Selingkuh?

Cinta gelisah.

Sudah beberapa bulan ia curiga dengan sikap Romi – suaminya.  Romi seolah tak pernah mau lepas dari ponselnya yang selalu ditenteng ke mana-mana.  Bahkan sebelum tidur, Romi menyempatkan diri membuka ponselnya seperti memeriksa apakah ada pesan yang masuk.

Itu satu, batin Cinta.

Berikutnya, ia memperhatikan terkadang ada pesan yang membuat suaminya senyum-senyum sendiri.

Jika ditanya, Romi hanya menjawab singkat,

“Ini ada teman ngirim cerita lucu di grup.”

Padahal Cinta tahu suaminya bukan orang yang peduli pada grup chatting.

Dua.

Pernah saat suaminya sedang mandi, Cinta mencoba mencari tahu isi ponsel Romi.  Namun betapa kagetnya Cinta saat tahu ponsel suaminya dilindungi password.

Selama 13 tahun pernikahannya, Romi adalah tipe laki-laki yang tidak mau direpotkan dengan segala urusan password.

“Ribet,” kata Romi waktu itu.

“Kok ribet?” tanya Cinta.

“Ya, mau buka handphone aja harus masukin password dulu.  Kalo mau motret, keburu ilang tuh momen,” jawab Romi.

Kini setelah 13 tahun, suaminya mem-password ponselnya.

Tiga.

* * *

“Sepertinya kamu lebih harus mengawasi suamimu,” saran salah seorang sahabatnya setelah Cinta menceritakan gelagat Romi yang tidak biasanya itu.  “Takutnya suamimu… hmm…,” sahabatnya itu tidak meneruskan kata-katanya.

“Selingkuh maksudmu?” tegas Cinta yang dijawab dengan anggukan.

“Maaf, bukan maksudku sok tau atau ikut campur urusan rumah-tanggamu,” ujar sahabatnya lagi.  “Tapi kalo denger ceritamu barusan, sepertinya memang arahnya ke sana.  Apalagi kaya’nya umur suamimu sudah di sekitar 40.”

“Ya, tahun ini 39 tahun,” sahut Cinta.  “Kenapa?”

Sahabatnya memandang Cinta dengan tatapan bingung.

“Kamu nggak tau?” tanyanya.

“Apa?” tanya Cinta.

“Puber kedua, honey.  Sepertinya suamimu sedang puber kedua.”

Cinta menghela napas.

Puber kedua?  Romi?

“Coba kamu baca ini,” tutur sahabatnya sembari menyerahkan tabnya pada Cinta.

“Orang bilang, pesona seorang laki-laki akan tampak saat usianya menginjak 40 tahun.  Kehidupan di usia tersebut biasanya sudah relatif stabil dari segi karir maupun rumah-tangga.

Laki-laki di usia 40 biasanya sudah tidak berpikir untuk pindah kerja, apalagi biasanya beberapa tugas sudah bisa didelegasikan pada rekan yang lebih muda.  Karena beban tugas mereka sudah lebih rendah dibanding dulu, kondisi tubuh mereka-mereka yang berusia 40 tahun malah terlihat lebih segar dibanding junior-juniornya.  Dan dari sinilah daya tarik mereka di mata lawan jenis muncul.

Sedang dari segi rumah-tangga, laki-laki di usia 40 biasanya memiliki anak yang rata-rata berusia 10 tahun.  Peran orangtua bagi anak-anak di usia tersebut lebih pada pembimbingan moral dan etika karena mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri.  Kembali lagi karena pikiran mereka sudah tidak terlalu terkuras pada masalah anak, laki-laki di usia 40 akan terlihat seperti orang yang sedang menikmati hidup, dan ini akan menjadi daya tarik mereka di mata lawan jenis yang usianya lebih muda. (ls)”

Cinta mendesah.

“Begitu ya?”

Siapa orangnya?

Siapa perempuan itu?

* * *

“Sayang, hari ini aku pulang terlambat.  Kamu makan aja duluan, nggak usah nunggu aku,” siang itu Romi meneleponnya.

“Tapi hari ini aku masak kesukaan kamu,” Cinta mencoba protes.

“Maaf, tapi aku nggak yakin bisa makan di rumah atau nggak,” ujar Romi.  “Kamu sisain aja makanannya buatku ya?”

Cinta menghela napas.

“Baiklah,” gumamnya.

“Makasih, Sayang.  Bye,” Romi menutup teleponnya.

Tubuh Cinta terasa lunglai.  Apa yang ditakutinya menjadi kenyataan.

Romi… selingkuh?

Kemudian Cinta teringat sudah beberapa kali suaminya bertingkah seperti tadi.

“Maaf, Sayang.  Besok aku sudah ada janji sama orang.  Kamu jalan sendiri ya?”

“Sayang, malam ini aku mendadak harus kerja.  Ada deadline buat besok.”

“Sayang, nanti jalan-jalannya jangan lama-lama ya, kalo bisa sebelum jam 7 sudah pulang, aku ada urusan penting.”

* * *

Malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Romi bisa makan di rumah.  Ada rona kebahagiaan di wajah Cinta melihat suaminya akhirnya makan malam di rumah mereka, rumah peninggalan orangtua Cinta.

Namun terselip juga rasa khawatir.

Romi pendiam sekali.

Kenapa?

Sewaktu makan tadi, beberapa kali Cinta mencoba berbicara dengan Romi namun yang diajak bicara hanya menjawab singkat dengan gumaman, seolah-olah si pemilik suara sedang tidak mau diganggu.

Dan akhirnya…

“Cinta,” Romi akhirnya membuka mulut.  Suaranya terdengar sangat serius.

Dan tiba-tiba Cinta merasa takut, namun ia berusaha menyembunyikannya.

“I… iya?” tanyanya tergagap.

Ia memanggil namaku, bukan sebutan ‘sayang’ seperti biasanya.

Dilihatnya Romi menghela napas.

“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.”

Deg!

Jantung Cinta berdegup kencang.  Rasa panik dan takut menguasai dirinya saat ini.

A… apa yang mau dia katakan?

Kenapa… kenapa aku jadi takut?

Apa…

Apa ini saatnya?

Dilihatnya Romi mengambil sesuatu dari tas kerja yang sejak tadi diletakkan di kursi makan.

Cinta ingat, Romi tadi melarang dirinya memindahkan tas kerja itu.

Sesuatu yang diambil dari dalam tas itu adalah amplop coklat.

Degup jantung Cinta semakin kencang, tubuhnya semakin lemas.

Dengan desiran halus, Romi – pria yang dicintainya – mengambil sesuatu dari amplop coklat itu.

Sebuah map!

Sebuah map berwarna biru muda!

Apa isi map itu?

Pasti surat!

Tapi surat apa?

Romi berdehem, lelaki itu sepertinya berusaha menyembunyikan perasaannya.

Dengan wajah dingin dia berkata pada istrinya,

“Maaf, Cinta.  Aku langsung saja.  Aku minta kamu tandatangani surat ini.”

Mata Cinta terbelalak!  Ia sungguh terkejut!

“Su… surat?” ia kembali tergagap.  “Surat apa?”

“Kamu bakal tau.  Sekarang yang penting kamu tandatangan saja dulu.”

“Ta… tapi–“

“Sudahlah, Sayang.  Tandatangan saja.  Ini.”

Romi menyerahkan bolpoin pada Cinta kemudian mengangsurkan selembar kertas yang harus ia tandatangani.

Tubuh Cinta bergetar.  Hatinya saat ini hancur sehancur-hancurnya.

Romi akan mencampakkanku!

“Aku tau,” gumamnya.  “Aku tau isi surat ini.”

“Sudahlah,” tukas Romi.  “Kamu tandatangan saja.”

“Seperti apa dia?” Cinta tak mempedulikan permintaan Romi.  “Seperti apa perempuan yang bisa bikin kamu mau menceraikan aku?  Seperti apa?!”

“Cinta–” panggil Romi.

“Cukup!” potong Cinta.  “Jangan kira aku nggak tau kelakuanmu.  Akhir-akhir ini kamu nggak bisa lepas dari handphone, kamu juga senyum-senyum kalo ada pesan masuk, trus handphonemu sekarang dipassword.  Kamu kira aku nggak tau?!  Kamu selingkuh ‘kan?!”

Romi termangu sementara Cinta melanjutkan ucapannya,

“Kamu mau cerai dari aku!  Fine!  Aku terima!  Aku cuma ingin tau seperti apa orangnya!  Setelah itu kita selesai!  SELESAI!!”

Dengan perasaan yang tak karuan, Cinta menandatangani surat tersebut.  Ia belum bisa mengetahui isi surat tersebut karena semuanya ditutup oleh Romi, kecuali di bagian yang harus ia tandatangani.

“Sudah semua?” tanyanya dengan tubuh lunglai sementara tampak Romi tersenyum puas.

“Terimakasih, Sayang,” ujar laki-laki tersebut.

“Nggak usah basa-basi.  Sekarang penuhi janjimu,” Cinta gusar.  “Aku mau tau seperti apa orangnya.”

Mendadak Romi tertawa terbahak-bahak.  Ia bermaksud merangkul istrinya namun ditepis oleh Cinta.

“Kenapa kamu ketawa?”

“Sayang, sekarang kamu boleh baca isi surat ini,” tukas Romi sembari menyerahkan map biru tersebut pada Cinta.

Di sampul depan map tersebut tertera tulisan besar-besar:

AKTA JUAL BELI

Penasaran, Cinta membaca isi surat tersebut.

“Nah, gimana?” tanya Romi tersenyum jahil.  “Masih marah sama aku?”

“Ini… ini buatku?” Cinta tak percaya.  “Kamu… kamu… beliin rumah buat aku?”

“Memangnya buat siapa lagi?”

“Tapi… uangnya?”

“Oh itu,” Romi mengibaskan tangannya.  “Aku main saham dan valas tapi aku nggak mau kamu tau.”

“Kenapa?” tanya Cinta.

Romi mengangkat bahu.

“Main saham dan valas ibarat main judi.  Kadang untung, kadang rugi.  Aku nggak mau kamu cemas dan kepikiran kalo aku loss dan kehilangan uang, karena itu aku sengaja nggak ngasih tau biar resikonya kutanggung sendiri.  Itu sebabnya handphone aku password karena isinya kebanyakan info pergerakan harga.  Nih,” tutur Romi sembari menyerahkan ponselnya pada Cinta.

Benar kata Romi, ponsel Romi penuh berisi informasi pergerakan harga yang bahkan sama sekali tak mampu Cinta pahami.

Romi melanjutkan ceritanya,

“Dan info itu datangnya bisa kapan aja, aku mesti standby 24 jam, itu sebabnya aku kemarin ke mana-mana bawa handphone.  Nah, kalo kemarin kamu liat aku senyum-senyum, itu karena aku dapet untung, dan minggu lalu aku dapet untung besar!  Makanya aku bisa beli rumah buat kamu.”

Cinta termangu.

“Jadi, semuanya sudah jelas ‘kan, Sayangku?” Romi menggoda Cinta.

“Kamu jahat!” tukas Cinta.  “Jahat banget!  Bikin aku jantungan setengah mati.”

Romi hanya tertawa.  Ia kemudian menggandeng lengan istrinya.

“Nah, mau liat rumah baru kita?” tawarnya.

***

Malam itu ponsel Romi berbunyi lirih disertai getaran pendek, rupanya ada satu pesan masuk.  Dengan malas dan mata yang setengah terpejam, Romi mengambil ponselnya dan duduk di pinggir tempat tidur.

Pesan tersebut dikirim dari nomor yang tak terdaftar di ponselnya.

“Maas, besok kita jadi ketemuan ‘kan?  Kamu tau nggak sih kalo tiba-tiba malam ini aku kangeeen banget sama kamu.  Malam ini aku tidur sendirian deh, tapi janji besok kamu temani aku yaa.  Salam kangen kangen kangen kangen kangen.

Note: Dari tadi aku pengen ngirim pesan ini tapi takut ketauan istri Mas.  Tau nggak sih kalo aku juga bisa cemburu?”

Kening Romi berkerut membaca pesan tersebut.

Tak ada yang tahu apa yang lelaki tersebut pikirkan saat ini.

-Jakarta, 21 Oktober 2018-

Video: “Sephia” – Sheila on 7

Sumber gambar: Humairoh

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Related Post

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: