sumber: physics-astronomy

Perjalanan Melintas Waktu

Tahun 1935, Albert Einstein dan Nathan Rosen merumuskan bahwa struktur ruang-waktu yang melengkung bisa menghubungkan dua wilayah dari ruang-waktu yang jauh, melalui suatu bentuk serupa lorong sebagai jalan pintas dalam ruang.  Dengan menggunakan teori Relativitas Umum, Einstein mengusulkan adanya jembatan melalui ruang-waktu yang di kemudian hari dikenal sebagai ‘Jembatan Einstein-Rosen’ atau ‘Lubang Cacing’ atau ‘Wormhole’.  Jembatan ini menghubungkan dua titik yang berbeda dalam ruang-waktu dan secara teoretis membuat jalan pintas yang bisa mengurangi waktu tempuh dan jarak.

* * *

Aku menggerakkan wormhole finder-ku ke segala arah, mencari kemungkinan ditemukannya lubang cacing yang lebih baik.

“Bagaimana?” terdengar satu suara di sebelahku, suaranya terdengar penuh harapan sekaligus putus asa.

“Sejauh ini belum ada lagi yang lebih baik,” aku menghela napas dan mematikan finder sejenak setelah menyimpan koordinat lubang cacing yang barusan aku temukan.  “Kebanyakan yang ada di daerah ini adalah wormhole tipe W.”  Tipe W adalah lubang cacing dimana jarak dan waktu yang diperlukan untuk melewatinya malahan lebih jauh dan lama ketimbang jarak dan waktu yang dituju.  Berbeda dengan apa yang sering kita tonton di film-film fiksi ilmiah dimana perjalanan ruang-waktu dapat ditempuh dalam waktu singkat, pada kenyataannya untuk melintasi lubang cacing tetap ada jarak dan waktu yang berbeda-beda.

Namaku Kevin Strachan.

Pada tahun 2400 disepakati bahwa tahun itu disebut sebagai tahun 0, tahun pembangunan kembali peradaban setelah 9 tahun sebelumnya Bumi dihantam komet raksasa yang menghancurkan sebagian besar peradabannya.  Aku sendiri lahir 940 tahun setelah tahun 0.

Hari ke-184 di tahun 962, hari itu hari pertamaku bekerja di departemen sains sebuah universitas ternama, aku bersama Eva Rosenberg kolegaku sedang berada di dalam mesin tua penjelajah waktu saat sebuah insiden terjadi.

Sebelumnya perlu aku ceritakan bahwa penjelajahan waktu menjadi hal yang biasa dilakukan – bahkan oleh anak-anak sekolah sekalipun.

Penjelajahan jarak pendek tentunya, aku kembali menghela napas.

Jika saja tidak ada insiden itu.

Saat kami sedang berada di dalam mesin, terjadi gangguan medan magnet yang menyebabkan mesin tidak bisa dikendalikan, akibatnya kami terkatung-katung di dalam wormhole selama beberapa jam sebelum akhirnya mendarat di tempat pertama, Bumi tahun 1928.

Saat ini kami berada di tahun 1970 setelah tiga kali mencoba melewati lubang cacing untuk kembali ke waktu asal kami.

“Sudah tiga kali, Kev,” ujar Eva dengan suara tertahan.  “Tiga kali dan kita masih sangat jauh dari rumah.”

Aku masih terdiam dan memandang langit yang warnanya jauh berbeda dengan langit di masa kami.  Di sini, di masa ini, langit berwarna biru indah, sungguh kontras dengan langit yang selalu berwarna gelap di tempat dan waktu asal kami, tak peduli pagi, siang, sore, atau malam.  Karena itu di setiap area berpenghuni dibangunlah kubah raksasa yang akan mencitrakan warna langit sesuai waktunya; biru, jingga, putih, dan hitam.

“Entah apakah kita bisa pulang,” gumamku.  “Kita sudah menghabiskan 1 tahun dalam wormhole dan mendapat 42 tahun perjalanan.”

“Secara logis aku berpikiran sama denganmu,” tutur Eva.  “Jarak dari sini ke masa kita terlalu jauh.  Masih ada jarak 1.392 tahun lagi.  Jika wormhole yang kita temukan terus seperti tadi tipenya, perlu waktu sekitar 32 tahun perjalanan lagi.”

Kami saling pandang.

“Saat itu usia kita sudah 55 tahun.”

“Layak dicoba,” sahutku.  “Maksudku, perjalanan 32 tahun itu.”

“Ya, dan begitu kita datang, universitas akan langsung memberikan surat pensiun,” balas Eva diikuti tawa kecil dan getir kami berdua.

Karena ini adalah mesin tua bahkan tercatat sebagai mesin penjelajah waktu yang pertama kali dibuat manusia, perlu waktu setidaknya 13 jam untuk mengisi ulang dayanya – berbeda dengan mesin di masa kami yang hanya perlu waktu 2 jam.

“Hebatnya mesin ini, dia mampu mendarat di tempat yang tidak banyak penduduknya,” aku menepuk bodi mesin yang masih terbuat dari zirconium berlapis boron.

“Kalkulasi logis,” balas Eva.  “Wormhole lebih mudah ditemukan di daerah berpenduduk jarang.  Sejauh ini hanya satu wormhole yang ditemukan berada di daerah padat penduduk di… sebentar… di mana ya?”  Eva mengakses komputer genggamnya mencari informasi tentang keberadaan lubang cacing di daerah padat penduduk.

“Jangan bilang itu Diagon Alley di London,” potongku.  “Tempat itu hanya ada dalam manuskrip purba tentang kisah Harry Potter.”

“Aku tahu,” balas Eva.  “Merujuk pada manuskrip yang ditemukan, aku yakin Diagon Alley adalah wormhole tipe Q, itu hanya jalan pintas menuju ruang lain di waktu yang sama.”

“Dunia paralel?”

“Kira-kira begitu.”

Aku kembali memandang langit.

* * *

Pemberhentian kami berikutnya adalah tahun 2018.

“Aku merasa letih, Kev.”

Aku hanya diam.  Sesungguhnya akupun merasa letih, sama seperti Eva.  Selama ini kami terus-menerus melakukan perjalanan melintas waktu – nyaris tanpa istirahat.

“Apakah kita terkena radiasi?” tanya Eva kembali.

“Eva,” ujarku pelan.  Meski dilapisi boron sebagai antiradiasi, tetap saja mesin ini berteknologi kuno.  Mesin tua yang masih bisa berfungsi dengan baik saja sudah merupakan keajaiban.

Aku memandang Eva.  Di usianya yang ke-24 saat ini ia terlihat sedikit lebih tua.

“Mungkin ini hanya perasaanku,” gumam Eva, “tapi kau terlihat sedikit lebih tua, Kev.  Dan aku yakin aku juga terlihat lebih tua.”

Aku turun dari mesin dan menggerakkan finder ke segala arah seperti yang biasa aku lakukan selama ini.

“Hei!” aku bersorak, lupa akan segala keletihan yang sebelumnya kurasakan.  “Eva!  Aku menemukan tipe A!  Tipe A, Eva!  Bisakah kau menghitungnya?”

* * *

Saat ini kami sudah berada dalam lubang cacing.  Menurut perhitungan Eva, perjalanan ini akan membawa kami ke tahun 2281 dan akan menjadi perjalanan terjauh yang berhasil kami capai.

Namun dalam hati aku merasa sangat cemas.

Kondisi Eva terlihat terus menurun.  Beberapa kali ia kehilangan kesadaran dan mengeluh sakit kepala.

“Aku tak kuat lagi, Kev,” keluhnya suatu ketika.  “Berapa lama lagi kita di sini?”

“Bertahanlah, Eva,” hanya itu yang bisa kukatakan.

“Kev, aku tak kuat.”

“Bertahanlah, Eva, berta…”

Saat itu aku melihat darah mengucur dari hidung Eva.  Kondisinya jauh lebih parah dari dugaanku.

“EVA!”

Tanpa pikir panjang aku menghentikan mesin.  Terdengar desisan berirama, kadang panjang kadang pendek, mesin pun mulai bergetar menyesuaikan kecepatannya untuk keluar dari lubang cacing.  Proses ini akan diakhiri suara letupan menandakan mesin keluar dari lubang cacing diikuti debuman ringan.

Aku melirik angka yang ditunjukkan; 2191.

“Eva!” seruku.  “EVA!”

Tahun itu menjadi akhir perjalanan kami berdua.

* * *

Empat puluh delapan tahun berlalu semenjak peristiwa tersebut.  Aku kini berusia 72 tahun, tubuhku semakin lemah dan rapuh, apalagi semenjak Eva meninggalkanku dua tahun lalu.

“Maafkan aku, Kev,” bisiknya saat tarikan napas terakhir.  “Maafkan aku.”

Aku memandang langit.

Warna langit di sini sudah tidak jauh berbeda dengan langit di tempat asal kita, Eva, kau tahu itu.  Meski kita masih jauh dari rumah, aku bahagia bersamamu.  Terima kasih untuk apa yang sudah kau berikan selama ini padaku.

Sekarang, sebelum waktuku berakhir, ada satu hal yang ingin kulakukan.

Aku mengeluarkan finder yang selama ini kusimpan baik-baik.  Salah satu kemampuan mesin waktu adalah adanya moda stealth yang membuat mesin ‘menyamar’ dengan lingkungan sekitar, persis seperti bunglon.  Selama dalam penyamaran, mesin tidak aktif dan hanya finder yang bisa mengaktifkannya.

Seharusnya ada di sini, pikirku.

Dengan menekan kombinasi tombol pada finder, di hadapanku kini nampak mesin tua yang usianya kini makin tua.

“Halo, sobat,” sapaku lirih.  “Kita berjumpa lagi.  Kali ini kita akan berjalan-jalan untuk terakhir kalinya.”

* * *

Tahun 1927 di sebuah gurun pasir ditemukan satu kapsul misterius terbuat dari logam yang teknologi pembuatannya belum dikenal pada masa tersebut.  Kapsul misterius itu baru bisa dibuka tiga tahun kemudian dan di dalamnya ditemukan jasad yang tak diragukan lagi adalah jasad manusia.

Penemuan kapsul itu saja sudah merupakan hal besar, terlebih di dekat jasad tersebut ditemukan catatan yang belakangan diketahui merupakan prinsip dasar wormhole dan penjelajahan waktu.

“Mungkin dia penjelajah waktu yang tersesat?  Apa pendapatmu, Albert?” gumam seorang pria berseragam militer berpangkat tinggi.

“Sepertinya dia tahu apa yang dia lakukan, Jenderal,” sahut seorang lagi yang dipanggil Albert, seorang ilmuwan dengan rambut acak-acakan dan kacamata yang berkali-kali turun ke hidungnya.

Albert memperlihatkan secarik kertas.

“Aku sengaja memasuki wormhole tipe X, tipe yang misterius dan tidak bisa dipastikan ke mana arahnya.  Mungkin saja aku kembali ke rumah, mungkin saja aku terlontar jauh ke masa depan, mungkin saja aku terlontar ke masa lalu.  Bahkan mungkin saja aku tak ke mana-mana atau ke sebuah dunia asing.

Ke manapun mesin ini membawaku, aku tidak akan mengeluh.

-Kevin Strachan & Eva Rosenberg-“

-Jakarta, 06 Juni 2017-

Referensi & Tautan Luar:

  1. Wormhole, Langit Selatan (2007)
  2. Mengalahkan Berlian, 10 Material Berikut adalah yang Terkeras di Dunia, Tahupedia (2016)
  3. Diagon Alley, Harry Potter Wiki
  4. Area 51, Wikipedia

Seperti biasa untuk memperkuat suasana, saya menawarkan lagu ‘Leave Out All The Rest’ dari Linkin Park, selamat menikmati!

sumber gambar : physics-astronomy
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.
64 orang sudah membaca tulisan ini

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: