Monoton: 16 Desember

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 6 menit

Senin, pukul 07.10.

Seperti hari-hari sebelumnya, saat ini aku sudah di dalam kereta komuter yang penuh sesak. Pendingin udara di dalam kereta tak lagi terasa akibat sesaknya penumpang apalagi ditambah pancaran cahaya matahari dari luar.

Meski menaiki kereta yang sama, perbedaan stasiun tujuan membuat aku dan istriku lebih sering berada di gerbong terpisah. Ia lebih suka memilih gerbong paling belakang sedangkan aku sebaliknya, memilih deretan gerbong paling depan.

Pukul 08.20, aku turun dari ojek online dan bergegas menuju mesin presensi.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Terlihat Natasha Bella, si cantik sekretaris direksi yang – seperti biasa – berjalan cepat menuju mesin presensi.

“Pagi,” sapanya ketika melihatku.  “Gimana?”

“Gimana apanya?” tanyaku balik.

“Posisi barumu.”

“Oh, itu,” aku tak langsung menjawab.

Dua minggu sudah aku menempati posisi baru di perusahaan. Secara de jure memang posisiku masih di bawah jabatan Finance Director yang ditinggalkan Pak Ryan, namun secara de facto jabatanku sebagai Finance Manager membuat posisiku cukup kuat di perusahaan.

Selama posisi yang ditinggalkan Pak Ryan belum terisi, batinku.

Menggunakan kekuasaannya sebagai anak pemilik dan anggota Dewan Eksekutif Regna Group, Quin merekomendasikan namaku sebagai pengganti Pak Ryan – suaminya. Aku mendengar proses tersebut berjalan alot karena adanya aturan bahwa beberapa jabatan tertentu – termasuk Finance Director – hanya bisa diisi oleh anggota keluarga.

Karena itu sebagai jalan kompromi, dibuatlah satu jabatan baru khusus untukku.

“Itu sebabnya aku memintamu menikahiku,” keluh Quin begitu mendengar keputusan Dewan Eksekutif Regna Group.  “Tapi untuk saat ini tak apalah.  Kewenanganmu mungkin akan sedikit terbatas, namun sampai batas tertentu cukup untuk mengungkap apa yang selama ini mereka sembunyikan dariku dan Mama.”

Baca juga:  Monoton: 28 Desember

Hari-hari berikutnya terasa bagai neraka untukku. Tidak ada kata ‘belajar’ bagiku di posisi baru ini.

“Ini apa?!” Quin melempar tumpukan berkas yang baru saja kutanda tangani.  “Sebagai Finance Manager kamu harusnya TELITI, jangan asal tanda tangan!  BACA DULU!!!”

“Maaf, tapi katamu—,” aku mencoba membela diri.

“YA, MEMANG!!” suara Quin meninggi.  “Aku memang minta berkas-berkas ini siap sebelum jam 14.00, tapi bukan berarti nggak kamu periksa dulu.  Gimana, sih?!”

Quin kerap memakiku. Ia bahkan tak segan melakukannya meski saat itu sedang ada orang lain.

“Pak FINANCE MANAGER!  Apa Bapak yakin harga yang ada di sini nggak overprice?!” sergahnya suatu ketika.  “Bapak ‘kan bisa cek harga dulu sebelum approve!”

“Maaf, Bu,” lagi-lagi hanya itu yang bisa kukatakan.

Selama sepuluh hari pertama aku duduk sebagai Finance Manager, setidaknya dua puluh kali Quin memarahiku, beberapa dengan kata-kata yang menyakitkan.

“Bodoh, kamu!”

“Yang seperti ini saja kamu nggak bisa?!”

“Heran, sebenarnya otakmu dipakai nggak, sih?!”

***

Pukul 12.05, saat ini aku makan siang dengan Quin di ruangannya.

Satu hal yang sulit dimengerti dari diri perempuan muda ini adalah setelah memarahiku ia masih bisa memintaku makan siang di ruangannya, dan saat makan siang sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Saat makan, atau lebih tepatnya di luar jam kerja, Quin menjadi pribadi yang ramah dan hangat. Ia bahkan tak segan mengambilkan makan dan minum untukku. Menurut pengakuannya, ia juga mulai mencari tahu makanan apa yang kusuka dan tidak.

Ia pun memintaku menghilangkan sapaan formal yang biasa kami gunakan saat bekerja.

“Di luar jam kerja, kamu adalah dirimu dan aku adalah diriku, Quin seorang perempuan biasa,” katanya.

Baca juga:  Monoton: 24 Februari (2)

Awal-awal tentu sulit bagiku menyesuaikan diri dengan mood-nya, namun setelah beberapa hari aku mulai terbiasa.

“Bagaimana?” tanyanya sesaat setelah kami selesai makan siang.  “Ada yang mau dilaporkan?”

“Baik,” kataku.  “Aku sudah memeriksa arus kas perusahaan dan menemukan beberapa transaksi yang mencurigakan.  Akan segera kulacak ke mana saja mengalirnya.”

“Bagus,” Quin tersenyum senang.  “Kamu cepat belajar.  Ada lagi?”

“Ya.  Tadi sebelum kemari aku menemukan transaksi yang memerlukan otorisasi yang levelnya lebih tinggi dariku untuk membukanya.”

“Oh?” mata Quin berbinar.  “Nah, ini baru berita.  Level otorisasimu sudah tinggi, sebetulnya.  Di atas itu cuma ada level otorisasi untuk Direksi dan Dewan Eksekutif.  Teruskan.”

“Dari yang aku dapat, ada dua transaksi yang perlu otorisasi.  Keduanya dicatat sebagai pembayaran sewa kendaraan operasional dan komputer.”

“Hmm…,” Quin menopangkan tangan di dagunya.  Kedua matanya terpejam.  “Sepertinya transaksi biasa, tapi kenapa perlu otorisasi Direksi, ya?”

Ia beranjak menuju meja kerjanya dan segera membuka laptopnya.

“Apa transaksi itu sudah kamu note?” tanyanya.

“Sudah,” jawabku.

“Oke,” Quin menarik napas sejenak.  “Sementara kamu bisa pakai otorisasiku untuk membuka transaksi tersebut.  Tapi berhubung semua aktivitas akan tercatat di server perusahaan, aku akan tulis memo yang harus kamu berikan ke Manager Divisi IT.  Ini.”

***

Tepat pukul 00.00, aku mendapat konfirmasi dari Manager Divisi IT yang merupakan salah satu orang kepercayaan Quin.

“Silakan, Pak.  Mulai detik ini selama empat jam ke depan, semua aktivitas tidak akan tercatat di server dengan alasan maintenance.”

Tanpa membuang waktu, aku menggunakan kode otorisasi Quin untuk membuka transaksi yang sebelumnya tak bisa kubuka dengan kode otorisasiku.

Sialan, makiku dalam hati.

Baca juga:  Monoton: 30 Oktober

Quin benar.

Ini transaksi yang dibuat untuk mengelabui orang lain.

Transaksi yang barusan terbuka itu ternyata bercabang ke mana-mana. Butuh waktu yang tak sedikit untuk mengurai dan melacaknya satu demi satu.

Apa waktunya cukup?

Ah, cek random saja dulu.

Setelah kuputuskan demikian, aku mengeklik salah satu transaksi yang nilainya lumayan besar. Transaksi sebesar itu ternyata dilakukan oleh Pak Ryan dan–

WHAT?!

Apa ini?!

Aku men-screenshot dan memotret temuan tadi.

Coba lagi.  Cek transaksi lain.

Klik.

Hah?!  Sama?!

Mataku terbelalak tak percaya, dadaku berdegup kencang. Beberapa traksaksi rahasia yang aku temukan ini isinya sama; transfer uang dalam jumlah yang lumayan dan teratur.

Ke rekening atas nama Natasha Bella?!

Bella?!

Aku mengempaskan tubuhku di kursi.

Apa-apaan ini?

Apa yang terjadi?

Terngiang kata-kata Quin beberapa minggu sebelumnya.

“…aku curiga si bangsat mengirimi perempuan itu – sekretaris direksi di kantormu – sejumlah uang yang sumbernya dari perusahaan…”

Bella, benarkah ini?

Mendadak kepalaku terasa pening.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 29 November | Monoton: 27 Desember

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: COCONUT

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar