Monoton: 26 November

Bunyi alarm membangunkanku dari tidur, saat ini pasti sudah pukul 05.30 pagi.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera.

Kehidupanku sudah seperti robot yang terprogram. Pukul berapa bangun tidur, pukul berapa mandi, berapa lama waktu yang dihabiskan, berapa menit waktu yang diperlukan untuk bersiap, makan, hingga berapa lama perjalanan ke kantor. Itulah rutinitasku.

Tapi hari ini program rutinku terinterupsi.

Butuh beberapa detik bagiku untuk sadar bahwa saat ini diriku sedang berada di apartemen Quin, tepatnya di kamarnya.

Aku menoleh ke tempat tidur, tidak ada siapa-siapa lagi di situ.

Dia sudah bangun?

Aku menarik napas panjang.

Kenapa bisa begini?

Apa yang sudah kulakukan?

Aku membuka WhatsApp. Hanya ada satu panggilan tak terjawab dan dua pesan.

Semua dari istriku.

Ada sesal yang sekejap muncul dan membuat dada terasa sesak.

Istriku, maafkan aku.

Dengan lunglai aku membuka pintu kamar Quin.

Begitu pintu terbuka, aroma yang sangat familiar menyergap indra penciumanku.

Kopi.

“Hai, sudah bangun?” Quin menyapaku.  Ia sedang berada di meja kerjanya, sibuk dengan laptop di hadapannya sambil sesekali menikmati makanan dan minuman yang terhidang.  “Sarapan?  Aku sudah siapin roti sama minuman teh, kopi, susu, kamu tinggal pilih.  Aku masih belum tau kamu minum apa kalau pagi.”

Aku mengangguk tanpa sepatah kata, mengambil setangkup roti tawar, mengolesinya dengan mentega, lalu mengisinya dengan apa yang ada di meja. Aku juga mengisi gelas minumanku dengan susu.

Lewat ekor mataku, aku sadar Quin diam-diam memerhatikan apa yang kumakan dan kuminum.

“Jam berapa kamu bangun?” tanyaku sedikit berbasa-basi.

“Biasa, sekitar jam 3,” jawabnya.  Laptop di hadapannya masih menyala.

“Pagi banget,” diam-diam aku terkejut.  Kupikir perempuan muda dari keluarga kaya ini bangun siang, tidak seperti kami kelas menengah yang harus bangun pagi-pagi supaya tidak terlambat ke kantor.

Ternyata sama saja.

“Begitulah.  Aku mewakili Mama memeriksa dengan detail dokumen-dokumen yang harus ditandatangani.  Aku juga harus memeriksa laporan yang masuk dari seluruh unit di grup.”

“Kamu kerjakan semuanya sendiri?” tanyaku masih terheran-heran.  Lagi-lagi selama ini kupikir orang sepertinya tak perlu bekerja keras dan menyerahkan semua pekerjaan pada anak buah.

Ternyata aku salah.

“Yup,” Quin mengangguk.  “Apalagi sedang banyak intrik di grup.  Aku nggak bisa sepenuhnya percaya orang lain.  Semua harus kuperiksa sendiri.”

“Setiap hari kamu begini?” tanyaku lagi.

Quin mengangguk lagi.

“Karena itu aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk menjadi anggota keluarga, dan orangnya saat ini ada di hadapanku.”

Aku terdiam.

***

Stasiun kereta, pukul 08.23.

Istriku membawa ransel berisi pakaian kerjaku, kami bertemu di tap gate. Ia berkeras menemuiku meski aku bilang tak perlu, toh aku sebenarnya tak perlu berganti pakaian.

“Kamu belum mandi?” tanyanya sesaat setelah mengendus tubuhku.

“Gila aja belum mandi,” sahutku.  “Di kamar mandi kantor nggak ada sabun, jadi aku mandi nggak pake sabun.”

Diam-diam aku menyesal pagi ini sudah mengatakan satu kebohongan.

“Oh?  Oke,” ia menyerahkan ransel yang dibawanya padaku.  “Di dalamnya ada baju ganti sama peralatan mandi – kalau-kalau kamu butuh.  Ada roti juga buat sarapan.  Jangan lupa baju kotormu nanti masukkan ke sini tapi dilipat dulu.  Maaf, ya, aku buru-buru, habis ini aku ke kantor lagi.”

“Tunggu,” aku menahannya.  “Kalau misalnya nanti sore aku jemput kamu, bisa?”

Istriku tertawa kecil.

“Lihat nanti aja,” katanya.  “Lain kali kalau kamu nggak pulang, kabari dulu, jadi aku nggak kepikiran.”

“Maaf, aku mabuk, kebanyakan minum.”

“Ya, sudah,” katanya.  “Sampai nanti.”

Ia melangkah cepat dan sejenak kemudian membaur di kerumunan calon penumpang kereta pagi ini. Aku terus memandanginya hingga ia benar-benar tak terlihat di pandanganku.

“I love you, Sayang,” bisikku.  “And I’m really sorry.”

Apa yang sudah kulakukan?

***

“Beres-beres meja lagi?” Bella menegurku.  “Ada apa?

“Nggak, nggak ada apa-apa,” ujarku singkat.  “Lagi pengen beres-beres aja.”

Bella menarik kursi dan duduk di depan meja kerjaku.

“Kamu nggak kepikiran buat resign, ‘kan?” tegasnya.

“Well, who knows?” aku bertanya balik.  “Kamu kok punya pikiran begitu?”

Bella memandangiku.

“I don’t know, mungkin feeling-ku saja,” katanya.  “Aku ingat kira-kira sebulan lalu nggak lama setelah kejadian dengan Pak Ryan, kamu bilang sudah beres-beres meja seandainya kamu dipecat.  Tapi, yah, seperti katamu, who knows.  Aku tinggal dulu, sampai nanti.”

Si cantik sekretaris direksi itu bangkit dari kursi dan meninggalkanku, namun aroma tubuhnya masih tertinggal selama beberapa menit.

Aku menarik napas.

Nggak bisa begini terus.

Pada akhirnya aku harus mengambil keputusan.

Apapun resiko ke depannya.

***

“Aku menolak!” seru Quin begitu aku mengutarakan maksudku untuk resign.  “Dewan sudah menyiapkan promosi untukmu dan kamu malah mau resign?!”

“Please, Quin, aku cuma mau resign.”

“Terus begitu keluar dari sini kamu mau apa?  Mau usaha?  Mau pindah kerja?  Yakin?”

“Aku sudah punya rencana unt–”

“THAT’S A LIE!” sergah Quin dengan nada suara yang semakin tinggi.  Ia jelas sangat gusar.  “Kamu cuma mau menghindar dariku, ‘kan?!  Kamu mau menolak penawaranku kemarin tapi nggak tau caranya.  YA, ‘KAN?!”

“Quin—”

“Stop! Stop!” Quin mengangkat satu tangannya.  “Bagaimana kalau seperti ini; gajimu kunaikkan tiga kali lipat dan kamu dapat fasilitas – ASAL – kamu nggak resign.”

Hah? aku terkejut.

Gaji naik tiga kali lipat?

Fasilitas?

Untuk sesaat keyakinanku goyah. Penawaran dari Quin ini sungguh menarik.

Tapi–

“Atau mungkin kamu lebih suka ini,” berikutnya aku mendengar Quin berbicara dengan seseorang melalui telepon.  “Tunggu sebentar.”

Beberapa saat kemudian ponselnya berdering.

Quin menatapku dan tersenyum puas.

“Kamu bisa telepon istrimu sekarang,” katanya.  “Bila perlu tanyakan apa ia baik-baik saja.  Sungguh, sebenarnya aku nggak suka cara ini, tapi apa boleh buat.  Saat ini, bagiku, menyelamatkan grup adalah segalanya.”

Aku terkesiap!

“Kamu… kamu apakan dia?” suaraku bergetar.  “Kamu apakan istriku?!”

Perempuan ini…

Perempuan ini benar-benar menakutkan!

Jarum jam di tanganku menunjukkan angka 17.32.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 25 November | Monoton: 29 November

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
Sumber Gambar: Coconut

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 131 views sejak dipublish

Satu pemikiran pada “Monoton: 26 November”

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: