Perang Medsos, Kenapa Banyak Orang Merasa Dirinya Paling Benar?

Perang Medsos, Kenapa Banyak Orang Merasa Dirinya Paling Benar? | Ryan Mintaraga (wheelsnroads)
Perang Medsos, Kenapa Banyak Orang Merasa Dirinya Paling Benar? | Ryan Mintaraga (wheelsnroads)

Daftar Isi

Lama baca: 3 menit

kembali ke halaman pertama

BAGAIMANA AGAR KITA LEPAS DARI HOAX & FILTER BUBBLE EFFECT?

Seperti kata Mark Zuckerberg sang pendiri facebook, “A squirrel dying in front of your house may be more relevant to your interests right now than people dying in Africa,” sampai saat ini cara terbaik menghadapi hoax – menurut saya – adalah dengan meredam viralitasnya.

Jangan di-like, dikomen, apalagi di-share.

Salah satu tujuan hoax adalah menjadikan dirinya penting, karena itu kita harus berupaya supaya tujuannya tidak tercapai.  Jangan terpancing berkomentar meski tujuannya melakukan counter.  Jangan terpancing untuk berdebat di lapaknya karena semakin ramai komentar, konten tersebut justru bakal makin terlihat.

Meminjam istilah menteri Susi, cara menghadapi hoax adalah, “Tenggelamkan!”

Lalu, bagaimana caranya agar kita terbebas dari Filter Bubble Effect?

Sejujurnya agak sulit karena masalah dasarnya adalah:

Kita sendiri belum tentu tahu apakah kita terjebak dalam gelembung tersebut atau tidak.  Gelembung filter itu ibarat candu yang melenakan karena selalu menyediakan informasi yang kita inginkan.

Belum lama ini saya melihat sebuah video yang menggambarkan perang netizen dari dua kubu yang dinamakan Cebong dan Kampret.  Intinya video itu menggambarkan bagaimana algoritma yang digunakan media sosial pada akhirnya menciptakan gelembung yang makin memerangkap kedua kubu dalam gelembungnya masing-masing.

Kubu Cebong merasa dirinya benar, begitu pula sebaliknya.  Bahkan secara berseloroh, video itu menegaskan bahwa perang kedua kubu tidak akan pernah berakhir hingga 2.000 tahun kemudian.

Berlebihan?  Tidak.  Memang itulah yang akan terjadi.

Namun efek gelembung tersebut bisa dikurangi – minimal bagi diri sendiri – dengan cara yang awalnya mungkin bikin emosi bakal naik turun yaitu memperluas wawasan kita dengan cara main-main ke kubu sebelah.

Baca juga:  WhatsApp Web: Kirim WA dari Komputer

Ya, buat sebagian orang cara ini mungkin menyakitkan dan bisa bikin mengelus dada.  Bagaimana tidak?  Orang yang di kubu kita dipuja-puji, di sini di kubu lawan dicaci-maki – terkadang dengan kata-kata yang di luar kepantasan.

Berat memang, namun lama-kelamaan kita bisa memiliki kontrol emosi saat bermedsos, wawasan kita akan bertambah, bahkan ada kemungkinan bisa jadi pendingin suasana, membuat diskusi antarkubu jadi lebih sehat.

Bisakah kita?

Ingat, setiap kubu memiliki panglima perang masing-masing yang dijuluki influencer, sebagian dari mereka dibayar untuk menciptakan opini dan/atau melakukan counter terhadap opini yang dinilai memperkuat kubu lawan dan/atau memperlemah kubunya.  Apapun hasil serangannya, influencer akan terus menciptakan opini.

Semoga tulisan ngawur saya kali ini bermanfaat.

Eh tapi setelah menulis tulisan ini, tiba-tba saya berpikiran bahwa bisa jadi status-status saya selama ini belum tentu terbaca oleh 1.200-an teman dan 50-an pengikut saya…

Baca juga: Pemblokiran Medsos dan Kotak Pandora VPN

Referensi & Tautan Luar:

  1. Algoritma Facebook EdgeRank, blog tomipoerba
  2. Konversi: Definisi, google support
  3. Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?, kompas

Video:

Perang Abadi Cebong Kampret | Bimbel Netijen

Sumber gambar: Wheels & Roads

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar