Lakuna

Sore ini langit berwarna keemasan – seperti biasa.

Seperti biasa pula kami bertiga duduk diam memandangi matahari yang sebentar lagi tenggelam di ufuk.

Entah berapa lami kami tenggelam dalam kesunyian.

“Suara itu makin sering dan jelas terdengar belakangan ini,” aku memulai percakapan.

Salah satu dari mereka – yang duduk di sebelah kananku – menoleh,

“Benarkah?” tanyanya yang kubalas dengan anggukan.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” kini terdengar pertanyaan dari sebelah kiriku.

Aku tak langsung menjawab.

Nun jauh di depan sana, batas antara matahari dengan cakrawala semakin menipis.

“Fin?” mereka menyebut namaku – berbarengan.

Setelah menghela napas sejenak, aku bangkit lalu memandangi mereka.

Nasta dan Andromeda.

Sejak kapal yang kutumpangi mengalami kecelakaan akibat hantaman badai, hanya mereka berdua yang pertama kulihat – sampai saat ini.  Aku tak tahu apakah mereka penumpang kapal naas tersebut atau penghuni pulau terpencil di tengah laut ini.

Bahkan, Nasta dan Andromeda pun adalah panggilan yang kuberikan pada mereka, karena mereka hanya tersenyum setiap kali aku bertanya.

“Apa yang akan kau lakukan?” Nasta mengulangi pertanyaannya.  Wajahnya, seperti biasa tampak cemas.

“Sejujurnya, aku belum tahu,” jawabku.

“Kenapa tidak kau cari tahu saja?” tukas Andromeda.  Berbeda dengan Nasta, Andromeda selalu menyiratkan rasa optimis.

“Lalu?” aku bertanya balik pada Andromeda.

Lagi-lagi ia hanya tersenyum.

* * *

Aku tersentak!

Suara itu…

Aku menajamkan telinga, mencari dari mana datangnya asal suara.

Dari langit?

Dari suatu tempat di pulau?

Atau dari suatu tempat di luar sana?

Aku memandang sekeliling dalam gelap.  Hanya pendar redup cahaya bintang yang tampak di langit.

Nasta dan Andromeda tidak ada.  Mereka memang selalu menghilang setiap aku memejamkan mata.

Suara itu…

Sebenarnya dari mana asalnya?

Entah sejak kapan aku mendengar suara-suara yang awalnya serupa gumaman lirih namun makin jelas belakangan ini.

Apa ada yang mengadakan semacam ritual?  Upacara?

Tapi, di mana?

Pernah aku menanyakan apakah ada pulau terdekat di sekitar pulau yang kami tinggali ini, namun mereka hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.

“Fiin!  Fiiin!”

Aku terlompat!

Tiba-tiba terdengar satu teriakan keras yang sepertinya dekat sekali dengan telingaku.  Aku bahkan sempat merasakan ada yang meremas jemari tanganku.

Setelah itu suasana kembali sunyi.

Dan gelap.

Sangat gelap.

* * *

“Aku mendengar lagi suara itu, bahkan lebih jelas dari sebelumnya.”

Saat itu kami bertiga kembali duduk di tepi pantai, memandang matahari yang mengulangi rutinitasnya tenggelam di ufuk.

“Benarkah?” Andromeda kembali mengulang pertanyaan yang sama seperti kemarin.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” begitu juga dengan Nasta yang mengulang pertanyaannya.

Aku memandang mereka berdua.

Ada yang aneh…

Sekarang segalanya jelas bagiku.

Sejak kecelakaan itu, kami hanya mengulang hal yang sama setiap waktu.

Kenapa aku baru sadar sekarang?

Apa yang kulakukan hari ini hanya mengulang apa yang kulakukan kemarin.

Segalanya sama.

Kecuali suara itu…

“Fin?” mereka kembali bertanya.  Sama seperti sebelumnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” Nasta terdengar cemas.

Apakah aku akan terjebak di sini?

Mengulang hal yang sama sepanjang waktu?

Aku menghela napas.

Andromeda benar, suara itu adalah kuncinya!

Aku–

Belum selesai aku bermain dengan pikiranku, Nasta bangkit dan memegang tanganku.

“Fin,” ujarnya, “kau tidak akan meninggalkan kami ‘kan?”

Aku terkejut!

“Kenapa– kenapa kau berpikiran seperti itu?”

Namun Nasta kembali tersenyum.

Aku mengeluh.

Seharusnya aku tahu.

Mereka hanya tersenyum setiap aku bertanya.

Kali ini Andromeda bangkit, ia memandangku dengan sorot optimisnya.

“Kau harus pergi,” ujarnya.  “Mereka memanggilmu.”

Mereka?

Siapa?

Aku ingin bertanya, namun aku tahu pasti bahwa hanya senyuman yang akan kudapat.

Karena itu aku memutuskan untuk tidak lagi bertanya.

“Kau benar,” aku mengangguk pada Andromeda.  “Aku harus mencari tahu asal suara itu.”

“Tapi–” Nasta terdengar cemas.

“Meski sejujurnya aku tidak mengerti ucapanmu dan kenapa aku harus pergi,” potongku.

“Kau memang harus pergi,” tutur Andromeda.

“Fin, apa kau yakin?” tanya Nasta.  “Meninggalkan kami di sini?”

“Kebenarannya ada di luar sana,” tukas Andromeda.

“Tinggallah di sini sebentar lagi,” bujuk Nasta.

“Tempatmu bukan di sini, Fin,” nada suara Andromeda mulai meninggi.

“Tapi di sini kau tidak merasakan sakit dan kesulitan,” Nasta semakin kuat membujuk dan memegang tanganku.  “Tinggallah di sini bersama kami.  Jangan tinggalkan kami.”

Aku terdiam.

* * *

Di malam pekat itu, suara tersebut kembali terdengar.

Mereka datang… suara itu…

Kali ini aku bisa menangkap bahwa suara-suara itu berasal dari banyak orang.

Mendadak aku teringat rentetan peristiwa yang kualami sebelumnya.

Aku melihat ombak tinggi ditemani kilat yang susul-menyusul.  Saat itu aku dan beberapa rekan sejawatku sedang dalam perjalanan pulang setelah bertugas di satu tempat terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan kapal.

Nakhoda menyuruh kami berpegangan pada apa yang bisa kami temukan.

Namun badai terlalu kuat.  Satu-persatu aku melihat ombak menyapu penumpang kapal.

Aku mencoba bertahan, namun perjuanganku berakhir tatkala ombak tinggi akhirnya menggulung kapal yang kutumpangi.

Setelah itu semua gelap.

Aku tersentak!

Kenapa hanya aku yang selamat?

Di mana yang lain?

Nasta dan Andromeda–

Mereka bukan penumpang kapal itu!

Siapa mereka sebenarnya?

Dalam kebingunganku atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tak terjawab, kedua sosok itu muncul, masih dengan raut yang sama.  Andromeda dengan optimismenya sementara Nasta dengan kecemasannya.

Suara itu makin jelas terdengar, kali ini aku bahkan mendengar satu suara yang lain.

Suara dengan irama yang teratur.

Seperti satu dentaman lembut dan tanda kehidupan.

Seperti suara…

Jantung?

Sekarang aku tahu, suara itu berasal dari tengah pulau.  Tepatnya dari sebuah gua di tengah pulau.  Gua yang selama ini tak pernah aku masuki.

Nasta dan Andromeda menghampiriku.

“Aku… aku masih belum mengerti tentang kalian,” ujarku.

“Kau akan mengetahuinya segera,” jawab Andromeda.  Tangannya menunjuk ke arah gua.

“Kumohon,” Nasta mengiba, “tinggallah di sini.”

“Pergilah!” seru Andromeda.

“Jangan!” pinta Nasta.

Suara itu makin jelas terdengar.

Lalu entah mengapa kakiku berjalan dengan sendirinya ke arah sumber suara.

Aku menoleh pada mereka berdua.

“Fin!” seru Nasta.  “Tinggallah di sini bersama kami!”

“Kakiku melangkah sendiri!” balasku.  “Bukan aku yang menggerakkan kakiku!”

“Fin!” kali ini Andromeda berseru.  “Setelah kau memasuki gua, jangan menoleh ke belakang!  Mengerti?”

“Kenapa?” tanyaku.

“Kau mengerti?” Andromeda tak mempedulikan pertanyaanku.

“Aku mengerti,” sahutku sementara kakiku terus melangkah mendekati mulut gua.  “Tapi aku masih ada pertanyaan.  Kalian siapa dan apa aku masih bisa bertemu kalian kembali?”

Tak ada jawaban.

Aku mengulangi pertanyaanku namun masih tak ada jawaban sementara mulut gua tinggal beberapa langkah lagi.

“Aku–” aku bermaksud menoleh namun tepat pada saat itu ada satu tarikan kuat dari dalam gua.  Tubuhku tertarik masuk ke dalam pekatnya gua dengan kecepatan yang sama sekali tak bisa kubayangkan.

Aku menjerit!

Apa aku akan mati?

Ada setitik penyesalan dalam benakku.

Mati?

Seharusnya aku mengikuti saran Nasta!

Aku… aku takut!

Aku tak bisa menghitung berapa lama aku melesat ke dalam gua.  Setelah itu semuanya kembali sunyi.

Dan gelap.

Sangat gelap.

Dalam kegelapan itu, perlahan aku merasakan sesuatu yang lain.  Tubuhku terasa agak berat, begitu pula napasku.

Kegelapan yang menyelimutiku perlahan memudar, telingaku menangkap suara-suara yang beberapa diantaranya terdengar asing.

“Dok!  Dia sudah siuman!”

* * *

Dari keterangan petugas medis, aku ditemukan terdampar di pantai dalam kondisi koma.

Dan meski kecil harapan, sampai saat ini pihak berwenang masih melakukan pencarian terhadap beberapa rekanku yang belum ditemukan.

“Berapa lama saya koma?” tanyaku.

Petugas medis itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku, dan entah kenapa aku teringat pada Nasta dan Andromeda yang kutinggalkan ‘di sana’.

Siapa mereka?

Atau… mereka itu sebenarnya apa?

-Jakarta, 17 November 2018-

Catatan Penulis :

  1. Nasta berasal dari ‘Nastasija‘, goddess of sleep menurut legenda Rusia, sementara Andromeda adalah goddess of dream dalam mitologi Yunani (sumber http://www.godfinder.org/)
  2. Diambil dari bahasa Latin, lakuna berarti ruang yang kosong, bagian yang hilang.
  3. Dalam istilah kedokteran, lakuna adalah lekukan kecil, rongga di antara sel-sel atau lapisan.
Sumber Gambar: Pinterest

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Related Post

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: