Pesan dari Masa Lalu

Tahun 2029, di wilayah yang berjarak 100 SA dari Bumi ditemukan sebuah wormhole.  Sembilan tahun kemudian dipastikan bahwa lubang cacing tersebut merupakan satu dari rangkaian jalan pintas menuju sebuah sistem tatasurya di galaksi sangat jauh.

Project Einstein pun lahir.

* * *

Tahun 2046.

“Bulan depan aku harus masuk karantina,” ucap Pandu pada Nefa, saudari kembarnya.  Mereka berdua – Pandu Lazuardi dan Nefa Lucia – adalah kembar sepasang berusia 16 tahun saat ini.  “Tahun depan aku berangkat,” lanjutnya.

Nefa memandang Ardi.

“Apa kau yakin?”

“Tentu saja,” Pandu menjawab cepat, “sudah tak ada lagi yang perlu kucemaskan.”  Remaja ini memandang wajah adik kembarnya lekat-lekat, “Keluarga barumu kali ini terlihat sangat menyayangimu, kau berada di keluarga yang tepat.”

Nefa menarik napas berat.

“Andai mereka juga mengadopsimu, Kak,” mata gadis itu mulai basah.

“Hei, hei, tidak masalah buatku,” Pandu buru-buru menghapus airmata adiknya.  “Lagipula keluarga waras manapun pasti berpikir ratusan kali untuk mengadopsi anak sepertiku.”

“Tapi–,”

“Sudahlah,” potong Pandu.  “Lagipula kau tahu bahwa penjelajahan angkasa adalah cita-citaku sejak kecil, katakanlah sejak kita tak sengaja menemukan frekuensi sebuah pesawat penjelajah antariksa.  Karena itu saat mereka membuka lowongan sukarelawan untuk Project Einstein, aku langsung mendaftar.”

“Meski kau tahu konsekuensinya,” desah Nefa.  Gadis itu kini memandang langit jingga.  Di antara awan, samar terlihat bayangan sebuah pesawat penjelajah yang saat ini sudah masuk tahap akhir perakitan sekaligus ujicoba.

“Ya,” Pandu mengikuti adiknya memandang langit.  “Perjalanan ini adalah perpisahan.”

* * *

Juni 2047.

“Apa kabar, Nefa?” sapa Pandu pada Nefa.  Setiap 3 hari sekali seluruh awak misi diizinkan menggunakan fasilitas video call untuk bercakap-cakap dengan siapapun di Bumi.

“Hai, Kak,” balas Nefa riang.  “Kau sendiri bagaimana?”

“Sejauh ini semua berjalan baik,” tukas Pandu.  “Tugasku di sini mulai jelas.”  Untuk kesinambungan, misi ini diawaki mereka yang sudah senior dan berpengalaman serta dibantu pemuda-pemuda sukarelawan berusia belasan tahun.  Para sukarelawan muda ini kelak menggantikan awak senior yang meninggal dalam misi.  “Aku sama sekali tak menyangka kelakuanku dulu malah jadi poin utama saat mereka memilihku ikut misi,” Pandu tersenyum.  “Sepertinya tempatku memang di sini.”

“Aku ikut senang, Kak,” balas Nefa lagi.  “Kau memang hebat!”

“Kau juga, Nefa.  Nah, sekarang aku hanya mau mendengar ceritamu.”

* * *

Semakin jauh jarak yang memisahkan kembar bersaudara itu, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan pesan-pesan yang mereka kirimkan satu sama lain untuk tiba di tujuan.

Saat di Mars, sebuah pesan membutuhkan waktu 12,5 menit untuk sampai di tujuan sehingga ketika kita bertanya, jawabannya akan kita dapat 25 menit kemudian.

Di Jupiter, sebuah pesan akan membutuhkan waktu 45 menit sebelum tiba di tujuan.

Di Uranus yang berjarak sekitar 20 SA atau 3 milyar kilometer, sebuah pesan akan membutuhkan waktu kurang-lebih 2 jam untuk tiba di tujuan.

Pandu dan Nefa menyadari hal tersebut.

Wormhole yang dituju berada di jarak 100 SA dari Bumi atau sekitar 15 milyar kilometer.  Saat berada di tujuan, pesan yang dikirim akan membutuhkan waktu lebih dari 13 jam sebelum dibaca si penerima.  Satu pertanyaan sederhana semacam, “Apa kabar?” butuh waktu 26 jam sebelum kita mendapat jawaban, “Baik.”

Mungkin seperti ini yang di jaman dulu disebut surat-suratan, pikir Pandu usai mengirim pesan video pada Nefa.

Kau mengirim pesan saat ini, namun kau akan mendapat jawabannya entah kapan…

* * *

Tujuh tahun kemudian…

“Jadi seperti itu bentuknya…,” gumam Pandu, saat ini usianya menginjak 24 tahun dan ditunjuk menggantikan salah satu awak senior yang sudah meninggal.  Saat ini mereka baru saja tiba di lokasi wormhole.

“Perjalanan tujuh tahun kita tidak sia-sia,” gumam awak yang lain.

“Ada apakah di dalam sana?”

“Ke mana lorong itu akan membawa kita?”

“Bentuknya sekilas mirip terompet ternyata,” ujar Kapten Wisnu, pemimpin misi yang saat ini sudah memasuki usia 47 tahun.  “Bentuk terompet yang merupakan ilusi visual sebagai akibat cahaya bintang yang tertarik ke dalam wormhole.”

Dari mulut wormhole terlihat kilasan cahaya warna-warni.  Indah namun sebenarnya berbahaya karena cahaya tersebut menandakan adanya aktivitas penghisapan dan pelontaran energi dan material di sekitar wormhole.

“Oke, kita masih akan di sini selama sebulan, paling cepat,” ujar Kapten Wisnu lagi.  “Kita akan mempelajari aktivitas lorong berdasarkan laporan dan pengamatan, sekaligus memberi kabar pada orang-orang Bumi.”

* * *

“Untuk kakakku Pandu Lazuardi yang sedang menjelajah bintang, adikmu Nefa Lucia ini sudah menikah.  Berharap kau ada di sini sebenarnya, but it’s okay.  By the way, tadi ada seseorang yang datang menanyakanmu, kuduga dia mantanmu.  Ah, dia pasti tidak tahu keberadaanmu selama ini.”

Pandu tersenyum menonton pesan video yang dikirimkan Nefa.

“Selamat untuk pernikahanmu, Nefa.  Aku yakin kau dan suamimu mampu membangun keluarga yang baik dan hebat, sama sepertimu.”

Pandu bukanlah orang yang sentimental, namun momen seperti ini mau tidak mau membuat pelupuk matanya sedikit basah.

“Aku ada di sini selama sebulan, jadi kita masih bisa ngobrol meski delay-nya setengah hari lebih.  Sebelumnya aku minta maaf pada kalian terutama suamimu karena hari-hari ini aku bakal sering menganggu kalian.”

Jawaban dari Nefa ia terima 26 jam kemudian.

“Nggak masalah, Kak.  Dia ngerti, kok.”

* * *

Tiga puluh tiga hari kemudian Kapten Wisnu sebagai pemimpin misi membawa kabar bahwa misi dilanjutkan dengan memasuki wormhole.

“Tujuh hari lagi kita berangkat,” putusnya.  “Dan seperti yang kita tahu, perjalanan memasuki wormhole mungkin saja menjadi akhir dari segala ikatan kita dengan Bumi.  Sampai saat ini tidak ada yang bisa memperkirakan apakah kita masih bisa berkomunikasi dengan Bumi.  Andai bisa pun, tidak ada yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan pesan-pesan tersebut untuk tiba di tujuan.”

Kapten Wisnu menarik napas sejenak.

“Kita selamat atau tidak, bagi Bumi, kita sudah dianggap hilang.”

Suasana hening sejenak sementara Kapten Wisnu melanjutkan ucapannya,

“Menurut catatan, wormhole terdekat akan membawa kita ke sebuah tempat yang berjarak 17 tahun cahaya dari Bumi, dan kita semua tahu artinya.  Karena itu…,” pemimpin misi tersebut sejenak menahan kalimatnya, “sekaranglah waktu terbaik untuk menghubungi orang-orang yang penting bagi kalian di Bumi.”

Tepat tujuh hari kemudian, Project Einstein memasuki tahap II dengan masuknya pesawat misi ke dalam lubang cacing.  Saat itu juga segala bentuk komunikasi dengan Bumi terputus – termasuk komunikasi Pandu dengan Nefa.

* * *

28 Juni 2074.

Dua puluh tujuh tahun Pandu menjalani misi, usianya kini sudah menginjak 51 tahun.  Tubuhnya terasa sangat lemah akibat waktu-waktu yang sudah ia habiskan di luar angkasa.  Sementara itu Kapten Wisnu – meski masih hidup – belum lama ini digantikan oleh wakilnya karena kondisi kesehatannya yang sudah tidak memungkinkan.

Rangkaian wormhole yang membawanya kini berakhir di sebuah tepian tatasurya di galaksi jauh.  Tidak ada laporan ditemukannya wormhole di sistem ini.

Aku merasa lelah.  Sangat lelah.

Pandu memutuskan beristirahat sejenak di kabin pribadinya setelah beberapa tahun terakhir ia menghabiskan waktunya di kabin awak misi.

Hanya sesaat begitu memasuki kabin pribadinya, komputer pribadi Pandu berbunyi sebagai penanda ada video call untuknya.

Pandu mengernyit.

Dari siapa?

Tidak mungkin Nefa meneleponku.

Jarak dari sini ke Bumi terlalu jauh.

Lagipula, ia mestinya sudah lebih tua daripadaku.

Bahkan mungkin sudah meninggal…

Penuh keheranan, ia menerima panggilan itu.

Berikutnya Pandu ternganga.

Tidak mungkin!

Ini… ini tidak mungkin terjadi!

Mustahil!

Satu peristiwa masa kecil terlintas kembali di benaknya.

* * *

Tahun 2040.

Pandu kecil bersama Nefa yang berusia 10 tahun sedang bermain-main dengan aplikasi video call saat mereka secara tak sengaja menemukan sebuah nama yang unik.

“Kak,” seru Nefa, “lihat namanya Lazuardi, sama sepertimu.”

“Iya benar,” tukas Pandu.  “Aku jadi penasaran nih.  Call ah.”

“Kak, jangan,” cegah Nefa.

“Nggak apa-apa, Nef.”

“Jangan, Kak.”

“Iih kenapa sih?  Nggak apa-apa, kok.  Nih aku call.”

-Jakarta, 29 September 2018-

Catatan penulis:

  1. Cerita ini lahir dari sebuah pertanyaan, ”Adakah jalan pintas yang memungkinkan materi berkecepatan cahaya bisa berpindah ruang dengan lebih cepat lagi?” juga terinspirasi dari beberapa ayat dari Kitab Suci yang menyiratkan adanya relativitas waktu.  Saya juga terkadang bertanya, “Bagaimana jika yang disebut masa lalu, masa kini, dan masa depan sejatinya adalah sebuah ruang/materi yang bergerak bersama-sama namun memiliki kecepatan yang berbeda-beda?  Bagaimana jika ‘waktu’ adalah konsep buatan manusia?”
  2. SA adalah singkatan dari Satuan Astronomi (AU atau Astronomical Unit dalam bahasa Inggrisnya), merupakan satuan yang dipakai untuk jarak antarbenda langit, 1 SA adalah jarak dari Matahari ke Bumi yaitu sekitar 150 juta kilometer atau lebih tepatnya 149.597.870,691 ± 0,030 km.  Jarak 20 SA berarti 20 x 150.000.000 = 3 milyar kilometer.
  3. Kecepatan cahaya adalah konstanta fisika universal.  Secara gampangnya, kecepatan cahaya menggambarkan jarak yang mampu ditempuh cahaya dalam waktu 1 detik.  Konstanta ini menghasilkan angka sekitar 300.000 km/detik atau tepatnya 299.792.458 km/detik.  Dengan konstanta ini diketahui bahwa sinar matahari membutuhkan waktu 8 menit dari sumbernya sebelum sampai di Bumi.
  4. Pesan-pesan yang dikirim dalam cerita ini menggunakan kecepatan cahaya, sementara kecepatan gerak wahana misi yang digunakan adalah sekitar 250.000 km/jam.

Referensi & Tautan Luar:

  1. Laju Cahaya, Wikipedia
  2. Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Untuk Perjalanan ke Planet Mars?, InfoAstronomy
  3. Jupiter, Wikipedia
  4. Uranus, Wikipedia
  5. Konversi mph ke kph, Google
  6. What’s the Fastest Spacecraft Ever?, LiveScience
  7. Closest Star to The Sun, UniverseToday
  8. 1 AU in KM, UniverseToday
sumber gambar: The Spirit Science

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: