‘Flying Colors’, Kisah Nyata Murid Cantik & Bodoh Lolos ke Universitas Bergengsi

Flying Colors, Kisah Nyata Murid Cantik & Bodoh Lolos ke Universitas Bergengsi | Ryan Mintaraga (movieberry)
Flying Colors, Kisah Nyata Murid Cantik & Bodoh Lolos ke Universitas Bergengsi | Ryan Mintaraga (movieberry)
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp
Telegram

Daftar Isi

Lama baca: 4 menit

Saya penggemar film Jepang terutama yang ber-genre drama karena temanya kebanyakan sederhana dan relatif dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.  Dan salah satu film Jepang yang menurut saya luar biasa adalah Flying Colors produksi tahun 2015.  Menurut AsianWiki, Flying Colors diadaptasi dari novel karya Nobutaka Tsubota dan dibuat berdasarkan kisah nyata penulisnya, seorang tutor, guru bimbingan belajar.

Wow, film (dan novel) yang menakjubkan ini berdasarkan kisah nyata?

Menarik!

Flying Colors, Sinopsis

Kudo Sayaka (Kasumi Arimura) adalah seorang siswi SMU.  Di awal film diceritakan bahwa gadis tersebut sulit bergaul sejak kecil hingga akhirnya orang tuanya memutuskan untuk pindah sekolah setelah sebuah insiden.  Di sekolah barunya, Sayaka bertemu gadis-gadis yang kemudian menjadi teman sejatinya hingga mereka remaja.

Masalahnya adalah Sayaka dan teman-temannya menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang daripada belajar.  Gadis modis berambut pirang dengan rok pendek ini selalu mendapatkan nilai akademik terendah di kelasnya, satu hal yang sangat mengkhawatirkan – terutama untuk ibunya.  Hingga akhirnya sang ibu memutuskan untuk memasukkan putrinya itu ke sebuah tempat bimbingan belajar.

kudo sayaka (samodrounited.blogspot.com)
kudo sayaka (samodrounited.blogspot.com)

Inilah pertemuan pertama Sayaka dengan seseorang yang kelak mengubah hidupnya yaitu Tsubota Yoshitaka (Atsushi Ito).  Tsubota sensei, guru bimbingan belajar tersebut adalah orang yang selalu optimis dan percaya bahwa:

“Tidak ada anak murid yang bodoh, yang ada hanyalah guru yang tidak bisa mengajar muridnya”

Meski hasil tes awal menunjukkan kemampuan akademik Sayaka yang kelas 2 SMU itu setara dengan anak kelas 4 SD, Tsubota sensei tetap optimis.  Ia bahkan memberikan tantangan besar bagi Sayaka dan dirinya sendiri: tahun depan gadis itu harus lulus ujian masuk Universitas Keio di Tokyo (catatan: Sayaka sendiri dan keluarganya tidak tinggal di Tokyo).

Baca juga:  Cara Memainkan Game Wii Menggunakan Hardisk

Sebuah tantangan yang mustahil bagi seorang gadis yang nilai akademiknya selalu berada di urutan terbawah.

Akankah Sayaka dan Tsubota sensei berhasil?

sayaka dan tsubota sensei (shinokun.org)
sayaka dan tsubota sensei (shinokun.org)

Film yang Memotivasi

Terlepas dari endingnya, ini jelas merupakan film yang sangat memotivasi.

Seperti film drama Jepang umumnya, di sini kita melihat nilai-nilai kehidupan masyarakat Jepang.  Ada seorang ayah yang sangat terobsesi menjadikan putranya pemain baseball profesional dan berpartisipasi dalam Koshien (turnamen baseball bergengsi untuk siswa sekolah menengah di Jepang).  Ada seorang ibu yang percaya bahwa anaknya tidak seperti yang orang katakan, ada seorang guru yang berjuang keras agar anak didiknya bisa mewujudkan impiannya, ada pula sahabat yang selalu mendukung perjuangan seseorang.

sayaka dan keluarganya dalam flying colors (laeigafest.com)
sayaka dan keluarganya dalam flying colors (laeigafest.com)

Di awal tulisan, saya mengatakan bahwa film ini diadaptasi dari novel berdasarkan kisah nyata sang penulis.  Judul asli novel tersebut adalah Gakunen Biri no Gyaru ga 1 nen de Hensachi o 40 Agete Keio Daigaku ni Geneki Gokaku Shita Hanashi.

Haha, panjang ya?

Bahkan setelah di-Inggriskan pun judulnya masih panjang yaitu How A Teen Girl Went from Academic Absurdity to An Elite University in One Amazing Year.

Novel yang diterbitkan tahun 2013 oleh Kadokawa itu menceritakan perjuangan Kobayashi Sayaka (di film namanya berubah jadi Kudo Sayaka) bersama guru bimbingan belajarnya Tsubota Nobutaka (di film namanya berubah jadi Tsubota Yoshitaka) selama 1,5 tahun.  Dengan bantuan Google, saya akhirnya menemukan wajah si novelis sekaligus guru bimbingan belajar tersebut sbb:

sosok asli tsubota nobutaka, guru bimbingan belajar di film fying colors (owndays.com)
sosok asli tsubota nobutaka, guru bimbingan belajar di film fying colors (owndays.com)

Sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan profil Kobayashi Sayaka yang pernah menjadi muridnya.  Saya hanya menemukan satu twit dari akun @JapanFilmFest yang menyebutkan bahwa Kobayashi Sayaka berusia 26 di tahun 2015.

twit dari @japanfilmfest (screenshot)
twit dari @japanfilmfest (screenshot)

Twitnya dapat dilihat di sini.

Baca juga:  Joker dan Omong Kosong “Orang Jahat Terlahir dari Orang Baik yang Tersakiti”

Oke, kembali ke film.

Ada satu adegan dimana Sayaka berusaha keras membagi waktu antara belajar dan hepi-hepi dengan sahabat-sahabatnya.  Dia pun kelelahan.  Saking lelahnya, Sayaka beberapa kali tertidur saat sedang hepi-hepi dengan teman-temannnya.  Hal itu menyadarkan sahabat-sahabat Sayaka dan membuat mereka mengambil keputusan untuk sementara waktu menjauh dari gadis tersebut.

“Apakah kalian membenciku?” tanya Sayaka cemas sewaktu mendengar keputusan teman-temannya.

“Tentu tidak, bukan seperti itu.  Kami hanya ingin agar kau bisa meraih cita-citamu masuk Universitas Keio.  Kami tidak ingin kau gagal, kami juga ingin sepertimu, suatu saat menemukan tujuan.  Kamu keren!” ujar sahabat-sahabatnya, dan Sayaka pun menangis.

Ada juga adegan yang sangat menggelitik bahkan mungkin agak keterlaluan menurut budaya Indonesia.  Sayaka dan sahabat-sahabatnya bertaruh dengan guru sekolah Sayaka yang terus mengolok-oloknya bahwa mustahil Sayaka si siswi bodoh tersebut bisa lulus ujian masuk Universitas Keio.

Apa taruhannya?  Tonton saja sendiri hehehe…

Di IMDb, Flying Colors yang disutradarai Nobuhiro Doi dan berdurasi sekitar 117 menit ini mendapat rating 7.4.

Film ini juga memenangkan setidaknya dua penghargaan untuk kategori Newcomer of The Year di Award of The Japanese Academy 2015 yang disabet Kasumi Arimura sebagai aktris utama dan kategori Best Supporting Actress di Hochi Film Award 2015 yang jatuh pada Yo Yoshida, pemeran ibu Sayaka.

“Ini adalah jalan yang selalu kuperjuangkan dan kupercayai” (Tsubota sensei)

Nah, selamat menonton dan sebaiknya perhatikan bahwa beberapa pihak menempatkan Flying Colors ke film dengan batasan umur 15+, kemungkinan karena di awal film Sayaka tampil cukup seksi.

met nonton ya kak (flixwatch.co)
met nonton ya kak (flixwatch.co)

Referensi & Tautan Luar:

  1. Flying Colors, IMDb
  2. Universitas Keio, Wikipedia
  3. Koshien, Wikipedia
Baca juga:  10 Menit Memahami Alur Cerita "Westworld" Season 1

Video:

Sumber gambar: movieberry

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp
Telegram

Tinggalkan komentar