Cerita Tengah Malam: 24 Jam Terakhir

“Heh, sana, sana!  Kamu jangan ke sini!”

“Nak, kamu jangan main sama anak setan itu!  Sini!”

“Kamu!  Jangan deket-deket sama anakku!  Pergi!”

Seperti itulah hari-hari yang kujalani sejak aku mulai bisa mengingat.

Sedari kecil aku selalu bermain seorang diri tanpa kawan.

“Awas!  Anak itu pembawa sial!”

“Bocah pembawa kutukan!”

“Anak setan!  Jangan dekat-dekat!”

Namaku Indi, usiaku sekarang dua puluh delapan tahun.

Sejauh yang bisa kuingat, mereka melarang anak-anaknya bermain denganku.

Si pembawa sial…

Sejak kecil, aku hanya bisa melihat dari jauh teman-teman sebayaku bermain dengan riangnya.

Jika aku berani melangkahkan kaki untuk bermain bersama mereka, serentak para ibu akan menyeret anak-anaknya pulang.  Tak jarang para ayah atau nenek atau kakek akan memukul dan melempariku dengan apa saja yang bisa mereka temukan.  Tentu disertai makian dan umpatan.

“Pergi kamu!”

“Jauh-jauh dari sini!”

Terkadang aku menangis akibat perlakuan mereka terhadapku.  Jika sudah begitu raut wajah mereka berubah tegang.  Mereka saling pandang dan buru-buru meninggalkanku.

Sendirian.

Terkadang pula aku melihat raut tegang mereka saat aku menatap mereka.

Padahal aku tidak sedang memandang mereka.  Aku hanya memandang sesuatu yang hadir di dekat mereka, satu sosok pekat tanpa wajah yang hanya diam mematung.

Sosok yang bisa kulihat namun tak bisa mereka lihat.

Sosok yang hadir tepat dua puluh empat jam sebelum berakhirnya hidup orang yang didekati sosok tersebut.

* * *

“Indi, kamu nggak apa-apa ‘kan?”

Suara Igo menyadarkanku dari sepenggal kenangan masa kecilku, masa kecil yang sebenarnya ingin kukubur dalam-dalam, masa ketika aku dianggap sebagai bocah pembawa kutukan, bahwa siapapun yang aku pandangi pasti mati esok harinya.

“Lebih baik kamu istirahat dulu sebisamu,” ujar Igo lagi seraya matanya menatap lurus jalanan di depannya.

Aku tersenyum tipis.

Igo, lelaki kurus berkacamata ini adalah calon suamiku.  Kami mulai berkenalan 5 tahun lalu saat ia masih magang di Rumah Sakit Jiwa tempat ibuku dirawat.

Fitnah tentangku sebagai bocah pembawa kutukan menyebar cepat dari satu tempat ke tempat lain.  Entah sudah berapa kali aku dan ibuku diusir dari tempat kami tinggal, dan semua itu sungguh melukai hati ibuku hingga akhirnya pada suatu hari ia tidak ingat lagi siapa dirinya.

“Indi?” lagi-lagi Igo menegurku.

“Aku nggak apa-apa.  Aku hanya teringat masa laluku bersama Ibu,” jawabku sambil melirik ke belakang.

Ibu duduk dengan tenangnya di bangku belakang.  Matanya jelas menatap kami berdua.  Samar aku melihat mulutnya bergerak-gerak seperti mengatakan sesuatu, namun aku tak tahu apa yang ia bicarakan.

Ibu, apa yang kau katakan?

Selain mampu melihat sosok pekat tanpa wajah yang hanya diam mematung di dekat orang yang akan meninggal, aku juga bisa melihat sosok orang yang baru saja meninggal.  Hanya melihat.  Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.

Saat ini aku dan Igo dalam perjalanan ke Rumah Sakit setelah mereka memberi kabar meninggalnya ibu.

Kembali aku melihat mulut ibu bergerak seperti mengatakan sesuatu dengan raut wajah yang tampak sedih.

Dalam hatiku ada sedikit rasa kecewa.

Kenapa aku hanya bisa melihat?

Kenapa aku tidak bisa mendengarmu, Ibu?

Apa yang ingin kau sampaikan?

* * *

Dua puluh satu tahun lalu…

“Ayah!  Jangan!  Jangan kerja!” Aku merengek.

”Indi, kenapa?” tanya ayahku.  Dilepaskannya kembali topi satpam yang sudah dikenakannya lalu diletakkan di atas meja makan.

“Hari ini aku nggak mau Ayah kerja!” tangisku sambil memeluk erat pinggang Ayah.  “Please, Ayah.  Jangan kerja.”

“Kenapa?  Tumben nih?” goda Ayah.  Ia kini berlutut dan memandang wajahku.

Sebenarnya aku ingin menceritakan apa yang kulihat, tapi lidahku rasanya terkunci, yang bisa kulakukan hanya menangis dan memeluknya erat-erat.

“Ayah… jangan kerja… Ayah…” hanya itu yang bisa kukatakan.

Ayah tersenyum,

“Ya sudah, Ayah nggak kerja, tapi Ayah ke kantor dulu ngomong sama bos Ayah ya.”

Setelah menghapus airmataku lalu memeluk dan mencium keningku, Ayah mengenakan kembali topi satpamnya dan melangkah keluar – diikuti sosok pekat tanpa wajah tersebut.

* * *

Mobil yang dikemudikan Igo sebentar lagi keluar dari jalan bebas hambatan.

Dini hari seperti ini tak banyak kendaraan yang melintas.  Beberapa kali city car kami disalip kendaraan-kendaraan lain yang bergerak lebih cepat.  Dan saat disalip, mobil yang kami kendarai sedikit bergoyang, sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman.

Tapi ini lebih baik…

Aku teringat pernah melihat sosok-sosok pekat tersebut berada di sebuah bus yang penuh sesak.  Sosok-sosok itu berdiri mematung dekat setiap orang yang berada dalam bus tersebut.  Satu sosok untuk satu orang – termasuk anak-anak bahkan bayi, sebelum esoknya aku membaca berita kecelakaan antara sebuah bus dengan kereta.

Aku juga teringat pernah melihat sosok-sosok pekat tersebut mengikuti orang-orang yang memasuki terminal keberangkatan bandara, di restoran, ATM, bahkan di tempat wisata.

Aku melihat mereka di mana-mana.

“Sebentar lagi kita sampai,” tukas Igo tenang yang membawaku kembali dari ingatan-ingatan masa laluku.  “Aku selalu bersamamu, Indi.  Jangan cemas.”

Aku mengangguk.

“Igo, terima–”

Ketika melirik ke belakang, aku tercekat!

Aku tak mampu berkata-kata.

Kenapa?

Siapa?

SIAPA?!

Aku tak lagi melihat Ibu duduk di kursi belakang.  Sebagai gantinya, sekarang aku melihat satu sosok pekat tanpa wajah yang hanya diam mematung.

Sosok itu hanya ada satu!

Artinya akan ada sesuatu yang terjadi, dan salah satu dari kami tidak akan bertahan hidup selama dua puluh empat jam ke depan.

Jangan!

Kumohon jangan.

Tolong!

Tanpa sadar aku menangis.  Semula hanya berupa isakan, namun lama kelamaan berubah menjadi raungan kesedihan.

“Indi!  Indi!  Kamu kenapa?!” tanya Igo kuatir.

Aku tak mampu menjawab, aku hanya terus menangis.

“Indi!” teriak Igo lagi.

Tepat pada saat itu aku melihat sebuah mobil melayang keluar dari jalurnya setelah terpental menghantam pembatas jalan.

Mobil itu melayang ke arah kami.

-Jakarta, 28 November 2018-

Catatan penulis:

  1. Dalam novelnya yang berjudul “Insomnia“, novelis horor Stephen King melukiskan adanya tiga sosok berpenampilan badut yang menggunting tali kehidupan di atas kepala manusia.  Setelah tali ini digunting, manusia akan kehilangan energi hidupnya dan mati beberapa waktu kemudian.  Saya lupa cerita persisnya karena ini bacaan sekitar tahun 2003.
  2. Di kehidupan sehari-hari, kita mungkin kerap merasakan firasat bahwa orang terdekat kita – entah kenapa – tidak lama lagi akan meninggal dunia.  Firasat itu bisa berupa tindak-tanduk yang bersangkutan yang tidak seperti biasanya ataupun justru tindakan kita sendiri yang ‘tumben-tumbennya’.
  3. Beberapa waktu sebelum ibu meninggal, saya dua kali mimpi berada di liang lahat menyambut jenazah ibu saya – sesuatu yang pada akhirnya benar terjadi.
  4. Sila sharing jika ada pengalaman serupa.
Sumber gambar: Kiwi Report

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Related Post

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: