Proyek Listrik 35.000 MW dan Sepak Terjang Bandit Ekonomi

Perbedaan pendapat antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam proyek listrik 35.000 MW mendadak membuat saya teringat bacaan lama – sekitar 10 tahun lalu, sebuah buku berjudul “Confessions of An Economic Hitman” yang ditulis oleh John Perkins.

Dalam buku tersebut, si penulis (John Perkins) mengaku bahwa dirinya pernah bekerja sebagai – menurut istilahnya – Economic Hitman alias Bandit Ekonomi.  Tugas bandit ekonomi adalah memuluskan upaya penguasaan sumber daya alam di suatu negara agar beralih ke tangan negara tempat para bandit tersebut bekerja – dalam hal ini Amerika Serikat, atau lebih tepatnya ke tangan para pemilik perusahaan multinasional.

Bagaimana Cara Kerja Para Economic Hitman?

Secara garis besar, cara kerja para Economic Hitman (EHM) ini adalah:

  1. EHM akan ditempatkan di perusahaan konsultan proyek lalu ditugaskan di negara-negara yang berniat membangun proyek insfrastruktur.
  2. EHM kemudian membuat prediksi fantastis pada para pemimpin negara tersebut, prediksi bahwa negara tersebut akan menikmati capaian ekonomi mengagumkan dalam beberapa tahun ke depan. Di sini para EHM sudah memasang perangkap.  Mereka membuat prediksi bohong.
  3. Perangkap berikutnya yang disiapkan EHM berupa prediksi lanjutan bahwa dengan capaian ekonomi yang mengagumkan itu, negara tersebut perlu menyediakan infrastruktur yang besar, infrastruktur yang biaya pembangunanannya berada di luar kemampuan negara tersebut.
  4. Untuk membangun infrastruktur tersebut, negara yang bersangkutan akan diberi pinjaman uang (dari negara asal EHM yaitu AS lewat berbagai lembaga keuangan) dengan syarat bahwa proyek tersebut harus dikerjakan oleh kontraktor dari negara pemberi pinjaman.

Selesai?  Win-win solution?

Mungkin ya, tapi babak berikutnya baru saja dimulai sebagai berikut:

  1. Sesuai perjanjian, negara peminjam mulai mencicil utangnya pada pemberi pinjaman, tentu dalam US dollar.
  2. Pelan tapi pasti, negara peminjam dibuat kepayahan dalam mencicil utangnya.  Banyak cara yang digunakan para EHM, antara lain mengikis nilai tukar mata uang negara peminjam tersebut.
  3. Ketika negara tersebut sudah mulai payah, para pemberi pinjaman akan menawarkan pinjaman lagi yang tentu saja akan diterima dan dianggap sebagai pertolongan bagi si peminjam (yang sudah kepayahan mencicil utangnya), begitu seterusnya.
  4. Pada satu titik, negara peminjam tidak sanggup lagi membayar utangnya.  Saat itulah si pemberi pinjaman akan mendesak negara peminjam untuk melepas penguasaannya atas sektor-sektor yang sudah diincar sebelumnya.  Sektor tersebut bisa sumber daya alam (minyak, tambang, dsb) maupun sektor vital yang berhubungan dengan kehidupan rakyat di negara tersebut (air, pertanian, pendidikan, pelabuhan, dsb).

Analogi sederhana untuk modus para EHM ini mungkin seperti ini :

Sebuah keluarga yang baru saja naik ke kelas menengah sedang butuh mobil untuk transportasi.  Dengan prediksi fantastis dari seorang kerabat, mereka disarankan membeli SUV, padahal kemampuan dan kebutuhan mereka sebenarnya masih di level citycar.

Karena harga tunai SUV berada di luar kemampuan finansial mereka, keluarga itu pun mengajukan kredit, dan disetujui.  Setelah SUV datang, cicilan pun dimulai, sementara kendaraan itu juga butuh biaya maintenance.

Akibatnya mereka mulai kepayahan hingga pada akhirnya barang-barang di rumah itu dijual untuk membayar cicilan utang (dan maintenance-nya).

Pada akhirnya utang lunas, namun saat itu SUV tersebut sudah tidak layak pakai karena usianya terlalu tua, mesinnya sudah sering batuk-batuk, kadang-kadang mati di jalan.

Akibatnya?

Lingkaran setan berlanjut.

John Perkins Ternyata Pernah Bertugas di Indonesia!

Dalam bukunya, John Perkins mengemukakan bahwa dirinya pernah ditugaskan di Indonesia sekitar tahun 1970-an.

…penugasan riil pertamaku adalah ke Indonesia, dan aku akan menjadi bagian dari tim yang terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk membuat rencana induk energi untuk Pulau Jawa.  (Confessions of An Economic Hitman : Bab 2, “Untuk Seumur Hidupmu”, hal 14)

“Katakan saja kamu perlu mengajukan prediksi ekonomi yang sangat optimistis, bagaimana itu akan berkembang setelah semua pembangkit tenaga listrik dan jalur distribusi itu dibangun.  Hal itu akan memungkinkan USAID dan bank-bank internasional untuk membenarkan pinjaman itu.  Kamu akan diberi penghargaan tentu saja, dan dapat melanjutkan dengan proyek-proyek lain di tempat-tempat yang eksotis.  Dunia ini akan menjadi kereta belanjamu.”  (Confessions of An Economic Hitman : Bab 2, “Untuk Seumur Hidupmu”, hal 18)

Penutup

Saya sendiri tidak tahu pasti apakah pengakuan John Perkins seperti yang ditulis dalam bukunya itu benar adanya.

Dunia penuh dengan konflik kepentingan.  Di masa lalu, negara kita pernah dijadikan ajang perebutan pengaruh antara Blok Barat dengan Blok Timur sehingga Bung Karno dengan cerdik memanfaatkan keduanya demi kemajuan pembangunan Indonesia.

Sampai saat ini Indonesia masih jadi rebutan.  Kali ini antara Amerika Serikat, China, dan – kemungkinan – Arab Saudi serta Iran.

Karena itu, ketika mendengar proyek listrik 35.000 MW, entah kenapa pikiran saya langsung ‘lari’ ke Economic Hitman alias Bandit Ekonomi.

Sebagai penutup, di halaman awal bukunya, John Perkins memberi contoh kesuksesan mereka (para EHM) dalam memiskinkan Ekuador.

Ekuador merupakan contoh yang khas dari negara-negara di seluruh dunia yang telah digiring oleh EHM ke dalam kelompok ekonomi politiknya.  Untuk minyak mentah senilai $100 yang diambil dari hutan hujan Ekuador, perusahaan minyak menerima $75.

Dari $25 sisanya, tiga perempatnya mesti dipakai untuk membayar utang luar negeri.  Sebagian besar dari yang tersisa dipakai untuk menutup biaya militer dan biaya pemerintah lainnya – yang menyisakan hanya sekitar $2,50 untuk kesehatan, pendidikan, dan program bantuan bagi orang miskin.

Jadi, dari setiap $100 minyak yang dicucurkan dari Amazon, hanya kurang dari $3 yang diperuntukkan bagi orang-orang yang paling memerlukannya, mereka yang kehidupannya paling terkena dampak buruk bendungan, pengeboran, dan perpipaan, dan sekarat karena kekurangan makanan dan air minum.  (Confessions of An Economic Hitman : Pendahuluan, hal xx)

Semoga ada yang bisa dipetik dari tulisan saya kali ini, dan jika para EHM itu benar ada, semoga Indonesia bisa selamat dari jeratan mereka.

Selamat sore!

Referensi & Tautan Luar :

  1. Confessions of An Economic Hitman (PDF, Bahasa Indonesia) https://serbasejarah.files.wordpress.com/2012/04/confessionsofaneconomichitmanpengakuanseorangekonomperusak.pdf
  2. John Perkins, Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/John_Perkins_(author)
  3. Confessions of An Economic Hitman Edisi Indonesia http://buku-buku-buku.blogspot.co.id/2006/05/confessions-of-economic-hit-man-edisi.html
  4. Penunjukan Langsung Proyek 35 Ribu MW Rawan Korupsi http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/04/20/nn2xs1-penunjukan-langsung-proyek-35-ribu-mw-rawan-korupsi
  5. RIZAL RAMLI VS JUSUF KALLA: Proyek Ini Pemicu Ketegangan http://kabar24.bisnis.com/read/20150820/15/463962/rizal-ramli-vs-jusuf-kalla-proyek-ini-pemicu-ketegangan-
Sumber gambar: Awkward Machine

 

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: