Monoton: 29 November

Sudah tiga hari aku tidak masuk kerja. Selama tiga hari itu pula aku menemani istriku, merawat dan menggantikannya melakukan tugas-tugas rumah tangga semampuku.

“Aku sudah nggak apa-apa, nggak usah cemas gitu, Sayang,” kata istriku. Ia menolak menceritakan lebih detail apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya mengatakan dirinya kena tabrak lari sewaktu menyeberang jalan dan terjatuh karenanya.

Hasil pemeriksaan medis memang menyebutkan tidak ada yang serius dan perlu dikhawatirkan.

“Dalam beberapa hari akan sembuh dengan sendirinya,” pungkas dokter yang memeriksa kondisi istriku.  “Tapi kalau sakitnya sakit banget, saya resepkan pereda nyeri dan obat penenang.”

Meski begitu, aku sangat mencemaskan kondisi istriku.

“Gimana nggak cemas, kamu keliatannya masih kesakitan gitu.”

Tanpa sengaja aku menyentuh pinggang dan punggung istriku.

“Aw!” istriku berteriak.  “ADUH!  ADUUHH!!”

Sakitnya pasti tak tertahankan.

Sialan kamu, Quin!

Kalau istriku kenapa-napa, awas kamu!

Melihat istriku selama tiga hari ini berteriak, mengerang, dan mendesis kesakitan hingga mengeluarkan air mata membuatku sangat geram pada Quin.

“Kamu apakan istriku?!” teriakku pada Quin hari itu.  Aku gelap mata.  Aku mendekatinya dengan penuh kemarahan.  Tanganku terkepal, wajahku merah padam.

“Hei!  Hei!  Mau apa kamu?!” Quin bangkit dari kursinya dan berlari menjauhiku.  “LISA!  LISA!!” teriaknya.

Sekejap kemudian, seorang perempuan yang tingginya setara denganku berdiri tegak menghalangiku. Tangannya terkepal.

“STOP!” seru perempuan tersebut.  Tangan kanannya yang terkepal kini menempel di dadaku, siap meninju kapan saja.  “Don’t move any closer!”

Sedetik kemudian pintu apartemen Quin terbuka disusul masuknya empat orang laki-laki berbadan tegap. Salah seorang diantara mereka menggantikan posisi si perempuan yang kini mendekati Quin dan mengambil sikap kuda-kuda.

“Kamu bodoh,” desis Quin.  “Bodoh!  Memangnya kaupikir aku tidak punya pengawal?!”

Berikutnya, seorang dari keempat laki-laki itu merangkul leherku, lebih seperti mencekik, sebetulnya.

Sialan, leherku dikunci!

Dengan posisi terkunci seperti ini, aku tidak punya kesempatan bertindak kasar pada perempuan muda berusia 23 tahun itu yang sekarang berjalan perlahan menghampiriku.

“Kujamin tidak ada hal buruk yang terjadi pada istrimu, namun aku yakin dia tidak akan bisa masuk kerja selama beberapa hari,” katanya halus.  “Aku menyesal hal seperti ini harus terjadi.  Aku benar-benar tidak ingin.  Untuk menunjukkan penyesalanku, kau bisa membawa istrimu berobat ke salah satu rumah sakit milik Regna Group.  Gratis.”

“Setan kau!” makiku terbata-bata.  Inginku berteriak namun kuncian di leherku membuatku kesulitan, bahkan untuk sekadar bernapas dengan normal.

Sejuta serapah kuucapkan pada perempuan yang pernah dua kali tidur denganku ini.

Quin hanya tertawa mendengar serapahku.

“Yah, mungkin sudah takdirku dimaki-maki orang.  Sejak kecil aku selalu dimaki, jadi saat ini aku sudah terbiasa, bahkan kata-kata yang paling kotor sekalipun.  Lakukan saja jika itu bisa membuatmu puas.”

Tawanya kemudian berubah menjadi desisan halus penuh ancaman yang menakutkan.

“Aku masih bermurah hati mengingat sebenarnya aku ingin memilikimu sepenuhnya.  Akan tetapi jika kamu masih tidak tahu diri dan coba-coba melawanku seperti tadi, aku pastikan istrimu akan mati dengan cara yang tidak bisa kaubayangkan.”

Dengan jemarinya, Quin memberi isyarat pada pria yang mengunci leherku untuk membebaskanku.  Setelah bebas, aku terbatuk dan membungkuk sejenak untuk memasukkan lebih banyak udara ke paru-paruku.

Keringat mengucur di seluruh tubuhku.

Apa… apa yang akan terjadi padaku?

Istriku, maafkan aku.

Quin mundur dan kembali dilindungi si perempuan bertubuh tinggi yang dipanggil ‘Lisa’. Kali ini aku bisa memerhatikan Lisa lebih seksama. Ia terlihat seperti perempuan Eropa Timur.

Satu hal yang pasti bagiku, perempuan tersebut adalah pengawal pribadi Quin.

“Saat ini aku tidak akan memaksamu menikah denganku.  Aku hanya mau kamu tetap di perusahaan.  Aku bahkan memberimu promosi, kenaikan gaji, dan fasilitas.  Coba kamu pikir, ini adalah penawaran terbaik di manapun.  Menolak tawaran langka seperti ini adalah sebuah kesalahan besar.”

Ia mengambil selembar kertas dan menyodorkannya padaku.

“Kamu tinggal pilih, tandatangan di sini dan semuanya berakhir baik, atau—”

Tidak ada pilihan lain.

Mulai detik ini aku hanya bisa menurutinya, menjadi budaknya.

Quintessa Drosera Wongso.

Bunga cantik pemakan serangga.

“Sekali kakimu terjebak cairan lengket di tentakelnya, kamu nggak akan bisa lepas sementara ia akan mencernamu, mengisapmu hingga tak ada lagi yang tersisa darimu.”

Aku teringat kata-kata Pak Ryan.

***

Pukul 22.40.

Setelah memastikan bahwa istriku sudah terlelap, aku menelepon Bella untuk menceritakan apa yang terjadi.  Semuanya.

“Aku memang pernah dengar Regna Group punya bisnis pengawalan,” tutur Bella usai mendengar ceritaku.  Ia berbicara dengan lirih, lebih mirip bisikan.  “Bisnis pengawalan itu dimiliki dan dijalankan Jack Wongso, kakak Quin.  Tapi aku nggak nyangka mereka bisa berbuat seperti itu terhadap istrimu karena setahuku para pengawal yang bekerja di sana memiliki sertifikasi internasional.”

“Entahlah,” aku pun ikut berbisik.  “Dan aku nggak mau tau.  Yang paling penting bagiku saat ini adalah keselamatan keluarga – istriku terutama.”

Quin sudah tahu di mana istriku bekerja, nomor ponselnya, wajahnya, juga data-data lainnya.

Quin bahkan tahu di mana ibuku dirawat.

Benar-benar menakutkan!

“Bagaimana keadaannya?” tanya Bella lagi.  “Istrimu.”

“Baik, kurasa, kecuali dia kadang-kadang merasa sakit di pinggang dan punggungnya.”

“Aku… aku ikut prihatin, semoga istrimu lekas sembuh.”

“Terima kasih, Bell.”

“Sama-sama.  Terus, aku tahu saat ini timing-nya kurang pas, tapi secara de facto kamu sudah masuk jajaran manajer di perusahaan, tinggal SK-nya saja.  Kemungkinan ke depannya kita akan lebih sering bekerja sama, karena itu kumohon kerja samanya.”

Aku terdiam.

Sebenarnya bukan promosi dengan cara seperti ini yang kuharapkan. Lagipula, toh aku sebenarnya hanya budak.

Sialan kamu, Quin!

Kuharap dirimu jatuh sejatuh-jatuhnya!

Hari ini Jumat, pukul 23.30.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 26 November | Monoton: next episode

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: COCONUT

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 140 views sejak dipublish

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: