Kejarlah Cinta #13: Pengkhianatan

13969190741021176243

Cerita Sebelumnya :

Hati mereka berkata dengan jelas!  Akhirnya Rian dan Lintang menemukan kenyataan dalam hati masing-masing bahwa mereka saling menyukai.  Tapi ketika bermaksud menyatakannya, mulut Rian serasa terkunci, dan dia pun menyesali kesempatan yang terlewat itu.

CHAPTER 13

Saat Rian sedang menyesali kebodohannya yang tidak segera menyatakan perasaannya pada Lintang, tiba-tiba terdengar satu suara di dekatnya,

“Sayang, kita duduk di sini aja.  Kosong nih!”

Lamunannya buyar.  Rian kemudian melihat seorang gadis – kelihatannya mahasiswi – yang duduk tidak jauh dari tempat mereka.  Gadis itu membelakanginya sehingga Rian hanya bisa melihat bahwa gadis tersebut memakai kaos yang ketat melilit tubuhnya.  Tampak gadis itu melambai-lambai memanggil seseorang.

Dia pasti manggil pacarnya, Rian melamun lagi.  Ah seandainya tadi aku mengungkapkan perasaanku sama Lintang, pasti sekarang kita sudah…

Tiba-tiba mata Rian membelalak lebar dan untuk kedua kalinya lamunannya buyar ketika dilihatnya seorang pemuda datang dan duduk di samping si gadis.  Mereka kemudian terlibat percakapan – entah apa.  Yang jelas keduanya kadang tertawa bahagia, kadang mesra.

Rian tahu siapa pemuda itu!

Itu pacarnya Rin!  Tapi kok?!

“Rian?  Kamu kenapa kaya’ orang kaget gitu?” tanya Lintang yang sudah selesai mencuci tangannya.

“Ssstt!” bisik Rian, dia bergegas mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.

Diangsurkannya ponselnya pada Lintang,

“Cowok sama cewek yang duduk di deket kita itu.  Aku ingat si cowok, dia pacarnya Rin, dan keliatannya dia nggak ngenali aku padahal kita pernah ketemu waktu itu.”

Membacanya membuat Lintang tak kalah terkejut, apalagi ketika dia menyaksikan Tama dan gadis itu saling berangkulan mesra.

Apa?  Kenapa seperti ini?  Kak Rin…

* * *

”Hoaaahm…”

Siang ini entah sudah ke berapa kalinya Rian menguap.  Semalam dia tidak bisa tidur memikirkan apa yang dilihatnya kemarin.  Saat ini dia sangat lelah dan mengantuk.

Lagian sudah tinggal nunggu hari pembagian rapor aja kenapa masih ada pelajaran sih?

Sebentar-sebentar diliriknya Lintang yang duduk tidak jauh darinya.

Dia keliatannya biasa-biasa saja.

Rian hampir saja tak kuat menahan kantuknya, untungnya saat itu bel tanda sekolah usai sudah berbunyi.  Dengan sisa tenaganya Rian menyeret tasnya dan keluar kelas.  Saat ini yang ada di pikirannya cuma satu : pulang dan tidur.

Tepat pada saat itu, dia berpapasan dengan Rin.

“Hai Rin…” sapanya, “Udah mau pulang?”

Rin yang sedang tergesa-gesa menghentikan langkahnya, dan saat itu Rian baru sadar.

Dia keliatan sedih dan tertekan!  Ada apa?

Semua mengenal gadis tersebut sebagai seseorang yang enerjik dan selalu ceria, karena itu saat melihat Rin dalam kondisi sedih dan tertekan seperti ini membuat Rian mengubah pertanyaannya.

“Kamu nggak apa-apa?”

Rin masih terdiam, atau lebih tepatnya sedang berusaha memilih kalimat yang akan diucapkannya.  Melihat keadaan Rin yang seperti ini membuat Rian melupakan kantuk dan lelahnya.

“Mau pulang bareng?” tanyanya.

Rin hanya mengangguk.

Sepanjang perjalanan, mereka lebih banyak diam.  Ini sangat mengganggu Rian tapi dia sadar bahwa untuk saat ini tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu Rin mengeluarkan isi hatinya.

Dan saat itu akhirnya tiba,

“Rian…” panggil Rin lirih, “Apa kamu tau?”

“Tau apa?” Rian bingung.

“Sampai sekarang cuma kamu sama Lintang yang tau kalo aku pacaran sama Mas Tama.  Karena itu, aku cuma bisa cerita sama kamu soal ini…”

Rin menghela nafas,

“Aku…” dia tampak ragu, “Feelingku bilang kalo Mas Tama punya pacar lain, atau mungkin balik lagi ke mantannya.”

Meski Rian sudah mencurigai adanya hubungan yang tidak biasa antara Tama dengan gadis yang dilihatnya kemarin, mendengar kalimat Rin barusan tak urung membuat Rian terkejut juga.

Apa aku harus ngasih tahu ke dia?

Tapi rasanya lebih baik aku biarkan Rin menyelesaikan ceritanya dulu.

“Kok kamu bisa punya feeling seperti itu?” Rian bertanya.  Saat itu mereka sudah berada di luar area sekolah.

“Aku nggak tau.  Aku cuma curiga aja, belakangan ini aku sulit menghubungi Mas Tama.  Teleponku nggak pernah diangkat, dia juga terkesan asal-asalan bales SMS-ku.  Bahkan sudah beberapa kali dia membatalkan janji ketemuan dengan alasan sibuk.”

Apa aku harus ngasih tahu Rin tentang apa yang aku lihat kemarin? Rian bimbang.

“Padahal kalo diinget-inget, aku belum dua bulan pacaran sama dia…” keluh Rin,”…lagipula dia juga yang minta aku pacaran dengannya.  Dan kesalahanku adalah waktu itu aku segera mengiyakannya tanpa pertimbangan.”

Rasanya lebih baik aku nggak cerita soal kemarin.

Rin menghentikan langkahnya, matanya tampak berkaca-kaca.  Kegelisahan, kekhawatiran, dan sedikit penyesalan tergambar jelas di wajahnya.  Rian tidak tega melihatnya, buru-buru dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

Nggak disangka!  Teganya dia mengkhianati perasaan dan kepercayaan Rin!

“Rian?” panggil Rin.

Rian menoleh.  Ingin rasanya dia memegang tangan gadis di sampingnya ini, memeluknya, mengusap rambutnya, dan menghapus airmatanya.  Tapi dia sadar bahwa saat ini hal itu tidak mungkin dilakukannya.

“Mungkin kamu cuma terlalu khawatir…” ujar Rian pada akhirnya.

Memang sementara ini lebih baik Rin nggak tahu pengkhianatan pacarnya.

Meski begitu, Rian sadar bahwa dia sudah tidak jujur.  Dan jauh di lubuk hatinya Rian takut bahwa ketidakjujurannya akan membawa akibat yang lebih menyakitkan bagi Rin – gadis yang pernah sangat disukainya.

“Mungkin dia memang bener-bener sibuk dan nggak sempat menghubungi kamu.  Kamu cuma perlu lebih memahaminya aja…”

Mendengar kalimat Rian barusan, Rin mencoba tersenyum dengan mata yang masih berkaca,

“Terimakasih Rian.  Mungkin kamu benar, aku cuma perlu lebih memahami Mas Tama aja.  Aku akan mencoba membuang semua keraguanku padanya.”

Rin, maafkan aku yang sudah memberikan harapan palsu soal Tama padamu.

“Tapi Rian…”

Rin terdiam sejenak, tampak ragu sebelum akhirnya dia melanjutkan ucapannya.

“Seandainya aku dulu nggak ngebatalin janji kita untuk ketemuan, mungkin saat ini aku sudah bahagia pacaran sama kamu.”

Mereka saling pandang.

“Rian… kalo kamu minta, aku bisa aja putus dari Mas Tama sekarang, lalu kita jadian.”

Rian terkejut, tak menyangka bahwa Rin akan berkata seperti itu.

“Rin?” saat ini hanya itu yang bisa dia ucapkan.

(Bersambung)

Feeling Rin mengatakan bahwa Tama punya pacar lain.  Rian yang tidak mau Rin terluka merasa lebih baik berbohong soal Tama yang dilihatnya jalan bareng gadis lain.  Apa yang akan terjadi antara Rin, Rian, dan Lintang?  Ikuti terus 4 chapter terakhir “Kejarlah Cinta”…

Kejarlah Cinta, terbit tiga kali dalam seminggu, Selasa, Kamis, dan Sabtu…

Kejarlah Cinta #14 : Aku Melihatmu |   Kejarlah Cinta #1 : Perkenalan Pertama

Sumber gambar : 9images.blogspot.com

Tulisan ini dipublish pertamakali di www.kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini.  Disclaimer selengkapnya.

Tinggalkan komentar, komentar Anda mungkin memerlukan moderasi

%d blogger menyukai ini: