Di Ujung Ramadan

Di Ujung Ramadan | Ryan Mintaraga (Image: Pexels)
Di Ujung Ramadan | Ryan Mintaraga (Image: Pexels)

Lama baca: 5 menit

“Sudahlah, Bu, Ibu bukan ibu kandung saya.  Ibu bahkan tak tahu nama kecil saya.”

Mendengar ucapan Malik barusan, mata wanita tua itu membelalak, suaranya bergetar menahan marah.

“Beraninya kamu!  Aku bukan ibumu, katamu?!” sentak wanita tersebut.  “Kamu anak durhaka!”

Wanita tua berpakaian lusuh itu kemudian menengadahkan wajah dan mengangkat tangannya,

“Ya Tuhan!  Jika saja hamba tahu anak hamba akan berlaku seperti ini, lebih baik hamba dulu membuangnya ke tempat sampah.  Tuhan, aku mohon pada-Mu, berilah hukuman yang pantas buat anak durhaka ini!”

Malik masih acuh tak acuh menatap wanita tua tersebut.

“Sudah doanya, Bu?  Doa itu nggak akan mempan, toh saya bukan anak Ibu.”

Ia lalu memberi isyarat pada seorang anak buahnya,

“Kasih dia uang.”

Lima lembar uang seratus ribu diangsurkan ke tangan wanita tersebut yang dengan bergetar menerimanya

“Terima uang itu dan jangan lagi coba-coba mengaku saya sebagai anak Ibu,” kali ini terasa ada pancaran kemarahan dari sorot mata Malik, dan wanita itu merasakannya.

“Maafkan saya, Pak, Bu,” ujar wanita tua itu yang kemudian dengan langkah tertatih meninggalkan Malik diikuti tatapan semua orang yang ada di situ, termasuk Seruni – istri Malik.

Malik memandang istrinya dan menghela napas.

***

16 tahun lalu…

Tanpa sepengetahuan sang bunda, di suatu siang seorang bocah berusia 11 tahun melaksanakan niatnya merantau ke kota, dan hanya meninggalkan sepucuk surat.

Bunda,

Aku pergi sebentar, aku pasti pulang.

Doakan aku, Bunda.

***

7 tahun lalu…

Ini pertama kalinya pemuda itu kembali ke kampung halaman setelah bertahun-bertahun mencari peruntungan dari satu tempat ke tempat lain.

Baca juga:  Pusaran Takdir

Bermacam pekerjaan sudah dilakoninya hingga ia menetap di ibukota dan membuka usaha kecil-kecilan. Usahanya berkembang sehingga ia memiliki cukup uang untuk menjemput bundanya.

Namun apa yang ditemuinya sungguh di luar dugaan.

Rumah kecil tempat mereka tinggal sudah tak ada lagi, berganti pusat perbelanjaan megah.

Sia-sia ia mencoba mencari keberadaan sang bunda.

Bundanya bukanlah siapa-siapa, tiada orang yang mengenalnya.

Ia menyesal.

Sejak itu ia mengganti namanya menjadi Malik.

Dan setiap bulan Ramadan, Malik kembali ke kampung halamannya mencari keberadaan sang bunda – sampai sekarang.

***

Ramadan sudah di pengujung, dan seperti yang lalu-lalu, pencariannya harus diakhiri. Tepat setelah Ramadan berakhir, Malik harus kembali ke ibukota, kembali pada rutinitas hariannya sebagai seorang pengusaha.

Lelaki itu menghela napas.

“Bang,” terdengar sapaan halus Seruni.  “Kita cari Bunda lagi?”

Malik mengangguk.

“Tapi kali ini kita jalan kaki saja, nggak usah pakai mobil atau motor,” lanjut Seruni.

“Mana bisa kita ketemu Bunda kalau cuma jalan kaki?” tukas Malik gusar.

“Bang,” jawab Seruni sabar.  “Runi tahu Abang sudah bertahun-tahun berusaha mencari Bunda, tapi mungkin Abang selama ini kurang ikhlas nyari Bunda.”

“Maksudmu?” tanya Malik lagi.

“Bang, selama ini Abang selalu nyari dengan panik.  Abang punya target bahwa Bunda harus ketemu sebelum bulan Ramadan berakhir.  Karena itu Abang panik, Abang nggak tenang nyari Bunda.  Abang terburu-buru nyari Bunda.”

Malik tertegun.

Runi benar.

Selama ini aku seperti orang kesetanan, panik nyari kesana-kemari.

“Jadi, Runi pikir, biarlah hari ini kita coba menemukan Bunda dengan keikhlasan dan ketenangan hati Abang.  Insyaallah ada hasilnya, Bang.”

Hati Malik serasa disiram air yang menyejukkan mendengar perkataan istrinya barusan. Ia tersenyum dan menggenggam kedua tangan istrinya.

Baca juga:  Cerita Tengah Malam: 02.11

“Kamu benar.  Kamu benar, Dik.  Selama ini Abang kurang ikhlas nyari Bunda.  Runi, terima kasih, Abang sekarang sadar kesalahan Abang selama ini.”

Seruni balas tersenyum,

***

”Maaf ya, Dik.  Abang maksa kamu jalan jauh.  Kamu pasti capek.”

Malik dan Seruni dalam perjalanan kembali ke tempat mereka setelah berjalan kaki menelusuri jejak-jejak ingatan Malik pada bundanya.

“Nggak apa-apa, Bang,” jawab Seruni.  “Tapi Runi memang capek, kita istirahat dulu di sana sambil nunggu buka puasa,” lanjutnya menunjuk alun-alun dimana saat itu banyak orang sedang menunggu tibanya waktu berbuka puasa.

Malik mengangguk setuju.

“Sebentar ya, Bang, Runi pesan makanan sama minuman,” ujar Seruni setelah mereka berdua mendapat tempat.  Belum sempat Malik menjawab, Seruni sudah hilang di keramaian dengan tangkas.

Malik hanya tersenyum.

Bunda, seandainya Bunda tahu betapa baiknya istriku…

Beberapa menit kemudian ia mendengar suara istrinya,

“Ya, Bu.  Di sini.”

Ah, pesanan sudah datang.

Seorang wanita tua datang dan mengantar pesanan mereka.

Begitu melihat lengan wanita tersebut, ada desir halus dalam dada Malik.

Luka itu…

Ia teringat, bundanya memiliki luka yang sama.

Refleks, Malik menahan tangan wanita itu diikuti tatapan kaget Seruni dan si wanita tua pemilik tangan. Namun Malik tak peduli.

Kemudian, saat Malik menyentuh tangan tersebut, debaran di dadanya makin kuat.

Semakin kuat.

“Bunda…” panggilnya lirih.

Terdengar pekikan lirih usai Malik memanggil si wanita tua dengan sebutan ‘bunda’.

“Ka… Kamil?  Kamil?  Ini kamu?”

“Bunda… bunda…,” Malik mulai terisak.

Berikutnya lelaki ini bangkit dari duduknya dan bersimpuh memeluk kaki si wanita tua. Isakannya berubah menjadi tangisan.

Malik menangis tanpa peduli sekelilingnya.

“Bunda… bunda.  Ampuni aku, Bunda.”

Baca juga:  Suatu Hari di Tahun 2034

Wanita tua itu – sang bunda– tertunduk, dengan tangan bergetar ia mengusap kepala putra tunggalnya. Dua bulir air bening mengalir dari matanya.

“Kamil, anakku.  Anakku…”

Seruni menatap pertemuan indah ibu dan anak tersebut. Matanya basah namun bibirnya menyunggingkan senyum.

-Jakarta, 19 Mei 2020-

Catatan:

  1. Tulisan ini diikutkan dalam event ‘Fiksi Ramadan’ yang diselenggarakan Fiksiana Community, 2015.
  2. Tulisan ini terpilih untuk dibukukan dalam Antologi Cerita Mini Fiksi Ramadan yang diterbitkan Fiksiana Community dan Mata Pena Grup (Penerbit Jentera Pustaka), 2015.
Sumber Gambar: Vladyslav Dushenkovskyi (Pexels)

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com.  Copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengubah amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Bagikan Jika Artikel Ini Bermanfaat

Tinggalkan komentar