Monoton: 24 Oktober

Suara alarm membangunkanku dari tidur, saat ini pasti sudah jam 05.30 pagi.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata, dan menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera.  Dari kamar mandi terdengar suara gayung yang beradu dengan air di dalam bak.  Lima menit lagi istriku pasti selesai mandi.

Diam-diam aku mengeluh.

Kami berdua adalah pasangan muda yang bekerja di ibukota dan tinggal di kota satelitnya – di sebuah perumahan menengah atas.  Seperti kebanyakan penghuni perumahan ini, kami harus berangkat pagi-pagi supaya tidak terlambat sampai kantor.

Kita berdua sudah tak punya waktu.

Aku menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang sudah istriku sediakan.  Sepuluh detik kemudian pintu kamar mandi terbuka, istriku keluar dari kamar mandi, dan mengucap salam padaku sambil lalu.

Aku mengerti ia juga harus buru-buru.

Tapi…

Sekali lagi aku kesal.

Hidup macam apa ini?

* * *

Jam 07.10, aku sudah di dalam kereta komuter yang penuh sesak.  Saking sesaknya, penumpang sudah tidak lagi bisa bergerak untuk sekadar menghilangkan pegal.  Pendingin udara di dalam kereta tak lagi terasa akibat sesaknya penumpang apalagi ditambah pancaran cahaya matahari dari luar.

Jam 08.20, aku turun dari ojek online dan bergegas menuju mesin presensi.  Sejak kantorku berganti pemilik, kami para karyawan diwajibkan datang sebelum jam kerja dimulai yaitu jam 08.30 tepat.  Karyawan yang terlambat 8 kali dalam sebulan akan dipanggil ke HRD untuk menerima surat peringatan sekaligus pemotongan gaji sebesar 25%.

Ancaman yang tidak main-main!

Sudah ekonomi sulit, masih saja ada pemotongan gaji…

Aku pernah melihat sendiri seorang rekan kerjaku yang sampai memohon penundaan pemotongan gaji karena ia masih membutuhkan uang untuk membayar keperluan sekolah anak-anaknya.

Namun apa jawaban yang ia terima?

“Aturan tetap aturan.  Belum tentu juga bulan depan lu masih kerja di sini.”

Ting!

Pintu lift terbuka.

Sekilas aku melihat Bella si cantik sekretaris direksi.  Pagi ini ia mengenakan pencil skirt hitam, kontras dengan kulitnya yang putih, dan tentu saja memperlihatkan sedikit bagian atas kakinya.

Lutut ke atas, maksudnya.

Ia memang cantik.

Dan menggoda?

Aku melihat jam tanganku saat meletakkan ibu jari di pemindai mesin presensi.

Jam 08.25, seperti biasa.

***

Jam 11.50 aku sudah menikmati makan siangku.  Salah satu yang menyenangkan bekerja di kantor ini adalah jam istirahat yang agak longgar.  Secara tidak resmi, perusahaan memberikan dua jam istirahat siang mulai jam 11.30 sampai 13.30 tepat.

Kantorku terletak di gedung pencakar langit berlantai 49.  Saat jam istirahat tiba, food court akan penuh sesak hingga pesanan yang dibuat jam 12.10 baru akan siap 30 menit kemudian.

“Jam istirahat di sini mulai jam 11.30 sampai 13.30,” begitu maklumat yang aku terima.  “Supaya kalian bisa makan dengan tenang.”

Usai makan, sebagian salaryman yang berkantor di gedung ini akan mencari tempat-tempat terbuka untuk menuntaskan ritual makan siang dengan sebatang-dua batang rokok.  Ritual tersebut sering diseling gelak tawa dari obrolan-obrolan kosong tanpa makna.

Jam 12.55, tempat tersebut kembali kosong.

Hanya ada aku.

Dan dia.

***

Jam 21.12, aku melepas sepatu setelah bersesak-sesak dalam kereta komuter.  Istriku membukakan pintu depan untukku.

“Hai, Sayang.  Pulang jam berapa tadi?” tanyaku.

“Sekitar setengah jam lalu,” jawabnya.  “Kamu sudah makan?”

“Belum sih, tapi aku beli ini tadi,” aku mengangkat dua bungkus mie godhog yang sempat aku beli dalam perjalanan pulang.”

Bibir istriku mengembangkan senyum, matanya berbinar.

“Kebetulan!” serunya.  “Aku juga pengen makan ini.”

Kami berdua masuk ke dalam rumah.

***

Sembari makan, kami berdua bertukar cerita tentang apa yang terjadi hari ini meskipun rasanya tak ada yang istimewa.

Jam 22.20, aku mandi.

Sepuluh menit kemudian usai menyegarkan badan, aku melihat istriku sudah terlelap.  Atau setidaknya itulah yang terlihat di mataku.

Aku menarik napas.

Seperti inilah hidupku setiap harinya.

Salah satu kebiasaanku adalah menyalakan televisi dan memencet-mencet tombol remote sesukaku.  Tidak pernah ada siaran yang bisa menarik perhatianku untuk waktu lama.

Berita?  Ganti.

Film?  Ganti.

Dangdut?  Halah ganti.

Dokumenter?  Nggak minat.  Ganti.

Ritual ini aku lakukan sampai aku tertidur sendiri atau sampai aku merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Hidup macam apa ini?

Aku meraih ponselku, membuka facebook dan mengetikkan sebaris kalimat yang buru-buru aku hapus kembali.

Jam sudah menunjukkan angka 23.08, aku mematikan televisi dan beranjak ke kamar tidur.  Aku merebahkan badan di samping istriku.  Samar tercium wangi lembut dari tubuhnya.

Sejenak sebelum memejamkan mata, terlintas satu pertanyaan di benakku.

Seperti apa penampilan Bella besok?

-BERSAMBUNG-

Monoton: 28 Oktober

Catatan:

  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya. Sesuatu itu mungkin akan terlihat mulai episode berikutnya.
  • Sukai dan share official page Cerbung “Monoton”
Sumber Gambar: sacbee

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 139 views sejak dipublish

Leave a Reply

%d bloggers like this: