Precognitive Dream atau Second Sight, Mimpi yang Menjadi Kenyataan

Di salah satu tulisan lama saya bercerita tentang dua mimpi yang ternyata menjadi kenyataan, terutama mimpi kedua dimana saya bermimpi berada di sebuah tempat di Singapura yang bernama Choa Chu Kang.  Ternyata beberapa hari kemudian terdengar berita bahwa salah seorang konglomerat Indonesia dimakamkan di tempat tersebut.

Ternyata apa yang saya alami tersebut (mimpi yang di kemudian hari benar-benar terjadi) bisa disebut sebagai ‘Precognitive Dream‘, ‘Future Sight‘ (Penglihatan Masa Depan), atau ‘Second Sight‘ (Penglihatan Kedua).

Saya ingat sewaktu berusia 7-10 tahun cukup sering mendapat mimpi-mimpi semacam itu – yang perlahan menghilang seiring usia yang makin bertambah, utamanya setelah memasuki masa remaja.

Salah satu mimpi yang paling saya ingat adalah mimpi berada di liang lahat menerima jenazah ibu saya.  Dua kali saya memimpikan hal tersebut, dan beberapa bulan kemudian mimpi itu benar-benar terjadi.  Saya masih kelas 2 SMP saat itu.

Definisi berikut saya terjemahkan dari Wikipedia :

“Precognitive Dream adalah Persepsi Ekstrasensori yang melibatkan informasi masa depan dimana informasi tersebut tidak dapat disimpulkan dari kondisi (akal, hukum fisika, dan hukum alam) yang terjadi saat ini.  Keberadaannya juga dianggap sebagai bentuk lain dari indera tambahan.” (sumber)

Dari definisi tersebut (yang saya terjemahkan secara bebas karena artikel aslinya dalam bahasa Inggris dengan istilah-istilah yang sulit dicari penyederhanaannya), tampaknya fenomena Precognitive Dream diakui sebagai hasil kerja indera yang bisa disebut sebagai ‘Indera Keenam‘ alias ‘Sixth Sense‘.

Serba-serbi Precognitive Dream

Dalam sebuah blog lokal Enigma, pembahasan mengenai Precognitive Dream cukup menarik.  Di blog tersebut dijelaskan bahwa sebuah mimpi layak disebut sebagai Precognitive Dream apabila tidak memenuhi kondisi sebagai berikut:

  1. Menjadi nyata karena probabilitas (hukum kemungkinan), misalnya saat pilpres mimpi si A menang, itu tidak bisa disebut sebagai Precognitive Dream karena sudah terkait probabilitas kalo bukan si A ya si B yang menang.
  2. Si pemimpi sudah mengetahui peristiwa tersebut akan terjadi (lebih tepatnya sudah merencanakan), misalnya mimpi naik pesawat ke satu tempat, itu juga tidak bisa disebut Precognitive Dream apabila si pemimpi memang sudah menjadwalkan pergi ke tempat tersebut.
  3. Self Fulfilling Propechy (si pemimpi justru berusaha membuat mimpi tersebut menjadi kenyataan), misalnya mimpi jadian sama orang yang kita suka kemudian esoknya kita berusaha agar mimpi tersebut menjadi kenyataan, maka mimpi tersebut tidak bisa disebut Precognitive Dream.
  4. Mimpi dalam pengaruh telepati.  Nah, ini menarik dan semakin memperkuat pendapat saya bahwa mimpi bisa jadi merupakan bentuk komunikasi antar otak.

Dalam blog tersebut juga disebutkan bahwa umumnya Precognitive Dream justru dialami orang-orang yang emosinya terkendali, memiliki displin mental, dan kreatif.

Menurut saya, hal itu menjelaskan kenapa orang-orang yang memiliki – setidaknya – bakat kemampuan supranatural rata-rata terlihat sebagai orang yang sangat tenang, cenderung misterius, dan kadang terlihat aneh bahkan dianggap gila oleh lingkungan sekitarnya.

Sedikit bocoran, kedua mimpi yang saya ceritakan di sini datang ketika saya mempunyai kebiasaan bangun tidur di dini hari sekitar jam 2-3 untuk melaksanakan salat malam – atau dalam bahasa saya, “OL (online, terkoneksi) dengan Dia”.

Dan biasanya, ketika mendapat Precognitive Dream, saya selalu merasakan semacam perasaan aneh, mungkin seperti bertanya,

“Apa arti mimpi saya?  Kenapa saya bermimpi seperti itu?”

Hal itu berbeda dengan mimpi-mimpi biasa yang tidak meninggalkan pertanyaan apapun saat saya bangun tidur.

Saya yakin, perasaan semacam itu juga dialami mereka yang mengalami Precognitive Dream.

Pernah satu waktu saya mendadak terbangun dari tidur siang dengan perasaan aneh itu – tanpa mimpi apapun kecuali seperti mendengar suara benda logam ringan yang jatuh di dekat telinga saya, dan ternyata di saat yang sama ada gempa yang mengguncang Bandung (atau Yogyakarta, saya lupa persisnya, peristiwanya sudah lama sekali).

Seorang teman – yang dianggap ‘punya kemampuan’ oleh lingkungannya – menyarankan pada saya untuk mencatat setiap mimpi dalam sebuah jurnal, namun sampai saat ini saya belum yakin apakah perlu mencatat semua mimpi atau cuma mimpi yang dianggap sebagai Precognitive Dream (secara pribadi saya lebih suka menyebutnya Second Sight, biar agak keren dikit hehe).

Di sebuah laman, ada satu pendapat lain bahwa:

“Prekognisi mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk visual, mungkin dalam bentuk firasat atau lazim disebut sebagai kata hati.” (sumber)

Karena itu penulisnya menyarankan agar dalam mengambil keputusan, kita tidak melulu berpegang pada logika.

Mungkin saya akan membahas soal ini lain waktu.

Precognitive Dream Menurut Saya

Menurut saya pribadi, Precognitive Dream bisa terjadi karena saat tidur frekuensi kita bisa menangkap frekuensi yang dikeluarkan sekitar kita.

Menurut saya, sebelum sebuah peristiwa terjadi, tanda-tandanya sudah hadir.

Dalam film ‘The Eye’ misalnya, sebuah peristiwa kematian selalu didului kedatangan sosok bayangan hitam di dekat orang yang akan meninggal.

Atau kita mungkin sering membaca berita hewan-hewan yang turun gunung hanya beberapa saat sebelum gunung tersebut meletus.

Tanda-tanda seperti itu banyak berseliweran di sekitar kita, tinggal kitanya bisa menangkap frekuensinya atau tidak.

Dalam keadaan sadar, umumnya kita tidak bisa menangkap frekuensi tersebut karena terlalu banyaknya frekuensi yang harus ditangkap.  Namun di malam hari saat kita tidur, frekuensi tersebut menjadi lebih mudah ditangkap lalu kemudian diolah dan dibuat asumsinya berupa mimpi.

Untuk peristiwa meninggalnya ibu saya dan konglomerat tersebut, mungkin kebetulan saya menangkap sinyal yang dikeluarkan sebuah jiwa yang akan meninggalkan raganya (mungkin bisa disamakan seperti lampu yang di ujung usianya sinarnya menjadi redup dan semakin redup).

Ya, otak membuat gambaran berdasarkan data yang ditangkapnya, ini juga yang mendasari pemikiran saya bahwa saat kita tidur otak justru melepas dan mencari informasi.

Akurasi Precognitive Dream tentu pada akhirnya tergantung pada seberapa banyak dan jelas data yang ditangkap otak.  Semakin besar dan jelas data yang ditangkap, tentu semakin tepat akurasi dan asumsi yang dibuat.

Cara melatihnya?

Mungkin seperti apa yang saya lakukan, biasakan bangun saat dini hari sekitar jam 2-3 dan melakukan apa yang disebut perenungan (kontemplasi), atau bagi seorang Muslim adalah melakukan salat malam.

Tertarik?

Referensi & Tautan Luar:

  1. Precognition, Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Precognition
  2. Cara Mengenali Prekognisi, Pengolah http://pengolah.info/1164-cara-mengenali-prekognisi.htm
  3. Precognitive Dream – Fenomena Mimpi yang Menjadi Kenyataan, Enigma Blogger http://www.enigmablogger.com/2010/02/precognitive-dream-fenomena-mimpi-yang.html

Catatan:

Tulisan ini sudah berkali-kali ditulis ulang serta ditayangkan di blog pribadi dan Kompasiana.

Sumber gambar: Google Fit

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: