Marak! Komik Dewasa dengan Desain Karakter yang Imut (Hati-hati Memilih Bacaan untuk Anak)

Saya sudah lama paham bahwa beberapa judul manga (komik Jepang) memang tidak diperuntukkan buat anak-anak.  Saya sendiri – meski penggemar manga – menghindari bacaan semacam ‘Boys Be…’ dkk karena ke-ecchi-an yang ada di dalamnya.  Sebabnya, saya pernah jadi anak kos dimana anak-anak pemilik rumah kadang datang meminjam komik pada saya.

Ngomong-ngomong apa yang dimaksud dengan ‘ecchi’?

Sepanjang pengetahuan saya, dalam manga istilah ecchi merujuk pada adegan buka-bukaan yang terjadi secara tidak sengaja atau insiden tersentuhnya salah satu ‘bagian tubuh’ secara tidak sengaja pula.

Pada umumnya ecchi digunakan untuk memancing tawa pembaca, mungkin formula ini mirip lawakan film-film jadulnya Warkop DKI (adegan lucu yang biasanya terjadi di pantai dengan melibatkan wanita berbikini).

Oke, kembali ke topik.

Karena terbiasa dan secara pribadi tidak bermasalah dengan ecchi yang kadung saya anggap sebagai budaya umum masyarakat Jepang (mohon koreksinya dari netter yang lebih paham masalah semacam ini), betapa terkejutnya saya sewaktu membaca satu manga secara online menggunakan aplikasi Android.

Jalan cerita dalam manga tersebut sebenarnya menarik meski sedikit nyeleneh, yang jadi masalah adalah:

Di setiap chapter-nya pembaca disuguhi adegan-adegan ‘provokatif’ yang dilakukan secara sengaja – hal yang sangat jauh berbeda dengan ecchi.

Hasil penelurusan saya terhadap manga yang sampai saat ini sudah masuk chapter 120-an (dan belum tamat) menyebutkan bahwa manga ini dikategorikan sebagai ‘harem‘ (satu karakter cowok yang hidupnya dikelilingi banyak cewek cantik) dan ‘seinen‘ (diperuntukkan bagi pembaca dengan rentang usia antara 17-40 tahun).

Karakter-karakter wanita dalam manga ini sangat ‘kawaii‘ alias cute (imut) sehingga bisa menipu pembaca awam.

Mungkin selangkah lagi manga ini bakal masuk kategori “H” alias ‘hentai‘ yang sexual content-nya sudah sangat eksplisit.

Hah?  Judul manganya apa?

Hm… apa perlu saya kasih tahu?

Kenapa Khawatir?

Saya rasa bohong saja pendapat yang mengatakan, “Ah, hal seperti itu nggak ngaruh.”

Setidaknya adegan yang tergambar dalam manga tersebut bisa saja memberikan semacam inspirasi bagi pembacanya untuk melakukan hal serupa.  Tidak masalah apabila pembacanya sudah memiliki pasangan sah, nah bagi yang belum?

Paparan adegan provokatif tersebut bisa saja berakumulasi dan membuat pembacanya melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan menurut norma masyarakat maupun hukum yang berlaku.

Sedikit cerita, saya pernah ‘kecolongan’ saat mendapati putri pertama saya (waktu itu berusia 9 tahun) membaca manga.  Karena sering membaca manga, saya bisa mengenali isinya hanya dengan melihat sampulnya.

Sampul manga tersebut memang terlihat wajar, namun saya bisa menebak isinya,

Pasti ada adegan ciumannya, batin saya.

Saya pun bertanya pada istri saya,

“De’, itu kakak dapet komik dari mana?”

“Itu temannya beli, ternyata salah.  Terus dikasih ke dia,” jawab istri saya.

“Oo, feeling Mas bilang ini komik pasti ada ciumannya.  Nanti coba kita cek.”

Setelah putri saya menutup dan meninggalkan bacaannya, kami berdua memeriksa.  Benar saja, ada beberapa adegan ciuman dan ‘pertunjukan daleman’ di manga tersebut.

Beberapa hari kemudian saya iseng bertanya pada putri saya,

“Sayang, komiknya udahan?  Kok nggak dibaca lagi?”

“Nggak ah, males,” jawabnya.

Meski saya bisa menduga alasannya, lebih baik saya berpura-pura tidak tahu saja.

Perlunya Kewaspadaan dan Update

Dari peristiwa tersebut saya belajar bahwa:

Sebagai orangtua kita mesti update dengan hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

Pengetahuan itu penting supaya kita bisa menjaga anak-anak kita dari pengaruh buruk yang berdatangan dan menyerbu dalam berbagai bentuk.

Saya tidak mengatakan bahwa manga membawa pengaruh buruk, hanya saja kita mesti paham bahwa segala hal bisa disusupi hal-hal buruk.  Saat saya remaja, hal-hal semacam itu (sexual content) sering menyusup dalam novel-novel Wiro Sableng yang suka saya baca.  Tapi sekali lagi ingat, saya tidak mengatakan novel Wiro Sableng itu buruk.

Saat ini hanya satu ketakutan terbesar saya yang saya yakini sebagai ketakutan kita semua,

Insyaallah saya bisa menjaga anak-anak saya dari pengaruh buruk, tapi bisakah orangtua lain menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk?

Tidak ada yang rela anaknya menjadi korban karena ketidakmampuan orangtua lain menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk.

Kemajuan teknologi saat ini membuat PR kita sebagai orangtua bertambah.  Konten dewasa bisa dengan mudah hadir tanpa sensor, makin masif, dan tentu saja makin ‘aneh’.

Sekali lagi, kita harus update.

Maaf bila tulisan saya kali ini melantur, berantakan, dan tidak runut.  Selamat pagi, selamat beraktivitas, semoga tulisan saya bermanfaat!

Sumber gambar: Otvet

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 1362 views sejak dipublish

Leave a Reply

%d bloggers like this: