Monoton: 11 November

Senin.

Suara alarm membangunkanku dari tidur, saat ini pasti sudah jam 05.30 pagi.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengerjapkan mata, dan menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir kantuk yang masih mendera.  Dari kamar mandi terdengar suara gayung yang beradu dengan air di dalam bak. Lima menit lagi istriku pasti selesai mandi.

Kita berdua sudah tak punya waktu.

Aku menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang sudah istriku sediakan.

Sepuluh detik kemudian pintu kamar mandi terbuka, istriku keluar dari kamar mandi dan mengucap salam padaku sambil lalu.

Sejenak aku teringat video yang beberapa malam lalu kutonton.

Bella…

***

Jam 07.10.

Seperti hari-hari sebelumnya, saat ini aku sudah di dalam kereta komuter yang penuh sesak.

Saking sesaknya, penumpang sudah tak lagi bisa bergerak untuk sekadar menghilangkan pegal.

Sekali ngangkat kaki, lu bakal jadi pendekar bangau sakti sampai turun,” itulah joke tentang kondisi saat ini yang selalu disambut gelak tawa. Artinya, sekali kita mengangkat satu kaki dalam kondisi sesak begini, kaki itu tak akan kembali ke tempatnya karena langsung ditempati kaki orang lain.

Pendingin udara di dalam kereta tak lagi terasa akibat sesaknya penumpang apalagi ditambah pancaran cahaya matahari dari luar.

Diam-diam aku mengeluh.

Hidup macam apa ini?

Jam 08.25, aku sudah mencatatkan kehadiran di mesin presensi.

Seperti biasa.

Yang tidak biasa hari ini adalah Bella memanggilku, dan Pak Ryan berdiri di sampingnya.

“Pak Ryan mau ngobrol empat mata sama kamu,” ucap si cantik itu saat aku menghampiri mereka berdua dengan sejuta tanya.

***

“Hari ini hari terakhir saya di sini,” Pak Ryan membuka percakapan.  Saat ini hanya kami berdua yang ada di food court; aku dan Pak Ryan ditemani dua gelas kopi.  “Saya bahkan sudah nggak punya akses ke bekas ruangan saya dulu,” tambahnya.  “Passwordnya sudah diganti.”

“Saya minta maaf, Pak,” hanya itu yang bisa kukatakan saat ini setelah beberapa detik keheningan.  “Terus terang saya nggak nyangka bakal jadi seperti ini–”

“Sudahlah,” Pak Ryan menepis tangannya, memberi isyarat bahwa apa yang terjadi padanya tak ada hubungannya denganku.  “Meski waktu itu nggak ada kamu, endingnya juga bakal sama seperti ini.  Tapi… saya cuma minta kamu hati-hati.”

Pak Ryan memajukan tubuhnya.

Aku mengernyit mendengar kata-katanya barusan.

“Hati-hati… hati-hati kenapa, Pak?”

Pak Ryan menghela napas sejenak.

“Perempuan itu – kamu sudah tahu namanya kan?”

Aku mengangguk.

“Dia bilang namanya Quin.”

Pak Ryan memandangku lekat-lekat.

“Kamu harus hati-hati dengannya.  Jangan seratus persen percaya padanya.  Jangan seratus persen percaya kata-katanya.  Dia seperti bunga pemakan serangga – bunga Drosera – si cantik yang mematikan.  Sekali kakimu terjebak cairan di tentakelnya, kamu nggak akan bisa lepas sementara ia akan mencernamu, mengisapmu hingga tak ada lagi yang tersisa darimu.”

Pak Ryan kembali memundurkan tubuhnya.

“Seperti itulah saya sekarang ini.  Saya adalah korban dari bunga Drosera itu.”

Aku terdiam sementara kata-kata Pak Ryan barusan terngiang di telingaku.

Jangan seratus persen percaya padanya.

Jangan seratus persen percaya kata-katanya.

Tapi…

Dia itu siapa?

Apa hubungannya dengan Pak Ryan?

***

Jam 14.20.

Tamu yang datang sore itu sungguh mengejutkanku.

“Halo,” sapanya padaku.

Aku ternganga.

Untuk sesaat wajahku panas karena malu.

Dia?

Quin?

Kok bisa?

Quin saat ini memakai atasan sabrina berwarna hitam yang memperlihatkan pundaknya.  Rambut sebahunya seperti biasa dibiarkan tergerai.

Bella bersamanya saat ini dan dia terlihat sangat menghormati Quin.

“Sibuk?” tanya Quin padaku tanpa memedulikan Bella.

“Kok…?” aku sungguh tak menyangka dia benar-benar datang – secepat ini.  “Kok kamu bisa ke sini?” aku bertanya balik alih-alih menjawab pertanyaannya.

Quin tertawa kecil.

“Kan aku kemarin bilang kapan-kapan mau mampir ke kantormu.  Dan lihat, sekarang aku ada di sini.”

Tanpa diminta, Quin menduduki kursi di depan meja kerjaku.

“Iya, tapi—,” aku merasa tak enak pada rekan-rekan kerjaku karena menerima tamu pribadi di kantor.

“Kenapa?” cecarnya.  “Sungkan ya?  Nggak enak ya?  Apa kalau gitu kita keluar aja?”

Aku ternganga.

“Tunggu, tunggu…” aku mengangkat tangan setinggi dada.  “Ini masih jam kerja kan?  Dan aku nggak bisa begitu saja keluar kantor.  Aturan di sini keras.”

Aku menoleh pada Bella yang tadi mengantar Quin menemuiku.

“Ya kan, Bell?” tanyaku padanya.  “Di sini kondisinya seperti itu kan?”

Aku berharap Bella akan mendukungku, setuju dengan kata-kataku barusan.

Namun tanggapan Bella sungguh di luar dugaan.

“Nggak apa-apa, silakan kalau kamu mau jalan.”

Quin tersenyum penuh kemenangan mendengar kata-kata Bella barusan.

“Nah, nggak ada masalah kan?” tegasnya.

Aku memandang Bella.

Maksudmu apa, Bell?

Kenapa kamu seakan ngasih kode ‘sudah, kamu jalan saja’?

Sekali lagi, aku memandang Quin dan Bella bergantian.

Ada apa ini?

“Tunggu di sini sebentar,” kataku pada Quin kemudian menggamit lengan Bella.  “Ikut aku,”

***

Jam 22.25, aku tiba di rumah.

Tidak ada yang membukakan pintu depan, lampu kamar pun sudah dimatikan.

Istriku pasti sudah tidur.

Aku duduk di salah satu kursi rotan yang terdapat di teras rumahku, sejenak memandang langit malam dan menghela napas – entah untuk yang ke berapa kalinya.

Gila.

Hari yang gila.

Aku teringat peristiwa sore tadi saat aku menggamit lengan Bella dan meninggalkan Quin di ruang kerjaku.

“Bella,” kataku padanya.  “Kamu kenal dia?  Terus kenapa kamu keliatannya segan sama dia sampai-sampai membolehkan aku jalan sama dia?”

Jawaban yang kudengar dari mulut Bella sungguh di luar dugaanku.

“Perempuan muda yang duduk di depanmu itu Quin.  Kamu tahu dia siapa?”

Aku menggeleng.

“Baik,” lanjut Bella.  “Dengarkan baik-baik.  Quin adalah anak ketiga Bu Rere—”

“Whaat?” aku memotong ucapan Bella.  “Wait wait. Kamu salah ngomong atau aku salah denger?”

“Jangan becanda,” sentak Bella.  “Lagipula omonganku belum selesai.  Ini yang paling penting.”

Bella mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik,

“Dia itu istrinya Pak Ryan.”

Aku terkesiap!

“Edan!  Ini gila!” seruku.  “Ini… bagaimana mungkin?”

Aku mondar-mandir di hadapan Bella dengan gelisah.  Aku berulangkali memegang kepala dengan kedua tangan, terkadang menutup wajah atau mengepalkan kedua tangan, apapun.

“Gila!  Ini gila!” desisku berkali-kali.  “Yang benar saja!”

“Kenyataannya memang seperti itu,” ujar Bella lirih.  “Dan ya, memang gila seperti katamu.”

Usai mandi dan menyegarkan badan, pikiranku masih tak bisa tenang dari rangkaian peristiwa yang terjadi hari ini.

Jadi situasinya begini…

Ada suami-istri bertengkar, si suami memukul istrinya, aku mencegahnya.

Karena memukul istrinya, si suami kehilangan pekerjaannya.

Dan si istri…

Malah mengajakku jalan sementara suaminya kehilangan pekerjaan?!

Kegilaan apa yang lebih gila dari ini?!

SHIT!

Ini benar-benar edan!

Aku meraih ponselku.

Hari ini, phonebookku ketambahan dua nama lagi.

Yang satu nomer Quin.

Yang satu lagi—

“Ini nomerku,” kata Bella sesaat sebelum aku kembali ke meja kerjaku untuk menemui Quin.  “Mungkin aku bisa sedikit membantu saat kamu nanti jalan sama dia.”

Aku menelusuri kedua nama baru di phonebookku yang kebetulan letaknya berurutan.

NATASHA BELLA

QUINTESSA D. WONGSO

Kepalaku tiba-tiba terasa pening.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 8 November | Monoton: 13 November

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada seseorang/objek yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: WIKIPEDIA

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 143 views sejak dipublish

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: