Monoton: 21 November

Bunyi alarm membangunkanku dari tidur, saat ini pasti sudah pukul 05.30 pagi.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera. Dari kamar mandi terdengar suara gayung beradu dengan air di dalam bak.

Seperti biasanya, lima menit lagi istriku pasti selesai mandi.

Kehidupan kami sudah seperti robot yang terprogram. Pukul berapa kami bangun tidur, pukul berapa mandi, berapa lama waktu yang dihabiskan, berapa menit waktu yang diperlukan untuk bersiap, makan, hingga berapa lama perjalanan ke kantor.

Diam-diam aku mengeluh.

Hidup macam apa ini?

Aku menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang sudah istriku sediakan.

Sepuluh detik kemudian pintu kamar mandi terbuka, istriku keluar dari kamar mandi, lalu berjalan begitu saja melewatiku tanpa mengucap salam.

Sudah beberapa hari seperti ini.

Sejak hari itu.

Sejak hari dimana aku jatuh ke pelukan Quin, sikap istriku berubah. Ia memang masih menyiapkan sarapan dan pakaian kerjaku.

Tapi ia sudah jarang bicara padaku.

Bahkan saat kami jalan berdua ke stasiun, ia terlihat sengaja menyibukkan diri.

Orang bilang seorang istri punya feeling yang – entah bagaimana – bisa merasakan jika suaminya ‘ada main’ dengan perempuan lain.

Apa dia seperti itu juga?

Nonsense, tepisku.

Pasti ada hal lain yang membuatnya kesal, entah apa.

Sepuluh menit perjalanan kami berdua ke stasiun tak ada pembicaraan apapun, masing-masing sibuk dengan keriuhan semu dunia maya.

***

Pukul 08.25 aku memindai ibu jari di mesin presensi, berpapasan dengan Bella, saling sapa dan mengobrol singkat – seperti hari-hari sebelumnya. Obrolan singkat di pagi hari seperti ini selalu ditutup dengan kalimat, “Sampai nanti.

Satu-dua rekan sekerja yang berpapasan dengan kami selalu menatap iri kedekatan kami berdua.

Dekat?

Sejak kapan aku dekat dengan Bella?

Aku masih ingat betul, beberapa hari setelah keributan di tempat parkir antara aku dan Pak Ryan itulah Bella pertama kali mengajakku bicara dengan kata-kata, “Beritanya sudah nyebar.”

Sebelumnya?

Jangankan ngobrol, untuk menyapaku saja dia sepertinya terlalu angkuh.

Jangankan itu.

Ngucap terima kasih waktu aku beberapa kali nahan pintu lift pun sepertinya nggak.

Kenapa sekarang kita jadi akrab gini?

Atau mungkin karena sebelumnya kita belum saling kenal?

“Nanti siang kamu makan di atas lagi?” tanya Bella. Seperti biasa, wangi tubuhnya selalu tercium sangat seksi di hidungku.

“Belum tahu,” jawabku. “Kalau bu bos minta aku datang, ya aku datang. Itupun dengan
catatan.”

Kami tertawa. Lagi-lagi, aku bisa merasakan tatapan iri rekan kerjaku.

Yah, siapa sih yang nggak bangga bisa jalan bareng Bella?

“Kamu itu kebanyakan catatan,” timpal Bella.  “Tapi buktinya, tetap aja tiap siang kamu naik ke atas.  Sesekali lah kita makan bareng.”

What?

Spontan aku memandangnya.

***

Pukul 11.15, biasanya Quin mengirim WhatsApp memintaku naik ke kantornya di lantai paling atas gedung ini.

Tapi hari ini rupanya pengecualian.

Dia menelepon.

“Halo,” sapaku.

“Siang ini ke kantorku, ya,” katanya tanpa basa-basi.

Aku tertawa kecil.

“Hmm,” aku mencoba menggodanya, “aku liat kerjaan du—”

“Penting,” dia memotong.  “Nggak ada alasan.  Aku nggak mau nunggu.”

Aku terkejut.

Dia serius!

“Baik,” aku mengubah sikap.  Bagaimanapun perempuan muda itu adalah anak pemilik perusahaan.  “Jam berapa?”

“Seperti biasa,” katanya.  “Aku tunggu.  Bye.”

Klik.

Telepon ditutup.

Selama beberapa detik berikutnya, aku masih sedikit shock dengan nada bicaranya tadi.

Jelas.

Hari ini dia bersikap profesional.

Hari ini tidak ada urusan pribadi.

Hari ini hubunganku dengannya adalah hubungan bawahan dengan atasan.

Aku berdebar.

***

Dugaanku benar.

Quintessa D. Wongso saat ini sedang duduk di kursi kerjanya.

Biasanya saat aku datang, ia terlihat sedang bersantai di sofa sambil membaca. Aku pernah menduga Quin gemar membaca. Ia membaca apa saja termasuk sastra klasik dalam negeri yang biasanya hanya diajarkan di sekolah-sekolah.

Tapi tidak hari ini.

Ia sedang sibuk memeriksa berbagai berkas.

“Duduk,” perintahnya tanpa melihatku.  Aku pun menurut sementara ia masih sibuk memeriksa berkas entah apa.  “Bagaimana persiapannya?”

“Persiapan?” aku sedikit bingung.  “Oh, untuk RUPS?  Sejauh ini masih on track, Bu.”

Mendengar kata-kataku barusan, Quin berhenti kemudian menatapku seolah berkata, ‘What did you just say? Barusan kamu ngomong apa?’

Aku pun tersadar lalu memaki dalam hati.

Bu?

Bu?!

Barusan aku manggil dia ‘Bu’?!

Tapi aku harus manggil apa?

Sungguh, berhadapan dengan Quin yang seperti ini membuatku tidak nyaman dan salah tingkah.

“It’s okay,” lanjutnya.  “Pastikan semua beres dan tidak ada kesalahan sekecil apapun.”

“Baik, B—,” aku hampir saja mengatakan ‘Bu’ lagi.

“Kalau ada kesalahan kecil di RUPS nanti, you mungkin selamat, tapi teman-temanmu mati,” katanya lagi.  “Kamu bukan orang yang suka mengorbankan teman, kan?”

Aku hanya diam, tak tahu harus berkata apa sementara perempuan muda di depanku ini bicara soal integritas, loyalitas terhadap perusahaan, dan sebagainya.

Keringat dingin mulai mengucur.

Serba salah!

Kenapa aku harus berada di situasi begini?!

Aku masih belum bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

“Baiklah,” Quin menutup berkas-berkas yang diperiksanya.  “Seperti yang kukatakan beberapa hari lalu, aku punya penawaran bagus buatmu.”

Ini!

Ini dia!

“Kamu masih ingat?” tatapannya tajam ke arahku.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Sebagai pembuka,” Quin menyodorkan satu berkas padaku, “aku punya kabar ini untukmu.”

Aku menerimanya dan–

Ini?!

Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat.

“Bagaimana?” tanya Quin.

“Terima kasih,” aku mengucap pelan.  “Terima kasih sekali lagi.”

Tapi, kenapa?

Kenapa perusahaan meng-cover biaya perawatan ibuku di RS?

Yang lebih penting, dari mana perusahaan tahu ibuku dirawat?

Di kampung, pula!

“Ada yang mau ditanyakan sebelumnya?” tanya Quin.

“Boleh?” aku ragu.

Dengan bahasa tubuhnya, Quin memberi isyarat yang bisa diartikan sebagai ‘silakan’.

“Kalau boleh tahu, dari mana perusahaan dapat info kondisi ibu saya?” tanyaku.

Quin masih menatapku tajam.

“Bukan itu pertanyaan yang kuharapkan,” katanya.  Lirih namun tegas, dan dingin.

Aku benar-benar gelisah dan mendadak teringat perkataan Pak Ryan beberapa saat setelah dia dikeluarkan dari perusahaan.

“Dia seperti bunga pemakan serangga – bunga Drosera – yang cantik namun mematikan.  Sekali kakimu terjebak cairan di tentakelnya, kamu nggak akan bisa lepas sementara ia akan mencernamu, mengisapmu hingga tak ada lagi yang tersisa darimu.”

Apakah saat ini aku sedang ‘dicerna’ olehnya?

Apa aku sudah terjebak cairan lengket yang bunga tersebut hasilkan?

“Kamu kelihatannya tegang sekali,” tukas Quin tiba-tiba.

Sekali lagi aku hanya diam, tak bisa menimpali kata-katanya.

“Seharusnya kamu bertanya kenapa perusahaan menanggung biaya perawatan ibumu,” Quin menyandarkan diri di kursinya.

Lagi-lagi aku hanya diam.

Quin terus menatapku.

Aku masih diam.

“Katakan,” ujarnya tiba-tiba.  “Tanyakan pertanyaan yang tadi kukatakan.”

Aku benar-benar gelisah.

“Kenapa… kenapa perusahaan menanggung biaya perawatan ibu saya?” tanyaku terbata-bata.

Perempuan muda di depanku ini tersenyum puas.  Ia mencondongkan tubuhya ke depan.

“Karena…,” ia sengaja menahan kata-katanya sambil terus menatapku, “aku mau berterima
kasih padamu untuk pertolonganmu waktu itu.  Tapi, selain itu…,”

Quin mengambil satu berkas lagi dan menyodorkannya padaku.

Aku berdebar, terlebih ketika aku sadar berkas apa yang dia sodorkan padaku.

Kali ini aku sangat berdebar.

Dengan melihat berkas ini saja, berbagai kemungkinan buruk berputar di kepalaku.

Apa, APA yang sudah kulakukan?

“Ini penawaranku,” kata Quin.  Kata-katanya, tidak, suara halusnya saat ini terdengar sangat menakutkan di telingaku.

Sebenarnya aku tak ingin mendengar apa yang dia katakan saat ini.

Sangat tidak ingin.

Tapi aku tidak bisa lari.

Berkas itu hanya selembar kertas tipis, namun aku tak mampu memegangnya. Pandanganku nanar, tanganku bergetar.

“Aku menawarkan diriku padamu,” tukas Quin.  “Jika kau mengambil penawaran ini, kujamin karirmu di Regna Group akan bagus, dan tentu saja kau akan memiliki banyak uang.”

Tidak!

“Kau akan memiliki semua yang kau impikan.”

Tidak!

“Syaratnya hanya satu.”

Jangan!

“Syarat yang pasti sangat mudah buatmu.”

Tidak!  Jangan!

Kenapa jadi begini?!

Berkas di tanganku itu memuat foto istriku lengkap dengan nomor telepon, alamat kantor, dan data-data lainnya.

“Tinggalkan dia,” kata Quin.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 17 November | Monoton: 25 November

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: WIKIPEDIA

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 125 views sejak dipublish

Satu pemikiran pada “Monoton: 21 November”

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: