Monoton: 17 November

“Sayang, bangun.  Sudah jam 7 lewat.”

Aku membuka mata dan melihat wajah istriku yang dekat sekali dengan wajahku.

“Hari ini kamu masih harus ke kantor, kan?” sapanya.

Aku bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata, lalu menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera.

Setelah pemecatan Pak Ryan dua minggu lalu, dewan direksi memutuskan adanya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa minggu depan untuk menjelaskan situasinya pada pemegang saham sekaligus meyakinkan bahwa perusahaan dalam kondisi sehat secara finansial.

Bagi beberapa karyawan, RUPS Luar Biasa adalah hal yang menyebalkan karena tidak bisa diprediksi kapan akan diadakan. Sebagai staf Divisi Finance, RUPS Luar Biasa berarti aku harus pontang-panting menyiapkan dan menyusun data laporan keuangan. Pekerjaan ini selalu merampas beberapa malam waktu tidurku, apalagi untuk RUPS Luar Biasa kali ini aku kebagian tugas tambahan sebagai penghubung dengan Divisi Grafis. Tugasku adalah memastikan Divisi Grafis tidak salah memasukkan data yang diberikan Divisi Finance.

Tahun lalu seorang rekan kerjaku dipecat akibat adanya kesalahan yang fatal dalam laporan keuangan RUPS. Tak ketinggalan Kepala Divisi Grafis terkena imbasnya, ia diturunkan dari jabatannya hingga mengundurkan diri dua bulan kemudian, kabarnya karena sakit hati atas demosi tersebut.

Namun RUPS Luar Biasa juga berarti kesempatan bagi sebagian karyawan untuk menunjukkan dirinya. Jika sebuah RUPS Luar Biasa dinilai sukses oleh dewan direksi, tim yang terlibat akan diprioritaskan untuk mendapat promosi.

Sekali lagi aku menguap.

“Kamu jadi ke rumah orangtuamu?” tanyaku pada istriku yang dijawab dengan anggukan.

***

Ting!

Pintu lift terbuka.

Aku menuju mesin presensi lalu meletakkan ibu jari di mesin pemindai.

Jam 09.57.

Kantor masih sepi.

Belum ada yang datang ya?

Tak lama kemudian aku melihat Bella di mesin presensi. Ia mengenakan kaos putih lengan pendek dipadankan dengan celana jeans ¾. Lagi-lagi rambutnya dicepol memperlihatkan tengkuknya yang sangat menggoda.

Bella memang cantik

dan menggoda.

“Hai,” sapanya ketika melihatku.  “Pagi.”

“Pagi, Bell,” sapaku.  “Tumben kamu datang.”

“RUPS-nya tinggal beberapa hari lagi.  Aku harus pastikan nggak ada yang salah sebelum ditandatangani direksi,” katanya.  “Sejak kejadian tahun kemarin, semua laporan harus kuperiksa dengan teliti.”

“Oh,” aku mengangguk.  “Tapi sepertinya yang lain belum datang.”

“Oh, gitu,” Bella terlihat berpikir.  “By the way, aku dengar untuk RUPS Luar Biasa ini kamu yang jadi penanggung jawabnya ya?”

“Kurang lebihnya seperti itu.”

“Apa ada yang aneh di laporan keuangan?” tanyanya.  “Balance-nya gimana?  Atau ada transaksi mencurigakan?”

Aku tertegun.

Aku teringat percakapanku dengan Quin beberapa hari sebelumnya.

“Aku dengar selentingan si sampah itu ada main dengan sekretaris di kantormu.”

“Aku curiga si bangsat mengirimi perempuan itu uang yang sumbernya dari perusahaan.”

Apa yang dikatakan Quin itu benar?

***

Pukul 13.28, di sela kesibukanku mempersiapkan dan memeriksa laporan keuangan, satu pesan WhatsApp masuk.

Hah?!

Aku terkejut membaca nama si pengirim.

Quin.

“Aku sedang di kantorku.  Kamu ada di kantor, kan?  Temenin aku makan ya.”

Apa-apaan ini?

“Maaf, untuk hari ini aku nggak bisa.  Kamu kan tau minggu ini ada RUPS Luar Biasa, dan aku sedang ribet dengan laporan keuangan,” balasku.

“Tinggalin aja sebentar.  Kita makan sambil ngobrol.  Sebentar aja,” pintanya.

Kepalaku pening.

Akal sehatku mengingatkan bahwa yang berkirim pesan denganku saat ini adalah anak pemilik perusahaan sekaligus calon penerus perusahaan. Meski tidak memiliki jabatan struktural, aku yakin setiap memo yang ia kirimkan akan dianggap serius oleh dewan direksi.

Di sisi lain, RUPS Luar Biasa kali ini adalah tanggung jawabku, sukses tidaknya pelaksanaannya bisa jadi akan menentukan karirku kelak, tidak hanya di perusahaan ini melainkan di seluruh perusahaan yang bernaung di bawah payung Regna Group.

Jika berhasil, aku bisa membuktikan kemampuanku pada dewan.

Jika gagal, mungkin saja aku selamat dari demosi karena kedekatanku dengan anak pemilik.

Tapi berani taruhan, aku bakal disinisi.

Aku nggak bakal dianggap oleh teman-teman sekerja.

Ya, aku harus menolak permintaannya!

Aku menghela napas sejenak untuk mengumpulkan segenap keberanianku sekaligus memikirkan kata-kata penolakan yang tepat.

“Please, aku minta maaf banget kali ini nggak bisa.  RUPS kali ini penting banget, bukan cuma buatku tapi buat seluruh anggota tim, bahkan perusahaan.  Lain kali saja, ya?” ketikku yang ditutup dengan emoji minta maaf.

Aku berdebar menunggu jawabannya.

Namun hingga 10 menit berikutnya aku tak kunjung mendapat jawaban.

Dia marah?

Aku menghela napas.

Baiklah.

Apapun yang terjadi nanti, terjadilah.

Benar memang kata istriku, sudah cukup aku terlibat urusan keluarga kelas atas.

Aku kembali tenggelam dalam kesibukan, tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Tujuanku saat ini hanya satu; tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun untuk dipresentasikan di RUPS Luar Biasa nanti.

Ping!

Satu lagi pesan WhatsApp masuk ke ponselku, saat ini sudah pukul 19.03.

“Sudah selesai?”

Aku terkesiap.

Quin lagi?

“Sudah selesai belum?  Atau… kapan selesainya?” tanyanya lagi.

Aku kembali berpikir keras.

“Aku kira-kira selesai jam 8.  Kamu di mana, memangnya?”

Jawaban yang aku terima sungguh di luar dugaan.

“Aku masih di kantor.  Oke, aku tunggu.”

***

Dalam perjalanan menuju rumah mertua untuk menjemput istriku, aku berusaha keras menghalau rasa tidak tenang yang melandaku.

Tenang, tenang.

Saat ini pukul 22.36.

Lupakan, lupakan.

Jangan dianggap serius.

Aku teringat kembali apa yang terjadi antara aku dan Quin dua jam sebelumnya.

“Kudengar kamu ditugaskan jadi penanggung jawab RUPS Luar Biasa kali ini, ya?” begitu tanya Quin ketika aku sudah berada di kantornya.  Saat ini kami berdua memandang suasana malam kota melalui dinding kaca kantornya.  Suasana sedikit temaram karena cahaya lampu warm white di ruangan ini.

Kami berdiri bersebelahan.

“Ya,” aku menjawab.  “Karena itu aku harus pastikan nggak ada kesalahan sekecil apapun.  Salah berarti fatal.”

Benar dugaanku, pemandangan malam dari sini sangat indah.

Quin tertawa kecil.

“Hebat,” katanya kemudian.  “Orang lain pasti lebih milih menemuiku dan meninggalkan pekerjaannya.  Tapi kamu lain.”
Quin menatapku, aku pun balas menatapnya, menatap perempuan muda berusia 23 tahun dengan rambut sebahu yang selalu dibiarkan tergerai ini.

Aku merasa dadaku berdebar.

Cukup lama kami saling tatap dalam diam. Saat itu sayup aku mendengar lagu ‘Señorita’ yang dilantunkan Shawn Mendes dan Camilla Cabello.

Mungkin karena temaramnya pencahayaan, saat ini Quin terlihat sangat—

Sensual?

***

Aku tiba di rumah mertuaku.

Tenang, lupakan.

Ini bukan hal yang serius.

“Aku punya penawaran bagus untukmu,” ucap Quin dengan suara yang terdengar lebih mirip desahan di telingaku.

Debaran di dadaku semakin kencang sementara jarak antara aku dengan Quin semakin menyempit.

“Tapi itu bisa kita bicarakan nanti.”

Potongan lagu ‘Señorita’ kembali terdengar di telingaku sementara di mataku terbayang adegan demi adegan dalam video klipnya.

Aku lupa diri ketika bibir Quin menyentuh bibirku.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 13 November | Monoton: 21 November

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: WIKIPEDIA

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 128 views sejak dipublish

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: