Jiwa-jiwa yang Malang

Lama baca: 6 menit

Sampai saat ini aku masih mengingatnya dengan jelas.

Bunyi itu.

Bunyi tubuh yang beradu dengan aspal, bunyi tulang-tulang yang berderak patah, juga bunyi tengkorak yang pecah dan menghamburkan isinya.

Aku juga masih bisa mengingat baunya.

Bau itu.

Bau darah kental berwarna merah kehitaman yang menggenang dan menyembur tak putus dari setiap urat yang terkoyak.

Aku masih mengingatnya.

Aku bahkan merasakannya.

Aku seharusnya sudah mati.

Tapi—

Beberapa jam yang lalu seharusnya menjadi akhir hidupku setelah aku tak kuat menanggung segala beban hidup.  Perusahaanku bangkrut, utangku menggunung, ditambah lagi istri keduaku malah meninggalkanku dan lari dengan laki-laki lain yang seusia dengannya.

Pandanganku tertutup berlembar-lembar kertas koran.

Maka aku pasti sudah masti.

Jatuh dengan kecepatan sepuluh meter per detik dari lantai sepuluh apartemen tempatku tinggal – yang sudah disita pengelola – seharusnya aku sudah mati lima detik setelah aku melompat.

Tapi kenapa aku masih bisa melihat dan mendengar semuanya?

Aaah!! Sakiit!

Aku bahkan masih merasakan sakit yang merayapi setiap milimeter bagian tubuhku.  Rasa sakit yang tak terperikan, rasa sakit yang tiada tara.

Aku meraung.

Tapi tak ada yang mempedulikanku.

Jadi, inikah mati?

Aku masih bisa melihat, masih bisa mendengar, masih bisa merasa, namun tak bisa bergerak?

Jika aku tahu akan seperti ini—

“Itu karena kau mati bunuh diri dan jasadmu belum dipindahkan dari sini,” tiba-tiba terdengar satu suara.

“Siapa?  Apa kau bicara denganku?” tanyaku sembari menahan sakit yang mengiris tubuhku.

“Memangnya dengan siapa lagi aku bicara?” balasnya.  “Kau akan terus begitu sampai tubuhmu dipindahkan dari sini.  Kau bisa melihat, mendengar, dan merasakan sakit, namun kau tak bisa bergerak.  Melihat kondisi tubuhmu saat ini, seharusnya rasa sakit yang kau rasakan lebih besar dari ini, tapi kau beruntung.”

“Beruntung bagaimana?” tanyaku.

“Sepertinya selama ini ada yang selalu mendoakan kebaikan untukmu.  Siapa?  Keluargamu, mungkin?  Kurasa pasti anak-anakmu.”

Aku tercekat.

Aku teringat anak-anakku, permata hatiku yang selalu menyambutku dengan tawa dan celotehan riuh saat aku pulang ke rumah usai bekerja keras merintis perusahaanku.  Mereka juga selalu berdoa sebelum aku berangkat bekerja.

Aku teringat kebahagiaanku saat itu.

Aku juga teringat istriku – istri pertamaku – yang berupaya mencari pinjaman kesana-kemari saat usahaku masih belum membuahkan hasil.  Aku juga tahu bahwa diam-diam istriku menjual semua perhiasannya untuk mendukung jalannya perusahaanku.

Istriku.  Anakku.  Keluargaku.

Aku menyesal, sangat menyesal.

Kenapa aku menyia-nyiakan mereka?

Mereka yang tulus mencintaiku…

Aku teringat setelah perusahaanku maju dan berkembang, aku mengenal seorang perempuan muda yang tentu saja lebih segala-galanya dibanding istriku di rumah.

“Aku cinta kamu, Mas, meski aku tahu kamu sudah berkeluarga,” suatu hari perempuan itu berkata padaku.  “Aku menerimamu apa adanya.”

Seperti tumbuhan kantong semar yang melumuri tubuhnya dengan perangkap lezat sekaligus mematikan bagi serangga, akupun sejenak menikmati letupan hasrat dan manisnya cinta darah muda sebelum akhirnya tubuhku dicernanya sedikit demi sedikit.

Aku menceraikan istriku dan meninggalkan rumah yang kami beli bersama.  Aku meninggalkan mereka dan memulai hidup baruku di apartemen ini.

Hingga saat ini.

Penyesalanku semakin memuncak saat teringat beberapa hari sebelumnya anak-anakku mengirim pesan penuh kerinduan padaku, ayah mereka.

“Ayah, kemarilah walau sebentar, jenguk kami walau sebentar.  Kami berdua kangen ayah.  Meski ayah sudah nggak di sini, kami masih selalu berdoa buat ayah.”

Aku menangis.

Aku menyesal.  Sangat menyesal.

Maafkan aku.

Kumohon maafkan ayah.

Aku menyesal sudah menyia-nyiakan kalian.

Aku—

Aku ingin hidup!

Aku ingin hidup lagi!

“Penyesalan selalu datang belakangan, bukan?”celetuk suara itu lagi.  “Tapi kau tidak sendiri, segera setelah tubuhmu dipindah, kau akan bisa bergerak.  Nah, itu tampaknya mereka datang.”

“Siapa?” aku masih terkungkung dalam penyesalan yang hebat.

“Orang-orang yang akan memindahkan tubuhmu.  Mereka sudah dekat, kau pasti bisa mendengar langkah kaki mereka.  Sebelumnya kau perlu tahu bahwa—“

“Baiklah, bisa suruh mereka lebih cepat?” potongku.  “Aku sudah—AAAARRGGGHH!  AAADUUH!!  SAKIIT!!!”

“Itu yang hendak kuberitahu padamu, proses ini akan sangat sakit.  Aku menyingkir dulu, tidak ada yang tahan dengan proses ini.”

“TU—TUNGG—HRRGHH!!  SAAKIIIT!!  SAKIT SEKALI!!”

Berikutnya aku hanya bisa meraung-raung, lalu segalanya menjadi gelap.

* * *

“Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” tanyaku.  Kini aku bisa melihat sosok yang sejak tadi bicara kepadaku.  Aku juga bisa bergerak meski masih ada sedikit rasa sakit di sekujur tubuhku.

“Kau sudah bisa bergerak, bukan?”

“Ya.”

“Baiklah, lalu bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

Aku memandang sekeliling.  Ternyata tempat ini penuh dengan sosok-sosok berkabut seperti kami.  Ya, dalam kondisi ini kami lebih menyerupai gumpalan asap.  Tak ada wajah, tak ada anggota tubuh.

“Mereka itu–?” tanyaku.

“Ya, mereka sama sepertimu, sama sepertiku.  Kita di sini semua sama.”

“Maksudmu?  Apa kau mati bunuh diri juga?”

“Ya, benar.  Kita semua di sini mati bunuh diri.”

“Bagaimana dengan mereka yang mati karena dibunuh?  Kecelakaan?  Sakit?  Usia tua?  Apakah mereka ada di sini?”

“Tentu saja tidak,” jawabnya.  “Mereka bahkan tak merasakan apa yang seperti kita alami.  Mereka sudah langsung dijemput saat tubuh fisiknya mengalami kematian.  Ini hukuman bagi kita,” lanjutnya.

“Hukuman?” tanyaku kembali.  “Hukuman apa?  Kenapa?”

“Jika kau beragama, kau pasti tahu bahwa agama melarang bunuh diri.”

“Ya, tapi, apa hubungannya?”

“Orang yang bunuh diri jiwanya tidak akan dijemput sebelum tiba waktu kematian yang sesungguhnya.”

Aku terpaku.  Semasa kecil aku memang sering diajari bahwa agama melarang kita bunuh diri, agama memerintahkan kita terus bersabar menjalani hidup.  Namun aku sama sekali tak menyangka bahwa apa yang diajarkan itu bukanlah dongeng semata.

“Jadi, Tuhan itu ada?” aku merasa putus asa dan terkungkung kembali dalam penyesalan.  “Lalu, sudah berapa lama kau di sini?”

“Kurang lebih enam puluh tahun,” jawabnya.  “Aku mati gantung diri di pohon itu saat usiaku masih lima belas tahun,” ia menunjuk sebuah pohon besar dengan daun-daunnya yang rindang.

“Lama sekali,” gumamku.  “Lalu, apa yang kau lakukan?”

“Tidak ada,” jawabnya.  “Yang bisa kulakukan hanya menunggu kapan aku dijemput.  Bahkan dalam wujud seperti inipun kita masih tidak tahu kapan kita akan mati.  Dan saat kematian menjemputmu, kau harus ada di tempat kematianmu atau mereka akan meninggalkanmu.”

“Aku tak mengerti,” ujarku sambil merasakan sakit yang saat ini kembali datang.  “Aduh!” seruku perlahan.

“Mereka sekarang pasti sedang mengurus jenazahmu, mungkin membersihkan bagian tubuhmu dari kotoran dan menjahit beberapa bagian tubuhmu agar – setidaknya – tersatukan saat diserahkan pada keluargamu.”

Keluarga?

Keluarga yang kutinggalkan.

Keluarga yang kusia-siakan.

Malah mereka yang akan menerimaku dan mengurusku hingga tubuhku dimakamkan.

Aku menyesal, sangat menyesal.

“Hei sudahlah,” tukasnya, “tak ada gunanya kau menyesal sekarang.  Ada hal penting yang perlu kuberitahu padamu dan ini sudah berlangsung lama.  Kau mati di sini, dan akulah yang terdekat dengan lokasi kematianmu, jadi aku HARUS memberitahu ini padamu.”

“Apa?  Memberitahu apa?”

“Selama waktu kematianmu yang sesungguhnya belum datang, kau akan terus di sini, di dunia, menunggu kapan mereka akan menjemputmu, dan kau tidak akan pernah tahu kapan mereka akan datang.  Kemudian satu yang harus kau ingat, kau harus ada di sini, di tempat kau melakukan bunuh diri, karena mereka akan menjemputmu di titik ini.  Bila kau tidak di sini saat itu, mereka akan meninggalkanmu.  Kaupun akan selamanya berada di dunia.”

Aku tercekat!

“Begitukah?”

“Ya.  Selain itu, kau mungkin akan beberapa kali terjebak dalam pusaran waktu.  Setiap ada orang yang menyebut namamu dengan kesedihan, kau akan mengulangi lagi bunuh dirimu, kau akan mengalami lagi rasa sakit itu.”

“B—benarkah?!” aku terkejut.  Hal ini sama sekali di luar dugaanku.

“Ya, karena itu berharaplah semoga keluargamu ikhlas dan tak sedih berkepanjangan akibat kematianmu.  Kesedihan mereka akan menyiksamu, kau tahu.”

Aku merasa gemetar dan takut.

“Dan jangan lupa, jika ada orang yang bunuh diri dekatmu dan mati, kau harus melakukan seperti apa yang kulakukan saat ini, memberitahu apa yang kuberitahu padamu saat ini.  Itulah aturan di sini.”

“Baiklah.”

* * *

Aku hitung sudah lima tahun aku bersamanya, sosok yang pertama kali kutemui saat aku mati bunuh diri.  Selama itu pula aku melihat apa yang dinamakan sebagai ‘kematian’ yaitu ketika jiwa-jiwa malang dan tersiksa seperti kami karena mati bunuh diri dijemput.

Beberapa kali pula aku melihat jiwa-jiwa yang ditinggalkan karena tidak berada di tempat saat kematian menjemput.  Jika sudah begitu, hanya raungan memilukan penuh penyesalan yang kudengar, kemudian jiwa-jiwa itu akan pergi mencari tubuh fisik yang baru seperti pohon, patung, lukisan, boneka, dan beberapa benda lain yang terbuat dari kayu atau dekat sumber air.

Setiap kali melihat jiwa-jiwa yang dijemput itu aku selalu bertanya,

“Kapan waktuku tiba?”

-Jakarta, 20 Desember 2019-

Sumber Gambar: TheSun

Tulisan Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 121 views sejak dipublish

Ada pendapat? Sila tulis di bawah sini

%d blogger menyukai ini: