Gojek, Sang Perintis Ojek Modern

Go-Jek, yang Dicari yang Dicaci | Ryan Mintaraga
Go-Jek, yang Dicari yang Dicaci | Ryan Mintaraga

Daftar Isi

Lama baca: 3 menit

Halaman sebelumnya

GO-JEK Ditolak!

Belakangan ini media memuat maraknya aksi penolakan terhadap Go-Jek. Aksi tersebut dilakukan oleh ojek konvensional (opang alias ojek pangkalan) yang biasa mangkal di beberapa titik baik bisnis ataupun perumahan. Go-Jek dipandang bak pembunuh yang akan mematikan penghasilan mereka selama ini.

Penolakan terhadap Go-Jek tersebut bahkan sampai dimuat di media asing.

gojek dan grab bike dilarang keras mengambil penumpang (sumber: feed.id)
poster gojek dan grab bike dilarang masuk (sumber: feed.id)
spanduk bertuliskan ojek online dilarang ambil penumpang di perumahan ini (sumber: feed.id)

Aksi ojek pangkalan itu memantik reaksi keras di dunia maya. Netizen yang merasa terbantu dengan kehadiran Go-Jek dan punya pengalaman tidak enak dengan ojek pangkalan melontarkan kecamannya seperti di bawah ini:

“at least kita tau kan, sorry to say masyarakat kelas bawah yang ga mau berkembang sendiri,, slalu mau cepet and instan , susah dikit ngeluh. mereka pikir jadi org kaya gampang, untuk melangkah dari hal kecil soal gadget aja mereka malas… ckckc. bisanya salahin keadaan.. what the hell” (Me***a)

“malu mengakui kalo mereka buta gedget. masih aja pakai cara kuno tergilas jaman. malas putar otak akhirnya otot yg dipakai. nunggu berjam2 dapat 1 penumpang buat beli rokok terus pulang tidur, terus marah2 sama pemerintah krn penghasilan pas2an… perlu bedah otak” (Paul S***o)

” Memang tipikal orang pinggiran yg sudah pendidikannya rendah, minim kerja keras. Padahal sudah jelas masy ibukota mendukung keberadaan Go-Jek yg lebih secure dan terjamin kualitasnya krn ada autoritas perusahaan induk. Sebaiknya tkg ojek pangkalan dibekali dengan etika dulu sblm jd tkg ojek kalau ms” (Na***a)

“begitulah kalo iri, sirik, dan dengki membutakan hati dan pikiran. eaaaaa.. pretlah!” (le***tar)

GO-JEK vs Opang?

Mari kita pandang permasalahan di atas dari sudut pandang para opang.

Baca juga:  Waspada Penipuan Berkedok Investasi Titip Dana

Dengan jadi tukang ojek, nyata bahwa mereka bukanlah orang malas, mereka masih berupaya mengais rezeki halal. Mereka mencari rezeki halal di sektor informal sebab persaingan di sektor formal sudah terlalu ketat. Sebagian dari mereka bahkan menjadi ojek untuk mencari tambahan penghasilan sepulang kerja. Sangatlah nyata mereka bukan pemalas, mereka malah lebih rajin mencari uang dibanding kita.

Anggap saja mereka gaptek, lalu kenapa? Bukankah kita yang hidup lebih baik dari mereka pun terkadang masih gaptek?

Dari perspektif para opang, kehadiran Go-Jek bukan semata pertarungan sesama ojeker melainkan pertarungan antara si kecil melawan si besar, si lemah melawan si kuat. Ojek pangkalan hanya mengandalkan diri dan komunitasnya yang tersebar di beberapa titik untuk melawan Go-Jek yang dipayungi korporasi serta memiliki akses sumber daya dan ruang gerak yang nyaris tak terbatas. Ironisnya dalam pertarungan tak seimbang macam ini mereka akan kalah, terlindas dan remuk, kecuali bila mereka berpindah sisi memanfaatkan kekuatan lawan lalu menjadikan kekuatan tersebut sebagai bagian kekuatan diri.

Saya tidak memihak satu kubu baik Go-Jek maupun opang, masing-masing memiliki kepentingan yang wajib diakomodir, termasuk kepentingan si pengguna jasa. Solusi yang diambil untuk gesekan semacam ini mestilah win-win solution, pun disampaikan melalui pendekatan yang baik, tidak asal gebrak.

Memang perubahan positif pasti ada resistensi, itu normal.  Tapi kami dan driver kami akan selalu merangkul sesama ojek di jalanan.  Kami cinta indonesia, kami karya anak bangsa, kami ingin maju bersama dengan semua ojek yang jujur dan ingin bekerja keras,” pungkas Nadiem menyikapi konflik antara pihaknya dengan opang.

Halaman berikutnya: Seperti Apa Masa Depan Go-Jek?

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar