Menengok RPTRA Akasia, Satu dari 180-an RPTRA di Jakarta

Jika mendengar kata ‘RPTRA’ alias Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, kebanyakan orang langsung menyebut Kalijodo, padahal RPTRA Kalijodo sendiri hanya satu dari sejumlah RPTRA yang sudah dibangun di Jakarta.

Informasinya hingga awal tahun 2017 sudah ada sekitar 180-an RPTRA dimana 71 diantaranya sudah diresmikan gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama.  Dari jumlah tersebut, sebanyak 60-an RPTRA disebut-sebut dibangun menggunakan dana CSR perusahaan swasta.

Nah, salah satu RPTRA yang kelihatannya dibangun menggunakan dana CSR adalah RPTRA Akasia yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan.  Ditilik dari logo-logo yang terpampang, kita bisa menduga bahwa RPTRA Akasia merupakan hasil kerjasama Pemprov DKI dengan Tanoto Foundation.

[area pintu masuk rptra, dokpri]

RPTRA AKASIA TEBET

Berlokasi di Tebet Barat, taman seluas 2.400 meter persegi ini diresmikan pada tanggal 21 Oktober 2016 oleh Basuki Tjahaja Purnama.  Selain RPTRA Akasia, setahu saya ada satu RPTRA lagi yang lokasinya berdekatan, hanya saja sepertinya cenderung lebih pas untuk aktivitas remaja seperti basket, futsal, dll – beda dengan RPTRA Akasia yang pas banget buat keluarga – terutama anak-anak.

Memasuki RPTRA, di sisi kiri terdapat area bermain anak-anak yang dilengkapi ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, panjat tebing mini, dll yang saya tidak tahu namanya (mohon dilengkapi bagi netter yang tahu nama-nama permainan tersebut hehehe).

[ramainya rptra, dokpri]
[ramainya rptra, dokpri]
[aneka permainan anak, dokpri]
[aneka permainan anak, dokpri]
Area bermain ini menggunakan pasir sebagai alasnya (sepertinya pasir pantai) dan jadi bahan mainan lagi buat anak-anak seperti membuat istana pasir bahkan ada orangtua yang membawakan mainan truk pengeruk pasir buat anaknya.  Menurut saya, penggunaan pasir membuat area bermain relatif aman bagi anak-anak saat mereka terjatuh misalnya meskipun sebagai orangtua agak kuatir juga, takut ada anak yang bermain lempar-lemparan pasir dan kena mata 🙁

Puas bermain dan kotor-kotoran, di area bermain ini tersedia keran buat anak mencuci tangan dan kaki.  Keren!

[cuci tangan dulu, dokpri]
[cuci tangan dulu, dokpri]
Di pusat taman terdapat kolam air mancur berisi berbagai jenis ikan.  Kolam ini dipagari serta dilengkapi tempat duduk melingkar.  Jika kita datang ke sini sore hari, air mancur ini cocok buat bersantai sambil merasakan hangatnya tempat duduk akibat siangnya terkena terik matahari.

[kolam air mancur, dokpri]
[kolam air mancur, dokpri]
Sedikit bergeser, bagi yang merasa tua, RPTRA Akasia menyediakan area refleksi injak batu.  Berbeda dengan area serupa di Taman Tebet Honda, batu-batu di sini benar-benar disusun rapat sehingga membuat saya meringis kesakitan tak tahan sensasi yang ditimbulkannya.

Sakit bangeet!  Asli.

[refleksi injak batu, berani mencoba? dokpri]
[refleksi injak batu, berani mencoba? dokpri]
Salah satu area favorit di RPTRA Akasia adalah lapangan olahraga yang letaknya lebih rendah dari taman.  Beberapa kali saya ke RPTRA, area olahraga ini tak pernah sepi, penggunaannya bahkan sampai dijadwal oleh masyarakat sekitar lapangan.  Lapangan ini seringnya digunakan untuk futsal meski pernah digunakan untuk voli dan berlatih drone.  Buat bulutangkis sepertinya juga bisa, tentu saja perlengkapannya bawa sendiri…

BELAJAR MENGENAL TANAMAN

Di RPTRA Akasia kita bisa belajar mengenal tanaman.  Terdapat penjelasan ringkas untuk hampir semua tanaman yang ditanam di sini.  Beberapa pohon besar juga ditanam di sini hanya saja saat ini ukurannya masih kecil, mungkin beberapa tahun lagi kita baru melihat hasilnya.

[tanaman yang ada di rptra, dokpri]
[tanaman yang ada di rptra, dokpri]
[tanaman yang ada di rptra, dokpri]
[tanaman yang ada di rptra, dokpri]
[tanaman yang ada di rptra, dokpri]
[tanaman yang ada di rptra, dokpri]
Selain itu di sudut RPTRA terdapat area penanaman hidroponik.  Entah apakah masyarakat umum boleh menggunakannya atau khusus hanya bagi pengelola RPTRA, saya belum tahu.

[area hidroponik, dokpri]
[area hidroponik, dokpri]
[tanaman hidroponik, di sini saya baru tahu cara kerja hidroponik, dokpri]
[tanaman hidroponik, di sini saya baru tahu cara kerja hidroponik, dokpri]

ADA APA LAGI?

Meski luas RPTRA Akasia ‘hanya’ sejangkauan mata, taman ini dikelola secara modern dan professional.  Selain menyediakan sarana aktivitas luar-ruang, di RPTRA Akasia juga tersedia fasilitas lain seperti perpustakaan, ruang pelatihan, ruang laktasi, PKK Mart, toilet yang dibedakan antara pria dan wanita, serta tentu saja ruang pengelola.

[pkk mart & ruang laktasi di rptra Akasia, dokpri]
[pkk mart & ruang laktasi di rptra Akasia, dokpri]
Sulung saya menceritakan beberapa kali ia membaca buku di perpustakaan RPTRA.

“Aku beberapa kali baca buku di situ (perpustakaan),” katanya.

Toiletnya pun bersih dan modern dengan adanya wastafel.

Untuk PKK Mart, ditilik dari namanya merupakan unit bisnis RPTRA Akasia.  Bagi pengunjung RPTRA yang ingin memberi makanan untuk ikan-ikan di kolam air mancur, misalnya, kita bisa membelinya di PKK Mart.  Sayangnya dari beberapa kali kunjungan, saya lebih sering melihat pintu PKK Mart tertutup, apa jam operasionalnya berakhir, sudah tidak berjalan lagi, atau memang pintunya ditutup?  Saya akan mencari tahu lagi nanti.

Ruang Laktasi?  Nah ini keren!  Ruang yang bahkan belum tentu ada di mall-mall, malahan ada di RPTRA Akasia…

Faktor kebersihan pun tak luput dari perhatian pengelola dengan tersedianya tempat sampah di beberapa titik.  Tempat sampah di sini memiliki tiga warna:

  1. Hijau untuk sampah basah (sisa sayuran, buah-buahan, dll)
  2. Orange untuk sampah kering (plastic, kaca, kertas, kain, dll)
  3. Merah untuk limbah B3 (bahan berbahaya beracun seperti baterai, racun serangga, dll)

[tempat sampah, dokpri]
[tempat sampah, dokpri]
Edukasi yang bagus, masyarakat memang harus sudah melakukan pemilahan sampah sebelum membuangnya.  Di RPTRA Akasia juga saya melihat tingginya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya meski mereka jelas sedang membawa anak-anak yang selama ini dicap suka nyampah di mana-mana.

PENUTUP

Dibanding Taman Tebet Honda, RPTRA Akasia minim tanaman peneduh, setidaknya untuk saat ini.  Karena itu waktu terbaik untuk mengunjungi taman ini adalah pagi atau sore hari saat matahari tidak berada tepat di atas kepala.

Satu fakta yang membingungkan saya adalah perbandingan luas RPTRA Akasia dengan Taman Tebet Honda.  Luas RPTRA Akasia disebut-sebut 2.400 meter persegi sementara Taman Tebet Honda ‘hanya’ 1.800 meter persegi, tapi kenapa RPTRA Akasia terlihat jauh lebih kecil dibanding Taman Tebet Honda?

Inilah beberapa foto tambahan hasil jepretan saya di RPTRA Akasia, abaikan saja modelnya jika ada hehehe…

[sudut tenang di rptra Akasia, dokpri]
[sudut tenang di rptra Akasia, dokpri]
[jalan setapak menggunakan paving blok yg berfungsi sebagai resapan air, dokpri]
[jalan setapak menggunakan paving blok yg berfungsi sebagai resapan air, dokpri]
[parkir yg selalu ramai, dokpri]
[parkir yg selalu ramai, dokpri]
[neduh dulu, dokpri]
[neduh dulu, dokpri]
[prasasti peresmian rptra akasia yg ditandatangani gubernur dki jakarta saat itu basuki tjahaja purnama, dokpri]
[prasasti peresmian rptra akasia yg ditandatangani gubernur dki jakarta saat itu basuki tjahaja purnama, dokpri]
Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat.

Tertarik mengunjungi RPTRA Akasia?

Referensi:

  1. RPTRA Akasia Tebet Barat Diresmikan, Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta
  2. Data Pemprov DKI, RPTRA yang Sudah Dibangun Berjumlah 186, Kompas
  3. Denah lokasi RPTRA Akasia, Google
Seluruh foto dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi yang diambil menggunakan telepon cerdas Hisense F30 Pureshot Lite dan Oppo F1S.
Tulisan ini dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini
21 orang sudah membaca tulisan ini

2 thoughts on “Menengok RPTRA Akasia, Satu dari 180-an RPTRA di Jakarta

    • Hahaha, ya, semoga ruang ini tetap terawat dengan baik sebab gimanapun juga keberadaan ruang publik semacam ini bagus…

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: