Matcha Latte dan Hujan Akhir Tahun

Matcha Latte dan Hujan Akhir Tahun | Ryan Mintaraga (huffingtonpost)

Hujan tak lagi deras mengguyur.

Rain mendesah.  Kesal.

Memang sih sudah nggak hujan.

Tapi tetap aja janji hari ini dicancel.

Gadis berambut ikal kemerahan itu turun dari apartemennya di lantai 13 sambil menyandang ransel berisi kamera DSLR lengkap yang semula akan digunakan untuk satu sesi pemotretan prewedding hari ini.  Namun cuaca yang tak menentu sejak malam membuat kliennya membatalkan janji pemotretan dan meminta reschedule.

Padahal aku sudah membatalkan liburan ke Jepang.

Tau gini, mending aku ikut liburan aja.

Kedua orangtuanya ke Jepang menemui tante Widi, sementara kakak perempuan satu-satunya masih sibuk mengurus usaha keluarga bersama sepupunya setelah itu menyusul ke Jepang.

Rain gemas.

Huhh… musim libur gini tiket ke mana-mana sudah habis.

Sepertinya liburan kali ini terpaksa aku habisin di Jakarta.

Lift yang membawa Rain tiba di lobi, rencananya ia hendak mengisi perut sambil berjalan-jalan di sekitar lingkungan apartemen mencari objek foto.

Gadis itu bergegas keluar, tapi hujan mendadak turun lagi dengan derasnya.

Rain pun mengangkat bahu.

Selalu begini.

Entah sejak kapan ketidakberuntungan selalu menyertainya saat hujan di akhir tahun. Yang jelas ia mulai memerhatikan hal tersebut sejak SMU, waktu itu sekolahnya hendak mengadakan karyawisata ke Bali.

Tapi waktu itu aku kena demam gara-gara kehujanan.

Akibatnya, cowok yang disukainya keburu jadian sama cewek lain.

Lain waktu, kesialan menghampirinya saat ulang tahun Via sahabatnya.  Di tengah hujan, ia menolong seseorang yang menjadi korban tabrak lari dan membawa orang itu ke Rumah Sakit.

Bajuku jadi basah dan penuh darah, nggak mungkin aku datang ke pesta dengan baju seperti itu.

Sejak saat itu Via memutuskan persahabatan mereka.

Ketidakberuntungan berikutnya terjadi waktu ia bermaksud memberikan kejutan pada pacarnya.

Dan memang aku mendapat kejutan.

Cowok sialan itu selingkuh sama orang lain, sampe hamil pula!

Semua terjadi saat hujan di akhir tahun.

Dan kini Rain merasa sangat lapar namun hujan tak kunjung berhenti – bahkan semakin deras.

Rain merasa nelangsa.

Padahal food courtnya ada di depan sana…

Tak ada pilihan lain.

Ia harus ke basement, mengambil mobil, dan makan di luar kompleks apartemennya.

Tapi…

Kunci mobil ada di kamar!

Masa’ aku harus naik lagi?

“Siang, Kak,” seseorang menegurnya.

Rain menoleh.

Ia mengenal siapa yang menegurnya, seorang petugas kebersihan di apartemen tempatnya tinggal.  Seorang gadis yang masih muda, kira-kira seusia dirinya.

“Mbak Dewi,” Rain menyapa sambil tersenyum.

Dalam hati ia mengagumi ketangguhan sosok di hadapannya ini, seseorang yang ia tahu bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.

“Mau ke mana, Kak?” sapa Dewi.

“Aku lapar, mau makan di food court tapi hujannya nggak berhenti,” keluh Rain.

Dewi tersenyum.

“Mau Dewi ambilin payung?” tanyanya.

Mata Rain membelalak.

“Jangan, nanti Mbak repot,” tolaknya.

“Masa’ bawa payung aja repot, Kak,” Dewi tertawa ramah.  “Sebentar ya,” gadis itu berlari meninggalkan Rain dan beberapa menit kemudian kembali dengan payung kecil di tangannya.

“Makasih banyak, Mbak Dewi.  Payungnya aku pinjam dulu ya,” seru Rain.  tangannya menyambar payung di genggaman Dewi.

Dengan penuh semangat, Rain melangkahkan kakinya menuju food court.  Incaran pertamanya adalah kedai Dimsum dan Shumay ala Nyah Ben.

Tapi…

“Maaf, Kak, sudah habis.  Kalo mau nunggu masih agak lama sih,” sahut Mbak Putri yang mengelola kedai tersebut.

Beberapa kedai favorit Rain berikutnya juga mengatakan hal serupa,

“Maaf, pisang gorengnya habis,” tukas Non Septi.

“Oh menu yang ini baru sore nanti siap,” ujar pelayan di kedai pizza Bang Rahab.

“Maaf neng, bisa pesen menu Manstaf yang lain?” tawar Kang Edy.

“Kue-kuenya barusan habis, Teh,” kata Neng Nisa.

Rain kecewa.

Hujan di akhir tahun…

Kenapa kau selalu membawa kesialan buatku?

Ia akhirnya memesan segelas matcha latte sambil menenangkan dirinya, berusaha meredam emosinya.

Setengah berlari ia menuju satu meja yang masih kosong di sudut ruangan. Malangnya ia tak melihat satu papan kuning di lantai bertuliskan ‘Hati-hati lantai basah’.

Akibatnya ia pun terpeleset, minuman yang dibawanya tumpah membasahi lantai.

Kali ini Rain tak tahan!

Gadis itu menangis terisak-isak.

Ayah!  Ibu!  Kenapa kalian memberiku nama ‘Rain’?

Seharusnya hujan adalah sahabatku, tapi kenapa aku selalu sial saat hujan?

Aku benci nama ini!

Aku benci nama ‘Rain’!

Rain tak juga bangkit dari lantai, ia tak peduli tatapan iba atau geli dari orang-orang di sekitarnya.  Ia tak memedulikan bisik-bisik dan tawa kecil orang-orang di sekitarnya.

Ia tak peduli semua itu!

“Kak, kamu nggak apa-apa?”

Rain mengangkat wajahnya.  Nampak seorang pemuda yang berlutut di hadapannya.

“Bisa berdiri?  Mau aku bantu?” pemuda itu kini mengulurkan tangannya.

Tanpa sadar, Rain mengulurkan tangan menerima bantuan dari orang yang baru dilihatnya itu.

“Kamu duduk di sini saja, di tempatku,” ujar pemuda itu yang diiyakan saja oleh Rain.  “Mau aku pesenin lagi minuman yang sama?”

“Makasih,” gadis itu menjawab singkat.  “Maaf kamu jadi repot.”

Pemuda itu tertawa kecil kemudian berlalu.

Beberapa menit setelahnya, ia kembali dengan dua gelas matcha latte.

“Silakan,” pemuda itu memberikan gelas yang satu pada Rain.  “Namaku Surya,” lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.  “Boleh kenalan?”

Rain menunduk.

“Aku benci namaku,” ujarnya.

“Kenapa?” tanya Surya.

“Nama ini membawa sial untukku.”

“Maksudnya?”

“Apa yang kamu lihat tadi cuma bagian kecil dari kesialanku karena namaku,” tukas Rain.

“Oh,” timpal Surya, “seperti diputusin pacar, sakit di hari penting, sama kejadian-kejadian lain?  Seperti itu?”

Rain mengangguk.  Surya tertawa.

“Kenapa kamu ketawa?!” seru Rain kesal.

“Mungkin aku punya cerita yang sama sepertimu,” balas Surya.

“Eh?” Rain heran.  “Maksudnya apa?”

“Yah, aku sering mengalami ‘kesialan’, biasanya di siang hari yang terik,” sahut Surya sambil tangannya membentuk tanda kutip ketika ia mengucap ‘kesialan’.

Rain terbelalak.

“Mau dengar ceritaku?” Surya tersenyum.

-Jakarta, 27 Desember 2018-

Sumber gambar: Huffington Post

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: