Monoton: 24 Februari (2)

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 6 menit

Tidak ada yang baru dari cerita Pak Ryan. Apa yang ia katakan sebagai ‘rahasia’ sudah aku ketahui semuanya. Ia bercerita tentang Quin, bagaimana sifatnya, dan apa yang ia rasakan selama mereka bersama.

“Tapi sebetulnya ada satu penyesalan saya,” ujarnya.

“Hm?” aku menjawab acuh tak acuh, konsentrasiku saat ini hanya menunggu Nia.  Aku belum melihatnya sampai saat ini.  Tidak ada pesan, bahkan pesan yang kukirim juga statusnya masih centang satu abu-abu.

Jangan-jangan dia sudah pulang dan aku nggak lihat?

“Saya menyesal kenapa saya jatuh dalam perangkap perempuan itu,” lanjut Pak Ryan.  “Kamu pasti tahu orangnya.”

“Mantan istri Bapak, maksudnya?” tanyaku. “Quin?  Pak, bagaimanapu—”

“Bukan, bukan dia,” potong Pak Ryan.  “Maksudku Bella.”

“Bella?” keningku mengernyit.  “Maksudnya gimana, Pak?”

Pak Ryan memandangku dengan tatapan menyelidik seolah ia bertanya apakah aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang terjadi.

“Pertengkaran yang kamu lihat waktu itu terjadi karena Bella,” katanya kemudian.  “Ia – Quin – tahu saya ada sesuatu dengan Bella, dan ia marah.”

Ya, pikirku.  Quin marah bukan karena kamu ada main, Pak.  Dia marah karena kamu menggunakan uang perusahaan untuk—

Shit!

Tiba-tiba aku teringat apa yang kulakukan.

Pak Ryan mentransfer uang perusahaan ke rekening pribadi Bella.  Dia jelas salah.

Sedang aku?

Aku…

Aku malah memanfaatkan hal itu dan mengambil keuntungan dari Bella.

Aku merasa gelisah. Aku tersadar saat ini aku dan Pak Ryan tidak ada bedanya, sama-sama memanfaatkan perempuan yang bernama Natasha Bella.

Tapi—

Siapa memanfaatkan siapa?

Apakah aku memanfaatkan dia?

Atau dia yang memanfaatkan aku?

“Selama menjadi suami Quin, saya kerap menganggapnya sebagai bunga pemakan serangga karena sikapnya membuat saya tertekan,” tutur Pak Ryan.  “Dan saya melepaskan tekanan itu dengan main-main bersama Bella.  Tapi siapa sangka kedua perempuan itu ternyata ibarat dua sisi mata pisau, yang manapun sama bahayanya.”

Baca juga:  Monoton: 08 Februari

Aku hanya terdiam mendengar cerita Pak Ryan.

“Quin mungkin seorang yang posesif, dia akan menguasai orang yang ia sukai, dan tidak semua orang tahan dengannya.  Tapi, Bella, mungkin justru dialah sesungguhnya si bunga pemakan serangga itu.  Dia juga parasit.  Dia tak segan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.”

Aku tercekat!

Ini benar-benar di luar dugaanku.

Selama ini aku menyangka akulah yang memanfaatkan Bella, mengambil keuntungan darinya berupa kenikmatan fisik dengan ‘ancaman’ video panasnya semasa kuliah dan temuan sejumlah uang yang ditransfer Pak Ryan ke rekening pribadinya.

Namun bisa jadi dialah yang memanfaatkanku. Memanfaatkan hubunganku dengan Quin untuk mengamankan dirinya, juga memanfaatkan kondisiku yang kesepian karena ditinggal—

Nia!

Di mana, sih, dia?!

Tanpa sadar aku melirik jam tangan dan memeriksa ponselku untuk melihat apakah pesan dari Nia.

“Eh, sudah malam, ya.  Kalau begitu, saya duluan,” ujar Pak Ryan seraya bangkit dari kursinya.

“Tunggu sebentar,” panggilku.  “Bapak di mana sekarang?”

Pak Ryan tersenyum.

“Kembali ke asal saya sebagai penjual kopi,” katanya sembari menunjuk sebuah kedai kopi yang tampak sepi.  “Seperti inilah kehidupan saya tadinya sebelum bertemu mereka.”

“Mereka?” aku coba menebak-nebak.

“Ya, mereka.  Sekelompok orang kaya yang tiba-tiba saja mendatangi saya dan memberi penawaran yang bahkan sampai saat ini sulit dipercaya yaitu menikah dengan seorang gadis kaya.  Konsekuensinya, saya harus meninggalkan istri dan anak-anak, tentu dengan kompensasi besar,” mata Pak Ryan menerawang jauh.  “Tapi sudahlah, lain waktu saja kita obrolin lagi.  Duluan.”

Sekali lagi, aku tertegun.

Jika aku tidak salah tangkap mendengar ceritanya tadi, Pak Ryan sudah punya istri dan anak yang kemudian harus ia tinggalkan karena ia akan dinikahkan dengan Quin.

Baca juga:  Monoton: 25 Januari

Mereka itu…

Aku menduga ‘mereka’ yang dimaksud Pak Ryan adalah orang-orang yang bekerja untuk paman Quin yang disebut-sebut ingin mengendalikan jalannya grup. Quin dianggap sebagai penghalang karena kelak ia akan mewarisi grup dari ibunya, Regina Wongso. Supaya hal itu tidak terjadi, mereka mencari laki-laki yang good looking namun tidak kapabel untuk dinikahkan dengan Quin.

Dan yang terpenting – mudah dikendalikan.

Aku menghela napas.

Permainan macam apa ini?

Rasanya sulit dipercaya.

Dan… apa aku sekarang terlibat dalam permainan orang-orang kaya itu?

Tepat pada saat itu, ponselku berdering.

“Halo?” sapaku.

“Ini aku.”

Gosh!

Quin!

Kenapa dia menelepon di saat seperti ini?

“Ada apa?” tanyaku.

“Kamu pulanglah,” ujarnya.

“Pasti, tapi aku sekarang sedang di lu–,”

“Aku tahu kamu ada di mana, jadi pulanglah sekarang.”

“Bisa tunggu?”

“Please.  Semakin lama kamu di sana, semakin larut istrimu bekerja.”

Aku tercekat!

“Apa maksudmu?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi.

“Pulanglah,” katanya lagi.

“Aku, ‘kan, sudah bilang, nanti.”

“Aku sudah bilang, semakin lama kamu di sana, istrimu akan semakin larut bekerja.  Atau kamu mau hal buruk terjadi padanya?  Seperti waktu itu?”

Sialan!

Sialan!

“Kamu… kenapa kamu seperti ini?”

Tidak ada jawaban.

“Quin, kenapa kamu harus begini?”

Masih tidak ada jawaban.

“QUIN!” kali ini aku tak bisa menahan emosiku.  “JAWAB AKU!!”

“Pulanglah,” lagi-lagi hanya kata itu yang ia ucapkan.  “Pulanglah ke apartemen, aku menunggumu di sana.  Please.”

Klik. Pembicaraan ditutup.

Tubuhku bergetar menahan marah, tiba-tiba rasanya aku ingin menghajar perempuan itu tak peduli apapun risikonya.

Ponselku berdering lagi, kali ini dari Nia.

“Halo?” aku berusaha sekuat tenaga agar suaraku terdengar biasa.

Baca juga:  Monoton: 26 November

“Halo?  Aku sungguh minta maaf, pekerjaan hari ini mendadak jadi banyak banget.  Aku kuatir kita harus batalin janji ketemuan hari ini, aku nggak mau kamu nunggu kelamaan karena aku juga nggak tau kerjaan ini selesai jam berapa.”

Aku menghela napas, memejamkan mata, dan memijit keningku.

“Halo?” suara Nia terdengar lagi.

Aku masih memejamkan mata, tak tahu harus berkata apa.

Kenapa aku harus mengalami hal ini?

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 24 Februari | Monoton: next episode

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: DESIRINGGOD

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar