Aku Hanya Lapar

Aku berjalan terseok-seok.

Tubuh kurusku terasa lemah, sangat lemah.

Aku lapar!

Aku tak ingat sudah berapa lama perutku kosong.

Aku juga tak ingat berapa tempat yang sudah kudatangi, memohon belas kasih mereka untuk memberiku sedikit makanan.

Tapi mereka bergeming.

Beberapa bahkan mengusirku, tidak hanya dengan makian namun bahkan dengan tendangan seolah aku makhluk paling hina di bumi-Nya.

“Pergi sana!  Ntar dagangan gue diembat lagi sama lu!”

Semakin aku memohon, semakin garang mereka mengusirku.

Kenapa?

Kenapa mereka begitu kejam?

Aku… aku hanya lapar.

Kakiku makin lemah terasa, aku sudah tak kuat lagi melangkah.  Rasa perih di perutku semakin menjadi.

Aku lapar!

Di mana bisa kutemukan makanan?

Hari mulai gelap.

Aku tersungkur di sebuah rumah.

Jangankan berjalan, untuk bersuara pun aku sudah tak lagi mampu.

Lagipula buat apa?

Toh mereka juga tidak mengerti apa yang kukatakan.

Rumah ini harapan terakhirku.  Aku berharap pemiliknya membukakan pintu dan bersedia memberiku sedikit makanan, bahkan makanan sisa pun tak mengapa.

Aku menunggu.

Lama.

Rumah ini terlihat sangat sepi.

Keluarlah, tolong lihat aku!

Aku sangat membutuhkan makanan saat ini!

Dengan tenaga terakhir yang kumiliki, aku mencoba berbicara.

Namun semuanya sia-sia.  Jangankan pintu terbuka, suaraku benar-benar tak ada.  Telingaku sendiri tak mendengar suara yang keluar dari mulutku.

Tubuhku makin lemah, namun setidaknya rasa sakit di perutku mulai menghilang, berganti rasa kantuk yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Mungkin aku akan mati di sini.

Udara terasa makin dingin, langit makin gelap, begitu pula pandanganku.

Aku beringsut ke sudut rumah.

Setidaknya aku tidak mati di pasar atau di jalanan…

Aku tinggal menutup mata dan semuanya akan berakhir.

Aku tahu itu.

Mataku hampir tertutup seluruhnya saat kudengar suara mesin meraung keras kemudian berhenti.

Sekejap kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku – setidaknya, itulah yang ada di pikiranku.

“Ayah, ada kucing di sini,” terdengar sebuah suara.  “Sepertinya dia sakit, matanya sudah tertutup tapi perutnya masih bergerak.”

“Masih hidup,” terdengar suara yang lain.  “Mungkin dia lapar.  Bu, kita masih ada makanan?”

“Makanan?  Coba Ibu liat dulu.”

Aku sudah terlalu lemah untuk membuka mata.

Setelah terdengar beberapa suara gaduh, tak berapa lama indera penciumanku bekerja.

Aku mencium bau yang sangat aku impikan.

Tapi bagaimana mungkin?

Untuk sesaat aku merasa semua hanya ilusi.

Mungkin aku sudah mati.

Namun seiring dengan penciumanku yang bekerja, rasa sakit di perutku kembali, rasa sakit yang akhirnya memaksaku membuka mata dan bergerak.

Aku tak percaya apa kulihat!

Tampak sepotong ikan dan semangkuk kecil susu tergeletak di hadapanku.

Te… terimakasih!

Tak terasa airmataku mengalir.

“Ayah, kucingnya nangis.”

“Mungkin dia sudah kelaparan berhari-hari.”

Aku bahkan tak tahu mengapa airmataku mengalir.  Yang kutahu hanyalah rasa lapar di perutku.

Setelah segigit daging ikan dan sececap susu masuk ke perutku, aku kembali meringkuk di sudut rumah, merasakan kembalinya rasa hangat dan hawa kehidupan dalam tubuhku.

Aku tertidur.  Nyenyak.

-Jakarta, 25 November 2018-

Video anak kucing menangis ketika diberi makan:

Sumber gambar: CatatanRasa

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: