkapi paspornya dengan mengisi formulir Visa on Arrival, beda dengan pemegang paspor Asean yang istilahnya datang tinggal cap.

Baca juga: Wisata Suka-suka di Bangkok

Terkaget-kaget oleh Lalu Lintas di Ho Chi Minh

Dengan menggunakan taksi online, perjalanan untuk melihat kehidupan masyarakat Ho Chi Minh pun dimulai.

Kejutan pertama dari Vietnam adalah: mobilnya setir kiri, lalu lintasnya jalur kanan.

Sempat ada kejadian lucu. Teman saya yang bermaksud duduk di kursi depan hendak membuka pintu sebelah kiri sebelum diingatkan, “Mas, pintu yang dibuka yang kanan. Yang kiri pintu driver.”

mobil di vietnam, sistem setir kiri dan jalur kanan, dokpri
mobil di vietnam, sistem setir kiri dan jalur kanan, dokpri

Kejutan berikutnya datang dari lalu lintas Ho Chi Minh yang menurut saya lebih ‘buas’ dari Jakarta. Kendaraan-kendaraan – khususnya motor – melaju kencang ditimpali bunyi klakson berkali-kali. Beberapa kali pula saya melihat motor naik ke trotoar.

motor naik trotoar, dokpri
motor naik trotoar, dokpri

Sudah begitu, hampir seluruh persimpangan di Ho Chi Minh tidak dipasangi traffic light!

Teman saya berujar, “Ini yang menarik di Vietnam, nggak ada lampu merah.”

Nah, sila dibayangkan sebuah kota tanpa traffic light. Bagaimana jika mobil yang kita bawa harus belok kiri di sebuah perempatan besar yang jalannya dua arah? Ingat, ini jalur kanan. Mungkin kita akan ruwet memikirkannya, bahkan di Jakarta hal seperti ini bakal jadi biang macet.

Tapi tidak di Ho Chi Minh.

Di kota ini belok ya belok saja, tak usah khawatir bakal bikin macet karena para pengguna jalan sudah saling mengerti.

Di kota ini juga kalau mau menyeberang ya menyeberang saja, tak perlu tengok kiri-kanan memastikan keadaan seperti di Jakarta.

Nggak usah mikir bakal diklakson. Begitu pengemudi lihat ada orang menyeberang, mereka otomatis membelokkan arah kendaraannya. Bahkan jika pun terpaksa jalan terus, mereka akan mengangkat tangan tanda meminta maaf dan terima kasih pada si penyeberang.

Saya pernah baca sebuah artikel yang secara berseloroh mengatakan bahwa menyeberang jalan di Ho Chi Minh City sambil tutup mata pun bisa sampai ke seberang dengan selamat.

zebra cross di salah satu sudut kota, tanpa traffic light, nyebrang ya tinggal nyebrang, nggak pake tengok kiri-kanan, dokpri
zebra cross di salah satu sudut kota, tanpa traffic light, nyebrang ya tinggal nyebrang, nggak pake tengok kiri-kanan, dokpri

Terkaget-kaget oleh Penduduk Ho Chi Minh

Mata uang Vietnam adalah Dong yang kursnya saat ini masih di bawah Rupiah. Pecahan terbesar yang saya temui adalah 500.000 Dong yang nilainya kurang lebih setara dengan Rp 300.000.

penampakan mata uang dong, dokpri
penampakan mata uang dong, dokpri

Hotel tempat saya menginap tidak begitu jauh dari Ben Tanh Market yang disebut-sebut pusat oleh-olehnya kota Ho Chi Minh. Perjalanan dari hotel ke Ben Tanh hanya berjarak sekitar 1,5 km dan memakan waktu lima belas menit jalan kaki.

Tepat di sebelah dan seberang hotel saya ada tempat – ehm – massage plus plus. Marketingnya menawarkan dengan cara yang terhitung agresif, menawarkan sampai mengikuti kami hingga beberapa meter.

di sebelah kanan ada papan bertuliskan spa, layanan seperti ini lumayan banyak dijumpai di ho chi minh, setidaknya di area sekitar hotel saya menginap, dokpri
di sebelah kanan agak ke bawah ada papan bertuliskan spa, layanan seperti ini lumayan banyak dijumpai di ho chi minh, setidaknya di area sekitar hotel saya menginap, dokpri
berjajar spa yang sekaligus menawarkan massage, beberapa diantaranya bisa jadi menawarkan massage plus plus, dokpri
berjajar spa yang sekaligus menawarkan massage, beberapa diantaranya bisa jadi menawarkan layanan plus plus, dokpri

Untuk massage-nya sendiri seingat saya harga paling murah adalah 160.000 Dong untuk foot massage, untuk body massage mulai 250.000 Dong. Menurut cerita seorang teman yang pernah merasakan massage ala Vietnam, massage-nya bagus, para terapisnya – walau gadis-gadis muda yang berpakaian seksi – memahami massage yang benar, bukan sekadar massage ala Indonesia yang menurutnya asal pijat.

“Cuma ya itu, ujung-ujungnya lebih besar tipsnya daripada ongkos pijatnya,” kata teman saya.  “Apalagi kalo kita pake acara megang-megang (bagian tubuh) terapisnya.”

Oke skip skip.

Bicara agresivitas, sepertinya penduduk Ho Chi Minh memang tak sungkan dengan towal towel terhadap orang asing. Saat menunggu teman yang sedang mengambil uang di ATM, saya kaget karena ditowel seorang pengemis. Kemudian sewaktu belanja suvenir, teman saya mengeluhkan perilaku towal towel para pedagang.

“Mana orangnya cantik, lagi,” katanya.  “Bahaya ini.”

Beeuh.

Halaman berikutnya: Cari Makanan Halal?

Tulisan Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 141 views sejak dipublish

2 pemikiran pada “Terkaget-kaget di Ho Chi Minh City”

  1. Aku trakhir ke HCMC 2011. Jujurnya sempet kena SCAM dr 2 pengemudi becak, yg udh tuwir. Intinya sih, aku dan suami naik becaknya deal harga 320rb dong. Tp pas bayar, itu kakek2 Surjana bilang, hrg yg disepakati belum di kali 2 orang, di kali 5 jam. Aku sumpahin beneran tuh org. Padahal di awal aku udh hati2 karena tau vietnam itu banyak banget scam nya. Malah kena juga.

    Cuma dibilang kapok sih, ga yaaa. Msh pgn kok DTG ke kota lainnya kayak Sapa,Da Nang, dan Dalat. Hanoi juga belum

    Oh iya, traffic di sana itu luar biasa memang :p. Lah HR pertama aja, aku udh ngeliat motor tabrakan sampe 3x :p

    Balas

Ada pendapat? Sila tulis di bawah sini

%d blogger menyukai ini: