Monoton: 27 Desember

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 7 menit

“Jadi, sudah kamu selidiki transaksi-transaksi rahasia itu?”

Hari ini hari Jumat.  Jam di tanganku menunjukkan angka 15.43, sebentar lagi jam kerja akan berakhir, namun beberapa menit lalu Quin memanggilku ke kantornya.

Di luar, hujan turun dengan derasnya.

“Ya, Bu,” jawabku sembari menyerahkan hasil temuanku sepuluh hari lalu.  “Maaf agak lama karena transaksinya bercabang ke mana-mana.”

“Hmm…,” Quin menggumam sembari membolak-balik laporanku dengan cepat.  “Nanti aku baca lebih teliti lagi.  Apa sudah kamu tulis nama-nama mereka yang terlibat?”

“Ada, Bu.  Di setiap akhir laporan ada kesimpulan sementara berikut nama-namanya.”

“Bagus,” Quin meletakkan laporanku di mejanya.  “Sekarang kamu tahu bahwa kecurigaanku selama ini terhadap operasional perusahaan ada benarnya, ‘kan?”

“Ya, Bu,” jawabku.

“By the way, apa di daftar ini ada nama si sekretaris itu?”

Deg!

“Sekretaris?  Bella, maksudnya?” tanyaku bodoh.

“Whoeverlah namanya, aku tak peduli,” sergah Quin.  “Ada?”

Sekali lagi aku hanya memandang Quin dengan tatapan bodoh.

“Hei!” Quin menegurku keras.  “Kenapa kamu diam?!  Ada atau nggak?!”

“Oh, maaf,” aku tersadar.  “Maaf, Bu.  Saya sedang berusaha mengingat-ingat tadi,” aku beralasan.

Quin mendengus.

“Tatapanmu tadi seperti orang tolol, tahu,” katanya.  “Jadi, bagaimana?  Ada atau nggak?”

Aku berdehem untuk menghilangkan kegugupanku.

***

Senin, 23 Desember, pukul 17.05.

Aku menghentikan file video hasil rekaman kamera yang kupasang secara rahasia di ruanganku.

Bukan tanpa sebab aku memasang kamera pengintai.  Minggu lalu, sedikitnya tiga kali aku sadar ada yang masuk ruanganku dan mengacak-acak isinya selama aku berada di kantor Quin.

Ruangan yang diacak-acak itu memang dirapikan kembali seolah tak terjadi apa-apa.

Tapi aku tahu.

Aku tipe orang yang sangat memerhatikan detail.  Sudah jadi kebiasaanku meletakkan beberapa barang kecil sedemikian rupa seperti berapa derajat putaran kunci laci kerjaku, menghadap ke mana paper clip yang kuletakkan di atas tumpukan berkas, hingga urutan kartu nama yang kuterima dari tamu-tamuku.

Baca juga:  Monoton: 29 November

Saat ada yang berubah, aku tahu.

Aku memutar dan menghentikan kembali file rekaman dari kamera pengintai yang baru kupasang pagi ini.

“Bagaimana?” tanyaku.  “Dengan bukti ini, kamu masih menyangkal?”

Wajah office girl itu pucat pasi.  Dengan bukti ini ia tak bisa mengelak setelah sebelumnya menyangkal keras.

“Saya…, saya…,” katanya terbata.

“Memangnya kamu dikasih berapa sampai berani bohongi saya?” tekanku.

“Maafkan saya, Pak,” office girl yang usianya sekitar 22 tahun itu mulai terisak.  “Sungguh, maafkan saya.  Saya hanya disu–”

“Iya, saya tahu kamu cuma suruhan,” potongku dengan nada keras.  “Tapi kenapa kamu sampai berani bohongi saya?!  Kamu dikasih uang?!”

Office girl itu masih terisak.

“Nggak usah nangis!” bentakku.  “Kamu dikasih berapa?!”

Dengan tergugu, office girl itu menyebutkan uang yang diterimanya, uang yang ia terima untuk merapikan ruanganku seperti semula setelah diacak-acak oleh—

“Keluar kamu,” kataku.

“Pak?”

“Keluar.  Berdoa saja supaya saya nggak minta HRD mecat kamu karena pencurian.”

“Pak, tapi saya—”

“Cukup!  KELUAR DARI SINI!  SEKARANG!”

***

Senin, pukul 19.30.

Sekali lagi aku memutar dan menghentikan file video hasil rekaman kamera yang kupasang secara rahasia di ruanganku.

“Bagaimana?” tanyaku.  “Dengan bukti ini, kamu masih menyangkal sudah mengacak-acak ruanganku?”

Wajah Bella pucat pasi. Dengan bukti ini ia tak bisa mengelak setelah sebelumnya menyangkal keras.

“Aku…, aku…,” Bella terbata, sama seperti office girl yang tadi sore kupanggil ke ruanganku.

Aku menghela napas.

“Kenapa, Bell?  Kenapa harus pakai cara seperti itu?”

Bella hanya tertunduk diam.

Aku berjalan mondar-mandir mengitari ruanganku sementara Bella masih saja duduk mematung dengan kepala tertunduk.  Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.

Aku mendengus, menjatuhkan diriku di kursi lalu memandang wajahnya yang tetap tertunduk.

Baca juga:  Monoton: 08 Februari

“Ada yang mau kaukatakan?” tanyaku lagi.  “Tadi kamu menyangkal keras sekali.  Sekarang bagaimana?  Masih mau menyangkal?”

Ia tak menjawab.

“Bell?”

Ia masih tak mengeluarkan suara, hanya menggeleng pelan.

“Akhirnya.  Sayang sekali kamu acak-acak ruanganku,” ujarku pelan sambil menulis sesuatu di secarik memo.  “Padahal selama ini aku masih merahasiakan keterkaitanmu dengan salah satu transaksi rahasia yang dibuat Pak Ryan.”

Mata Bella membelalak.

“Jadi, benar,” keluhnya lirih.  “Kamu sudah tahu.”

***

Hujan di luar turun makin deras diiringi kilat dan guntur bersahut-sahutan.  Meski masih sore, langit di luar sangat gelap seperti Magrib saja.

“Bagaimana?” Quin bertanya lagi padaku.

Aku menggeleng pelan.

“Saya masih melakukan penelusuran, Bu.  Sejauh ini belum ada nama Bella di daftar transaksi yang saya temukan.”

“Begitu, ya?” Quin memandangku.

Apakah dia percaya padaku?

***

“Kumohon!”

Bella bangkit dari kursinya lalu berlutut di hadapanku.

“Tolong,” pintanya.  “Tolong pertimbangkan lagi.”

Bella kini bersujud. Wajah, lutut, dan telapak tangannya menyentuh lantai karpet ruang kerjaku yang menurutku belum tentu bersih, namun ia terlihat tak peduli.

Darahku sejenak berdesir melihatnya dalam posisi seperti itu.

“Tolong,” pintanya makin mengiba.  “Kalau aku dikeluarkan dari sini, di mana lagi aku bisa bekerja?  Hanya perusahaan ini yang mau menerimaku.”

“Kenapa itu harus jadi urusanku?” sergahku sembari menahan degup jantungku melihatnya seperti itu.  “Kurasa kamu bakal gampang dapat pekerjaan di luar sana—”

“Sudah kucoba!” potongnya.  “Sudah bertahun lamanya kucoba tapi tidak pernah berhasil.”

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“…”

“Bell?  Halo, Natasha Bella?” tanyaku sekali lagi.

Bella masih tak menjawab.

“Ah!” aku menjentikkan jari, teringat sesuatu.  “Aku tahu!  Pasti karena videomu beberapa tahun lalu, ‘kan?  Video panasmu itu.  Benar, ‘kan?”

Baca juga:  Monoton: 21 November

Masih tak ada suara apapun dari Bella, si cantik sekretaris direksi yang kini berlutut di hadapanku.

Aku tertawa senang.

“Aku benar, ‘kan, Bell?”

Akhirnya!

Aku memandang Bella yang masih berlutut.

“Bangun,” kataku.  “Nggak pantas perempuan secantik kamu sampai segitunya.  Bangun.”

Bella bangkit dan menatapku. Tatapannya terlihat pasrah seperti rusa yang sudah tersudut oleh serigala. Hanya bisa menunggu kapan gigi dan cakar tajam itu akan mencabik-cabiknya.

***

“Baiklah, aku percaya padamu,” tukas Quin.  Update terus laporannya, secepatnya.”

“Baik, Bu.”

Aku menarik napas, lega.

***

“Aku maafkan dirimu kali ini.  Aku juga akan mencoba sebisa mungkin menyelamatkanmu dari kemarahan Quin, asalkan…,”

Aku menatap Bella. Desiran yang kurasakan sudah tak bisa lagi kutahan sementara perempuan cantik di hadapanku ini masih menatapku dalam diam.

Berikutnya aku memutar sebuah file video di ponselku dan memperlihatkannya pada Bella. Video itu adalah video panas Natasha Bella sewaktu ia masih mahasiswi.

“Kuminta kamu ulangi apa yang kamu perbuat di video ini.  Denganku, tentu saja.”

Wajah Bella memerah.

Aku menyeringai.

Berikutnya ia tersenyum tipis dan menghampiriku – tanpa sepatah kata pun.

Di luar, hujan turun dengan derasnya.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 16 Desember | Monoton: 28 Desember

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: COCONUT

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar