Precognitive Dream, Mimpi yang Benar-benar Terjadi

Lama baca: 4 menit

Dikutip dari Wikipedia, Precognitive Dream adalah “Persepsi Ekstrasensori yang melibatkan informasi masa depan.  Informasi tersebut tidak dapat disimpulkan dari kondisi (akal, hukum fisika, dan hukum alam) yang terjadi saat ini.  Keberadaannya juga dianggap sebagai bentuk lain dari indera tambahan.”

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit.

Sampai saat ini ada dua mimpi yang paling saya ingat dan belakangan menjadi kenyataan.

Pertama, saya bermimpi ada di satu tempat di Singapura bernama Choa Chu Kang. Ternyata beberapa hari kemudian terdengar kabar wafatnya salah seorang konglomerat Indonesia dan dimakamkan di tempat yang ada dalam mimpi saya itu.

Mimpi kedua, saya berada di liang lahat menerima jenazah ibu, saya bahkan sampai dua kali mendapat mimpi tersebut. Beberapa bulan kemudian mimpi itu menjadi kenyataan.

Apa yang saya alami tersebut dikenal sebagai ‘Precognitive Dream‘, ‘Future Sight‘ (Penglihatan Masa Depan), atau ‘Second Sight‘ (Penglihatan Kedua).

Sewaktu berusia 7-10 tahun saya cukup sering mendapat mimpi-mimpi semacam itu yang perlahan berkurang frekuensinya seiring bertambahnya usia, terutama setelah masuk masa baligh.

Dari definisi Precognitive Dream yang tertulis di awal tulisan ini, apa yang saya alami diakui sebagai hasil kerja indera yang bisa disebut sebagai ‘Indera Keenam‘ alias ‘Sixth Sense‘.

Tidak Semua Mimpi Merupakan Precognitive Dream

Di satu blog lokal Enigma, ulasan tentang Precognitive Dream sangat menarik.  Si penulis menjelaskan bahwa sebuah mimpi pantas disebut sebagai Precognitive Dream apabila tidak memenuhi kondisi berikut:

  1. Menjadi nyata karena probabilitas (hukum kemungkinan), contohnya mimpi si A memenangkan kontestasi pilpres, hal itu tidak bisa disebut Precognitive Dream karena sesuai probabilitas jika bukan si A ya si B yang menang.
  2. Si pemimpi sudah mengetahui peristiwa tersebut akan terjadi (lebih tepatnya sudah merencanakan), contohnya mimpi naik pesawat ke sebuah tempat, itu tidak bisa disebut Precognitive Dream apabila si pemimpi memang sudah punya rencana mengunjungi tempat tersebut menggunakan pesawat.
  3. Self Fulfilling Propechy (si pemimpi berusaha membuat mimpi tersebut menjadi kenyataan), contohnya mimpi menaiki sebuah mobil merek tertentu kemudian esok harinya kita berusaha membeli mobil tersebut, maka itu tidak bisa disebut Precognitive Dream.
  4. Mimpi dalam pengaruh telepati.  Nah, ini menarik dan makin memperkuat teori saya bahwa mimpi sangat mungkin merupakan bentuk komunikasi antar otak.

Blog tersebut juga menyebutkan bahwa kebanyakan Precognitive Dream dialami orang-orang yang emosinya terkendali, memiliki displin mental, dan kreatif.

Baca juga: Lucid Dreamer, si Pengendali Mimpi

Penjelasan itu pun memperkuat teori saya bahwa mereka yang memiliki bakat supranatural rata-rata terlihat sebagai orang yang sangat tenang, cenderung misterius, kadang terlihat aneh bahkan dianggap gila oleh lingkungan sekitarnya.

Perasaan Aneh Setelah Mendapat Precognitive Dream?

Biasanya setelah mendapat Precognitive Dream, saya dihantui semacam perasaan aneh, lebih tepatnya semacam pertanyaan:

“Apa arti mimpi saya?  Kenapa saya bermimpi seperti itu?”

Itu bedanya Precognitive Dream dengan mimpi-mimpi biasa yang tidak menimbulkan perasaan apapun ketika bangun tidur.

Saya yakin perasaan aneh semacam itu dirasakan juga oleh mereka yang mendapat Precognitive Dream.

Pernah suatu waktu saya terbangun mendadak dari tidur siang diikuti perasaan aneh tersebut tanpa mimpi apapun kecuali seperti mendengar dentingan logam ringan (aluminium) yang jatuh persis di dekat telinga. Ternyata di saat bersamaan ada gempa yang mengguncang Bandung (atau Yogyakarta, saya lupa persisnya, kejadiannya sudah lama sekali).

Seorang teman yang dianggap ‘punya kemampuan’ oleh lingkungannya memberi saran agar saya mencatat setiap mimpi dalam sebuah jurnal.

Sejauh ini saya belum yakin apakah perlu mencatat semua mimpi atau cuma mimpi yang dianggap sebagai Precognitive Dream (secara pribadi saya lebih suka menyebutnya Second Sight, supaya terdengar lebih keren haha).

Di sebuah situs web ada satu pendapat lain:

“Prekognisi mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk visual, mungkin dalam bentuk firasat atau lazim disebut sebagai kata hati.”

Sebab itu penulisnya menganjurkan agar dalam mengambil keputusan, kita tidak melulu berpegang pada logika. Mungkin saya akan mengulas hal tersebut di lain kesempatan.

Precognitive Dream Menurut Saya

Menurut saya, Precognitive Dream terjadi karena saat tidur frekuensi kita menangkap dapat frekuensi yang dikeluarkan lingkungan sekitar.

Bukankah sebelum sebuah peristiwa terjadi, tanda-tandanya sudah lebih dulu datang?

Di film ‘The Eye’ misalnya, sebuah peristiwa kematian selalu didului kemunculan sosok bayangan hitam di dekat orang yang akan meninggal.

Atau kita kerap menemui berita hewan-hewan yang turun gunung hanya beberapa saat sebelum gunung tersebut meletus.

Isyarat semacam itu banyak berseliweran di sekitar kita, tinggal kita mampu menangkapnya atau tidak.

Baca juga: Deja Vu, Terjadi Karena Otak Menangkap Ingatan Orang Lain?

Saat terjaga umumnya kita tidak bisa menangkap frekuensi tersebut saking banyaknya frekuensi yang berseliweran dan harus ditangkap.  Tapi malam hari saat kita tidur, otak kita mampu menangkap frekuensi-frekuensi tersebut untuk kemudian diolah dan dibuat asumsi visualnya berupa mimpi.

Ya, otak membuat gambaran berdasarkan data yang ditangkapnya. Hal itu jugalah yang menjadi dasar pemikiran saya bahwa saat kita tidur otak justru melepas dan mencari informasi.

Untuk contoh meninggalnya ibu saya dan konglomerat tersebut, bisa jadi saya kebetulan menangkap sinyal yang dipancarkan jiwa yang akan meninggalkan raganya (analoginya seperti lampu yang sebentar lagi mau mati, pancaran cahayanya pasti tidak stabil dan makin redup).

Akurasi Precognitive Dream tentu pada akhirnya bergantung pada seberapa banyak dan jelas data yang ditangkap otak.  Semakin besar dan jelas data yang ditangkap, semakin tepat akurasi dan asumsi yang dibuat.

Bagaimana Cara Melatih Precognitive Dream?

Kedua mimpi yang saya ceritakan di atas datang saat saya bangun tidur sekitar jam 2-3 dini hari beberapa hari/minggu sebelumnya untuk melaksanakan salat malam atau dalam bahasa saya, “OL (online, terkoneksi) dengan Dia”.

Jika ingin melatih Precognitive Dream, netter mungkin bisa melakukan apa yang saya lakukan, bangun dini hari sekitar jam 2-3 dan tidak melakukan apapun selain kontemplasi atau bagi seorang Muslim adalah melakukan salat malam.

Tertarik?

Referensi & Tautan Luar:

  1. Precognition, Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Precognition
  2. Precognitive Dream – Fenomena Mimpi yang Menjadi Kenyataan, Enigma Blogger http://www.enigmablogger.com/2010/02/precognitive-dream-fenomena-mimpi-yang.html

Catatan:

Tulisan ini sudah berkali-kali ditulis ulang serta ditayangkan di blog pribadi dan Kompasiana.

Sumber gambar: Google Fit

Tulisan Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 118.728 views sejak dipublish

Ada pendapat? Sila tulis di bawah sini

%d blogger menyukai ini: