Orang-orang yang Menginspirasi (Catatan Ringan tentang Entrepreneurship)

Sebagai pembuka tulisan ini, saya ingin curhat sedikit.

Video editing adalah bidang usaha yang perputaran uangnya tidak cepat.  Load pekerjaan yang tinggi hari ini belum tentu uangnya bisa langsung diterima, masa tunggu bahkan bisa berbulan-bulan lamanya.

Karena itu salah satu cara mempercepat perputaran uang dalam bidang ini adalah mempekerjakan lebih banyak orang menggunakan sistem pembayaran bulanan (karyawan) ataupun by project (meng-hire freelancer).

Keduanya sudah saya jalankan.

Namun sebenarnya sejak lama saya berpikir untuk menjalankan usaha yang perputaran uangnya cepat.

Hari ini cape, hari ini dapat banyak uang, pikir saya.

Berbagai ide sudah berputar di pikiran, hanya saja proses eksekusinya masih maju-mundur sehingga sampai saat ini saya masih belum bergerak.  Semoga saja kami (saya dan istri) bisa ‘nekat’ untuk bergerak.

Oke, sekarang kita ke pembahasan utama tulisan ini.

Orang-orang yang Menginspirasi

Beberapa hari belakangan ini, pekerjaan yang saya lakukan selalu didampingi klien.  Yah sebetulnya sih mereka teman-teman saya juga.  Ada yang pernah terlibat dalam satu project, ada eks teman kantor yang sudah belasan tahun tidak bersua, ada pula yang merupakan teman dari teman saya.

Menariknya, mereka semua seperti ‘didatangkan’ pada saya untuk menjadi contoh.

Mari kita mulai.

Keluar dari Pekerjaan dan Menjual Jus

Namanya Taufik, orangnya masih muda – sekitar 30 tahun.

Saya pertama kali berkenalan dengannya sekitar tahun 2012 dalam sebuah project dokumentasi hajatan internasional anti-narkoba di Bali.  Waktu itu ia bekerja di sebuah stasiun televisi swasta tempat saya dulu bekerja (catatan: saya sudah keluar dari stasiun tersebut tahun 2010).

Sewaktu bertemu lagi dengannya, saya berkomentar, “Eh, elo sekarang lebih gemukan,” dan dia tertawa.

Kami bercerita panjang-lebar hingga akhirnya saya tahu bahwa Taufik sudah hampir setahun keluar dari pekerjaannya.

“Sekarang saya jualan jus, Mas,” tuturnya.

Menarik!

Seorang anak muda dengan skill broadcaster dan pengalaman kerja di tivi – memutuskan menjual jus!

“Pagi-pagi saya ke pasar, bawa motor, beli buah.  Wis pokoknya nggak ada keren-kerennya deh,” lanjutnya sembari memperlihatkan foto motornya yang sudah penuh muatan.  “Ini saya beli alpukat.”

Awalnya, ia menjalankan sendiri usaha ini – tapi sekarang sudah bisa beberapa kali dilepas dan dijalankan orang lain.

Menurut penuturannya, ia belajar membuat jus lewat video yang bertebaran di YouTube.  Segelas jus buatannya dijual dengan harga Rp 8.000,- karena harga buah di tempatnya tidaklah setinggi di Jakarta.

Dan ada satu pemikiran dari Taufik yang membuat saya manggut-manggut.

“Saya mau ambil mobil, terus jualan di Jakarta.  Yah, mangkal di area perkantoran di Jakarta.”

Sebagai informasi, harga segelas jus di Jakarta rata-rata 10-12 ribu rupiah.

Lalu?  Apa dia hanya jualan jus?

Tidak.

Saat kami mengobrol, satu kali dia mengeluarkan smartphone-nya.

“Saya juga ikut Go-Jek,” katanya.  “Cuma, saya lagi nggak ngambil karena nggak bawa helm sama jaketnya.”

Wow!

Jadi, Taufik menjadi penjual jus merangkap Go-Jek.

Semua itu masih ditambah bahwa ia tidak meninggalkan dunia lamanya sebagai orang entertaint, ia masih di-hire untuk terlibat dalam berbagai project – umumnya konser musik di panggung luar ruang.

Akuntan yang Menjadi Desainer Interior

Seorang teman yang sudah lama tak berjumpa mendadak mengirim pesan WhatsApp dan meng-hire saya untuk membuat sebuah video presentasi.

Sembari bekerja, kami terkadang mengobrol tentang kegiatan masing-masing.

“Ini sampingan gue, jadi desain interior” kata teman saya tersebut sambil menunjukkan foto-foto di smartphone-nya.  “Ini gue sendiri yang desain dengan bujet sekian juta,” lanjutnya menyebutkan nominal angka yang sangat murah untuk jasa desain interior.

“Kok murah?” tanya saya.

Ia kemudian bercerita bagaimana trik mendesain ruangan dengan bujet segitu.

“Pastinya gue beli barang yang murah, habis itu gue tambahin hiasan biar keliatan mahal,” ujarnya.  “Malah kadang-kadang gue sendiri yang beli dan masang wallpapernya.  Tukang anak buah gue aja sampe kebingungan,” lanjutnya sambil tertawa.

“Hah?  Serius?” tanya saya.

Bukan tanpa alasan bila saya heran, takjub, sekaligus angkat topi buat teman saya itu karena ia seorang wanita.

Ya, ia memang wanita tapi tak segan berurusan dengan hal-hal yang umumnya dilakukan kaum pria.

“Ini passion gue,” lanjutnya.

Lalu, jika netter berpikiran bahwa video yang sedang saya kerjakan dengannya saat itu berkaitan dengan dunia akuntansi atau desain interior, maka netter salah.

Saat ini ia sedang merintis usaha distribusi diaper (popok sekali pakai) untuk bayi.

“Gue pengen megang distribusi Jakarta Barat,” ujarnya.  “Kalo nungguin mereka (produsen) kaya’nya lama, gue harus gerak cepat.”

Salut!

GrabCar dengan Sistem Kerjasama

“Malam, Pak, kalo saya mau ambil mobil ini bisa nggak?  Uang muka berapa?  Cicilan berapa?  Selama berapa tahun?”

Sewaktu saya sedang bekerja, terdengar klien saya menelepon seseorang untuk urusan jual-beli mobil.

Status klien saya saat ini masih karyawan di sebuah stasiun televisi swasta, namun ia sudah memikirkan sumber pendapatan tambahan.

“Gue mau ambil mobil buat dijadiin GrabCar,” begitu katanya.  “Ntar yang nyetirin orang lain, gue tinggal terima setorannya.”

Klien saya itu berencana meng-GrabCar-kan mobilnya semata agar mobil itu bisa ‘membayar’ dirinya sendiri.

“Jadi gue nggak perlu ngeluarin duit buat bayar cicilan bulanannya,” jelasnya.

Dengan asumsi besaran cicilan mobil sekitar Rp 4.500.000,- per bulannya, klien saya ini hanya butuh lebih dari Rp 150.000,- setiap harinya.

“Yang bawa mobil ntar tetangga atau sodara gue.  Pokoknya sistemnya gitu aja, gue cuma butuh sekitar Rp 150.000 sehari, sisanya buat dia semua, yang penting saat mobil balik, bensin harus full.”

Saya pun kembali manggut-manggut.

Optimis Menghadapi Keadaan Sulit

Saya selalu suka bertemu dan berbicara dengan orang-orang seperti mereka.  Di tengah lesunya ekonomi belakangan ini, mereka – dan beberapa orang lainnya – optimis menghadapi kondisi.

Alih-alih menggantungkan harapan perbaikan ekonomi pada orang lain (pemerintah), mereka memilih berjuang melalui kemampuan yang dimiliki.

Selain ketiga orang tadi, salah seorang kolega saya juga menjalankan usaha cemilan ringan di sela kegiatan hariannya sebagai karyawan.  Yang bersangkutan bahkan sudah membuka 2 buat outlet di mal & apartemen.

Luar biasa!

Dan meski saya tahu benar bahwa menjalankan usaha tidaklah mudah – karena saya juga merasakannya – saya tetap salut pada mereka.

Setidaknya dengan membuka usaha, mereka sudah mengurangi pengangguran.  Jumlah 1-2 orang mungkin tidak berarti, namun jika banyak yang melakukannya, hm… perusahaan besar akhirnya ‘terselamatkan’ karena pekerja kita akan membelanjakan uangnya untuk membeli barang kebutuhan pokok yang dihasilkan perusahaan besar tersebut (sabun, shampoo, minyak, dst).

Memberdayakan orang-orang sekitar kita dengan tujuan perbaikan ekonomi bersama, mungkin kedengarannya muluk, tapi itu salah satu cita-cita saya.

Dan ada sahabat saya yang sudah (serta masih) melakukannya.

Semoga tulisan saya kali ini menginspirasi, selamat siang, selamat menikmati hari Minggu!

Sumber gambar: ViarBox

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: