Monoton: 28 Desember

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 6 menit

Suara alarm membangunkanku dari tidur.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata, dan menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera. Meski hari ini akhir pekan, bukan berarti aku akan menyia-nyiakan waktu dengan bermalas-malasan sepanjang hari. Hujan yang turun sejak kemarin siang hingga malam harinya membuat bagian depan rumahku terkena cipratan air yang bercampur tanah. Karena itu, hari ini aku berencana membersihkan rumah.

Aku memeriksa ponselku.

Apa-apaan?

Sejak pukul 4 pagi hingga saat ini tercatat ada empat panggilan tak terjawab, semua berasal dari satu nomor.

Quin.

Kenapa dia nelpon?

Aku bimbang.

Apa ada sesuatu yang penting?

Apa perlu aku menelponnya?

Dari kamar mandi terdengar suara gayung yang beradu dengan air di dalam bak. Istriku pasti sedang mandi.

Baiklah, aku telpon dia.

“Halo?” sapa Quin dari seberang telepon. Rupanya aku tak perlu menunggu lama.

“Ya, Bu. Ibu tadi telepon?” tanyaku. Telingaku sayup menangkap suara seperti gemericik air.

Shower? Pikirku.

Dia sedang mandi?

“Ini bukan hari kerja,” balas Quin. “Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.”

“Oh, baiklah. Apa ada hal yang penting sampai kamu tiga kali nelpon?” tanyaku sedikit merendahkan suara, khawatir istriku mendengar percakapan kami.

“Penting atau nggak, itu tergantung perspektifmu saja.”

Suara shower kini berhenti.

“Jadi, ada apa?” tanyaku.

“Aku akan kirim alamat, nanti kamu datang ke sana.  Terserah jam berapa pun.”

“Tapi ini, ‘kan, weekend.”

“Terserah jam berapa pun,” Quin mengulangi akhir kalimatnya.

“Tapi—”

“Terserah jam berapa pun.”

Aku mengeluh.

“Baiklah, nanti aku kabari jam berapa aku jalan.”

“Nah, seperti itu.  Oke, aku tunggu,” Quin terdengar senang.  “Bye.”

Baca juga:  Monoton: 11 November

Klik.

“Kamu ngobrol sama siapa?”

Aku hampir terlompat mendengar suara itu. Entah sejak kapan istriku berdiri di belakangku, masih dengan handuk yang melilit tubuhnya.

“Ngobrol sama siapa?” ia mengulangi pertanyaannya.

“Dari kantor,” aku membuang muka dan berusaha menjawab pertanyaannya setenang mungkin.

“Dari siapa?”

Aku menoleh padanya.

“Memangnya kamu kenal teman-teman kantorku?” aku bertanya balik dengan nada tak senang.

“Tinggal bilang dari siapa kok susah sekali?” cecar istriku.  “Jangan-jangan itu telpon dari anaknya owner, ya?”

Emosiku mendadak naik.

“Apa urusannya sama kamu?  Mau anaknya owner atau ownernya sendiri yang nelpon ke aku memangnya kenapa?!”

Istriku mengangkat bahu.

“Yah, sebenarnya nggak masalah, sih.  Selama kamu nggak cari masalah.”

“Maksudmu apa?!” aku makin gusar.  “Nada suaramu itu, nggak enak banget.”

“Lho?  Kamu itu yang nggak enak.  Ditanya ngobrol sama siapa malah jawabannya seperti itu.”

Aku mendengus.

“Aku pergi,” ujarku singkat.  “Ke kantor.”

“Hah,” istriku menggumam sinis.

***

“Jika sudah menyangkut Bu Rere dan keluarganya, aku nggak bisa ngasih saran apa-apa.”

Bella menyesap minumannya. Ia sedang lari pagi saat aku meneleponnya tadi, kebetulan tempatnya cukup familiar. Aku pun memutuskan menemuinya di tempat itu walau ia awalnya terlihat agak enggan.

Saat ini kami bercakap-cakap di sebuah café yang ada di sekitar situ.

“Karena sudah jadi subordinatmu, aku akan menceritakan semuanya,” tutur Bella lagi sembari mengusap keringat dari short-sleeve yang ia kenakan.  “Setelah ini, please hapus video lama itu dari ponselmu.”

Aku mengangguk.

Bella menghela napas panjang.

“Video itu adalah kebodohan terbesarku yang akan terus melekat seumur hidup, bahkan mungkin sampai aku mati.”

Bella menceritakan cemoohan, hinaan, dan caci-maki yang ia terima semenjak video itu viral di internet. Ayahnya bahkan meninggal terkena serangan jantung, tak kuat menanggung beban pikiran dan perasaan akibat tekanan lingkungannya.

Baca juga:  Monoton: 17 November

“Akibat video itu pula aku dikeluarkan dari kampus,” tuturnya.  “Tanpa kepala keluarga pencari nafkah, bayangan akan menjadi orang miskin sudah di depan mata.  Di sisi lain, akun media sosialku dipenuhi komentar dan pesan-pesan dari para lelaki mesum yang makin menjatuhkan harga diriku.  Tapi, yah, sejak saat itu aku memang tak punya harga diri.”

Aku terdiam mendengar ceritanya.

“Untuk menyelamatkan keuangan keluarga, aku melamar kerja ke sana kemari.  Hasilnya seperti yang pernah kukatakan padamu, nihil.  Semua perusahaan yang kudatangi menolakku mentah-mentah.  Hingga suatu hari aku sampai di batas kekuatanku, kurang lebih setahun setelah beredarnya video itu.  Penolakan yang ke sekian kali membuatku menangis di lobi perusahaan, dan saat aku sedang menangis itulah seseorang menghampiriku.”

“Seseorang?” aku berdebar.

“Ya,” Bella mengangguk.  “Bu Rere.  Regina Wongso.  Saat itu Ibu bersama putrinya, Asterina.”

Sekali lagi, aku hanya mampu terdiam mendengar penuturan Bella.

“Setelah mendengar ceritaku, mereka menerimaku bekerja.  Namun demi kebaikan, aku ditempatkan di kantor cabang yang jauh dari kota besar sampai dua tahun lalu.  Sewaktu keadaan sudah membaik, aku ditarik ke Jakarta.”

“Waw,” aku menggelengkan kepala.  “Luar biasa.”

“Ya.  Ibu, maksudku Bu Rere, memang luar biasa.  Ibu – dan Asterina – adalah penyelamatku,” Bella kembali menyesap minumannya.  “Karena itu aku akan melakukan apapun untuknya dan keluarganya.  Aku juga tidak bisa memberikan saran apa-apa pada siapapun yang ada sangkutan dengan Ibu dan keluarganya.”

“Aku paham.  Tapi kamu sendiri memanfaatkan uang perusahaan untuk keuntungan prib—”

“Bukan aku yang minta,” sergah Bella.  “Laki-laki itu sendiri yang melakukannya untukku.  Lagipula awalnya aku kira itu uang pribadinya.”

“Whatever.  Jadi, aku tidak akan mendapatkan saran apapun darimu soal hubunganku dengan Quin.  Baiklah jika begitu.”

Baca juga:  Monoton: 25 Januari

“Aku juga minta tolong padamu,” Bella sontak memegang kedua tanganku.  “Aku masih belum siap kehilangan semua yang sudah kucapai selama ini.  Karena itu, tolong aku.  Jangan laporkan aku.  Sebagai imbalannya, aku bersedia melakukan apapun untukmu.”

“Bell?”

“Please.  Nasibku ada di tanganmu sekarang.  Kau sudah memiliki aku.”

***

“Kamu boleh pakai apartemen ini,” tutur Quin sembari menyerahkan access card.  “Aku tidak tinggal di sini, tapi mungkin aku akan beberapa kali ke sini menemuimu.”

Aku terpana.

“Do whatever you want dengan siapapun bahkan mungkin dengan si sekretaris itu.  Aku nggak akan komplain,” Quin melanjutkan ucapannya.  “Tapi ada satu hal yang tidak bisa kamu lakukan.”

Quin memandangku dengan tatapan tajamnya.

“Kamu tidak bisa membawa istrimu tinggal di sini,” suara halusnya terdengar bagai ancaman.  “Atau risikonya kamu tanggung sendiri.”

Berikutnya perempuan muda berusia 23 tahun itu tertawa kecil.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 27 Desember | Monoton: 25 Januari

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
Sumber Gambar: DesiringGod

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

2 pemikiran pada “Monoton: 28 Desember”

  1. I seldom comment, however i did some searching and wound up here Monoton: 28 Desember | Ryan Mintaraga.
    And I do have a few questions for you if it’s allright.
    Is it only me or does it give the impression like
    a few of the comments appear like written by brain dead individuals?
    😛 And, if you are writing on additional online social sites, I would like to keep up
    with everything new you have to post. Would you list of
    every one of all your communal pages like your
    linkedin profile, Facebook page or twitter feed?

    Balas
  2. Bonus Referral Tidak Hanya Dengan Bonus Yang Spektakuler Di Atas
    , Aktifpoker Juga Memberikan Kesempatan Bagi Anda Yang Ingin Memiliki Pendapatan Pasif Tanpa Modal.

    Balas

Tinggalkan komentar