Perjumpaan di Kereta Terakhir

Rion

Jam yang sama, stasiun yang sama.

Tanpa bersuara aku masuk ke dalam gerbong.

Kereta yang sama, gerbong yang sama.

Bahkan orang-orang yang sama.

Aku tak tahu telah berapa lama aku menjalani rutinitas ini.

Semuanya sama.

Hff… monoton…

Hanya sesaat sebelum pintu kereta menutup, seorang wanita tergopoh-gopoh masuk ke dalam gerbong.  Begitu pintu tertutup, wanita tersebut mengedarkan pandangannya ke penjuru gerbong.

Sepertinya aku pernah melihatnya.

Tapi… di mana?

“Ah, kamu ada di situ.”

Usai bicara, wanita dalam balutan kemeja hitam itu melangkahkan kakinya.

Menghampiriku?

Tatapannya tertuju ke arahku.

Aku menengok ke kiri dan kanan, memastikan bahwa aku salah duga.

Tapi tidak.

Ia memang menghampiriku.

“Akhirnya,” ucapnya seraya tersenyum.  “Kau tahu, sudah beberapa hari aku mencarimu di setiap gerbong kereta terakhir.”

Mencariku?

Aku menatapnya dengan puluhan – bahkan mungkin ratusan tanda tanya di benakku.

Aku berupaya keras mengingat-ingat di mana pernah melihatnya.

Kenapa?

Siapa dia?

Ada apa denganku?

Kebingunganku pasti terlihat di matanya hingga terdengar tawa kecilnya.

“Sudahlah, tidak usah dipaksakan.  Kamu barangkali lupa, karena itu–”

Dengan cekatan ia duduk di salah satu bangku kosong dan memberi isyarat supaya aku duduk di sampingnya.

Sampai saat ini aku masih yakin bahwa dia salah orang.

“Ayo, Rion.  Kenapa masih ragu?  Banyak yang ingin aku ceritakan padamu,” ujarnya.

Rion!

Orion!

Itu namaku!

Dia memang tidak salah orang.

Tapi–

“Rion,” ia kembali bersuara, “perjuanganku selama ini mencarimu bukan untuk dibayar dengan wajah bingungmu itu.  Ayo sini, Rion.”

Tanpa berkata, aku duduk di sampingnya.

Tapi… siapa kamu?

“Oke, oke.  Aku memang sudah menduga dirimu bakal lupa beberapa hal, tapi aku sama sekali tak menyangka kau bisa lupa padaku.”

Wanita itu memandangku dengan sorot mata yang sarat kerinduan.

Dan entah kenapa tiba-tiba aku menyebut sebuah nama.

“Rina?  Carina?”

Ia tertawa senang dan bertepuk tangan.

“Hei!  Ternyata kamu tidak benar-benar lupa.  Kau masih mengingatku.  Aku senang sekali, Rion.  Senang sekali!”

“Tapi… kenapa aku bisa lupa padamu?” aku masih bingung.

“Lain kali saja aku ceritakan,” tukasnya cepat.  “Sekarang kita cerita hal-hal lain saja sebelum aku turun.”

“Oh?  Begitukah?”

“Rion, aku sangat rindu padamu.”

Kami pun bercerita banyak hal, tepatnya Rina yang lebih banyak bercerita karena sesungguhnya aku belum benar-benar ingat siapa dia dan apa hubungannya denganku.

Empat puluh menit kemudian setelah melewati tujuh stasiun, Rina bangkit dari duduknya lalu melambaikan tangannya padaku sebelum turun dari kereta.

“Daah Rion, sampai bertemu besok!”

Pintu menutup.

Kereta pun kembali melaju.

Beberapa penumpang yang sejak tadi tak bersuara kini mulai berbisik-bisik dan memandang ke arahku duduk.

Aku merasa tidak nyaman.

Ada apa?

Dari tadi kalian diam.

Kenapa sekarang semuanya memandang dan menunjuk-nunjuk ke arahku?

Bisik-bisik itu makin lama makin jelas terdengar, dan aku menangkap beberapa patah kata.

“…gila…”

“…cewek yang tadi…”

“…tapi beritanya…”

“Masa sih?”

Kepalaku mendadak pening.

Gila?

Rina?

Tapi…

Rina

Gadis dalam balutan kemeja hitam itu memandang kereta terakhir yang menjauh semakin cepat hingga hilang dari pandangan.

Ia mendesah.

Rion…

Apakah esok kita akan bertemu kembali?

Gadis itu masih bergeming.

Kereta yang sama, gerbong yang sama, jam yang sama.

Akankah esok kau masih mengingatku?

Papan matrix di stasiun saat ini menunjukkan pukul 23 lewat 13 menit.

Atau melupakanku seperti beberapa pertemuan kita sebelumnya?

Dadanya sesak oleh rasa kehilangan dan penyesalan yang teramat sangat.

“RION!  ORIOON!!” jeritnya tiba-tiba.

Carina – gadis itu – memandang langit malam dan berseru,

“Kenapa?!  Kenapaa?!”

Mendengar jeritan tersebut, dari kejauhan terlihat seorang perempuan tua yang tergopoh-gopoh memasuki peron dan berlari ke tempat Rina berdiri.

“Rina!” seru perempuan tua tersebut.  “Eling, Nak.  Eling.  Nyebut!  Nyebut!”

Beberapa orang yang masih berada di stasiun memandang kedua wanita itu.

“Jiaah, cewek stres itu lagi.”

“Hush!  Lu bukannya kasihan sama dia.”

“Ya kasihan lah, cantik-cantik kok gila.”

“Heh!  Ntar kedengeran sama orangnya!”

“Haha, emang dia ngerti?”

* * *

Percakapan di dalam kereta masih berlangsung.

“Hampir setiap malam gadis tadi naik kereta terakhir.”

“Aku kenal dengannya, namanya Rina.”

“Tapi kadang-kadang saja dia bertingkah seperti tadi, maksudku bicara sendiri.  Biasanya dia tidak menampakkan gelagat aneh, normal-normal saja.”

* * *

Di stasiun.

“Rion, Bu.  Aku tadi berjumpa dengan Rion,” isak Rina dalam pelukan si perempuan tua.

Perempuan tua itu mempererat pelukannya.

“Ibu tahu, Nak.  Ibu tahu,” tuturnya lembut.

“Kenapa, Bu?  Kenapa?!  Padahal sudah 3 tahun lalu…”

* * *

Kereta terakhir tersebut masih melaju menuju stasiun terakhir.

Aku kini sudah berpindah tempat, berdiri dekat pintu.

Percakapan soal Rina masih saja berlangsung, dan tak ada seorang pun yang menghiraukan kehadiranku.

”Kasihan Rina, mungkin karena kecelakaan itu dia jadi seperti itu,” ujar seorang penumpang.

“Kecelakaan?” tanya penumpang yang lain.

“Kamu ingat kecelakaan kereta 3 tahun lalu?”

“Tabrakan maut antar-kereta yang menewaskan sebagian besar penumpangnya?  Apa hubungannya dengan Rina?”

“Calon suaminya tewas dalam kecelakaan itu.”

Aku tercekat!

Ke– kecelakaan?!

Aku?!

Yang benar saja!!

Aku tak percaya dengan pendengaranku.

“Calon suaminya?  Rion?” terdengar suara penumpang lain.

“Jadi… kabar itu benar.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Kelihatannya saat itu Rion hendak mengantar undangan pernikahan mereka berdua, di tasnya ditemukan banyak undangan.”

Aku segera memeriksa tas yang selalu kubawa untuk memastikan isinya.

Undangan pernikahan!

Tanggalnya–

Tiga tahun lalu!

Aku–

Aku sudah mati?

Lalu…

Aku ini apa??

APA???

“…tapi, jangan-jangan Rina memang nggak gila,” pembicaraan masih berlanjut.

“Maksud lu?”

“Yah… hm gimana ya?  Jangan-jangan dia memang bisa ngeliat… emm… itu… hantu…”

* * *

“Kita pulang?” tanya si ibu.

Rina mengangguk pelan.

Rion,

Maafkan aku yang belum bisa mengikhlaskanmu.

Kita sudah sangat lama bersama.

Dan hanya beberapa minggu menjelang hari bahagia kita, engkau meninggalkanku.

Terenggut dariku.

Kedua wanita tersebut kini berjalan beriringan meninggalkan stasiun.

Sudah sekian lama berlalu,

Aku tahu sudah waktunya aku harus merelakanmu.

Tapi…

Aku belum bisa.

Rina menggigit bibirnya.

Maafkan aku, Rion.

Aku…

Aku terlalu mencintaimu.

-24 Oktober 2018-

Sumber gambar: Wallpaperstream

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Related Post

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: