siap mengubah mindset?

Mengubah Mindset

Di sela kesibukan pekerjaan, saya menyempatkan diri bertukar cerita dengan klien sekaligus kolega saya dulu sewaktu kami masih sama-sama bekerja di sebuah stasiun televisi swasta yang saat ini sedang naik daun berkat program kompetisi dangdutnya.

Inti obrolan tersebut adalah teman saya itu menekankan pentingnya mengubah mindset – utamanya bagi mereka yang sedang gamang karena situasi kantor sudah tidak lagi nyaman akibat banyaknya tekanan, sementara usia sudah tak memungkinkan untuk mereka berkarir di tempat baru.

“Mereka pengen keluar karena nggak tahan disiksa,” ujarnya seraya membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya.  “Tapi di sisi lain, mereka takut.”

“Takut apa?” tanya saya.

“Mereka takut dengan pikiran mereka sendiri, ‘Kalo gua resign, anak-bini gua mau dikasih makan apa?  Terus gua mau kerja di mana setelah resign?’” lanjut klien saya.  “Nah, mindset mereka itu salah.  Salah besar!”

Saya hanya manggut-manggut.

Mengubah Mindset

Harus diakui, cara berpikir kebanyakan kita yang berstatus sebagai karyawan adalah :

“Setelah resign dari perusahaan ini, saya mau kerja di mana?”

Dengan cara berpikir seperti itu, semakin bertambah usia, ketergantungan karyawan terhadap perusahaan semakin besar sementara di sisi lain bisa saja perusahaan sudah mulai menganggapnya sebagai beban karena – suka atau tidak – produktivitas berbanding terbalik dengan usia.  Usia semakin tinggi sementara produktivitas cenderung semakin turun.

Ketergantungan tersebut akhirnya sampai pada satu titik dimana ia (si karyawan) sudah pasrah pada apa kemauan perusahaan, entah itu dipindah ke bagian yang dianggap ‘buangan’, gaji dikurangi dengan alasan yang mengada-ada, atau diminta mengerjakan pekerjaan yang di luar job desc-nya.  Ia sudah tidak memiliki nilai tawar, apapun akan dilakukan – selama perusahaan masih memberi gaji.

“Terus, dia mesti gimana?” pancing saya.

“Cara berpikirnya harus diubah,” tegas klien saya.  “Mindset-nya harus diubah. ”

Mengubah mindset di sini maksudnya sbb :

“Setelah resign dari perusahaan ini, apa yang akan saya lakukan?”

Perhatikan perbedaannya.

Jika awalnya kita berpikir untuk mencari pekerjaan di tempat baru, dengan mengubah mindset kita akan berpikir untuk mencari kegiatan baru setelah resign dari perusahaan tempat kita bekerja selama ini.

Kegiatan baru seperti apa?

Mungkin berdagang, buka usaha, atau sederet kegiatan bernilai ekonomi lainnya.  Bisa juga kembali menekuni hobi yang sempat ditinggal sewaktu kita bekerja, syukur-syukur jika hobi tersebut pada akhirnya mendatangkan uang.  Intinya, jika kita pernah bekerja di stasiun televisi misalnya, tak perlu terpaku dan berpikir bahwa rezeki kita berikutnya masih berasal dari bidang yang sama.

“Peluang itu banyak, pintu rejeki  kita cari duit nggak cuma di bidang itu aja,” tegas teman saya.

Sekadar info, teman saya sudah 2 tahun ini menjalankan online shop, dan menurut pengakuannya apa yang dia lakukan selama ini sudah cukup memberi hasil yang memuaskan.

“Meski belum bisa dibilang berhasil,” tandasnya.

Mereka-mereka yang Berhasil Mengubah Mindset

Selain klien tersebut, saya juga mengenal orang-orang yang asalnya dari dunia yang sama dengan saya – dunia pertelevisian, broadcasting – namun kemudian banting setir memasuki dunia baru.  Ada yang saat ini sibuk mengurus butiknya di sebuah pusat perbelanjaan, ada yang menjalankan usaha event organizer, ada yang membuka bengkel, warnet, booth makanan ringan, menjual tanaman, menjadi kontraktor, dosen, penulis buku, konsultan, dll.

Mindset.

Bukan berarti mereka yang kembali bekerja setelah resign adalah mereka yang belum mengubah cara berpikir karena kebetulan saya mengenal beberapa orang yang mencoba pindah kuadran dari karyawan ke pengusaha namun pada akhirnya mereka sementara mengibarkan bendera putih dan kembali ke jalur karyawan.

Kenapa mereka kembali?  Pastinya mereka lebih tahu.

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa semakin bertambah usia, peluang kita untuk bisa diterima sebagai karyawan di tempat lain akan semakin menipis.  Seperti yang sudah saya singgung di atas tentang usia dan produktivitas, perusahaan pasti akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali ketika seseorang yang sudah berusia di atas – katakanlah – 35 tahun mengajukan Surat Lamaran Pekerjaan, apalagi jika di tempat sebelumnya ia bukan orang yang istimewa alias tergolong karyawan biasa-biasa saja.

Sedikit cerita, salah satu teman saya pernah mengalami hal seperti itu,

“Waktu gua ngelamar ke sono (sambil menyebutkan nama sebuah stasiun televisi), temen gue bilang gini, ‘Yah, lu udah ketuaan, bakal susah diterima di sini, tapi gua coba ya.’

Saat itu usianya antara 37-40 tahun.

Karena itu, ubah cara berpikir dan tentukan tujuan kita.

Bagaimanapun suatu saat kita akan berhenti bekerja, maka sebelum itu terjadi, rencanakan apa yang akan menjadi kegiatan kita setelah berhenti bekerja.  Saya sendiri entah kenapa sejak usia 22 tahun sudah memutuskan bahwa di usia 40 tahun harus sudah pensiun sebagai pekerja di stasiun televisi yang dingin AC-nya naudzubillah.  Waktu itu saya hanya takut badan saya rontok, apalagi bekerja di bidang ini benar-benar tidak mengenal waktu.  Juga, saya ingin berhenti bekerja di usia emas dan puncak karir dengan membawa nama baik yang bisa jadi modal saya menjalankan usaha.

Dan sejujurnya, meski mungkin abal-abal dan kelas coro, saya menanamkan sugesti bahwa saya adalah pemilik usaha video editing – bukan editor freelance.

Lantas, apakah dengan sugesti seperti itu ada perbedaan?

Jawabnya, ya, ada!

Editor freelance adalah mereka yang siap sedia dipanggil ke manapun dan bekerja dengan aturan yang ditetapkan kliennya.  Sementara pemilik usaha video editing justru didatangi pengguna jasa, pun pekerjaan dijalankan sesuai aturan si pemilik usaha, my business my rule.

Dengan itu setidaknya saya bisa yakin bahwa saya berada di jalur yang benar meski sementara ini saya sedang sendirian dan megap-megap, bekerja seorang diri ditinggal asisten yang memilih menjalankan usahanya sendiri.  Salut saya buat mereka.

Penutup

Bicara mindset membuat saya teringat cuplikan percakapan antara dua orang jenius, Thomas Alva Edison dan Nikola Tesla dalam tayangan televisi ‘The Innovators’.  Tesla yang kesal karena idenya tidak dianggap oleh Edison pada suatu sore menyerahkan sepucuk surat pada pendiri cikal-bakal General Electric tersebut.

“Surat apa ini?” tanya Edison.

“Pengunduran diriku,” jawab Tesla.

“Tahukah kamu?  Tidak akan ada seorangpun yang mau mempekerjakanmu.”

“Aku akan membuat perusahaanku sendiri, Tuan Edison.”

“Baiklah,” tukas Edison.  “Semoga kau menemukan investor.”

Ngomong-ngomong, apa sebenarnya ide Tesla yang tidak dianggap oleh Edison?  Tesla-lah yang menemukan arus listrik bolak-balik alias sistem listrik yang kita kenal sekarang ini (PLN).  Andai mindset Tesla waktu itu adalah bekerja pada orang lain, bisa jadi kini kita hanya akan mengenal arus listrik satu arah – atau gampangnya listrik yang berasal dari baterai – temuan Edison.

Nah, sudah siap mengubah mindset?

Mohon maaf jika ada kalimat yang tak berkenan, saya tak bermaksud sok tau ataupun menggurui, toh saya juga masih berjuang.

sumber gambar
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini
181 orang sudah membaca tulisan ini

8 thoughts on “Mengubah Mindset

  1. apa aja seh yang membuat mindset itu tidak berubah??
    saya pernah mengubah pemikirkan sesuatu yang berbeda dari biasanya..tapi mengapa saya koq dalam perbuatan saya sama sperti biasanya..?? mohon dijlaskan ya….
    terima kasih atas penjelasannya…

    artikel ini sangat bagus bagi saya dan pembaca lainnya…THANKSS

    • Mbak Sinta, saya yakin Mbak lebih tau soal itu, tapi kalo menurut saya kenapa mindset sulit berubah :
      1. kita tidak punya cita-cita / kebutuhan yang ingin dicapai & diperhitungkan dengan kondisi sekarang, misal saya ingin punya kendaraan. Dengan memperhitungkan gaji, maka untuk bisa mencicil kendaraan, saya harus punya pendapatan minimal sekian juta. Contoh lain, saya hobi fotografi, tapi gimana caranya bisa beli kamera DSLR tanpa mengganggu pengeluaran rumah tangga & family time, itu tantangannya. Kalo ibu rumah tangga biasanya pengen punya penghasilan sendiri tanpa tergantung suami tapi sekaligus nggak mengabaikan keluarga. Cita-cita & kebutuhan itu kalo disikapi positif tentunya akan mengubah mindset.
      2. sudah merasa nyaman dengan kondisi sekarang sehingga lupa bahwa menjalankan ekonomi keluarga hanya dengan satu sumber pemasukan sebenarnya sangat riskan. Btw, ini juga yang masih saya kuatirkan karena 80% ekonomi keluarga dihidupi dari satu sumber. Moga-moga sumber yang 20% itu bisa makin besar kontribusinya, terima kasih banyak untuk kunjungannya, Mbak.

  2. Ouh…..berarti mentargetkan sesuatu biar mindsetnya terpasang dengan baik seperti itu???
    bagaimna bisa mentargetkan sesuatu tapi banyak kperluan keluarga yang harus dipenuhi, itu sangat pnting daripada apapun..???

    • Mbak Sinta, kalo buat saya pribadi, keluarga nomor satu. Lupakan semuanya bila sudah ‘bentrok’ dengan keperluan keluarga 🙂 Tapi kadang justru hal-hal seperti itu (bentrok antara target dengan keperluan keluarga) yang bisa jadi momentum kita mengubah mindset. Kita mau begini tapi di sisi lain ada begitu, jadi gimana biar sama-sama terakomodir, di situ ‘tantangannya’. Haha saya ngomong kaya’ orang bener aja, saya juga masih belajar kok.

      Tapi pengalaman saya memang gitu kok, Mbak. Jadi curhat dikit, dulu saya sempat merasa gaji yang saya terima dari perusahaan kurang (akibat banyak utang), tentunya stabilitas ekonomi rumah tangga agak terganggu. Dalam kondisi begitu biasanya pilihan cuma ada dua : mengurangi pengeluaran atau menambah penghasilan. Pilihan pertama kebanyakan orang rata-rata adalah mengurangi pengeluaran, tapi saya lebih memilih berupaya menambah penghasilan tentunya dengan resiko waktu bersama keluarga akan berkurang. Berhubung modal saya ‘cuma’ skill dan komputer, ya saya nyari tambahan penghasilan yang berhubungan dengan itu meski pernah juga coba ngikut MLM (cuma pengen nyuri ilmu gimana cara berbicara yang meyakinkan). Alhamdulillah, masalah utang pelan-pelan bisa terselesaikan. Catatannya, bagaimanapun sibuknya saya, ketika orang rumah ada yang sakit, semua prioritas diusahakan dikesampingkan dulu.

    • …karena pake tanda petik, pasti lebih ke dibikin nggak nyaman, diantaranya diberi beban berlebih atau malah nggak dikasih kerjaan sama sekali, dianggap nggak ada, dll dll

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: