Sukses Melamar Kerja Bagi Fresh Graduate

Sukses Melamar Pekerjaan bagi Fresh Graduate | Ryan Mintaraga (Image: Pexels)
Sukses Melamar Pekerjaan bagi Fresh Graduate | Ryan Mintaraga (Image: Pexels)

Daftar Isi

Lama baca: 7 menit

Tak bisa dipungkiri, bagi kebanyakan orang, melamar kerja adalah satu hal yang menakutkan – terlebih bagi para fresh graduate karena di sinilah mereka berhadapan dengan dunia nyata. Melamar kerja juga jadi semacam tekanan lingkungan karena akan ada orang yang bertanya, “Gimana? Kamu kerja apa sekarang?” atau “Lamaran (pekerjaan) yang kamu kirim sudah ada jawaban belum?”

Bagi para fresh graduate, mendapatkan pekerjaan adalah hal yang sulit – bahkan mungkin makin sulit di saat-saat seperti ini. Namun, mendapatkan pekerjaan bukan hal yang mustahil. Faktanya masih ada perusahaan yang memprioritaskan fresh graduate dalam perekrutan karyawannya. Bahkan di era new normal, bukan mustahil akan terjadi pergeseran pola perekrutan karyawan.

Dikutip dari Job-Like Magazine, WFH atau remote work akan menjadi salah satu pilihan pola kerja yang lumrah. Pasalnya, ke depan, ‘bekerja’ bukan hanya terikat pada ‘lokasi’, melainkan aktivitas atau tugas berbasis web. Artinya, bekerja bisa dilakukan di mana saja asal terhubung dengan internet. Pola kerja semacam itu jelas cocok dengan karakteristik generasi milenial dan generasi Z yang lebih menyukai waktu dan pola kerja yang fleksibel, juga karena generasi ini sudah lebih akrab dengan teknologi.

Nah!

Meski begitu, tetap ada hal-hal yang perlu diperhatikan para fresh graduate dalam melamar pekerjaan supaya peluang sukses mendapat pekerjaan yang diidamkan makin besar.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber dan hasil perbincangan dengan beberapa staf HRD yang sudah hampir 20 tahun menangani proses perekrutan.

Mari kita simak!

Networking Alias Relasi

Jika ada yang menyamakan relasi dengan The Power of Orang Dalam, rasanya kurang tepat.

Networking lebih ke seberapa luas jaringan perkenalan, baik dengan yang sebaya maupun yang lebih tua atau muda. Networking bisa didapat dari situs-situs komunitas, grup internet, termasuk organisasi di dunia nyata. Semakin luas jejaring yang dimiliki, semakin banyak informasi lowongan yang didapat.

Baca juga:  Tips Berfoto untuk Surat Lamaran Pekerjaan

Faktanya, kebanyakan HRD lebih memprioritaskan pelamar yang punya kenalan, lebih-lebih di perusahaan tersebut. Kenalan tersebut tidak harus orang yang punya jabatan tinggi, bahkan seorang office boy saja bisa merekomendasikan seorang pelamar.

Di mata HRD, pada dasarnya pelamar adalah orang asing, orang tidak dikenal yang tahu-tahu datang begitu saja melamar pekerjaan.

Sebagai manusia biasa, HRD butuh jaminan bahwa si pelamar adalah orang yang bisa dipercaya, dan karyawan yang sudah bekerja di perusahaan itulah yang jadi jaminannya.

Tentu saja, karyawan yang menjadi penjamin haruslah karyawan yang baik, tidak bermasalah.

Karena itu, bagi para calon pelamar kerja, selalu jalin relasi yang baik dengan siapapun, perluas networking. Siapa tahu salah satu dari mereka kelak memberi rekomendasi ataupun info lowongan pekerjaan.

Demi etika, networking biasanya ditulis sebagai ‘Referensi’, berada di bagian paling akhir CV. Semakin tinggi jabatan si pemberi referensi atau semakin terkenal namanya, semakin besar pula peluang yang dimiliki pelamar.

CV yang Lengkap dan Mudah Dibaca

Dibanding beberapa tahun lalu, saat ini CV yang dilampirkan pelamar kerja sudah lebih menarik dan berwarna-warni. Faktanya pula, lembar pertama yang akan dibaca HRD adalah CV, bukan surat lamaran.

Di situ HRD akan mencari data pelamar seperti:

  • Nama lengkap dan jenis kelamin
  • Usia
  • Foto
  • Nomor ponsel atau WhatsApp
  • Alamat
  • Pendidikan dan/atau pengalaman kerja (bila ada)
  • Link portfolio (bila ada)
  • Akun media sosial dan/atau surel
  • Tinggi dan berat badan (untuk beberapa posisi tertentu)

Data tersebut akan digunakan sebagai penyaring pertama apakah si pelamar akan diloloskan ke tahap berikutnya, dipertimbangkan, atau langsung ditolak.

CV sedikit banyak menggambarkan kepribadian dan cara berpikir penulisnya.

Pastikan Tidak Ada Kesalahan Tulis

Sedikit cerita, sewaktu saya diminta menyaring calon karyawan, ada satu yang sebetulnya memenuhi syarat. Hanya saja, yang bersangkutan tidak teliti. Ia salah memasukkan nomor ponsel. Akibatnya perusahaan tidak bisa menghubungi yang bersangkutan.

pastikan cv ditulis dengan baik, lengkap, dan tentu saja mudah dibaca (lukas/pexels)
pastikan cv ditulis dengan baik, lengkap, dan tentu saja mudah dibaca (lukas/pexels)

Karena itu, pastikan tidak ada kesalahan dalam menulis CV, utamanya untuk data-data di atas.

Baca juga:  YouTuber, Ini Rahasia Membuat Thumbnail yang 'Menjual'

Pasang Foto Diri yang Menampakkan Wajah dengan Jelas

Saat ini foto yang dilampirkan dalam CV sudah lebih fleksibel. Pelamar bebas berpose untuk CV-nya.

Namun, kembali lagi, saya pernah menemukan pelamar yang berfoto seluruh badan dengan wajah yang tak terlihat jelas. Saya tentu saja bingung, bagaimana bisa saya mengenali wajahnya?

Karena itu, sekreatif apapun dalam melampirkan foto untuk CV, tetap ikuti aturan dasar bahwa foto harus menampakkan wajah dengan jelas. Untuk ini, sila baca tulisan saya ‘Tips Berfoto untuk Surat Lamaran Pekerjaan’.

Pendidikan, Perlukah Ditulis Semua?

Sejauh ini ada beberapa pendapat di kalangan HRD mengenai pendidikan, yaitu:

  • Cukup pendidikan terakhir saja yang ditulis beserta tahun akademiknya.
  • Seluruh jenjang pendidikan ditulis beserta tahun akademiknya, namun hanya pendidikan terakhir yang ditulis lengkap.
  • Seluruh jenjang pendidikan ditulis beserta lokasi dan tahun akademiknya.

Apapun itu, HRD biasanya hanya memerlukan informasi pendidikan terakhir saja.

Yang tak kalah penting adalah pendidikan nonformal seperti kursus, workshop, ataupun pelatihan yang pernah diikuti.

Tuliskan pendidikan nonformal yang pernah diikuti, prioritaskan pada bidang yang berkaitan dengan posisi pekerjaan yang diinginkan atau bidang yang menaikkan nilai si pelamar di mata HRD.

Lembaga yang mengeluarkan sertifikat pun biasanya jadi perhatian para HRD. Semakin bonafid lembaga tersebut, makin tinggi bobot yang diberikan HRD. Saat ini banyak lembaga dari luar negeri yang mengadakan kursus daring (online). Tak ada ruginya mengambil kursus daring.

Di CV, tuliskan jenjang pendidikan dari yang paling baru (kuliah) sampai yang paling lawas (SD).

Pengalaman Kerja

Jika pelamar memiliki pengalaman berorganisasi, melakukan kerja lepas (freelance), atau magang, tulis ke dalam CV.

Baca juga:  Langganan NETFLIX tanpa Kartu Kredit? Bisa!

Deskripsikan setiap pengalaman kerja yang dimiliki dengan jelas:

  • Kapan waktunya,
  • Apa posisi yang diduduki,
  • Uraikan job desc.

Tuliskan pengalaman kerja dari yang paling baru (saat ini) sampai yang paling lawas (beberapa bulan/tahun lalu).

Akun Media Sosial

Suka atau tidak, etis atau tidak, beberapa HRD men-stalk akun media sosial karyawan dan calon karyawannya.

HRD yang berlatar belakang psikologi bisa membuat profil si pelamar berdasarkan postingan di medsosnya.

Percaya atau tidak, HRD yang seperti itu bisa menggambarkan kepribadian si pelamar serta memprediksi potensi masalah yang ditimbulkan bila kelak si pelamar bekerja di perusahaan.

sebagian hrd ditugaskan mengintip akun medsos karyawan dan calon karyawannya, karena itu hati-hati dengan postingan (gerd altmann/pixabay)
sebagian hrd ditugaskan mengintip akun medsos karyawan dan calon karyawannya, karena itu hati-hati dengan postingan (gerd altmann/pixabay)

Karena itu berhati-hatilah dalam memposting apapun di medsos.

CV Harus Mudah Dibaca

Ini penting.

Bagaimanapun, CV memuat informasi si pelamar. Karena itu buatlah CV yang jelas strukturnya. Gunakan pula tipografi yang mudah dibaca; pemilihan font, warna, ukuran, dan sebagainya.

Hal kecil yang jangan dilupakan, beri jarak yang cukup dari margin kiri kertas karena bagian kiri kertas biasanya akan dijepit clip, distaples, ataupun diperforasi (dilubangi) saat akan diarsipkan. Jika tulisan terlalu dekat dengan margin kiri, ada kemungkinan informasi yang disampaikan tak akan terbaca.

Jika CV tak bisa dibaca, peluang mendapat pekerjaan yang diidamkan pun mengecil.

Desain CV, Pilih Klasik Atau Kekinian?

Ini relatif.

Beberapa HRD senior tak keberatan dengan CV kreatif kekinian yang full colour, sementara lainnya lebih menyukai tampilan klasik yang sejuk di mata.

Untuk alasan tertentu, saya pribadi (yang bukan orang HRD) lebih menyukai tampilan klasik. Strukturnya jelas, tipografi lebih bersahabat dengan mata tua saya, juga nggak boros tinta printer.

Tapi sekali lagi, itu relatif.

Halaman berikutnya: Etiket Pelamar Saat Dihubungi Perusahaan

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar