Siap Menjadi Pengusaha : Sebelum Memulai Usaha

ilustrasi (sumber : hec.edu)
ilustrasi (sumber : hec.edu)

Tulisan ini dibuat bukan karena saya merasa diri sudah sukses menjalankan usaha karena toh nyatanya saya sedang terengah-engah dan harus bertahan menghadapi krisis yang sudah menerpa sejak Maret 2013 sampai saat posting ini ditulis.  Meski begitu, kondisi saya setidaknya masih lebih baik dibanding teman-teman sesama start-up yang sudah gulung tikar – bahkan masih lebih baik dibanding mentor saya yang saat ini menjual rumah dan ‘menyekolahkan’ mobilnya untuk membiayai operasional perusahaannya yang sejak September tahun lalu terus merugi.

Tulisan ini dibuat sebagai sharing pengalaman saya pada netter yang sudah memutuskan untuk mulai menjalankan sebuah usaha (milik sendiri tentunya, bukan milik orang lain).

Karena tulisan ini dibuat berdasar pengalaman, mungkin ada beberapa hal yang kurang tepat, sebab itu mohon koreksi dan bimbingannya – terutama dari netter yang sudah jauh lebih berpengalaman.  Sekadar catatan, di kuadran ini saya belum termasuk Pengusaha Kecil meski Alhamdulillah sudah lulus dari kelas Mikro hehehe…

Siap?

Memilih Bidang Usaha

Sejak usia 22 tahun saya memang sudah bercita-cita memiliki sebuah usaha di usia 40 tahun karena saya berkeyakinan tidak mungkin kita selamanya akan menjadi pekerja.  Hanya saja waktu itu saya belum memutuskan apa bidang usaha yang akan saya tekuni.

Kira-kira di usia 30-an tahun saya menemui adanya dua pendapat yang berbeda.  Salah seorang sahabat (yang belakangan menjadi klien saya) mengatakan bahwa :

Orang mengenal kamu sebagai editor.  Ryan itu Editor Handal, manfaatkan image orang tentang kamu.  Bikin dulu usaha yang sesuai dengan image orang tentang kamu yaitu usaha video editing.  Perkara bahwa kamu juga bisa web desain atau fotografi, itu bisa pelan-pelan kamu kenalkan ke klien.

Tapi mentor saya, seorang yang lebih muda dari saya (dan ybs saat ini menjalankan lima perusahaan) punya pendapat berbeda :

Yang disebut pengusaha adalah orang yang mampu menjalankan usaha di bidang yang awalnya tidak (belum) dikuasainya.

Kedua pendapat itu sama-sama masuk akal.

Sisi positif dari pendapat pertama adalah usaha kita akan langsung berjalan, dan bisa jadi beberapa orang sudah akan langsung percaya pada kualitas kita karena personal branding yang kita miliki.  Namun sisi negatifnya adalah relasi kita kemungkinan masih di seputaran itu-itu saja dan kemungkinan usaha kita relatif lambat berkembang, apalagi jika dunia yang kita masuki sudah diisi banyak pemain.

Sementara jika mengikuti pendapat kedua, kita akan mendapat lingkungan, relasi, dan peluang di dunia asing yang baru kita masuki.  Hal-hal ini setidaknya akan menambah wawasan kita.  Namun hal terburuknya, harga untuk mendapatkan semua ini bisa sangat mahal – bahkan usaha yang kita jalankan bisa menjadi taruhannya.

Tentu saja yang ideal adalah kita menjalankan keduanya, namun sampai saat ini saya masih fokus menjalankan pendapat pertama meskipun sudah mulai berpikir untuk menjalankan pendapat kedua.

Permodalan

Ini yang biasanya menjadi masalah terbesar sebelum memulai menjalankan usaha.  Menurut pengalaman saya, ada tiga pilihan untuk urusan permodalan ini dengan segala keuntungan dan konsekuensinya.

  1. 100% modal sendiri
  2. Join dengan orang lain
  3. Modal berasal dari pihak lain (investor baik pribadi maupun lembaga keuangan)

Jika memilih pilihan pertama, beban kita dalam menjalankan usaha terasa lebih ringan karena tidak ‘terbebani’ dengan urusan pengembalian dana orang lain yang kita ‘pinjam’ – pun seluruh laba (atau rugi) usaha akan kita tanggung sepenuhnya tanpa harus dibagi dengan orang lain.

Konsekuensinya adalah, pengembangan usaha mungkin akan berjalan lambat, tergantung besarnya modal yang kita tanamkan – berbeda jika kita mengambil pilihan kedua atau ketiga, pengembangan usaha mungkin akan berjalan lebih cepat (asalkan kita mendapat partner dan/atau investor yang tepat dan kuat) sehingga kita berpotensi mendapat klien-klien besar.

Sekadar sharing, waktu itu saya dan istri memutuskan untuk memilih pilihan pertama dan ‘hanya’ mengeluarkan modal sekitar Rp 25.000.000 untuk membeli satu buah kamera video (untuk disewakan), satu set komputer editing sederhana, dan satu buah handycam untuk proses capturing.  Waktu itu (tahun 2010) kegiatan usaha masih numpang di salah satu kamar di rumah yang saya tempati.  Alhamdulillah dua tahun kemudian ‘kantor’ saya bisa pindah ke sebuah rumah (meski masih kurang representatif), menambah 2 set komputer termasuk menambah 2 orang asisten.

Pricing

Pricing alias Penentuan Harga merupakan masalah rumit.  Tantangannya adalah bagaimana menentukan harga yang bersifat ‘win-win solution’; klien mendapat harga bagus sementara kita juga untung.

Menurut pengamatan di lingkungan saya, banyak start-up yang dalam menentukan harga jual hanya berpatokan pada “pokoknya harus lebih murah dari pesaing” tanpa mengetahui faktor-faktornya.  Saya sendiri sering di’komplain’ beberapa klien yang secara implisit mengatakan bahwa harga yang saya minta termasuk mahal.  Namun ketika saya menguraikan faktor-faktor yang menjadi komponen harga, biasanya mereka mengerti – intinya sebenarnya ada pada kemampuan kita menjelaskan kenapa kita mengajukan harga sebesar itu.

Adapun menurut saya faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual produk kita adalah :

  1. Harga bahan baku dan/atau bahan pendukung,
  2. Ongkos untuk mendatangkan bahan baku dan/atau bahan pendukung,
  3. Biaya tidak langsung dalam proses pengerjaan (listrik, karyawan, maintenance mesin, dsb),
  4. Biaya lain-lain (delivery ke tempat klien, misalnya),
  5. Margin keuntungan yang kita inginkan.

Jadi saya tidak asal saja dalam menentukan besaran harga.  Dengan patokan tersebut juga saya masih bisa menerima pekerjaan yang budget-nya ‘di bawah standar’ – tentu saya juga menjelaskan konsekuensinya pada klien – bukan pada kualitas pekerjaan, melainkan lebih pada pengemasan yang bakal dia terima.

Itulah sebagian sharing saya soal dunia usaha – khususnya hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai usaha.  Masih ada hal-hal lain yang akan saya sharing berdasarkan pengalaman pribadi.  Sekali lagi mohon maaf apabila ada hal yang tidak berkenan, saya tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi pengalaman.  Mohon koreksinya juga apabila ada hal yang kurang tepat.

Semoga bermanfaat!

Tulisan ini dipublish pertamakali di www.kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini
75 orang sudah membaca tulisan ini

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: