22 Foto Jakarta 2019, Jakarta yang Berubah

Saya termasuk orang yang lebih suka jalan kaki.  Sayangnya harus diakui kondisi Jakarta secara umum masih kurang mendukung pejalan kaki seperti saya.  Trotoar yang sempit bahkan di beberapa tempat tidak ada trotoar sama sekali, atau kondisi trotoar yang rusak membuat saya mengalah dan menggunakan kendaraan umum.

Dengan kondisi Jakarta yang seperti itu, toh saya pernah jalan kaki sejauh kurang lebih 3,5 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.  Sementara dalam sehari saya rata-rata menempuh jarak total sekitar 2 km dengan jumlah langkah tercatat 3.000.

Sebagai pejalan kaki, trotoar yang lebar dan nyaman adalah harapan saya, apalagi saya pernah beberapa kali ke Singapore dan merasakan nyamannya berjalan di trotoar negara tersebut bahkan saat terik sekalipun.

Saya pun pernah nyeletuk,

“Sebenarnya Jakarta kalo malam sudah persis Singapura.  Tinggal trotoarnya aja dilebarin.”

Saya bicara itu sekitar tahun 2011 saat melintas di sekitar Sarinah hari Minggu malam.

Siapa sangka beberapa tahun kemudian harapan saya akan trotoar yang lebar itu terwujud, meski baru di sebagian wilayah Jakarta.

Berawal dari Meeting

Besok kita meeting di FX, ya,” begitu pesan WhatsApp dari klien saya sekitar bulan Oktober 2019.

FX berlokasi di samping Gelora Senayan.  Terakhir saya ke sana bulan Februari 2018 waktu terlibat project Asian Games 2018 dengan INASGOC. Waktu itu kantor INASGOC masih jadi satu dengan kantor KOI di FX (masuk dari pintu samping) sebelum akhirnya pindah ke Wisma Serbaguna Senayan.

Kembali ke topik.

Karena cukup lama tidak menginjakkan kaki di Senayan, saya cukup terkejut dengan perubahan yang terpampang di depan mata.  Namun karena sedang buru-buru, waktu itu saya tidak sempat memotret.

Kebetulan November 2019 ini saya ada meeting di FX juga, kebetulan pula saya masih punya cukup waktu untuk memotret kondisi FX dan sekitarnya.

JPO yang Lebih Nyeni dan Ramah Difabel

Ungkapan “dari mata turun ke hati” tentu berlaku saat melihat jembatan penyeberangan (JPO) di sekitar FX.  Di mata saya, JPO itu bentuknya jadi lebih nyeni.  Bahasa kerennya ‘lebih artistik’ dengan tidak menggusur fungsinya sebagai jembatan penyeberangan.

desain jpo yang lebih artistik (dokpri)
interior jpo (dokpri)

Jika kita perhatikan, lantai JPO di kawasan ini seperti kayu. Apakah ini beneran kayu atau bahan keras lain yang dilapis kayu atau warna kayu, saya tidak tahu.  Tapi yang jelas, warnanya menarik.

lantai kayu terbuat dari kayu atau? (dokpri)

JPO yang saya lihat ini juga sudah mengakomodir kaum difabel dengan adanya Lift Prioritas yang beroperasi mulai pukul 08:00 hingga 20:00.

lift prioritas ramah difabel (dokpri)

Sayangnya meski sudah ditempeli stiker siapa saja yang berhak menggunakannya, satu-dua kali saya melihat orang-orang muda yang notabene masih sehat keluar-masuk Lift Prioritas JPO ini.

Ah, sudahlah, mungkin mereka… sila diisi sendiri.

Tambahan, seingat saya dulu akses JPO di kawasan ini masih berupa step (undakan), bukan landai seperti sekarang.

Halte Bus yang Tak Kumuh

Dulu, halte bus di pusat bisnis Jakarta ini terlihat kumuh.

Sekarang?

Begini penampakannya:

halte bus tampak luar (dokpri)
interior halte bus (dokpri)

Lebih bersih, lebih luas, atapnya pun lebih panjang. Saya yakin para pengguna kendaraan umum pasti ingat dengan halte yang dulunya kecil dan sepenuhnya tidak melindungi kita dari terpaan hujan. Semoga halte bus yang sekarang lebih melindungi.

Halte bus ini juga sudah menunjang akses bagi kaum difabel bahkan disediakan space khusus di dalam halte.

space khusus bagi kaum difabel (dokpri)

Di dalam halte juga dipajang informasi rute serta koneksinya dengan jalur MRT dan LRT.

informasi rute (dokpri)
informasi halte, rute dan jarak dengan halte terdekat (dokpri)
informasi halte, rute dan jarak dengan halte terdekat (dokpri)

Yang menarik, tadi sempat ada bus tingkat yang berhenti di halte.  Beberapa bule pun terlihat menaiki bus tersebut.  Hanya saja saya sungkan memotret orang yang tidak saya kenal, jadi tidak ada fotonya, harap maklum.

Sebagai penanda, bagian jalan di depan halte dicat merah dan diberi tulisan besar-besar ‘BUS STOP’.

bus stop sebagai penanda (dokpri)

Halaman berikutnya: Trotoar yang Lega & GrabWheels

Artikel Terkait

Dipublish pertama kali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diperbolehkan dengan mencantumkan lengkap alamat URL di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini. Disclaimer selengkapnya.

Artikel ini mendapat 176 views sejak dipublish

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: