Monoton: 24 Februari (1)

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 6 menit

Hari ini tepat tiga puluh hari istriku Nia meninggalkanku. Selama tiga puluh hari itu aku selalu diselimuti kekhawatiran karena ia masih mengirimi pesan dengan nada yang terbaca biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.

“Aku baik-baik saja, nggak usah cemas.”

“Jangan telpon atau chat dulu.”

Aku menghela napas. Dini hari ini masuk lagi satu pesan dari Nia. Isinya masih sama seperti pesan-pesan sebelumnya.

“Kamu sangat mencemaskan istrimu.  Kenapa nggak coba chat dia?” tegur Bella yang saat ini berbaring di sisiku dan memelukku di tempat tidur.

Aku menatap Bella. Matanya terlihat sayu.

“Komunikasi kami selama ini hanya komunikasi satu arah,” ujarku.  “Hanya dia yang mengirim pesan, sementara pesan-pesanku nggak pernah ia balas.”

“Begitu,” desah Bella.  “Tapi kenapa kamu akhirnya menduga bahwa istrimu yang menyewa orang untuk memata-mataimu?”

Aku bangkit dari tempat tidur nyaman yang berada di apartemenku, menuju lemari es, lalu menuang segelas air dingin untuk menghilangkan dahaga.

“Detektif atau siapapun orang yang memata-mataiku selalu berada di tempat dan waktu yang tepat.  Dia tahu aku berada di hotel mana di jam berapa, jadi pasti ada yang memberitahunya.  Mau minum?” aku menawarkan segelas air pada Bella.

Bella mengangguk dan menerima gelas yang kusodorkan padanya lalu meminum isinya.

“Selama ini pihak hotel selalu mengirim bukti pemesanan kamar ke alamat e-mailku,” aku melanjutkan cerita.  “Jadi, jika ada orang yang tahu bukti pemesanan itu, kemungkinannya cuma dua; ada orang yang nge-hack e-mailku atau seseorang itu dapat info dari istriku.”

“Sebentar, ada sesuatu yang membingungkanku.  Memangnya istrimu tahu password e-mailmu?” Bella mengerjapkan mata seolah tak percaya.

Aku kembali menatap Bella.

Baca juga:  Monoton: 30 Oktober

“Ya,” jawabku singkat.  “Istriku nyaris tahu segalanya tentangku; password e-mail, password medsos, PIN ATM, semuanya.”

Bella membelalakkan matanya.

“Serius?!” tanyanya dengan nada tak percaya.  “Kamu… kamu beneran?”

Aku mengangguk.

“Wow!” Bella berseru lirih setelah terdiam beberapa detik.  “Wow!”

Jam dinding tepat menunjukkan angka 01.30.

***

Pukul 09.49.

Aku sedang berada di ruanganku saat seorang office girl mengetuk pintu.

“Pagi, Pak,” sapanya.  Sudah hampir satu bulan ia bekerja di sini.

“Ya,” balasku.  “Ada apa?”

Office girl sebelumnya sudah dipecat HRD sesuai permintaanku dengan alasan ‘mengacak-acak ruang kerja pimpinan tanpa izin dan dicurigai akan mencuri rahasia perusahaan’. Untuk memperkuat bukti, aku memperlihatkan rekaman dari kamera rahasia yang kupasang di ruang kerjaku beberapa waktu lalu.

Office girl baru itu maju selangkah.

“Ada surat, Pak,” katanya.

“Oh?” aku terheran.  “Buat saya?”

“Ya, Pak.”

“Oke, bawa sini,” kataku.

Office girl itu menyerahkan sehelai amplop berwarna coklat yang memuat logo sebuah kantor pengacara. Di dalam amplop itu tertera nama dan alamat si penerima yang memang ditujukan padaku.

“Oke,” kataku pada si office girl yang masih menunggu di hadapanku.  “Terimakasih, ya.”

“Baik, Pak.  Permisi, Pak.”

Dadaku berdebar kencang. Tanpa membuka amplop coklat itu pun aku bisa menduga apa isi surat yang barusan kuterima.

Aku khawatir apa yang selama ini kutakutkan akan menjadi kenyataan.

Lagi-lagi aku menghela napas.

Apa harus seperti ini?

***

Pukul 11.47, aku berada di gedung perkantoran tempat Nia bekerja.

“Aku ada di depan kantormu,” aku mengirim pesan padanya setelah aku gagal meneleponnya.  Ia tidak mau mengangkat teleponku.  “Aku nggak peduli, aku bakal nunggu kamu walau sampai malam sekalipun.  Kali ini kita harus bicara.”

Tiga belas menit kemudian, aku mendapat balasan. Balasan pertama dari Nia setelah tiga puluh hari.

Baca juga:  Monoton: 1 November

“Kenapa?  Apa yang harus dibicarakan?  Aku, kan, sudah bilang kalau kamu nggak usah telpon atau chat aku, biar aku yang chat kamu.”

Kuambil amplop coklat berlogo kantor pengacara yang barusan kuterima dan belum kubuka isinya. Kupotret surat tersebut lalu kukirimkan pada Nia.

“Ini.  Kita harus ngobrol soal ini.”

***

Hujan turun dengan derasnya sore ini.

Nia menolak menemuiku tadi siang.

“Maaf, aku sedang hectic banget.  Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Aku nggak peduli,” balasku.  “Aku bakal tetap nunggu kamu.”

“Sampai malam nggak apa-apa?” tanyanya.

“Aku nggak peduli.”

“Baik.  Tunggu aku.”

Dengan gelisah aku memaksakan diri menikmati segelas kopi yang kupesan. Sejak tadi aku berusaha untuk tidak melepaskan pandanganku dari kantor Nia. Aku khawatir ia tak mau menemuiku dan kabur tanpa terlihat olehku.

“Aku masih nunggu kamu.  Aku nunggu di sini,” tulisku pada Nia sambil mengirimkan foto yang jadi tempatku menunggunya.

Masih tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti.

“Hei!” dari belakang, seseorang tiba-tiba menepuk pundakku hingga aku terlompat karenanya.

Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun berdiri sambil senyum-senyum. Ia yang tadi menepuk pundakku.

“Astaga!” seruku.  “Pak… Pak Ryan?!”

“Yap!” balasnya.  “Kamu ada apa di sekitar sini?”

“Habis meeting tadi, Pak,” jawabku sekenanya.  “Apa kabar?”

“Baik.  Kamu?”

Setelah basa-basi dan ngobrol ngalor-ngidul kesana-kemari, pembicaraan kami akhirnya tiba ke soal kantor.

“Gimana?” tanya Pak Ryan.

“Gimana apanya, Pak?” tanyaku balik.

“Keliatannya karirmu sekarang bagus,” katanya ringan.

Kami tertawa keras-keras meskipun dalam hati aku merutuk.

“Jadi, siapa yang sekarang gantiin saya?” tanya Pak Ryan lagi.

“Belum ada, Pak,” tukasku cepat.

“Hah?” mata Pak Ryan membelalak.  Kali ini aku baru sadar bahwa penampilan Pak Ryan sudah sedikit berbeda dibanding dahulu.  Sekarang ia terlihat agak—

Baca juga:  Monoton: 24 Februari (2)

“Terus, untuk soal-soal keuangan – siapa yang handle?” cecarnya.

“Kebetulan sementara ini saya, Pak,” jawabku dengan rasa hati yang kurang nyaman.

“Ooo,” Pak Ryan kembali tertawa.  “Terus, si Bella sekarang gimana?”

“Gimana apanya, Pak?” tanyaku lagi.  “Pak Ryan ini pertanyaannya penuh misteri.”

Kami tertawa lagi keras-keras meskipun – lagi-lagi – aku merasa kurang nyaman dengan pembicaraan ini.

Sejujurnya aku terjebak.

Aku sebenarnya ingin mengakhiri pembicaraan dan meninggalkan tempat ini, hanya saja itu tidak mungkin dilakukan sebelum aku melihat istriku.

Lagi, siapa juga yang bisa keluar di hujan deras seperti ini?

Tunggu!

Itu berarti—

“Halah, kamu ini beneran nggak tau atau pura-pura nggak tau?” tanya Pak Ryan.

“Apa, Pak?  Beneran, saya masih meraba-raba arah pertanyaan Pak Ryan barusan.”

“Gini,” air muka Pak Ryan mendadak berubah serius.

Benar!

Pak Ryan sekarang kelihatan agak—

Kurus?  Kelelahan?

Kurang tidur?

Pak Ryan masih menatapku.

“Ada sesuatu yang mau saya ceritakan.”

Nggak salah lagi!

Matanya sekarang cekung, jelas ia kelelahan!

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 08 Februari | Monoton: 24 Februari (2)

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: DESIRINGGOD

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar