Monoton: 13 November

Rabu, pukul 06.10.

Aku berjalan kaki bersama istriku menuju stasiun kereta yang hanya berjarak 10 menit dari tempat tinggal kami.

Meski jalan berdua seperti ini, kami sudah sibuk dengan agenda masing-masing.

“Sayang, aku mau cerita sesuatu,” kataku.

“Hm?  Soal apa?” mata istriku masih tertuju ke smartphone-nya sembari berjalan.  Jemarinya melakukan swipe dan tap di layar berkali-kali.

“Kamu masih ingat kejadian aku ribut sama bosku, kan?” tanyaku.

Istriku menjawab dengan gumaman pendek, ia masih sibuk dengan smartphone-nya.

“Jadi,” aku melanjutkan, “perempuan yang kemarin dipukul itu ternyata istrinya.  Istri bosku.”

“Oh?  Kok bisa gitu?” perhatiannya masih tertuju pada layar.  “Bosmu umur berapa, sih?”

“Sekitar 40-an, tapi istrinya masih muda.  Muda banget, sepintas malah kelihatan seperti anak kuliahan.”

“Wow,” istriku menggumam pendek lagi.  “Terus terus?”

“Yang nggak disangka adalah perempuan itu – istri bosku – ternyata anaknya owner.”

“Eh??  Serius??” kali ini mata istriku tertuju padaku.  Smartphone yang sejak tadi menyita perhatiannya kali ini disimpan dalam tas.

“Begitulah,” aku mengangkat bahu.

“Terus, perkembangannya gimana sekarang?” cecar istriku.  “Kan, kemarin bosmu itu dipindah mendadak, malah gosipnya dipecat.  Kamu sudah nggak terlibat urusan itu lagi, kan?  Agak waswas juga, ini masalah keluarga kelas atas soalnya.”

Aku menggaruk pelipis.

“Moga-moga nggak ada apa-apa lagi,” ujarku.  “Cuma kemarin aku diajak makan sama dia.”

Mendengar kata-kataku barusan, istriku menghentikan langkah dan memandangku.

“Dia?  Dia siapa?” nada suaranya terdengar tidak senang.

“Iy… yaa… anaknya owner,” aku tergagap.  “Tapi aku nggak sendiri,” buru-buru aku menambahkan.  “Ada sekretaris direksi juga.”

“Ngapain dia ngajak kamu makan?” istriku jelas terdengar gusar.  “Dia kan istri orang.”

“Dia mau ngucapin terima kasih,” kataku.  “Cuma itu.”

Istriku berjalan lagi, namun dari langkah kakinya aku tahu suasana hatinya sedang buruk.

“Aku nggak suka,” katanya kemudian.

“Iya, maaf,” aku mencoba meredakan ketegangan.  “Tapi beneran nggak ada apa-apa, kita cuma mak–“

“Pokoknya aku nggak suka,” istriku memotong.  “Bukan masalah ada apa-apa atau nggak.  Sudah cukuplah kamu terlibat urusan itu.  Kalau bisa jangan ketemu dia lagi.”

Saat istriku sudah mengeluarkan kata ‘pokoknya’, itu saat dimana aku harus diam dan tak membantah.

***

Pukul 11.15, ada pesan WhatsApp masuk ke ponselku.

Dari Quin.

“Kalau nggak sibuk, kamu temenin aku makan ya.  Kantorku di penthouse gedung ini.”

“Sebentar,” aku membalas pesannya.  “Gimana caranya aku ke sana?  Ke lantai dasar dulu lapor resepsionis atau gimana?”

“Nggak usah, langsung aja ke lantai paling atas.  Di kantorku nanti ada resepsionis sama sekuriti, kamu bilang aja mau ketemu aku.”

“Oke.”

“Bisa kan?  Jam berapa mau ke sini?” tanyanya.

“15 menit lagi aku naik.”

“Oke.  Aku tunggu, bye.”

***

Wow.

Aku berdecak kagum.

Kantor pribadi Quin didesain sangat menawan, mewah namun tetap profesional. Di satu sisinya terpasang dinding kaca setinggi kira-kira 5 meter yang memperlihatkan deretan pencakar langit sejauh mata memandang. Terbayang, pemandangan malam hari dari sini pasti sangat indah.

Aku mengambil smartphone-ku untuk memotret sebagian kemewahan kelas atas yang baru kali ini kulihat.

“Boleh?” tanyaku.

Sayang sekali aku nggak bawa kamera.

“Silakan,” Quin tersenyum.

Klik.

Cukup satu gambar biar nggak dibilang norak banget, batinku sambil memeriksa hasil fotoku.

“Buat inspirasi,” kataku pada Quin.  Lagi-lagi ia tersenyum.

“Nah, makan sekarang?  Mau di meja besar atau kecil?” tawarnya.

“Terserah kamu, tapi aku lebih suka meja kecil meski aku juga nggak tahu seberapa kecil ukurannya,” kataku mencoba mengusir rasa minder karena berada dalam ruangan yang sangat mewah menurut ukuranku.

“That’s it,” Quin mengacungkan telunjuknya padaku.  “Aku setuju.”

***

Darinya aku mendapat cerita yang sama seperti penuturan Bella bahwa Quin adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Mamanya bernama Regina Wongso namun lebih suka dipanggil ‘Rere’.

“Mamaku single mom yang membesarkan ketiga anaknya sembari menjalankan usaha yang dia rintis bersama mendiang Papa,” Quin bercerita.

Aku mengangguk. Regina Wongso adalah seorang sosok inspiratif. Perjuangannya membesarkan Regna Group sudah banyak ditulis di berbagai media. Namun mendengar cerita tersebut langsung dari mulut putrinya, sungguh lain rasanya.

Matahari mulai condong ke barat membawa semburat jingga pada langit, sementara jauh di bawah sana terlihat deretan mobil yang dari atas sini terlihat seperti mainan beraneka warna.

Pemandangan yang benar-benar indah, bahkan di kota yang padat sekalipun.

“Mama sangat berharap aku menjadi penerusnya,” lanjut Quin.  “Itu setelah kakakku yang paling besar memilih jadi desainer dan tinggal di Paris.  Sementara kakakku yang kedua…,” Quin tampak ragu meneruskan ucapannya.

“Oh, nggak apa-apa kalau kamu nggak mau cerita,” tukasku cepat.  Aku teringat bahwa di dunia bisnis, putra kedua Regina Wongso dikenal karena ketidakbecusannya mengurus perusahaan.  Beberapa perusahaan Regna Group yang ditanganinya hancur.  Sebagian pengamat menganggap hal tersebut disebabkan usia yang masih sangat muda sehingga pengalamannya kurang.

Quin tertawa kecil.

“Reputasi kakakku yang satu itu memang buruk, semua orang tahu.”

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat, karena itulah nasib kami semua bergantung padamu, Bu Quintessa Wongso,” aku menggodanya.  “Jadilah penerus kerajaan bisnis yang hebat.”

“Hah, kamu itu,” Quin tertawa.

“Tapi… aku sebenarnya nggak enak,” tuturku serius.  “Aku harusnya nggak seenaknya ber-‘kamu-kamu’ seperti ini, harusnya aku lebih menghormatimu.

“Ah, formalitas,” tepisnya.  “Nggak penting banget.”

“Terus… aku juga minta maaf soal insiden kemarin.  Aku nggak nyangka jadinya seperti itu.”

“Insiden?” Quin tampak bingung.  “Insiden yang mana?”

“Yang waktu itu di tempat park–”

“Ah, cukup,” potong Quin.  “Aku nggak mau ngingat kejadian itu lagi.  Tapi kalau kamu ingin mendengar kabar yang bisa menghilangkan rasa bersalahmu, akan kukatakan.”

Quin memandangku.

“Aku sedang mengajukan gugatan cerai, aku juga mau cerita sedikit tentang pernikahan transaksionalku dengan laki-laki nggak berguna itu.”

Perempuan muda berambut sebahu itu mengambil botol minuman yang terletak di meja, menuangkan isinya, lalu mempermainkan gelas berisi minuman itu di bibirnya sebelum menenggak isinya. Sejurus kemudian, perempuan itu mengembuskan napas panjang.

“Ceritanya dimulai dari Mama.  Regna Group lahir karena usaha keras Mama, aku tahu itu.  Aku tahu bagaimana Mama banting tulang jungkir balik membesarkan usaha kecil yang dia rintis bersama mendiang Papa.  Semua dia lakukan sendiri tanpa bantuan siapapun.”

Quin menyesap minuman yang tersisa di gelasnya.

“And then what?  Setelah Regna Group lahir dan besar, paman-pamanku – yang kusebut kumpulan lintah – datang dan mendesak Mama.  Mereka bilang tidak seharusnya perempuan tampil berbisnis & menjadi pemimpin perusahaan.  Mereka minta posisi penting di grup dan meminta Mama memimpin di balik layar.”

Aku terpana. Cerita ini sama sekali di luar pengetahuanku.

“La… lalu…?”

Quin mendengus.

“Herannya Mama mengabulkan permintaan lintah-lintah itu.  Banyak posisi penting di grup yang akhirnya diberikan pada mereka – yang kerjanya hanya menghabiskan uang lalu menadah pada Mama.”

Sejurus kemudian aku mendengar Quin mengucap aneka serapah yang rasanya tidak patut diucapkan seorang perempuan.

“Kemudian mereka mengarahkan mata padaku, penerus Mama.  Mereka mengatakan hal yang sama padaku.  Aku berontak!  Aku tak terima!  Tapi lagi-lagi Mama menuruti mereka.”

Quin kembali mengucap serapah.

“Mereka mengenalkanku pada laki-laki sampah tak berguna itu.  Mereka berkata si sampah itu potensial dan punya integritas.  HAH!  POTENSIAL APANYA?!  INTEGRITAS APANYA?!  MENGGELIKAN!!”

Lagi-lagi aku mendengar perempuan muda di sampingku ini mengucap serapah.

Mendadak aku teringat kata-kata Pak Ryan.

Jangan seratus persen percaya padanya.

Jangan seratus persen percaya kata-katanya.

“Aku dipaksa menikah dengan laki-laki yang usianya hampir dua kali usiaku.  WHAT THE F?!  Bisa kamu bayangkan?!  Aku yang berusia 23 tahun MENIKAH DENGAN OM-OM 40 TAHUN?!  Demi apa?!  Harta?  HAH!  Aku ratusan kali lebih kaya daripada dia!!”

Jangan seratus persen percaya padanya.

Untuk yang kesekian kalinya, Quin mengucap serapah.

“Akhirnya terbukti si sampah itu lintah juga!  Kerjanya hanya menghabiskan uang.  Aku pun mendengar selentingan dia ada main dengan sekretaris di kantormu itu.”

Deg!

Aku terkesiap!

Mereka?!

Pak Ryan dan Bella?

Jangan-jangan…

Aku teringat beberapa waktu lalu saat Bella tiba-tiba keluar dari ruang direksi dengan kedua tangan menutupi mulutnya.

Apa?  Apa yang terjadi saat itu?

“Jangan salah paham.  Aku nggak peduli hubungan mereka,” kata-kata Quin membuyarkan pikiranku.  “Aku curiga si sampah mengirimi perempuan itu uang yang sumbernya dari perusahaan.  Sayangnya aku belum bisa membuktikan karena jaringan lintah itu sudah kuat mengakar di perusahaan dan grup.  Aku selalu dapat laporan keuangan palsu.”

Jangan seratus persen percaya kata-katanya.

“Aku berencana menangkap basah mereka berdua,” Quin masih nampak emosi.  “Itulah sebabnya aku sering duduk di food court di jam istirahat.”

Aku tersentak!

Jadi… itu sebabnya?!

Perempuan ini…

Perempuan ini memang menakutkan!

Jam di tanganku menunjukkan angka 16.15.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 11 November | Monoton: 17 November

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: WIKIPEDIA

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 146 views sejak dipublish

3 pemikiran pada “Monoton: 13 November”

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: