Monoton: 28 Oktober

Suara alarm membangunkanku dari tidur, saat ini pasti sudah jam 05.30 pagi.

Hari ini hari Senin.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata, dan menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera.  Dari kamar mandi terdengar suara gayung yang beradu dengan air di dalam bak.  Lima menit lagi istriku pasti selesai mandi.

Aku menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang sudah istriku sediakan.

Pernah sesekali terlintas pertanyaan dalam benak,

Jam berapa dia bangun?

Sepuluh detik kemudian pintu kamar mandi terbuka, istriku keluar dari kamar mandi, dan mengucap salam padaku sambil lalu.

Kami berdua adalah pasangan muda yang bekerja di ibukota dan tinggal di kota satelitnya – di sebuah perumahan menengah atas.  Seperti kebanyakan penghuni perumahan ini, kami harus berangkat pagi-pagi supaya tidak terlambat sampai kantor.

Kita sudah tak punya waktu.

Diam-diam aku mengeluh.

Hidup macam apa ini?

* * *

Jam 07.10, aku sudah di dalam kereta komuter yang penuh sesak.  Pendingin udara di dalam kereta tak lagi terasa akibat sesaknya penumpang apalagi ditambah pancaran cahaya matahari dari luar.

Jam 08.20, aku turun dari ojek online dan bergegas menuju mesin presensi.  Kantorku terletak di gedung pencakar langit berlantai 49.  Banyak perusahaan yang berkantor di gedung ini karena lokasinya yang prestisius, terletak di jantung bisnis ibukota.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Diantara salaryman yang lalu-lalang di pagi yang sibuk ini, aku berharap bisa sekadar bertegursapa dengan Bella si cantik sekretaris direksi – atau paling tidak, satu lift dengannya.  Jikapun tidak kesampaian, hanya melihat penampilannya pagi ini sudah cukup bagiku.

Tapi pagi ini rupanya bukan pagi keberuntunganku.  Bahkan sampai tiba di mesin presensi, aku sama sekali tak melihat keberadaannya.

Masa bodo, batinku.

Masuk kantor tepat waktu jauh lebih baik.

Aku melihat jam tanganku saat meletakkan ibu jari di pemindai mesin presensi.

Jam 08.25, seperti biasa.

***

Jam 11:24 di sela-sela tumpukan pekerjaan, aku mengetikkan sebaris status di linimasaku.

“6 menit menuju makan siang”

Tepat enam menit kemudian, aku melihat rekan kerjaku satu demi satu menuju lift.

Aku berdiri, melakukan stretching, lalu bersama mereka turun ke food court.  Di jam segini, food court masih cukup lengang sehingga apapun yang kami pesan tidak butuh waktu lama untuk siap disantap.

Kami pun masih bisa menikmati makanan dengan santai sembari ngobrol ngalor-ngidul khas kelas menengah.  Tidak ada hal serius yang kami obrolkan.  Hanya obrolan kosong namun cukup membuat kami tertawa keras-keras.

Aku yakin jika para bos mengetahui apa yang karyawannya obrolkan, mereka akan berkata,

“Pantas hidup kalian begitu-begitu saja.  Obrolan kalian hanya diisi pembicaraan yang nggak ada gunanya sama sekali.”

Tapi masa bodo, bukan?

Inilah cara kami melepas segala tekanan yang kami rasakan – bahkan sejak membuka mata di pagi hari.

Obrolan kosong tanpa makna ini akan ditemani sebatang-dua batang rokok, dilanjutkan usai makan di tempat-tempat terbuka.  Tentu sesekali obrolan akan menjadi sedikit serius jika sudah membahas ‘masalah kantor’.

“Gua bisa pindah ke kantor lu, nggak?”

Tapi, obrolan serius itu seringnya berlalu begitu saja seiring embusan asap rokok.

Jam 12.55, tempat tersebut kembali kosong.

Hanya ada aku.

Dan dia.

Aku sudah lama memerhatikannya, seorang perempuan muda berambut sebahu.  Ditilik dari pakaiannya, aku kerap bertanya – dalam hati – perusahaan mana yang mempekerjakannya karena hampir semua salaryman di gedung ini bekerja dengan busana formil, berbeda dengan penampilannya yang–

Bagaimana ya?

Apakah dia bekerja?

Atau…?

Untuk beberapa detik, kami saling pandang.

Dan dia tersenyum.

***

Jam 21.12, aku melepas sepatu setelah bersesak-sesak dalam kereta komuter.  Istriku – seperti biasa – membukakan pintu depan untukku.

“Hai, Sayang.  Pulang jam berapa tadi?” tanyaku.  Pertanyaan yang sama dari hari ke hari.

“Biasa, kurang-lebih setengah jam lalu,” jawabnya.  “Kamu sudah makan?”

“Seperti biasa, belum,” aku mengangkat dua bungkus sate padang yang sempat aku beli dalam perjalanan pulang.

Bibir istriku lagi-lagi mengembangkan senyum, matanya berbinar.

“Kebetulan sekali!” serunya.  “Aku juga pengen makan ini.  Kamu kok selalu tau apa yang aku ingin, sih?”

Aku hanya tersenyum tipis.  Kami berdua pun masuk ke dalam rumah.

***

Sembari makan, kami berdua bertukar cerita tentang apa yang terjadi hari ini meskipun rasanya tak ada yang istimewa.

Jam 22.20, aku mandi.

Sepuluh menit kemudian usai menyegarkan badan, aku melihat istriku sudah terlelap.  Atau setidaknya itulah yang terlihat di mataku – seperti hari-hari sebelumnya.

Aku menarik napas.

Seperti inilah hidupku setiap harinya.

Kami adalah pasangan muda yang belum lama menikah.  Dari apa yang kubayangkan, seharusnya kami masih menikmati cinta yang bergelora dan menggebu seakan tiada hari esok.

Tapi, kenyataan tak seindah bayangan, bukan?

Bahkan di hari libur sekalipun…

Sekali lagi, aku menarik napas dan menuju ruang tamu untuk menjalankan satu lagi kebiasaanku – menyalakan televisi dan memencet-mencet tombol remote sesukaku.  Tidak pernah ada siaran yang bisa menarik perhatianku untuk waktu lama.

Berita?  Ganti.

Film?  Ganti.

Dangdut?  Halah ganti.

Dokumenter?  Nggak minat sama sekali.  Ganti.

Hah, lagi-lagi acara yang membosankan.

Semua terasa membosankan.

Monoton.

Ritual ini aku lakukan sampai aku tertidur sendiri atau sampai aku merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Hidup macam apa ini?

Jam sudah menunjukkan angka 23.13, aku mematikan televisi dan beranjak ke kamar tidur.  Aku merebahkan badan di samping istriku.  Samar tercium wangi lembut dari tubuhnya, sama seperti sebelumnya.

Untuk sejenak, aku merasa ingin memeluknya.

Namun segera kutepis keinginan itu.

Aku tak pernah ingin mengganggu orang tidur.

Sejenak sebelum memejamkan mata, terlintas satu pertanyaan di benakku.

Seperti apa penampilan Bella besok?  Kenapa aku tidak melihatnya tadi?

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 30 Oktober

Catatan:

  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya. Sesuatu itu mungkin akan terlihat mulai episode berikutnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
Sumber Gambar: sacbee

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 136 views sejak dipublish

Leave a Reply

%d bloggers like this: