Impian yang Terempas: Andi

Lama baca: 5 menit

“Semua jadi tiga puluh delapan ribu empat ratus rupiah, Bu.”

Namaku Andi. Aku bekerja di sebuah minimarket sebagai kasir.

“Kembalinya enam ratus rupiah.  Terimakasih, Bu, ditunggu kedatangannya lain kali.”

Dua tahun lalu aku meninggalkan kampung halamanku – sebuah dusun di Jawa Barat – untuk mengadu nasib di ibukota.

“Selamat datang, Bapak.  Silakan.”

Aku masih ingat, waktu itu kantor demi kantor – baik besar maupun kecil – kudatangi dengan bekal ijazah SMK-ku, berharap setidaknya ada satu lowongan pekerjaan untukku.

Pekerjaan untuk mewujudkan impianku.

Impianku hanyalah impian sederhana, bekerja mengenakan pakaian rapi, sepatu mengkilap, dan dasi – seperti yang sering dilihat dan diceritakan Nisa tentang pria idamannya.

“Nisa pengen punya pacar seperti yang di sinetron itu, A,” ujarnya suatu hari padaku.

Impian Nisa adalah impianku.

Karena aku mencintainya, sangat mencintainya.

Dan kini, aku bekerja mengenakan seragam, meski tanpa dasi dan sepatu mengkilap.

***

“An, kamu dipanggil Pak Ian,” ujar Kak Tia, seorang gadis cantik berhijab rekan kerjaku.  Aku memanggilnya ‘Kak’ karena ia lebih dulu bekerja di sini meski kami lahir di bulan dan tahun yang sama.

“Sekarang, Kak?” tanyaku yang dibalas dengan anggukan.

Aku bergegas melangkahkan kaki menuju ruangan Pak Ian yang letaknya bersebelahan dengan gudang minimarket ini.

“Masuk,” sapa Pak Ian setelah kuketuk pintu ruangannya yang selalu terbuka.  “Duduk, Ndi,” lanjutnya.

“Bapak manggil saya?” tanyaku setelah duduk di hadapannya.  Ada semacam rasa cemas yang merayapiku.

“Ya,” jawab Pak Ian singkat sembari membetulkan kacamata dan dasinya.

Dasi…

Kapan aku bisa seperti Pak Ian?

Kerja pake dasi…

“Sudah berapa lama kamu kerja di sini?” suara Pak Ian menyadarkanku.  “Delapan bulan?  Sembilan bulan?”

“Awal bulan nanti pas sembilan bulan, Pak,” aku masih menebak-nebak ke mana arah pembicaraan ini sementara cemas yang kurasakan kini semakin besar.

Pak Ian mengangguk-angguk.

“Jadi, begini,” ujarnya pelan yang makin menambah kecemasanku.  “Sebelumnya saya benar-benar minta maaf.  Ini bukan kemauan saya, tapi permintaan langsung dari owner yang bermaksud melakukan efisiensi karena beberapa bulan ini pendapatan kita tidak sesuai target–“

Aku lemas.

Aku tak lagi memahami apa yang dikatakan Pak Ian.

Aku hanya tertunduk sembari memandang sepatuku, sepatu murah tak mengkilap namun menjadi saksi bisu perjuanganku selama ini.

Aku di-PHK.

***

Empat bulan berlalu sudah semenjak kontrak kerjaku diputus.

Aku masih bertahan tinggal di ibukota, mengandalkan uang tabungan yang sedianya akan kugunakan untuk meminang Nisa. Untuk menghemat pengeluaran, aku pindah ke kos yang lebih murah. Beberapa barang yang kumiliki juga sudah kujual.

Semuanya untuk satu tujuan.

Impian Nisa. Impianku.

Aku mengulang lagi perjuanganku dua tahun lalu, mengirim surat lamaran pekerjaan kesana-kemari dan mendatangi kantor demi kantor – baik besar maupun kecil.

“Gimana, Ndi?  Sudah ada kabar baik?” tanya Edi, sahabat sekaligus tetangga kosku.

Aku menggeleng pelan.

Edi tampak prihatin.

“Sabar aja.  Nyari pekerjaan sekarang ini memang tambah susah.”

Aku memperhatikan Edi yang sedang mempersiapkan perlengkapan kerjanya; sebuah radio tape murahan, kecrekan dari tutup botol, dan–

“Kalo lu mau, kita bareng aja,” kata Edi tiba-tiba.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Yah, kerja kaya’ gue gini.  Ngamen.  Muka lu bersih, pasti lebih gampang dapet duit, nanti hasilnya kita bagi dua.  Maaf, lho, Ndi.  Itu juga kalo lu mau.”

Aku terdiam.

“Lu nggak usah jawab sekarang, penawaran gue selalu terbuka.  Santai aja.  Dah ah, gue jalan dulu, ntar keburu banyak saingan.”

***

Hari demi hari berlalu.

Uang tabunganku makin menipis sementara surat lamaran yang kukirim belum ada satupun yang terjawab.

Aku cemas. Semakin cemas.

Aku yang sudah berhemat kini harus makin hemat. Setiap pagi sarapanku hanyalah sepotong roti yang kubeli di warung Ucok seharga dua ribu rupiah untuk sekadar meringankan rasa laparku. Siangnya aku membeli nasi di warung Mbak Darmi dengan siraman sedikit kuah sayur, tanpa lauk apapun.

Dengan uang yang tersisa, aku masih tak putus asa mengirim surat lamaran ke manapun. Berharap setidaknya ada satu titik terang buatku.

Demi impianku.

Impian Nisa. Impianku.

Aku harus dapat pekerjaan.

***

“Gue bawa makanan buat lu,” kata Edi sepulang ngamen.  Ia menenteng sebungkus makanan yang lalu diberikannya padaku.  “Nggak banyak nggak apa-apa, ya.  Soalnya Bang Udinnya bikin ini cuma buat ngabisin sisa nasi.”

Bungkusan itu masih panas. Wanginya menyeruak saat bungkusan tersebut kubuka.

Nasi goreng!

Aku termangu menatap gumpalan nasi panas berwarna kecoklatan yang dilengkapi telur mata sapi, potongan bawang dan mentimun, serta remukan kerupuk udang.

Nasi goreng…

Mataku kini terasa panas dan basah.

Bagiku sekarang, nasi goreng adalah makanan mewah.

“Terimakasih, Ed,” ujarku lirih lantas memasukkan sesendok demi sesendok makanan mewah itu ke dalam perutku.

Sahabatku ini hanya tersenyum.

“Jujur, gue antara kagum dan kasian sama lu.  Lu masih berkeras mencapai keinginan lu, apapun resikonya.  Kalo gue, asli gue udah lama nyerah.”

Aku kini tersenyum pahit memandang Edi. Sebungkus nasi goreng yang dibawanya membuatku mengambil keputusan.

“Aku udah nyerah, Ed.”

Edi memandangku tak percaya.

“Tapi…?” tanyanya keheranan.  “Impian lu?  Terus, lu mau ngapain?”

Aku memandang Edi dengan tatapan memohon.

“Penawaran lu yang waktu itu masih berlaku, kan?”

“Buat lu, masih.  Tapi lu serius?” Edi tak percaya.  “Lu yakin?”

Aku mengangguk.

“Yakin?” tegas Edi lagi.  “Beneran?”

Aku kembali mengangguk.

Impianku… selamat tinggal…

***

“Ya, selamat sore, Bapak, Ibu, Kakak semua,” sapaku pada kerumunan pengunjung kedai makan tersebut.

Tanpa membuang waktu, Edi segera memainkan musik dari radio tape murahannya, memperdengarkan lagu dangdut yang bahkan aku tak tahu judulnya.

Kami berdua – aku dan Edi – meliuk-liukkan tubuh mengikuti irama lagu, sesekali aku menampilkan gerakan vulgar dengan pakaian ketat yang membungkus seluruh tubuhku. Aku tak menghiraukan tatapan jijik, menghina, dan ketakutan dari beberapa pengunjung.

Aku hanya butuh uang. Uang. Tak peduli bagaimana caraku mendapatkannya atau bagaimana cara mereka memberikannya.

Sembari meliukkan tubuh diiringi musik dari radio tape dan kecrekan, aku menyorongkan bungkus kosong bekas permen ke pengunjung kedai, berharap selembar atau sekeping dua keping uang masuk ke dalamnya.

“Terimakasih, Bapak, Ibu, Kakak semua,” kami meninggalkan kedai tersebut dan pindah ke kedai berikutnya.  “I love you, mmmuaaah.”

Setelah beberapa lama menjalani profesi ini, aku mulai terbiasa dengan pakaian ketat, rok mini, sepatu hak tinggi, make-up, serta rambut dan bulu mata palsu.

Apa yang Edi katakan dulu benar, kulit dan wajahku yang bersih membuat sebagian orang kebingungan.

“Itu banci apa cewek beneran, sih?”

Pengamen banci.

Ya, inilah pekerjaanku sekarang.

Begitu sore tiba, aku dan Edi mengenakan pakaian wanita lalu berdandan semenor mungkin. Kami lalu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menampilkan liukan tubuh yang sesekali vulgar.

Semua demi uang.

Namun dalam hati kecilku masih ada sekeping harapan.

Impian Nisa. Impianku.

Akankah terwujud suatu hari nanti?

Sayup terdengar suara sekelompok pengamen melantunkan lagu karya Koes Plus.

♫ Why do you love me so sweet and tenderly

I’ll do everything to make you happy…♬

Aku tersenyum pahit.

-Jakarta, 14 Desember 2019-

Sumber Gambar: 123rf

Tulisan Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 151 views sejak dipublish

Ada pendapat? Sila tulis di bawah sini

%d blogger menyukai ini: