[the game #11: kata sandi, lmgsecurity]

The Game #11: Kata Sandi

Cerita Sebelumnya:

Pertemuan dengan dua orang pemain The Game menguak rahasia menakutkan dari permainan daring tersebut.  Kedua pemain itu mengungkapkan bahwa mereka terlibat dalam aksi pemboman yang terjadi pagi sebelumnya dan bermaksud menyerahkan diri setelah tugas terakhir yaitu berfoto bersama seseorang di sebuah restoran.  Naas, sebelum hal itu terjadi, sebuah insiden terjadi, telepon genggam salah satu dari mereka meledak dan menewaskan pemiliknya.

Dalam kepanikan dan ketakutannya, Willy berpikir untuk menutup akunnya di permainan tersebut!

CHAPTER 11

Seperti kebiasaannya saat berkonsentrasi, Komisaris Besar Polisi Wisnu Prabowo mengembuskan asap dari rokok yang diisapnya sebelum ia membuang benda menyala tersebut ke lantai granit hotel yang menjadi insiden terjatuhnya seorang gadis dari lantai 17.  Seorang polisi muda berkulit putih menatap Wisnu lalu memandang puntung rokok yang dibuang atasannya itu.

“Pak,” tegurnya.

“Aduh, maaf.  Sudah kebiasaan,” Wisnu meringis lalu memungut kembali puntung yang baru saja dibuangnya.  Ia celingukan memandang sudut demi sudut kemudian tergopoh-gopoh menuju sebuah standing ashtray.  “Nah, sampai di mana tadi?” tanyanya setelah ia mematikan dan membuang rokoknya.

“Untung ini lantai, Pak, bukan karpet,” gumam anak buahnya sembari memperlihatkan sebuah telepon genggam yang sudah terbakar.  “Overheat.”

“Hm,” Wisnu mengerutkan kening.  “Kenapa bisa overheat?”

“Dugaan sementara karena kelebihan beban saat pengisian daya.  Telepon genggam ini dilengkapi fitur wireless charging sehingga tak perlu dicolok ke sumber listrik untuk mengisi ulang baterainya.  Malangnya, telepon genggam si korban terus mengisi walau dayanya sudah penuh.”

“Tapi bukankah telepon genggam masa kini sudah dilengkapi fitur pemutus arus saat baterai sudah penuh?” tanya Wisnu.

“Ya, Pak, seharusnya memang begitu,” anak buahnya mengangguk.  “Tapi kelihatannya pemutus arusnya tidak berfungsi, ditambah lagi pada saat itu telepon genggam sedang digunakan.  Dua faktor itu yang akhirnya menimbulkan panas berlebih sehingga benda ini meledak dan terbakar.  Ledakan itu membuat korban terlempar, limbung, kemudian menabrak pembatas dan jatuh dari ketinggian ini.”

Wisnu memandang ke atas.

“Ada keterangan dari saksi?  Teman korban?  Apa dia kenal si penelepon?” lanjutnya.

Anak buahnya menggeleng.

“Sejauh ini belum ada titik terang karena ia masih shock, namun dari ceritanya tadi, pada saat kejadian korban sedang menerima panggilan telepon yang berasal dari sebuah permainan daring.”

“Game online?” kening Wisnu berkerut.

“Benar, Pak.  Ketika saya tanyakan nomor si penelepon, ia hanya menggeleng sambil berulang-ulang mengatakan tidak tahu.  Seperti biasa, kita masih berharap adanya keterangan tambahan saat saksi sudah lebih tenang.”

Wisnu mengembuskan napas.

“Baiklah,” ujarnya seraya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.  “Semoga kita masih bisa mendapat data dari barang bukti ini,” lanjutnya memandang telepon genggam yang sudah rusak dan terbakar tersebut.  “Terutama catatan panggilannya.”

* * *

Jam menunjukkan pukul 01.45 dini hari.  Willy terbangun karena suara alarm yang berasal dari telepon genggamnya terdengar memekakkan telinga.  Dengan mata masih setengah terpejam, Willy meraih telepon genggamnya dan melakukan swipe halus di layarnya agar bunyi alarm berhenti.

Ia berusaha mengingat kapan dan untuk apa dirinya memasang alarm di jam ini.  Karena tak menemukan jawaban, ia menganggap pasti alarm itu terpasang secara tak sengaja – entah bagaimana caranya.

Willy menuju kamar mandi, dan pada saat itu komputernya tiba-tiba menyala sendiri.

Willy terpaku.

Untuk sejenak jantungnya berdebar kencang, baru kali ini ia melihat komputernya menyala sendiri.  Tengkuknya meremang dan sekujur bulu di setiap senti tubuh tegapnya berdiri.  Saat itu pikirannya mengatakan bahwa ini adalah kejadian mistis yang sulit dicerna akal.

Keheranannya kini semakin bertambah.

Setelah komputernya menyala dan memperdengarkan chime, layar menampilkan kotak dialog yang sama sekali tidak diduganya dan baru kali ini ia temui.

HALO, WILLY

MASUKKAN KATA SANDI : ?

Keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Willy, matanya nanar menatap layar yang menampilkan permintaan kata sandi.

Sejak kapan aku memasang kata sandi?

Tak putus asa, ia mencoba me-restart komputernya, namun hasilnya sama saja.  Ia juga mencoba menelepon beberapa teman yang menurutnya bisa membantu di pagi buta itu.  Namun setelah mengikuti saran yang diberikan teman-temannya, ia hanya menemui jalan buntu.  Layar komputernya tak berubah, tetap menampilkan permintaan kata sandi.

Willy terduduk lemas di depan komputernya.  Keringat semakin deras mengucur.  Seorang kawannya tadi mengemukakan kemungkinan komputer Willy terserang ransomware yaitu sebuah program jahat yang disusupkan untuk menginfeksi komputer korbannya.  Adapun modus operandi si penyerang adalah permintaan sejumlah uang elektronik sebagai tebusan agar komputer bisa diakses kembali.

“Biasanya jumlah yang diminta sekitar tiga hingga empat juta-an, tergantung nilai data yang ditaksir si penyerang,” tutur kawannya tadi melalui telepon.  “Aku sendiri tidak menyarankan kamu membayar tebusan itu.  Pembayaran yang kamu lakukan tidak menjamin datamu seratus persen bebas, bahkan si penyerang akhirnya tahu bahwa kamu orang yang mudah diperas.  Siapa bisa menjamin bahwa ia tidak akan menyerang lagi di lain waktu?  Kalau aku biasanya menginstal ulang komputerku dengan risiko kehilangan seluruh data yang tersimpan di dalamnya.”

Willy kalut.  Sebagai orang yang awam masalah komputer, ia sungguh tak tahu harus berbuat apa.

Dalam situasi seperti itu, telepon genggam Willy mendadak berbunyi dengan dering yang sama sekali berbeda dari biasanya.  Sebuah pesan singkat tampil di layar telepon genggamnya.

Halo Willy, kata sandi Anda adalah ]U:jp-(7`7qcY_2q

Masukkan kata sandi dalam 25 menit atau seluruh data Anda akan hilang.

Tidak ada informasi siapa pengirim pesan tersebut.  Tidak ada nama, tidak ada nomor.

Untuk beberapa saat lamanya Willy hanya memandangi layar telepon genggamnya.  Saat ini jelas baginya bahwa pesan tersebut ada hubungannya dengan komputernya yang barusan menyala sendiri dan menampilkan permintaan kata sandi.

Komputernya diretas!

Dan si pengirim pesan adalah orang yang sama yang sudah meretas komputernya.

Jangan-jangan dia juga yang pasang alarm.

Willy menduga si peretas sengaja membangunkannya dengan memasang alarm di telepon genggamnya, kemudian setelah tahu bahwa si pemilik telepon genggam sudah bangun, si peretas menjalankan aksinya menyalakan komputer.

Tapi…

Itu berarti telepon genggamku sudah diretas pula olehnya.

Lalu, apa lagi?

Apa lagi yang sudah diretasnya?

Berbagai pertanyaan dan kebimbangan menyergapnya.  Ia tahu saat dalam situasi seperti ini dirinya harus sangat berhati-hati.  Satu hal yang sudah jelas, komputer dan telepon genggamnya sudah diretas.  Dan pesan singkat tadi terlihat seperti sebuah pertolongan sekaligus ancaman baginya.

Menit demi menit berlalu, telepon genggamnya kembali berbunyi.

Halo Willy, kata sandi Anda adalah ]U:jp-(7`7qcY_2q

Masukkan kata sandi dalam 20 menit atau seluruh data Anda akan hilang.

Willy semakin kalut.  Ia merasa bahwa si pengirim pesan – siapapun dia – sudah mengirim teror bagi dirinya.  Jelas si pengirim pesan sangat lihai memainkan emosi korbannya dengan ancaman kehilangan data.

Kehilangan data adalah momok bagi setiap pemilik komputer di seluruh dunia meski data yang benar-benar penting dan perlu diselamatkan umumnya hanya menempati sebagian kecil dari space hard disk drive yang luasnya ratusan bahkan ribuan gigabyte.

Willy berusaha mengingat-ingat data penting apa saja yang tersimpan di komputernya saat pesan singkat itu kembali menerornya.  Ia kini punya waktu kurang dari lima belas menit untuk mengambil keputusan.  Willy merutuk dirinya sendiri yang hampir tak pernah membuat salinan atas data-data penting yang tersimpan di komputernya.  Kontrak kerja, jadwal, penawaran kerja sama, serta…

Anya.

Anya!

Dengan cepat Willy meraih telepon genggamnya kemudian menelepon Anya.  Ia tak yakin apakah asistennya itu memiliki salinan atas beberapa berkas penting, tapi tak ada salahnya mencoba.

“Pagi, Mas Willy,” sapa Anya dengan suara berat dari ujung telepon.  Sudah lumrah baginya menerima telepon dari bosnya di pagi buta seperti ini.

“Anya, langsung saja.  Aku ingin tahu apa kamu punya salinan kontrak kerjaku, proposal-proposal, jadwal kerja, dan lain-lainnya?  Soft copy atau hard copy?  Tolong jawab dengan cepat dan singkat.”

“Ada apa, Mas?”

“Sudahlah, jawab saja!” Willy tak sabar.

“Baik.  Sebelumnya Anya mohon maaf jika selama ini Anya lancang, Mas,” sang asisten menjawab dengan takut-takut.  “Anya akui memang selalu meminta copy untuk setiap surat, kontrak kerja, dan jadwal pekerjaan Mas Willy.  Anya akui Anya lancang, tapi sumpah, nggak ada maksud Anya untuk—“

“Genius!”

“Eh?” Anya kebingungan.  “Mas?”

“Kamu genius, Anya!” Willy berseru.  “Genius!  Kamu hebat!  Terima kasih!”

Anya sama sekali tak menduga reaksi Willy akan seperti ini.  Tadinya ia berpikir dirinya akan didamprat habis-habisan oleh bosnya lantaran tindakannya membuat salinan untuk setiap surat dan jadwal kerja Willy Batara.

“Hebat, Anya!” Willy memuji asistennya.  Ia kini tak perlu khawatir terhadap ancaman si pengirim pesan.

Hei, hacker.

Biar saja kau menghapus seluruh data di komputerku.

Kau kalah, Bung!

Kalah!

Tak lama setelah mengakhiri pembicaraan dengan Anya, telepon genggam Willy kembali berdering.  Pesan singkat itu lagi.

Halo Willy, kata sandi Anda adalah ]U:jp-(7`7qcY_2q

Masukkan kata sandi dalam 2 menit atau seluruh data Anda akan hilang.

Willy mendengus.

Siapa takut?

Kali ini tindakanmu sia-sia.

Aku tidak takut!

Tidak takut!!

(Bersambung)

Satu hal yang pasti, komputer bahkan telepon genggam Willy sudah dirertas?  Bagaimana bisa?  Kemudian, apakah Willy akan menuruti permintaan hacker yang sudah memerasnya?  Apa hubungan orang tersebut dengan permainan daring The Game?  Ikuti terus THE GAME.

THE GAME, terbit seminggu sekali di akhir pekan…

The Game #12: Pemerasan     |     The Game #1 : Penjudi Ulung

sumber gambar : lmgsecurity
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com dan murni merupakan karya fiksi.  Kesamaan nama, peristiwa, dan keberadaan beberapa entitas semata merupakan ketidaksengajaan.  copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.
138 orang sudah membaca tulisan ini

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: