Pelanggaran Privasi, Snowden: Jauhi Facebook, Google, dan Dropbox!

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan tentang adanya kemungkinan pelanggaran privasi yang dilakukan oleh driver ojek online berbasis aplikasi.  Tindakan pelanggaran itu berupa SMS bernada mengancam ataupun menggoda yang dikirimkan si driver pada penumpangnya.

Berikut saya kutip potongan artikel tersebut, tentunya dengan menyamarkan nama perusahaan ojek online itu sbb :

Ketika anda mulai memesan ojek online lewat aplikasi mobile, maka NAMA ANDA akan tercantum di smartphone si pengendara ojek online, beserta rute pengantaran yang anda inginkan.

Setelah itu, pengendara ojek online tadi bisa menghubungi NOMOR TELEPON anda, untuk mengkonfirmasi titik jemput.

Setelah itu, kalau anda minta diantar ke rumah atau ke kantor, maka secara tidak langsung ia juga akan mengetahui ALAMAT RUMAH atau ALAMAT KANTOR anda.

Jadi dalam sekali perjalanan saja, seorang pengendara ojek online sudah bisa mengetahui data-data Nama anda, Nomor Telepon anda, dan Alamat Rumah atau Kantor anda.

Hal itu jelas merupakan sebuah pelanggaran privasi yang rentan disalahgunakan, dan akibatnya bisa jadi menyeramkan. (sumber)

Dalam rentang waktu yang tak terlalu lama pula sebuah media China mengabarkan dugaan praktik pencurian data yang dilakukan sebuah startup di negara tersebut.  Layanan startup tersebut memfasilitasi para pengguna e-wallet yang ingin memberikan sedekah secara nontunai pada sejumlah pengemis yang sudah dilengkapi semacam QR code.  Untuk bersedekah, kita cukup men-scan kode yang dibawa pengemis itu, maka saldo e-wallet kita akan berkurang dan masuk ke rekening si pengemis.

Di sinilah pencurian data itu terjadi, saat men-scan, bukan saldo kita saja yang berkurang.  Data diri kita ikut masuk ke database perusahaan startup tersebut.

Weleh, niat baik malah berujung pencurian data.

Privasi dan Pelanggaran Terhadapnya

Menurut Wikipedia, privasi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk menutup atau melindungi kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka.

Masih menurut Wikipedia, privasi dapat secara sukarela dikorbankan, umumnya demi keuntungan tertentu, dengan risiko hanya menghasilkan sedikit keuntungan dan dapat disertai bahaya tertentu atau bahkan kerugian.

Contoh pengorbanan privasi adalah ketika mengikuti suatu undian atau kompetisi; seseorang memberikan detail personal atau biodata (sering untuk kepentingan periklanan) untuk mendapatkan kesempatan memenangkan suatu hadiah.  Risikonya adalah jika informasi yang secara sukarela diberikan tersebut dicuri atau disalahgunakan seperti pada pencurian identitas.

Dengan wewenangnya, pemerintah atau perusahaan memiliki hak untuk melanggar privasi seseorang.

Bukankah pemerintah memiliki data pribadi kita; nama, alamat, tempat tanggal lahir, dsb?

Bukankah staf HRD perusahaan tempat kita bekerja tahu nilai akademik kita semasa sekolah?

Bahkan bank penerbit kartu kredit yang kita miliki pun tahu seberapa besar gaji kita.

Dengan definisi di atas, pelanggaran privasi bisa diartikan sebagai pelanggaran terhadap kemampuan satu atau sekelompok individu untuk menutup atau melindungi kehidupan dan urusan personalnya dari publik.  Umumnya diasosiasikan sebagai penyebarluasan informasi pribadi tanpa izin, bisa juga berupa distribusi dokumen dan konten – masih tanpa izin – dan bersifat merugikan.

Contoh kecilnya, mungkin kita pernah ditelepon telemarketing yang mengaku dari bank atau perusahaan yang kita belum pernah berhubungan dengannya.

Pertanyaannya, dari mana mereka tahu nama dan nomor telepon kita?  Siapa yang membocorkan informasi pribadi kita pada mereka?

Dari sebuah situs, terdapat informasi beberapa bentuk pelanggaran privasi diantaranya :

  1. Mengirim dan mendistribusikan dokumen yang bersifat pornografi, menghina, mencemarkan nama baik, dll.
  2. Melakukan penggandaan tanpa izin pihak yang berwenang, bisa juga disebut dengan hijacking (kejahatan melakukan pembajakan hasil karya orang lain).
  3. Melakukan pembobolan secara sengaja ke dalam sistem komputer (Unauthorized Access).
  4. Memanipulasi, mengubah atau menghilangkan informasi yang sebenarnya (memalsukan data).
  5. Penyebarluasan informasi atau fakta-fakta yang memalukan tentang diri seseorang.
  6. Publikasi yang mengelirukan pandangan orang banyak terhadap seseorang (informasi palsu, hoax).
  7. Penyalahgunaan nama atau kemiripan seseorang untuk kepentingan tertentu.
  8. Melakukan penyadapan informasi.

Pelanggaran Privasi di Dunia Digital

Ada pendapat yang mengatakan bahwa :

“Saat ini, masalah privasi bukan hal besar, karena perkembangan teknologi telah menyebabkan munculnya informasi dari pihak-pihak yang mampu mengumpulkan, menyimpan dan menyebarluaskan serta meningkatkan jumlah data tentang individu.”

Maksudnya?

Saat ini nyaris tidak ada privasi.

Setiap kita pergi ke lokasi tertentu dan melakukan panggilan telepon, provider akan merekam; kapan, di mana, dan kepada siapa kita melakukan panggilan.

Saat kita membuka suatu jejaring sosial, setiap aktivitas kita direkam secara otomatis.

Bahkan jika kita mengirim surat lewat e-mail, isinya bisa langsung direkam oleh penyedia layanan e-mail tersebut.

Saya tidak tahu apa ini hanya kebetulan atau bukan.  Setiap saya mengunjungi salah satu marketplace lokal dan sekadar melihat-lihat barang di salah satu kategori, entah kenapa facebook kemudian menampilkan iklan marketplace tersebut di kategori yang sama pula!  Hal ini sudah berlangsung berkali-kali sehingga saya menyimpulkan bahwa aktivitas saya di marketplace tersebut direkam, entah oleh si marketplace maupun peramban yang saya gunakan.

Dari rekaman aktivitas tersebut, saya diasumsikan memiliki interest akan produk-produk – misalnya teknologi – sehingga di manapun saya berjumpa iklan marketplace tersebut, mereka akan menawari saya produk-produk teknologi.

Mereka tahu apa yang menjadi interest saya tanpa saya beritahu.

Dari sebuah berita lama, ada satu artikel yang memberitakan bahwa Google dituduh menggunakan cookies untuk secara rahasia melacak kebiasaan dari jutaan orang yang menggunakan peramban di iPhone dan iPad.  Akibatnya, mogul internet ini didenda sebesar US$ 22,5 juta dan kabarnya menjadi denda terbesar yang pernah dikenakan Komisi Perdagangan Federal Amerika (FTC).

Meski begitu, denda sebesar itu jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan pendapatan kwartal kedua Google tahun 2012 sebesar US$ 12,21 milyar.  Kemudian jika kita perhatikan, beberapa situs sudah memberikan pernyataan menggunakan cookies untuk merekam aktivitas pengunjung.  Aturan ini – setahu saya – dikeluarkan oleh Uni Eropa sebagai pemberitahuan pada pengguna internet bahwa aktivitas mereka di dunia maya sedang direkam oleh pengelola situs.

Mohon koreksinya apabila saya salah.

Halaman berikutnya: Pengalaman Tidak Nyaman Akibat Facebook

 

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: