Memanjakan Lidah dan Perut, Berburu Kuliner di Kota Tegal

Kedua orangtua saya asli Tegal meski saya lahir di Yogya, menghabiskan sebagian masa kecil di Cimahi, menghabiskan masa remaja di Tegal, serta saat ini tinggal di Jakarta.

Ya, Tegal adalah kampung halaman saya.

Saya memang tidak setiap tahun pulang kampung alias mudik, andaikan mudik pun biasanya sekitar dua minggu setelah Lebaran.  Karena itu saya selalu kehilangan kesempatan untuk bersilaturahmi bersama teman-teman masa kecil dan remaja.  Mohon maklumnya…

Nah, kegiatan paling menyenangkan dari acara pulang kampung adalah wisata kuliner.  Buat saya pribadi, wisata kuliner merupakan nostalgia sekaligus semacam ‘balas dendam’ karena beberapa makanan yang saya tulis di sini tergolong mewah dan tidak mampu saya beli saat itu.  Dan saya beruntung karena istri saya punya selera kuliner yang banyak kesamaannya.

Selama beberapa hari di Tegal, saya dan istri yang notabene orang Betawi selalu mengisi perut dengan makanan khas Tegal diantaranya:

Soto Senggol

Soto Senggol menempati daftar teratas menu wajib kami berdua.  Tidak bisa tidak, menu ini yang pertama dicari.

Begini penampakannya:

soto senggol, menu teratas kami (dokpri menggunakan sony α 330)
soto senggol, menu teratas kami (dokpri menggunakan sony α 330)

Soto Senggol adalah soto dengan kuah tauco berwarna coklat dan disajikan dalam mangkuk berukuran kecil dengan tatakan.  Penyajian dan warna coklat kuahnya mirip tautao Pekalongan.

Saat memesan, kita akan ditanya nasinya mau dicampur atau dipisah.  Saya sendiri lebih suka nasinya dicampur.

Rasanya?

Seger banget!

Apalagi ditemani teh khas Tegal sebagai minumannya, baik panas maupun dingin.

Karena segarnya, soto senggol ini pas disantap saat hari terik.

Omong-omong, kenapa disebut ‘soto senggol’?

Itu karena kedai soto ini terletak di dalam gang sehingga antara pengunjung bisa saling senggol (sebenarnya nggak juga sih, gangnya juga nggak kecil-kecil amat).  Nama gangnya juga gang senggol kalau saya tidak salah ingat.

Istilah soto senggol ini sudah populer sejak saya kecil.

Jika tertarik, sila melaju ke sekitaran alun-alun Kota Tegal.  Di dekat situ ada Pos Polisi dan toko kain ‘Pelangi’, nah kedai sotonya ada di belakang toko itu.

Nasi Lengko

Perburuan berikutnya adalah Nasi Lengko.

Begini penampakannya:

nasi lengko, full sayuran (kompas)
nasi lengko, full sayuran (kompas)

Nasi lengko adalah nasi yang disajikan bersama timun dan tahu yang dipotong dadu, tempe orek, tauge, remukan krupuk, serta sayuran seperti tauge dan sebagainya.  Semuanya di-mix di satu piring lalu disiram sedikit bumbu kacang serta kecap manis.

Slurrrp.

Dari penampakannya terlihat ada kemiripan dengan salah satu makanan populer di Jakarta yakni ketoprak.

Saya sendiri lebih suka menjadikan nasi lengko sebagai makan malam karena isinya full sayuran sehingga tidak memberatkan kerja perut hehehe.

Di Tegal cukup banyak kedai makan yang menyediakan menu Nasi Lengko dengan harga terjangkau.

Minumnya?  Teh lagi.

Bicara tentang teh, teh di sini benar-benar teh asli dengan aroma melati yang membuat rileks.

Mau teh manis atau tawar, dingin atau panas, sama segarnya.

Rujak Kangkung

Siapkan lidah untuk menyantap makanan yang satu ini:

rujak kangkung, pedas! (blog sosialmediategal)
rujak kangkung, pedas! (blog sosialmediategal)

Rujak kangkung termasuk makanan sederhana; kangkung rebus yang dilumuri sambal dari ulekan kacang, asam jawa, terasi, dan cabai.  Makanan ini disajikan dalam pincuk daun pisang serta boleh ditambah krupuk atau sayuran lain.

Pakai nasi?  Recommended banget!

Rasanya?  Super duper pedas!  Cah kangkung ala resto mah lewat, lewat jauh, lewat jaaauuuh banget.

Saya sendiri merekomendasikan rujang kangkung sebagai lauk makan siang dengan nasi yang masih mengepul panas.

Bayangkan, rujak pedas, nasi panas, krupuk, minumnya teh tawar.

Gluk.

Dijamin makan bakal nambah tanpa terasa dan nggak bakal kenyang-kenyang.

Sayangnya saat ini rujak kangkung sudah agak sulit ditemui, mungkin karena sifatnya yang tradisional dan sangat tergantung dari kepiawaian sang nenek mengulek sambalnya.  Ya, kebanyakan penjualnya adalah nenek-nenek.

Halaman berikutnya: Sate Kambing Muda

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: