Monoton: 10 Maret

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 5 menit

Aku berlari. Berlari secepat yang aku bisa. Di belakangku, belasan orang mengejarku, sebagian dari mereka membawa benda-benda yang bisa fatal akibatnya bila mengenaiku.

Napasku terengah.

Aku tidak boleh tertangkap.

Tertangkap berarti mati.

Terdengar teriakan-teriakan para pengejarku.

“Jangan kabur lu!”

“Woy!  Berhenti!  WOY!!”

Aku tak peduli, aku terus berlari.

Tertangkap berarti mati!

MATI!!

Aku tidak mau mati!

Aku lari berkelok-kelok memasuki gang demi gang untuk mengecoh pengejarku. Pandanganku mulai gelap karena kelelahan. Napasku mulai terasa berat. Namun aku masih terus berlari.

Tertangkap berarti mati!

Entah berapa lama aku berlari tak tentu arah hingga usahaku nampaknya membuahkan hasil, suara para pengejar terdengar makin jauh.

Tapi aku belum aman!

Masih belum aman!

Entah apa yang mendorongku saat itu, aku menuju sebuah rumah dan menggedor pintunya.

“Tolong!” seruku.  “Tolong saya!  Tolong!”

Tidak ada jawaban.

Aku meninggalkan rumah itu beralih ke rumah sebelahnya.

“Tolong!  Saya dikejar!  Tolong!”

Empat rumah sudah yang kumintai tolong, tapi tak ada satupun pintu yang terbuka. Aku mulai putus asa sementara telingaku sudah menangkap langkah kaki beberapa orang.

Tertangkap berarti mati!

Aku hendak berlari lagi ketika tepat pada saat itu ekor mataku melihat gagang pintu yang bergerak turun diikuti pintu yang terbuka sedikit.

BRAKK!!

Kudorong kuat-kuat pintu tersebut tanpa pikir panjang.

Dengan cepat, aku masuk ke dalam rumah dan menutup lalu mengunci pintunya.

Beberapa detik kemudian pandanganku tertumbuk pada seorang perempuan yang tergeletak mengaduh kesakitan di lantai. Dugaanku, perempuan itu yang tadinya hendak membuka pintu namun terjatuh karena tak kuat menahan pintu yang kudorong dengan kasar. Tak jauh dari perempuan itu, tergeletak pula sesosok bayi mungil.

Baca juga:  Monoton: 17 November

Jantungku mendadak berhenti.

Bayi itu diam, tak bersuara maupun bergerak.

“Maaf,” kataku masih terengah.  “Saya benar-benar minta maaf, tapi ini da—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, entah dari mana asalnya, perempuan itu menodongkan pistol padaku.

Lalu__

DOR! DOR!!

Aku tersentak!

Suara alarm membangunkanku dari tidur, saat ini pasti sudah jam 05.30 pagi.

Napasku masih terengah, begitupun jantungku, masih berdebar kencang.

M—mimpi?!

Mataku nyalang memandang sekeliling.

Mimpi…

Kesadaranku perlahan pulih sepenuhnya.

Maka itu pasti Quin.

Dari tempatku berbaring saat ini aku bisa melihat jelas bagian belakang tubuh seorang perempuan telanjang yang sedang menikmati guyuran air shower. Shower itu memang berdinding kaca, namun sebagian besarnya berupa kaca bening. Hanya bagian toiletnya saja yang terbuat dari kaca sandblast.

Setelah beberapa lama tinggal di apartemen ini dan bercinta dengan Quin maupun Bella di setiap sudutnya, kamar ini adalah tempat favoritku hingga belakangan aku menyadari bahwa kamar tidur di sini memang didesain khusus untuk keperluan itu. Setiap bagian di kamar ini menjadi tempat yang nyaman dan memenuhi segala fantasi yang terliar sekalipun.

Pikiranku kembali ke mimpi yang tadi kualami.

Perempuan yang kulihat dalam mimpi tadi adalah Nia. Rumah itu adalah rumahnya, lebih tepatnya rumah orang tuanya.

Aku menghela napas.

***

Rabu, pukul 20:28. Hujan masih turun dengan derasnya.

“Maaf, ya, Mas,” lelaki tua yang sampai saat ini menjadi mertuaku meminta maaf untuk kesekian kalinya.  “Bapak juga nggak tau di mana Nia tinggal sekarang.”

“Ya, Pak,” aku bergumam pelan.  “Apa boleh buat, saya benar-benar hilang kontak dengan Nia.  Teman kantornya juga bilang kalau Nia sudah pindah kerja.”

Baca juga:  Monoton: 25 November

“Sudah kamu telpon?” tanya pak mertuaku.

“Sudah, tapi nggak pernah diangkat.”

Kami, kedua lelaki ini sama-sama terdiam memandang hujan yang kini bahkan makin deras.

“Nia pernah cerita ke ibunya tentang masalah rumah tangga kalian,” pak mertua membuka lagi percakapan.

“Apa yang Bapak dengar?” tanya saya.

“Bapak cuma dikasih tau bahwa Nia pengen cerai.  Cuma itu.  Bapak bahkan nggak tau pasti apa masalahnya.”

“Mungkin Bapak pernah dengar selentingan atau apa, tentang kenapa Nia ingin cerai dari saya, Pak?”

Sekali lagi, lelaki tua itu hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaanku barusan.

“Sebagai orangtua Nia, Bapak benar-benar sedih.  Bapak sedih membayangkan rumah tangga Nia harus gagal untuk kedua kalinya.”

“Sampai saat ini masih belum, Pak,” potongku.  “Saya masih berusaha memperbaiki rumah tangga kami.  Nia masih istri saya meskipun dia sudah menggugat cerai dan sudah lama kami tidak saling berkabar.”

Pak mertuaku menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

“Berat, Mas. Berat,” ia menepuk pundakku.  “Bapak memang sangat berharap rumah tangga kalian bisa bertahan. Ibunya juga berpikir sama.  Kalau Mas percaya, hampir setiap saat kami berdoa semoga rumah tangga kalian langgeng.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Pak, apa pernah ada orang yang ke sini menemui Nia? Orang yang Bapak dan Ibu nggak kenal?”

Lelaki tua itu memicingkan mata dan mengerutkan keningnya.

“Oh itu, Bapak nggak akan lupa, Mas.  Memang pernah beberapa kali ada laki-laki yang datang ketemu Nia.  Orangnya kira-kira seumuran Bapak.  Setiap kali datang, dia nggak sendiri.  Selalu ditemani seorang perempuan muda seumuran Nia.”

Hmm, aku berpikir.

Itu pasti pengacaranya Quin.

“Kira-kira Bapak tau apa yang mereka bicarakan?” cecarku.

Baca juga:  Monoton: 24 Februari (1)

Lelaki tua itu – sekali lagi – menggeleng.

Tak ada tanda-tanda kapan hujan akan berakhir.

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 2 Maret | Monoton: next episode

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
SUMBER GAMBAR: Pixabay

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar