Ngeblog di Era Pandemi Agar Otak Tetap Tajam

Ngeblog di Era Pandemi Agar Otak Tetap Tajam | Ryan Mintaraga (image: Envato)
Ngeblog di Era Pandemi Agar Otak Tetap Tajam | Ryan Mintaraga (image: Envato)

Daftar Isi

Lama baca: 5 menit

Saat tulisan ini dibuat, sudah hampir setahun dunia dirundung pandemi Covid-19. Pandemi tersebut menghantam hampir seluruh sendi kehidupan di banyak negara termasuk Indonesia hingga beberapa instansi menerapkan apa yang dikenal sebagai WFH (Work from Home) alias Bekerja dari Rumah. Tiba-tiba saja, rumah – yang sebelumnya adalah tempat untuk beristirahat melepas lelah – berubah menjadi ruang produktivitas.

Selain itu, sebagian orang jadi punya lebih banyak waktu luang namun tidak tahu harus melakukan apa.

Sebelum pandemi, kita mungkin menghabiskan waktu luang dengan menonton di bioskop, main game di game center, atau sekadar cuci mata di mal, misalnya.

Sekarang? Apa yang bisa dilakukan saat kebanyakan tempat tersebut masih ditutup?

Dengan ruang gerak yang terbatas, kita sebenarnya masih bisa melakukan banyak hal di rumah. Ada yang akhir-akhir ini rajin mencoba resep masakan baru, ada yang jadi hobi memelihara tanaman dan/atau hewan, ada yang belajar alat musik, ada pula yang rajin mengulik apapun.

ngeblog, selain mencoba resep baru, kita juga bisa mengasah bakat fotografi agar menghasilkan foto yang keren (envato)
ngeblog, selain mencoba resep baru, kita juga bisa mengasah bakat fotografi agar menghasilkan foto yang keren (envato)

Semua kegiatan itu tentunya punya cerita – entah kegagalan, keberhasilan, pertanyaan, kisah suka, kisah duka, bahkan tips. Apapun.

Jika biasanya cerita-cerita itu kita tuliskan di media sosial, untuk kali ini kenapa tidak coba kita tuliskan di blog?

Kenapa Harus Ngeblog?

Yang jelas terlihat, tulisan yang ada di blog punya struktur pencarian yang jauh lebih rapi dibanding media sosial.

Misalnya:

“Saya dulu pernah nulis tentang tips merawat tanaman janda bolong, kapan itu, ya?”

Jika tulisan itu dulu kita tulis di media sosial, kita mungkin akan sulit mencarinya.

Namun jika kita menulisnya di blog, tulisan itu akan mudah – bahkan sangat mudah – ditemukan.

Baca juga:  Cara Cepat Menjadi Selebgram dalam Sehari

“Ooo, ya, ya. Tulisan ini tulisan 4 tahun lalu.”

Selain itu, tulisan di blog punya potensi jangkauan pembaca yang lebih luas, apalagi jika blog kita dan artikel yang ada di dalamnya sudah diindeks oleh Google. Orang lain yang tidak kenal kita akan merasakan manfaat dari apa yang kita tulis.

Hal itu terbukti dari beberapa tulisan saya. Di tulisan yang membahas penipuan, beberapa orang mengucapkan terima kasih karena dirinya tidak jadi korban penipuan setelah membaca tulisan saya.

Kembali ke topik.

Menurut saya, ada dua tipe blogger berdasarkan platform blogging-nya:

  1. Blogger yang ngeblog di platform yang sudah ada seperti blogspot, wordpress, dll termasuk Kompasiana, misalnya. Blogger tipe ini bisa diistilahkan ngekost di rumah orang lain. Segala ketentuan dibuat dan diatur oleh si pemilik platform. Kita harus manut atau out.
  2. Blogger yang punya domain sendiri, contohnya saya. Saya ngeblog di sini, di blog saya sendiri. Karena punya saya sendiri, segala aturan (dan risikonya) ada di saya. Saya bebas menentukan apa saja di sini.
ilustrasi blogger (envato)
ilustrasi blogger (envato)

Untuk menjadi blogger tipe pertama, kita cukup memiliki akun, login, dan bisa langsung menulis.

Untuk menjadi blogger tipe kedua, setidaknya ada dua tahapan yang harus dilalui dan diperhatikan yaitu menentukan nama domain dan memilih hosting yang andal namun tetap hemat.

Menentukan Nama Domain

Semua tahu bahwa secara sederhana, nama domain adalah alamat blog kita di internet, karena itu nama domain – idealnya – harus mudah diingat dan diketik, tentu saja.

Masalahnya adalah, sejak beberapa tahun terakhir, mencari nama domain yang ideal bukan perkara mudah.

Jika kita berasal dari keluarga sultan dimana uang bukan masalah, mungkin bisa mendapatkan nama domain premium yang dijual dengan harga fantastis hingga ribuan dolar.

Baca juga:  Cara Download Video YouTube ke MP4, Praktis!

Jika tidak, kita cukup memutar otak dan bermain kreativitas untuk mendapatkan nama domain yang – setidaknya – mendekati ideal.

Sedikit informasi, nama domain bisa jadi investasi untuk masa depan. Investasi yang dimaksud di sini lebih ke properti intelektual. Jika kita punya cita-cita untuk membangun perusahaan atau apapun dengan nama ABCDE, misalnya, lebih baik amankan dulu nama domain ABCDE itu sekarang – jika masih ada.

Setelah mendapat nama domain yang diinginkan, berikutnya kita memilih hosting.

Memilih Hosting

Ada pepatah yang cukup terkenal, “Ada harga ada rupa” untuk menggambarkan bahwa biasanya yang murah-murah itu kualitasnya kurang bisa diandalkan.

Bagaimana, ya?

Dari pengalaman saya seputar hosting, pepatah itu tidak bisa sepenuhnya dijadikan pegangan.

Saya sudah jadi pelanggan berbagai penyedia hosting sejak – katakanlah – tahun 2000. Di tahun itu saya sedang getol-getolnya belajar mendesain website menggunakan FrontPage dan DreamWeaver lalu hasilnya di-upload ke web yang iseng-iseng saja saya buat.

Tahun 2003, keisengan saya membuahkan hasil. Saya memiliki beberapa klien yang beberapa diantaranya ingin punya web paket hemat. Karena itulah, bujet untuk hosting pun harus disesuaikan.

Sekitar tahun 2008 saya mulai ngeblog. Harga hosting yang saya ambil waktu itu murahnya kebangetan.

Karena itu – sekali lagi saya katakan – pepatah “ada harga ada rupa” tidak selamanya tepat di dunia hosting.

Saat ini banyak penyedia hosting yang menawarkan spek tinggi dengan kecepatan dan keandalan kualitas namun dijual dengan harga murah.

Istilahnya hosting premium murah, kira-kira. Bukankah yang dicari dari layanan hosting adalah cepat, andal, dan murah?

Lalu jika ditanya, “Lebih pilih mana, penyedia hosting asal Indonesia atau luar negeri?” saya dengan tegas menjawab, “Masih lebih suka penyedia hosting asal Indonesia.”

Baca juga:  Terkena Jebakan KREDIVO

Alasan pertama tentu kemudahan pembayaran. Penyedia hosting asal Indonesia pasti menyediakan opsi pembayaran menggunakan transfer antarbank, opsi yang sangat membantu kita yang tidak memiliki kartu kredit.

Nah, bagaimana? Sudah siap ngeblog dan berbagi cerita di era pandemi ini? Siapa tahu, blog yang kita buat nantinya jadi sumber penghasilan, ‘kan lumayan.

Tapi sebenarnya, ngeblog di era pandemi ini lebih merupakan cara agar otak kita tetap tajam. Siapa tahu pula, setelah pandemi berakhir, kita justru punya skill baru, menjadi manusia baru yang lebih berkualitas.

dengan ruang gerak yang terbatas di masa pandemi, kita tetap bisa kreatif dan mengasah otak agar tetap tajam, ngeblog salah satunya (envato)
dengan ruang gerak yang terbatas di masa pandemi, kita tetap bisa kreatif dan mengasah otak agar tetap tajam, ngeblog salah satunya (envato)

Sila tuliskan komentar jika ada pengalaman ataupun pertanyaan. [ay/d]

Sumber Gambar: Envato

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar