Kisah Dua Hati #23 : Cerita di Private Room Part II

gudang.jpg

Cerita Sebelumnya :

Dengan ditemani Aksa, Lintang menemui Niko di sebuah cafe meski sebenarnya gadis tersebut merasa kurang nyaman.  Dan di VIP Private Room Loomloom House, Niko menceritakan kronologis peristiwa traumatis yang terjadi dua tahun lalu.  Bagaimana reaksi Lintang mendengar cerita Niko tersebut?

CHAPTER 23

“Ceritamu masih belum berarti apa-apa,” ujar Lintang, “Masih belum mengubah prasangkaku bahwa kamulah otak dari peristiwa dua tahun lalu.”

Niko meneguk minumannya dan memandang Lintang.

“Aku tau.  Aku cuma ingin kamu tau siapa teman-temanku yang waktu itu terlibat.”

“Semua ini nggak ada gunanya, Niko,” Lintang bermaksud untuk bangkit dan meninggalkan tempat itu.

“Lintang, tunggu!” seru Niko.

“Kenapa?” tanya Lintang, “Sepertinya nggak ada alasan buatku untuk lebih lama di sini.”

Mendengar perkataan tersebut, Niko memandang Lintang.

“Setidaknya… aku ingin kamu tau bahwa aku pun dijebak oleh mereka.”

“Dijebak?”  Lintang tak percaya, “Dijebak gimana?  Mereka ‘kan sahabatmu…”

“Aku juga berpikir begitu…” ujar Niko, “Tapi, mereka menjebakku.  Mereka menipuku.”

Niko masih memandang Lintang dan membuang pandangannya ke arah Bundaran HI yang saat ini tampak indah dilihat dari tempat mereka berada.

“Kamu ingat waktu kita tiba di gudang tua dan aku memberimu minuman?”

Mengingat hal itu membuat Lintang gemetar.

Dan Niko melanjutkan ucapannya,

“Mereka membohongiku.  Mereka nggak bilang kalo di tempat itu cuma ada gudang tua.  Mereka bilang kalo di situ ada satu tempat yang bagus untuk kita ngerayain ulang tahunmu.”

Lintang terduduk lemas,

“Tapi… minuman itu?” tanyanya.

Niko memandang Lintang dengan tatapan penuh penyesalan.

“Itu dari mereka…”

* * *

Niko panik!

Setelah meminum minuman yang dia berikan, Lintang terlihat aneh.  Wajah gadis itu memerah dan dari mulutnya keluar gumaman-gumaman yang tak terdengar jelas oleh Niko.

Kenapa ini?!

Pada saat itu sebuah MPV mendekat dan berhenti di situ.  Dilihatnya Rudi, Yongki, dan Andre turun dari MPV tersebut diikuti setidaknya tiga orang lagi.

Niko tidak mengenal mereka.

Apa-apaan ini?!  Kenapa jadi banyak orang gini?!

Niko menghampiri Andre,

“Andre, siapa mereka?  Dan kenapa Lintang jadi seperti itu?”

 Bukk!

Alih-alih mendapat jawaban, satu pukulan keras dari seseorang yang tidak dikenalnya mendarat di perut Niko.  Ia terhuyung.

Belum sempat Niko sadar apa yang terjadi, ia mendapat lagi satu tendangan keras.

Niko terjatuh.  Meski dia ikut klub tinju, serangan mendadak tersebut sama sekali tidak diduganya.  Sebelum dia sempat bangkit, dua orang yang lain segera meringkusnya dan membawanya ke hadapan Andre.

“Kenapa?!” teriak Niko pada Andre.  Dia tidak bisa bergerak karena pegangan kedua orang itu terlalu kuat untuknya.

“Jangan salahkan aku, dab.  Dia yang punya rencana,” sahut Andre dingin sambil menoleh ke arah seseorang.

* * *

“Belakangan aku tau kalo orang itu adalah seorang preman yang sering nongkrong di tempat kami biasa balapan,” ujar Niko, “Dan Andre punya utang padanya.”

 Lintang terdiam mendengar cerita Niko.  Dalam hati kecilnya ada sedikit perasaan bimbang.

Apa dia tidak seperti dugaanku selama ini?

Tapi bagaimanapun juga dia penyebab semua kejadian itu…

“Teruskan ceritamu,” ujar Lintang.

Niko tampak ragu.

“Lintang.  Apa yang akan aku ceritakan ini adalah bagian terburuk dari peristiwa itu dan melibatkan dirimu.  Apa kamu yakin?”

“Aku nggak tau dan nggak yakin,” balas Lintang, “Karena itu aku mencoba untuk mendengar kebenarannya dari kamu.”

Niko menghela nafas.  Berat.

“Baiklah…”

* * *

“Apa yang kamu mau?!” bentak Niko.

Saat ini dirinya dalam keadaan terikat di kursi sementara Lintang yang dalam keadaan mabuk sudah dibaringkan di lantai dengan alas seadanya.

Satu dari tiga orang yang tidak dikenalnya itu menoleh dan menyeringai pada Niko.  Dia dikenal sebagai Keling.

Preman.

“Yang pasti uang!  Orangtuamu kaya, uangnya pasti banyak.”

“Aku bisa memenuhinya!” teriak Niko, “Berapa yang kamu mau?!”

“Ck ck ck,” Keling tersenyum mengejek.

Saat ini Lintang sudah dalam rangkulannya.

“Ya, aku butuh uang, tapi aku nggak bodoh.  Bocah kaya, kalo aku ngerampok kamu, uang yang aku dapat hanya sebatas yang sedang kamu bawa.  Kalo aku nyulik kamu, aku bisa dapat uang lebih besar, tapi cuma sekali itu aja.”

Tampak Keling mulai menciumi gadis mabuk yang sedang dirangkulnya itu.  Dan Niko memejamkan mata melihat apa yang Keling lakukan pada Lintang.

Lintang, aku sungguh minta maaf!  Aku tak menduga hal seperti ini akan terjadi.

“Tapi jika aku memerasmu,” lanjut Keling, “Aku bisa terus dapet uang sepanjang hidupku, apalagi aku tau pacarmu ini anak orang kaya juga.  Aku akan memeras kalian berdua!”

Keling tertawa dan diikuti semua orang yang ada di ruangan itu.

“Hei, Andre!  Sekarang rekam semuanya!” perintahnya pada Andre.

“Oke, bang,” sahut Andre yang segera mengaktifkan kamera pada ponselnya.

“Hei, bocah kaya.  Sekarang aku akan bersenang-senang dengan pacarmu.  Kamu tenang aja, nanti kamu juga bakal dapet giliran untuk bersenang-senang dengannya – tentunya setelah kami semua puas!  Habis itu, video ini bakal jadi ladang uangku untuk memeras kalian!”

Dan tawa yang memuakkan membahana di gudang tua tersebut.

Niko menangis.

(Bersambung)

Sungguh di luar dugaan!  Hal yang mengerikan terjadi pada Lintang!  Dan Niko ternyata dijebak oleh sahabatnya sendiri!  Apa Lintang akan percaya pada cerita Niko?  Apa yang akan terjadi pada Lintang dan Niko dalam situasi tersebut?  Dan bagaimana nantinya hubungan mereka berdua?  Ikuti terus 7 chapter terakhir “Kisah Dua Hati”…

Mulai minggu depan, “Kisah Dua Hati” terbit dua kali dalam seminggu, Senin dan Rabu…

“Kisah Dua Hati” terbit tiga kali dalam seminggu, Senin, Rabu, dan Jumat…

Kisah Dua Hati #24 : Cerita di Private Room Part III   |   Kisah Dua Hati #1 : Straight Set!

Sumber gambar : haverstockmedia.com

TULISAN INI DIPUBLISH PERTAMAKALI DI KOMPASIANA.COM, COPASING DIIZINKAN DENGAN MENCANTUMKAN URL LENGKAP POSTING DI ATAS ATAU DENGAN TIDAK MENGHAPUS/MENGEDIT AMARAN INI.  DISCLAIMER SELENGKAPNYA.

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: