Monoton: 8 November

“Mau kopi?”

Kesadaranku yang hampir saja memasuki gerbang mimpi langsung kembali begitu mendengar suara tersebut.

“Oh, Bell,” sapaku begitu tahu siapa yang menegurku barusan.  Sejenak aku meregangkan tubuh di kursi kerjaku dan melirik jam di pergelangan tangan yang baru menunjukkan angka 11.13.

Bella tersenyum.  Ia berdiri di depan meja kerjaku.

Lagi-lagi, wangi tubuhnya yang sangat seksi tercium di hidungku.

“Padahal masih pagi, tapi kamu kelihatannya ngantuk berat,” katanya.  “Mau kopi nggak?  Atau sekalian kita turun ke food court?”

Aku menguap.

“Boleh.  Sebentar,” aku menggelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang mendera.  Dini hari tadi petugas keamanan di kompleks perumahanku menangkap seorang anggota komplotan pencuri.  Untuk berjaga-jaga dari berbagai kemungkinan buruk, beberapa penghuni kompleks – termasuk aku – begadang sampai pagi.

Setelah meregangkan tubuh sekali lagi, aku berdiri dan berjalan bersama Bella diiringi tatapan iri rekan-rekan kerjaku.

Yes!

Aku bersorak dalam hati.

Siapa sih yang nggak bangga bisa jalan bareng Bella?

***

Natasha Bella, si cantik sekretaris direksi di perusahaan tempatku bekerja adalah seorang perempuan berusia 25 tahun, lebih muda 4 tahun dariku.

Hari ini rambutnya dicepol memperlihatkan tengkuknya yang sangat menggoda jika kita berdiri di belakangnya.

Bella selalu menjadi objek fantasi hampir semua laki-laki yang bekerja di kantor ini, sebagian karena kecantikan dan keseksiannya, juga penampilannya.

Tapi sebagian besar fantasi tentang Bella disebabkan oleh masa lalunya.

***

“Akhirnya masalah selesai ya,” Bella membuka percakapan.  Yang ia maksud tentu insiden di parkiran antara aku dan Pak Ryan hampir seminggu lalu.

“Ya, semoga,” sahutku.  “Aku beruntung, padahal aku sudah beresin meja kerja untuk persiapan seandainya dipecat.”

Bella tertawa kecil.

“Kamu mau tahu nggak?  Ini rahasia sih,” katanya.  “Sebenarnya masalah kemarin itu sampai ke telinga Bu Rere.”

Aku terkejut.

“Bu Rere?  Owner?”

“Ya,” Bella mengangguk.  “Dan beliau langsung mengeluarkan surat rekomendasi ke para direksi.  Direksi pun nggak bisa apa-apa selain menuruti perintah Bu Rere.”

Bella memandangku lekat-lekat hingga aku sedikit grogi.

“Kamu hebat,” ujarnya dengan nada yang terdengar sangat sensual di telingaku.  “Atau… barangkali kamu memang beruntung – seperti katamu tadi.”

Aku tertawa untuk membuang rasa grogiku.

“Sepertinya aku memang sedang beruntung.  Tapi kok Bu Rere bisa tahu secepat itu ya?”

Tepat pada saat itu ponsel Bella berbunyi.

“Bella, Pak.  Ada yang bapak butuhkan?” Sekretaris direksi tersebut menyapa si penelepon.  Raut wajah dan gesturnya menjadi serius.  Ia tampak dengan cermat mendengarkan lawan bicaranya.

Aku memerhatikannya.

Dan pikiranku melayang, kembali ke masa dimana Bella menjadi bahan gunjingan semua orang.  Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua membicarakannya.

“Wiiih bodinyaa…”

“Mukanya sendu-sendu gimanaa gitu.”

“Dih, kok mau-maunya sih?”

“Orangtuanya gimana tuh ya perasaannya?”

Masih sangat jelas di ingatanku bahwa beberapa tahun lalu seorang mahasiswi bernama Natasha Bella menghebohkan pemberitaan nasional karena—

“Baik, Pak.  Lima menit lagi saya ke sana.”

Bella menutup telepon.

“Aku harus ke kantor.  Pak Ryan minta dibantu beres-beres dokumen,” katanya.  “Nanti kita ngobrol lagi ya.”

Setelah melambaikan tangannya, Bella berjalan cepat meninggalkanku.

Pesanannya bahkan belum diminum.

Di satu sisi, aku juga kagum padanya karena ia bisa bangkit dari titik nadir kehidupannya.

Tapi akui saja, suara lain dalam diriku berkata.

Kamu cuma ingin memuaskan fantasimu kan?

Kagum?  BULLSHIT!

Semua pikiran laki-laki ujung-ujungnya ke sana juga!

“Halo,” terdengar sapaan dari suara yang sepertinya pernah kudengar.

Aku menoleh untuk mengetahui si pemilik suara.

“Eh?” hanya itu yang bisa kuucapkan saat melihat si pemilik suara.

Aku tak menyangka ini akan terjadi.

Dia.

Dia?

Kok?

Di samping kursi tempatku duduk, perempuan berambut sebahu itu menatapku dan tersenyum. Perempuan berambut sebahu yang membuatku terlibat insiden dengan Pak Ryan.

Perempuan yang–

“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya.

Aku tak bisa langsung menjawab.

Ini sungguh di luar dugaan.

“Haloo?” tegurnya lagi.

“Oh iya, iya. Silakan,” balasku tergagap.

“Okay, makasih,” ujarnya seraya duduk di kursi di depanku.  “Aku pesen makanan minuman dulu.”

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

***

Jarum jam sudah menunjukkan angka 12.50.

Entah sudah berapa lama aku bercakap-cakap dengannya, dengan perempuan berambut sebahu yang memperkenalkan dirinya sebagai Quin itu.

Intinya, Quin mengucapkan terima kasih padaku karena sudah menolongnya tempo hari saat ribut dengan Pak Ryan.

“Jadi, kamu kerja di mana?” tanya Quin sembari menyesap minumannya.  Aku pun menyebutkan kantor tempatku bekerja.

“Oh!  Benarkah?” matanya berbinar.  “Aku tahu kantormu.  Kapan-kapan aku mampir ke sana menemuimu ya.  Boleh?”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Jam 13.20, aku pamit karena harus kembali bekerja.

“Beneran ya.  Kapan-kapan aku mampir!” serunya.

***

Jam 21.08, aku melepas sepatu setelah bersesak-sesak dalam kereta komuter.  Istriku membukakan pintu depan untukku.

“Hai, Sayang.  Pulang jam berapa tadi?” tanyaku.

“Seperti biasa, sekitar setengah jam lalu,” jawabnya.  “Kamu sudah makan?”

“Belum sih, tapi seperti biasa aku tadi mampir beli ini,” jawabku sambil mengangkat dua bungkus mie godhog yang sempat aku beli dalam perjalanan pulang.

Bibir istriku mengembangkan senyum, matanya berbinar.

“Kebetulan sekali!” serunya.  “Aku juga pengen makan ini.  Kenapa kamu selalu tahu apa yang aku ingin sih?”

Aku hanya tersenyum.

Kami berdua masuk ke dalam rumah.

***

Sembari makan, kami berdua bertukar cerita tentang apa yang terjadi hari ini.  Tentu saja bagian tentang Bella dan Quin tidak aku ceritakan.

Jam 22.20, aku mandi.

Sepuluh menit kemudian usai menyegarkan badan, aku melihat istriku sudah terlelap – seperti biasa.

Aku menarik napas.

Padahal aku…

..tapi sudahlah…

Aku ke ruang tengah dan menyalakan televisi.

Berita?  Ganti.

Film?  Ganti.

Dangdut?  Halah ganti.

Dokumenter?  Nggak minat.  Ganti.

Aku mematikan televisi dan ganti menyalakan komputer.

Setelah terhubung ke internet, aku mengetikkan beberapa kata kunci untuk memuaskan rasa penasaranku.

Ketemu!

Sesudah beberapa menit pencarian, di sebuah situs underground berbagi video, aku menemukan apa yang kucari, sebuah video yang diunggah beberapa tahun lalu.

HEBOH!  VIDEO PANAS MAHASISWI CANTIK NATASHA BELLA

Aku mengeklik video tersebut.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 6 November | Monoton: 11 November

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada seseorang/objek yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: SACBEE

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 129 views sejak dipublish

2 thoughts on “Monoton: 8 November”

Leave a Reply

%d bloggers like this: