Indonesia seperti Inikah yang Akan Kita Wariskan pada Anak-anak Kita?

Sembari menunggu renderan, saya berbincang dengan klien saya seputar wajah Indonesia di masa depan – sekitar 20 tahun lagi.  Pada intinya yang bersangkutan mengungkapkan kecemasannya akan masa depan Indonesia yang diwariskan generasinya pada anak-anaknya.

“Apa kamu nggak kasian nanti sama anak-anak kamu?” ungkapnya.

Dan perbincangan dengannya menyentak kesadaran saya tentang Indonesia seperti apa yang akan kita wariskan pada anak-anak kita.

Pasar Bebas ASEAN

Tahun 2015 ini ASEAN sudah memasuki fase Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).  Dengan kesepakatan ini, setiap produk barang dan jasa yang dihasilkan negara anggota ASEAN bebas diperdagangkan tanpa pengenaan pajak barang impor.

Mohon koreksinya jika saya salah.

Nah, selain perdagangan bebas produk dan jasa, MEA juga berlaku untuk kebebasan menempatkan tenaga kerja di negara anggota ASEAN.

Itu berarti tenaga kerja dari ASEAN bebas melenggang bekerja di negara Asia Tenggara termasuk ke Indonesia.

Di sini masalahnya.

Entah kenapa saya membayangkan akan menemukan wajah-wajah cantik non-Indonesia terutama dari Philippina, Thailand, Vietnam, dan negara-negara Indochina sebagai Customer Service, Marketing, dan di banyak posisi yang berhubungan dengan citra perusahaan.  Sementara untuk posisi yang sifatnya sedikit di belakang layar seperti programmer (IT) kemungkinan akan diisi oleh profesional muda dari Singapura.

spg mobil, bisa jadi kelak posisi mereka akan digantikan oleh pekerja asing, mungkin vietnam? (sumber : indonesiaautoshow.com)
spg mobil, bisa jadi kelak posisi mereka akan digantikan oleh pekerja asing, mungkin vietnam? (sumber : indonesiaautoshow.com)

Itu untuk level bawah dan menengah.  Bagaimana untuk level atas?

Jelas, posisi-posisi tersebut akan diisi lulusan universitas yang punya nama di kawasan.

Di sinikah posisi kita?

Tunggu, baca dulu poin berikutnya.

Pendidikan yang ‘Mempersiapkan’ Generasi Muda

“Sekarang saja uang masuk ke Perguruan Tinggi sudah segitu mahalnya,” cetus klien saya tersebut.  “Gimana nanti lima atau sepuluh tahun lagi?”

Saya tercenung sejenak dan teringat cerita kawan saya yang anaknya masuk Perguruan Tinggi.

“Mau kuliah aja uang masuknya 40 juta,” ujar kawan saya waktu itu.

Kembali ke klien saya, menurutnya liberalisasi dan komersialisasi sudah membuat pendidikan menjadi hal yang sulit dijangkau kebanyakan masyarakat – terutama untuk pendidikan tinggi.

“Sekolah dari SD sampai SMA memang murah bahkan gratis,” tuturnya.  “Tapi sudah, stop sampe di situ, sementara kuliah mahalnya bukan main.  Padahal itu (pendidikan tinggi) yang justru dibutuhkan untuk bersaing dengan pekerja-pekerja asing.”

Artinya?

Kita memang sudah di-setting.

Generasi muda Indonesia mendatang sudah dipersiapkan hanya untuk mengisi posisi paling bawah dari jenjang karir.

“Anak-anak kita sudah diset, diberi skill yang cukup sampai di situ saja,” tutur klien saya.  “Skill sekadarnya saja, asal bisa baca-tulis, ngoperasiin mesin, dan ngerti apa yang mereka (orang-orang asing) itu ucapkan.”

Lantas, di Mana Posisi Pekerja Lokal?

Selain menempati posisi paling bawah dari jenjang karir, kebanyakan generasi muda mendatang akan bekerja di sektor informal.

Saat ini saja secara halus sudah dilakukan upaya pengubahan mindset bahwa pendidikan formal itu tidak penting.  Pengubahan mindset itu dilakukan dengan mengangkat berita beralih profesinya seorang manajer menjadi driver ojek online misalnya, atau berita tertangkapnya seorang pengemis yang justru lebih mengulas kekayaan yang dimiliki si pengemis, pun juga pemelintiran makna atas ucapan seorang pengusaha terkenal yang punya ciri khas celana pendek.

Izinkan saya sedikit berbagi pendapat sbb:

Pendidikan formal memang belum tentu menjamin kesuksesan seseorang secara langsung.  Namun bukankah seseorang yang memiliki satu-dua gelar akademik berarti memiliki peluang karir yang lebih luas ketimbang yang tidak memiliki gelar?

Sekadar info saja, beberapa tahun lalu stasiun televisi masih mengutamakan pelamar yang memiliki pengalaman saat melakukan seleksi karyawan baru.  Namun saat ini sudah berubah, stasiun televisi sangat mengutamakan mereka yang memiliki gelar akademik (lulusan S1).  Dan pekerja-pekerja senior yang ‘hanya’ memiliki ijazah SMA, saat ini karirnya mentok di situ-situ saja.

Kembali ke klien saya.

“Kamu bayangkan nanti, kamu masuk satu kantor, yang bukain pintu satpamnya orang kita, kamu kencing, yang bersihin toiletnya orang kita.  Sementara resepsionis, sekretaris, dan lain-lainnya nanti diisi orang asing semua.”

Ia melanjutkan ucapannya,

“Kamu pulang, mau pesen taksi atau ojek pakai aplikasi apalah.  Drivernya orang mana?  Pasti orang kita.  Yang lebih ngerinya apa?  Kalau yang cowok kerjanya begitu (satpam, cleaning service, driver), sementara yang cewek nanti kerjanya di tempat hiburan macam diskotik dan karaoke.”

“Kok?” tanya saya.

“Ya mereka (orang asing) itu butuh hiburan, dan hiburan mereka itu diskotik karaoke dan semacamnya beda sama kita yang jalan-jalan ke pantai.  Untuk men-service orang-orang asing itu, tempat hiburan bakal makin banyak.  Dan siapa pekerjanya?  Ya pasti orang kita.  Jadi, di situlah nanti posisi anak-anak kita.”

Saya tertegun sembari berharap bahwa pesimisme klien saya itu tidak menjadi kenyataan, meski sejujurnya tanda-tanda ke arah sana sudah mulai jelas terasa.

semoga anak-anak kita tidak menjadi seperti ini (sumber : kicknews.today)
semoga anak-anak kita tidak menjadi seperti ini (sumber : kicknews.today)

Semoga tulisan saya kali ini ada hikmahnya, minimal bisa menjadi motivasi untuk kita mempersiapkan bekal yang terbaik untuk anak-anak kita.  Maaf bila ada hal-hal yang tidak berkenan di tulisan ini, saya tak bermaksud menyinggung siapapun.

Selamat siang!

Referensi :

  1. China Ramal Indonesia di Masa Depan Bakal Sejahtera http://international.sindonews.com/read/1012255/40/china-ramal-indonesia-di-masa-depan-bakal-sejahtera-1434180788
  2. Pilih Menjadi Pecundang atau Pemenang Pasar MEA http://www.kemenperin.go.id/artikel/9887/Pilih-Menjadi-Pecundang-atau-Pemenang-Pasar-MEA
  3. Apa itu Komersialisasi Pendidikan ? http://bem.polsri.ac.id/apa-itu-komersialisasi-pendidikan/
  4. Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec
  5. South East Asia, Ranking Web of Universities http://www.webometrics.info/en/Asia_Pacifico/South%20East%20Asia
Sumber gambar: kelaskita

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: