Monoton: 08 Februari

Monoton | Ryan Mintaraga
Monoton | Ryan Mintaraga

Lama baca: 6 menit

Dua minggu berlalu semenjak istriku menerima foto-foto yang memperlihatkan affair-ku dengan Quin dan Bella. Dua minggu pula istriku meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.

Aku sudah mencoba menghubungi dan menemuinya baik di kantor maupun di rumah orangtuanya, namun tak ada hasil. Informasi dari kantornya menyebut istriku sedang mengambil cuti, namun keluarganya sama sekali tak mengetahui keberadaannya.

Aku semakin cemas, perasaanku tak menentu.

Semua pesan WhatsApp yang kukirim padanya hanya menampilkan tanda centang dua abu-abu. Aku bahkan benar-benar tak tahu apakah ia membaca pesan-pesan yang selama ini kukirimkan.

***

Aku masih ingat ekspresi Quin saat kulemparkan foto-foto itu dengan kasar ke wajahnya.

Saat itu pukul 11.40 di hari kerja.

“Kamu–,” serunya.  “Hei, kamu kenapa?!  Apa-apaan ini?!”

Ekspresinya saat itu terlihat ketakutan, apalagi setelah itu ia memanggil Lisa pengawal pribadinya.

“Ini kerjamu, kan?!” aku menggebrak meja kerjanya dengan keras.  “Kamu yang nyuruh orang ngambil foto-foto ini?!”

Ia ketakutan!

Jelas terlihat!

Setelah mengatur napasnya sejenak, Quin mengambil foto-foto yang berserakan itu dan memeriksanya – satu demi satu.

Aku menggebrak meja lagi untuk menggertaknya.

“Ini kerjamu, kan?!” teriakku sekali lagi dengan suara yang semakin keras.  “Quin, kamu gila, ya?!  Ngapain, sih, kamu nyuruh anak buahmu ngambil foto-foto ini?!”

Quin masih memerhatikan foto-foto yang tadi kulempar padanya, delapan lembar foto yang – menurut dugaanku -membuat istriku meninggalkanku.

“Oh,” berikutnya aku mendengar Quin tertawa kecil saat melihat selembar foto.  “Aku sama sekali nggak nyangka ada bonus foto.  Hm, jadi dugaanku benar.  Haha, ternyata laki-laki memang sama saja.”

Quin tak mengacuhkanku. Ia kini bercakap-capak dengan Lisa menggunakan bahasa yang sama sekali tak kupahami sambil sesekali menunjuk foto yang ia pegang. Raut wajah mereka terlihat serius.

Baca juga:  Monoton: 11 November

“QUIN!!” seruku lagi.  “Quintessa Wongso, aku minta penjelasan!”

Mendengar teriakanku barusan, Quin memandangku. Ketenangannya kini sudah kembali.

“Duduk dulu,” katanya.  “Setelah itu kita bicara baik-baik.  Ini masalah serius.”

“Jawab dulu pertanyaan–,” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Lisa mendorong dan mendudukkanku di kursi.  Perempuan Eropa Timur itu kemudian menekan pundakku.

Quin tersenyum.

“Begitu lebih baik,” ujarnya dengan suara halusnya.  “Sekarang, kamu mau minum dulu?”

“Jawab saja pertanyaanku,” potongku.  “LANGSUNG!”

“Baiklah,” Quin mengangkat bahu.  Ia memberi isyarat pada Lisa untuk melepaskan tekanannya di pundakku.

Di luar, langit tampak gelap. Sebentar lagi pasti akan turun hujan.

Quin memerhatikan sekali lagi foto-foto yang barusan kulempar padanya. Ia juga bertanya pada Lisa yang membalas dengan mengangkat tangan dan gelengan kepala.

Apa yang mereka bicarakan?

“Quin,” panggilku.  “Apa itu–,”

“Bukan,” sergahnya.  “Bukan aku yang nyuruh.”

Perempuan muda berambut sebahu yang dijuluki Bunga Pemakan Tanaman itu menatapku.

“Aku belum segila itu membiarkan tubuh telanjangku difoto orang tak dikenal hanya untuk menjebak orang lain, bahkan aku tak yakin ada perempuan yang segila itu.  Jika aku menginginkanmu sepenuhnya, aku cukup menyediakan sejumlah uang.  Aku punya kekuasaan dan tak perlu merendahkan diriku melakukan hal seperti ini.  Lagipula, bukankah kamu sudah tahu apa yang bisa kulakukan pada istrimu beberapa waktu lalu?”

Aku terenyak!

Apa yang dia katakan barusan sangat masuk akal. Aku pun teringat saat dimana Quin menyuruh orang untuk mencelakai istriku dalam sebuah kecelakaan kecil.

“Buat apa aku menjual tubuhku untuk hal yang bisa kulakukan dengan sangat mudah?”

Aku terdiam.

“Seharusnya kamu pikirkan itu sebelum menuduhku,” tutur Quin.  “Tapi ada hal yang lebih gawat lagi, foto ini bisa jadi skandal.  Posisiku di Dewan Eksekutif bisa-bisa dalam bahaya.”

Baca juga:  Monoton: 27 Desember

“Tapi, kalau bukan kamu,” aku terbata.  “Siapa?  Siapa yang melakukan ini?”

“Who knows?” Quin mengangkat bahu.  “Banyak yang menginginkan kejatuhanku.  Aku punya banyak musuh yang ingin mendepakku dari kursi Dewan Eksekutif Regna Group.  Kamu orang yang teliti, mungkin kamu bisa bantu aku menyelidiki siapa dalang dari foto-foto ini, sementara aku akan meminta Lisa mencari tahu.  Tapi, aku juga punya satu pertanyaan untukmu.”

“Pertanyaan?” aku menatapnya.

“Ya,” Quin mengambil selembar foto lalu menunjukkannya padaku.  “Ini si sekretaris itu, kan?  Sudah berapa kali kamu tidur dengannya?”

***

“Apa—apa aku dalam bahaya?”

Suara Bella bergetar, sepertinya ia ketakutan. Aku barusan menceritakan padanya semua yang terjadi, dari awal sampai akhir, seluruhnya.

“Bagaimana ini?” keluhnya.  “Aku—aku belum siap kehilangan apa yang telah kucapai dengan susah payah selama ini.”

“Bell,” aku mencoba menenangkannya meski perasaanku sendiri tak karuan.  “Aku akan mencoba menyelamatkanmu, menyelamatkan kita semua.”

“Caranya?” Bella menatap kosong ke depan.  “Yang punya kantor itu Quin, bukan kamu.  Jika dia mau, detik ini juga kita bisa dikeluarkan dari pekerjaan dan tidak bisa mendapat pekerjaan di seluruh perusahaan Regna Group.  Bahkan dengan kekuasaannya ia bisa membuat kita jadi gembel seperti yang ia lakukan pada Pak Ryan.”

Bella menarik napas.

“Jika nanti terjadi apa-apa denganku, kamu harus bertanggung jawab.”

Seraya berkata begitu, Bella menuju mobilnya, menyalakan mesin, dan meninggalkanku.

***

Pukul 23.08.

Aku termenung sendiri di kamar, memerhatikan sekali lagi kedelapan lembar foto yang dikirimkan seseorang – siapapun dia – pada istriku. Aku meneliti setiap milimeter foto tersebut, mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.

Siapa yang menyuruh orang untuk memata-mataiku?

Namun pencarianku berakhir sia-sia.

Baca juga:  Monoton: 24 Oktober

Selama sembilan puluh menit aku masih tak menemukan apapun, bahkan sekadar petunjuk kecil. Aku hanya bisa memastikan foto tersebut diambil di mana.

Tapi, bagaimana bisa?

Bagaimana bisa seseorang membayar orang lain untuk menguntitku dua puluh empat jam?

Tahu di hotel mana aku melakukannya, bahkan hotel yang paling mahal sekalipun.

Ia pasti punya uang yang cukup untuk–

Aku terlompat!

Orang itu—

Bajingan!

Orang itu pasti punya akses ke handphone atau e-mailku!

Semua pemesanan hotel yang ada di foto ini selalu atas namaku!

Otakku berputar.

Kecuali diretas, sejauh ini hanya ada satu orang yang tahu kata sandi akun surelku.

Tapi—

Mana mungkin!

Tidak mungkin dia yang melakukannya.

Jasa penguntitan seperti itu pasti mahal, dari mana dia punya uang?

Tepat pada saat itu ada satu pesan masuk.

“Ini aku.  Aku baik-baik saja, nggak usah telepon atau kirim pesan sementara ini..”

Nia! Istriku!

Itu pesan dari istriku!

Aku segera menekan tombol panggil untuk menghubunginya namun hanya pesan suara yang aku dapat.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan—”

Saat ini sudah pukul 00.13.

Aku mengeluh dalam hati.

Hidup macam apa ini?

Kenapa semua jadi begini?

-BERSAMBUNG-

Monoton: 24 Oktober | Monoton: 25 Januari | Monoton: 24 Februari

Catatan:

  • Kesamaan nama tidak merujuk pada nama-nama yang ada di dunia nyata, semata murni untuk pengembangan karakter.
  • Bagi yang berminat, cerbung ini menerima iklan berupa link, narasi, maupun dialog (beserta logo, jika perlu) sila hubungi saya di inbox[at]ryanmintaraga[dot]com
  • Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang melelahkan untuk dibaca, sesuai judulnya.
  • Kunjungi, sukai, dan share official page Cerbung “Monoton”
Sumber Gambar: DesiringGod

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar