Joker dan Omong Kosong “Orang Jahat Terlahir dari Orang Baik yang Tersakiti”

Akhirnya kesampaian juga nonton ‘Joker’ yang masih jadi hype meski sudah cukup lama diputar.  Di Jakarta, sampai tulisan ini dibuat masih ada 13 bioskop yang memutar ‘Joker’ dengan kursi yang tetap penuh.

Sejak pertama menonton trailer-nya di YouTube, saya memang sudah tertarik.

Pertama, karena shot-shotnya sinematik.

Kedua, pemilihan lagu lawas ‘Smile’ dari Nat King Cole sebagai lagu latar trailer.  Saya pribadi menyukai trailer yang antara lagu dan gambar seperti nggak nyambung. Di mata saya ada keindahan tersendiri dari trailer semacam itu.

Ketiga, sejak kecil saya lebih suka villain dibanding hero. Kebanyakan villain adalah orang-orang yang sifatnya dekat dengan keseharian kita, beda dengan hero yang seakan-akan jauh di awang-awang.

Oke, kembali ke topik.

Sinopsis

Dengan mengambil setting tahun 1981, Arthur Fleck adalah seorang pria lajang yang tinggal bersama ibunya, Penny di kota Gotham yang saat itu dilanda kerusuhan besar-besaran akibat kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Arthur adalah seorang yang mengidap kerusakan otak.  Yang khas, saraf tertawanya akan otomatis terpicu saat ia merasa tidak nyaman secara psikologis.  Di beberapa adegan, kita akan melihat Arthur berusaha sekuat tenaga menahan tertawanya, kadang bahkan dengan ekspresi wajah yang seperti menangis.

Sebuah ironi, tertawa dengan wajah menangis.

adegan yang memperlihatkan betapa tersiksanya arthur akibat kerusakan otak yang dideritanya menyebabkan saraf tertawanya terpicu otomatis (image: comicbook)

Arthur menjalani pengobatan, namun Gotham yang bangkrut pada akhirnya menghentikan layanan untuk orang-orang seperti Arthur.

“Mereka tidak peduli pada orang-orang sepertimu, Arthur,” ujar konselornya saat sesi terakhir pertemuan mereka.

“Bagaimana aku akan mendapatkan obatku?” keluh Arthur.

Dari sinilah kita akan mengikuti rangkaian peristiwa yang terjadi pada Arthur hingga akhirnya ia dikenal sebagai Joker – sampai sekarang.

122 Menit yang Mendebarkan

Jujur, sepanjang film saya berdebar menyaksikan segala tindakan Arthur.

Unpredictable.

Segala tindakannya nyaris tak terprediksi, atau setidaknya kita tahu ia akan melakukan apa namun kita masih tidak bisa menebak kapan ia akan melakukannya.

Di film ini kita juga akan menemukan beberapa hal yang tak terduga bahkan mungkin membingungkan seperti cerita Penny tentang ayah Arthur, misalnya.

Bahkan di sini kita akan mendapat gambaran lebih lengkap tentang Thomas Wayne.

adegan saat arthur fleck bertemu thomas wayne (image: cinemablend)

Selama ini yang kita tahu Thomas adalah ayah dari Bruce Wayne, orang terkaya di Gotham, memiliki rumah mewah Wayne Manor, dan tewas ditembak di gang gelap usai menonton pertunjukan.  Ia tewas bersama istrinya Martha dimana adegan memorable-nya adalah kalung mutiara sang istri hendak dirampas oleh penjahat.  Sekuat tenaga Martha berusaha mempertahankan kalungnya hingga pistol sang penjahat pun tak sengaja meletus.

Kematian Thomas dan Martha terjadi di depan mata Bruce Wayne yang saat itu masih bocah.  Di kemudian hari, Bruce menjelma menjadi vigilante pembasmi kejahatan dengan nama Batman.

Lantas, bagaimana gambaran tentang Thomas di film ‘Joker’?  Sila tonton filmnya hehe…

Kesimpulan Akhir

Sesuai judul tulisan saya, saya mempunyai penilaian sendiri tentang ‘Joker’.

Selama ini beredar banyak meme yang berbunyi ‘Orang jahat terlahir dari orang baik yang terus-menerus tersakiti’ lalu merujuk pada Joker.

Saya tidak sepakat.

Menurut saya, Joker lahir dari sistem pemerintahan yang korup dan gagal memanusiakan warganya.  Sejak awal sudah disinggung bahwa bangkrutnya Gotham menyebabkan terhentinya pendanaan bagi orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan seperti Arthur.

Kesenjangan antara si kaya dan si miskin juga menyebabkan warga Gotham akhirnya memusuhi orang-orang kaya.  Sepanjang film, saya bahkan bisa merasakan rasa sakit warga miskin Gotham saat menyaksikan orang-orang kayanya.

Hidup memang sebuah ironi.

Frustrasi masyarakat terhadap perilaku korup dan borjuis pada akhirnya membuat mereka menemukan sebuah simbol yang mampu melakukan apa saja tanpa takut, dan itu ada pada Arthur alias Joker.

Seperti kata-kata Arthur pada komedian Murray Franklin di televisi.

“Kau juga jahat.”

Overall, memang ada bagian mendasar yang terasa janggal.

Tapi, namanya juga film, nikmati saja alurnya.

Film ini luar biasa dari segala sisi; sinematografi, musik latar, tempo, penjiwaan, sampai plotnya.

Rasanya saya ingin menonton lagi film ini.

Dan ingat, Joker dasarnya sakit.  Dia bukanlah orang baik yang tersakiti.

Bagi pemerintahan oligarki dan korup, berhati-hatilah.  Joker adalah simbol perlawanan masyarakat pada sistem yang bobrok.

Tautan Luar:

  1. Joker, IMDb
  2. Official Site

Sumber Gambar: THRILLIST

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 140 views sejak dipublish

Leave a Reply

%d bloggers like this: